HEBOH MIRAS DI INDONESIA, Antara Rekayasa, Kepekaaan Politik, dan Kualitas BerIslam
Mendadak terjadi heboh masalah miras. Setelah saya cermati ternyata banyak keganjilan yang memprihatinkan dalam masyarakat, tokoh, dan pejabat muslim di negeri ini. Secara ringkas kronologinya bisa disarikan sebagai berikut: (more…)
DINAMIKA NEGARA (MEMBAIK / MEMBURUK) DITENTUKAN POLITIK, DIPLOMASI &/ PERANG. Suara Individu Muslim dalam Pemilu Amatlah Berarti
Seorang Ketua PP Muhammadiyah ’forward’ ke saya sms seorang Ketua DDII yang berbunyi sebagai berikut:
“Wahai Muslimin, Ketahuilah, Partai Politik Islam itu adalah aset kita ummat Islam dalam memperjuangkan Islam di Indonesia ini. Jangan tinggalkan aset kita itu, apalagi membencinya. Kemenangan mereka di forum politik adalah kemenangan kita dalam memperjuangkan Islam. Memang, kita belum melihat hasil perjuangan mereka karena suara mereka di DPR belum dominan. Kemenangan mereka amat bergantung kepada pemberian suara kita kepada mereka dalam Pemilu. Memberikan suara kepada Partai Islam berarti kita ikut bersama-sama berjihad fie sabilillah, karena satu tusukan dalam Pemilu menentukan masa depan Islam di negeri ini. Wahai saudaraku seiman, camkanlah ini. Wass…”. (more…)
‘SPRING’, ‘FALL’, ATAU ‘DARKNESS’, Komparasi Huruhara yang terjadi Arab dan Indonesia
‘Spring’ adalah musim semi, musim setelah masa-masa dingin membeku di daerah sub-tropis. Musim semi memberi nuansa periode waktu yang indah, penuh harapan menuju puncak kondisi cuaca yang bagus untuk berlibur dan bergembira.di musim panas. ‘Fall’ sebaliknya adalah musim gugur, musim bersiap-siap menghadapi suasana berat di musim dingin, bersalju, sesudah masa berjaya berlalu di periode ‘summer’.
‘Darkness’ adalah kondisi gelap atau kegelapan. Saya ingat ada jargon ‘darkness’ yang dipakai untuk mengungkap terjadinya pencemaran udara hebat dikota besar Eropa Timur era Uni Sovyet, dan diberi judul ‘Darkness at Noon’. Jadi darkness dalam konteks sosial-politik adalah malapetaka yang akan menghancurkan suatu komunitas.
Maka apa makna Arab Spring saat beberapa negeri Arab di Afrika Utara dan Timur Tengah dilanda huru-hara sosial yang berujung jatuhnya rezim yang sedang berkuasa? (more…)
MELALUI HIJRAH NABI MENGAJARI UMAT UNTUK HIDUP DALAM NAUNGAN NEGARA YANG ISLAMI (Mewaspadai Strategi Penguasa Sekuler agar Umat tidak Berpolitik dan hanya berOrmas-LSM belaka)
Setelah mengenalkan Islam melalui pendekatan orang per orang, dari rumah ke rumah, mengenai prinsip keimanan untuk hanya bertuhankan Allah SWT dan melakukan perbaikan akhlak pribadi, Rasulullah lalu melangkah mengajarkan dimensi Islam yang luas, yakni bagaimana umat harus bersikap terhadap sistem kenegaraan, cara mengelola bangsa-negara secara Islami. Itulah hakekat pesan utama hijrah. (more…)
NEGARA PALING ISLAMI? INDONESIA atau SELANDIA BARU atau LUXEMBURG?
Kalau orang Islam di dunia, yang awam sekalipun, ditanya negeri mana yang paling Islami rasanya akan menjawab Arab Saudi atau Kuwait atau Mesir atau Indonesia atau Pakistan atau negeri yang mayoritas penduduknya muslim seperti itu. Mereka tentu akan bilang ‘lucu, aneh bin ajaib’ atau bisa juga bilang ‘bodoh’ jika disebut Selandia Baru atau Luxemburg sebagai negeri paling Islami di dunia. Tetapi bisa saja ada orang dengan enaknya bilang negeri paling Islami di dunia adalah Selandia Baru, Luxemburg, negeri sekuler, negeri ‘kafir’ mana saja karena ada agenda tertentu, dengan dicarikan alasan-alasannya. Di Kompas baru-baru ini ada artikel terkait itu yang membawakan dan membahas hasil penelitian sosial yang dilakukan peneliti dari perguruan tinggi di Amerika Serikat. Alih-alih mengkritik nilai ilmiah penelitian tersebut malah sepertinya si penulis terjebak masuk ke dalam alur pikiran si peneliti. (more…)
DENGAN SEMANGAT BERKORBAN MARI BERITTIBA’ NABI YANG MELEPASKAN UMAT ISLAM DARI HIDUP DI BAWAH TATANAN SOSIAL SEKULARISTIK
(KHOTBAH IEDUL ADHA 1432H)
Dr. Fuad Amsyari
(Dewan Pembina ICMI Pusat)
Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,
Ifititah
Allaahu Akbar
Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,
Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat karuniaNya yang terlimpah tiada putus-putusnya dan menyampaikan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mari kita menyambut hari raya Iedul Adha, 1432H dengan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Dzikir kepada Allah bukan saja membaca lafaz takbir dan tahmid, namun kita juga harus melakukan amalan yang bernilai keimanan dan ketaqwaan secara nyata. Salah satu tuntunan Islam terkait Iedul Adha adalah disunnahkan, sebagian ulama malah menganggap wajib, bagi mereka yang berkecukupan ekonominya untuk menyembelih korban dan dagingnya dibagikan ke masyarakat, khususnya mereka yang sedang kekurangan. Penyembelihan korban itu bisa dilakukan sampai hari tasyrik, yakni 3 hari setelah hari raya Iedul Adha. Silahkan Saudara seiman yang merasa berkecukupan ekonominya tapi belum berkorban tahun ini masih punya waktu untuk menunaikan amalan tersebut dalam 3 hari mendatang.
Allahu Akbar,
Berkorban seperti itu memiliki nilai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi karena mengisyaratkan kesediaaan umat untuk mengorbankan barang berharga miliknya untuk sesuatu yang bersifat kepatuhan pada perintah Allah SWT. Essensi prosesi pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS atas Nabi Ismail AS adalah bahwa memenuhi perintah Allah itu segala-galanya. Jangankan harta benda yang masih bisa dicari nanti bahkan pada percontohan Nabi Ibrahim AS mengorbankan anak lelaki satu-satunya yang sudah lama diharap-harap kehadirannyapun sama sekali tidaklah ada keberatan jika demi memenuhi perintah Allah SWT. Iman dan ketaqwaan mana yang lebih hebat dari itu?
Allahu Akbar,
Perintah berkorban dalam Iedul Adha sesungguhnya terletak pada nilai agar umat Islam selalu ingat bahwa yang maha penting dalam hidup ini adalah memenuhi perintah Allah SWT dengan pengorbanan berapapun sebagaimana kasus NabiIbrahimAS.Memang untuk melakukan perintah Allah itu (termasuk meninggalkan hal-hal yang dilarangNya) harus ada ‘cost’ atau harga yang dibayarkan, mengorbankan apa yang sudah menjadi miliknya, apakah waktu, harta, bahkan jiwa sekalipun. Pesan keharusan umat untuk mau berkorban tersebut diulang-ulang oleh Allah SWT dalam kaitan dengan perintah JIHAD, aktifitas menyebarkan dan menegakkan syariat Allah, dengan berbekal ‘amwal’ atau harta benda dan ‘anfus’ yakni jiwa. Iedul Adha adalah momen pengingat kepada umat Islam agar selalu siap berkorban demi memperoleh ridho Allah karena melaksanakan tuntunan-tuntunanNya.
Allahu Akbar.
Melaksanakan tuntunan Allah itu bukan untuk kepentingan Allah maupun UtusanNya, namun untuk kepentingan manusia dan masyarakat itu sendiri agar hidup nereka selamat-sejahtera dunia-akherat. Tuntunan Allah melalui Rasulullah Muhammad SAW yang dikenal sebagai Agama Islam justru untuk kebaikan umat manusia dan lingkungannya. Axioma inilah yang dikenal dengan pernyataan bahwa Islam itu ‘Rahmatan lil ‘alamiin’, memberi rahmat bagi alam semesta seisinya jika diterapkan tuntunan Islam itu. Kalau memang begitu makna Islam tersebut maka mengapa justru umat Islam sendiri banyak yang menolak datangnya rahmat itu dengan mengabaikan tuntunan Islam dalam proses kehidupannya sehingga dunianya lalu sarat dengan tipu daya, kejahatan, kecurangan, dekadensi akhlak, eksploitasi, penindasan, dan serangan militer termasuk pengeboman yang memakan korban ratusan ribu umat manusia, terutama kaum muslimin di negeri muslim? Bukankah semua itu jelas bentuk malapetaka di mana dunia muslim, tereksploitasi kekayaan alamnya, terporak-porandakan kehidupannya, umat diperlakukan sebagai orang suruhan, dijadikan tenaga kerja murah untuk keuntungan luarbiasa bagi pemilik modal yang telah kaya raya, diperlakukan sebagai bangsa tidak berharga yang dintimidasi, bahkan juga diduduki dan dibombardir seenaknya. Sadarkah umat Islam terutama para ulama dan tokoh-tokohnya, mengapa semua itu bisa terjadi? (more…)
FAITH OVERRULES SCIENCE, WHY NOT? *)
Fuad Amsyari, Ph. D
Notes
I was struck when reading an article in Time magazine October 3, 2011 entitled “HOW SCIENCE CAN LEAD THE WAY, What we lose when we put faith over logic” by Lisa Randall, one of selected figures of ‘100 Time’. At front page ‘Time Features’, it was promoted as ‘THE LOSS OF LOGIC, What happens when faith overrules science’. In my opinion the article represents the classical thinking of politicians who believe that the idea of secular method, a method based solely on ‘scientific findings’ to manage a nation(s), is completely quite appropriate. Such an approach is certainly neglecting ‘faith’ (i.e. basic principles of religion, in particular Holy Book verses related to social-political aspect). They think that only science, including social-political science, no need of religious messages, will be able to answer correctly challenges in development process. I certainly disagree with such a premise. It is even quite misleading.
I hope this article can be published in Time Magazine as well, soon, to make a balance idea about systematic way of thinking on human development for the benefit of mankind. (more…)
HISTERIA ‘RESHUFFLE’ KABINET, ADAKAH AGENDA TERSELUBUNG DAN APA MANFAATNYA BAGI BANGSA?
Kualitas politik masyarakat termasuk persnya bisa dilihat dari kasus ‘reshuffle’ kabinet. Umumnya semua orang tahu, apalagi pers, bahwa Personalia Kabinet itu sepenuhnya tanggung jawab Presiden dengan diberi istilah keren ‘hak prerogatif’, tapi mengapa kenyataannya terus saja bergunjing tentang reshuffle atau pergantian sebagian menterinya, sepertinya dengan gunjingan itu Presiden lalu gamang dan mengganti sebagian menteri oleh suara-suara vokal yang diulang-ulangi di masyarakat atau pers. Jelas ini mengherankan dari tinjauan asumsi bahwa era reformasi membuat masyarakat dan pers Indonesia matang/dewasa dalam berpolitik/ berdemokrasi. Mengapa tidak membiarkan saja masalah kabinet itu pada Presiden sepenuhnya, dirubah (sebagian/semua) atau tetap dipertahankan. Bukankah telah difahami bahwa hak Presidenlah menentukan menteri-menterinya, tidak memerlukan persetujuan kabinet atau siapapun. Apakah ada rekayasa tersembunyi melalui corong media untuk menekan Presiden agar mengganti personalia kabinetnya karena agenda/kehendak tertentu oleh tokoh atau yang berada di belakang Pers? Bukankah Presiden tidak memerlukan dukungan pers sebagai legitimasi melakukan reshuffle dengan target politik tertentu, walau memang diperlukan untuk mengoreksi kekeliruan politik yang dilakukannya masa lalu? Jika pers atau siapapun tokohnya memang menghendaki perubahan tersebut mengapa tidak melalui jalur politik biasa, yakni partai politik atau koalisi partai politik yang lagi berkuasa, tidak perlu ramai-ramai terus diberitakan sehingga membawa bising dan meresahkan? (more…)
KOMPETENSI KEMENTERIAN AGAMA DAN PEMERINTAH RI DALAM PEMECAHAN PERMASALAHAN UMAT
Banyak peristiwa terkait agama di negeri ini yang ternyata tidak bisa diatasi oleh Kementerian Agama (Kemenag, dulu dinamakan Departemen Agama atau ‘Depag’) dan Pemerintah. Jawabannya hanya ada dua penyebab: 1). Wewenang kemenag yang amat dibatasi oleh Pemerintah; dan atau 2). Makna agama menurut kemenag-pemerintah memang sempit/terbatas. (more…)
ISLAM POLITIK Mengubah ‘NOKTAH’ RUSAK MENJADI ‘MERCU-SUAR’ DUNIA. Bisakah Indonesia Menirunya?
(Khotbah Iedul Fithrie 1432H/2011M)
Disampaikan oleh:
DR. FUAD AMSYARI
(Dewan Pembina ICMI Pusat)
Bismillahirrohmaanirrohiim,
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,
(Iftitah)
Allahu Akbar (takbir 3x)
Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,
Alhamdulillah, pagi ini kembali kita bersyukur ke hadirat Allah SWT karena bisa bersama-sama melakukan sholat Ied menyambut hari raya Iedul Fithrie tahun 1432 H, setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui. Sungguh banyak sekali karunia Allah yang kita terima, dari waktu ke waktu dari saat ke saat tiada putusnya. Dari semua ni’mat karunia itu yang tertinggi nilainya adalah hidayah dalam bentuk iman, yang membukakan hati ini menjadi hati yang mengenal hakekat diri sebagai ‘Makhluk’ yang diciptakan oleh ‘Khalik’nya, Allah swt. Dengan iman itu harusnya kita berteguh hati tidak bisa diperdaya syetan yang menyesatkan. Jika manusia setelah diberi hidayah iman, lalu bisa bertahan tidak tergoda syetan, selalu hidup sesuai dengan tuntunan Allah SWT, maka dia akan menjadi manusia yang sukses hidupnya di dunia dan akherat. Namun mengapa banyak manusia yang setelah diberi hidayah iman ternyata hidupnya tidak berhasil? Jawabnya mudah: ‘dia tidak mampu bertahan dari penyesatan oleh syetan’ sehingga imannya menjadi amat tipis, lebih percaya kepada selain dari Allah dalam proses menjalani kehidupannya sehari-hari, dalam beribadah, berbisnis, dan bekerja-beraktifitas. Mereka tidak mau/mampu untuk hidup sesuai tuntunan Allah SWT, sesuai syariatNya. Naudhubillahi min dhalik. (more…)
Recent Comments