DISIPLIN, PRINSIP ISLAM YANG SERING DIABAIKAN UMAT, Satu Determinan Kekalahan Umat dalam Persaingan di Dunia Plural

21 July 2010 at 19:28 1 comment

  1. Dunia Islam sering mengeluh bahwa umat Islam terus mengalami kekalahan dengan fihak luar dalam berbagai bidang kehidupan nyata, seperti ekonomi, teknologi, sosial-budaya, politik, militer, dan lainnya. Penyebab kekalahan besar tersebut jelas banyak unsurnya, dan sering ulama maupun tokoh Islam menimpakannya pada faktor besar yakni kurangnya keimanan-ketaqwaan umat. Memang benar keimanan-ketaqwaan menjadi sumber utama kekalahan umat, namun jika dirinci lebih mendalam umat banyak menjadi keliru dalam menentukan aspek mana dari keimanan-ketaqwaan itu yang merupakan penentu (determinan) kekalahan umat dalam urusan keduniaan ini (ekonomi-sosial-politik-militer-sain-teknologi). Apakah ritualnya (jangan lupa orang kafir malah bisa lebih parah lagi dalam hal ketaatan menjalankan ritual agama mereka), atau akhlaknya (orang kafir juga nampak tidak lebih unggul kualitas akhlak mereka)?  Mari disimak sikap hidup manusia yang lebih spesifik dan amat strategis dalam menentukan keberhasilan hidup: DISIPLIN.
  2. Disiplin adalah kosa-kata berasal dari bahasa Inggris, ‘discipline’, yang memiliki berbagai arti, baik sebagai kata benda maupun kata kerja, yang antara lain disiplin dimaksudkan sebagai bidang ilmu. Namun makna disiplin terkait dengan hal yang sering diabaikan adalah disiplin dalam permasalahan perilaku orang tentang suatu aturan. Disiplin adalah “a system of rules governing conduct” atau “to impose order upon  or to bring under control”, dan sering juga lalu disamakan dengan “punishment”.
  3. Disiplin dalam makna terakhir itu lalu bisa diartikan sebagai ketatnya seseorang pada pemenuhan aturan-aturan yang ada untuk membawa keharmonisan kerja atau peningkatan prestasi. Di sinilah letak mengapa disiplin menjadi permasalahan yang berlingkup ‘personal’ atau pribadi, orang per orang, khususnya orang yang padanya terkait dengan berbagai aturan yang mengikatnya. Dengan kata lain disiplin adalah kualitas ketaatan pada pemenuhan aturan. Banyak orang Islam, tidak terkecuali banyak para tokoh Islam, yang lemah dalam hal disiplin sehingga prestasinya sebagai pribadi maupun sebagai kelompok sosial menjadi rendah!!
  4. Aturan yang berhubungan dengan perilaku seseorang dan seharusnya ketat untuk dipatuhi, dan jika diabaikan harusnya mendapat sanksi, dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk. Berikut ini diuraikan berbagai macam aturan yang membuat  seorang individu seharusnya terikat kuat untuk mematuhinya (pengelompokan berdasar kemudahan untuk mengingat bahwa seseorang terikat oleh aturan itu).
  5. Kelompok Pertama: aturan yang mengikat seseorang karena dia sudah berjanji dengan orang lain. Janji umumnya mudah diingat karena sifatnya sering jangka pendek disertai ada pernyataan lisan atau tulisan yang dibuat. Aturan terkait dengan janji ini ada tiga bentuk: TENTANG WAKTU, TEMPAT, MATERI JANJI. Banyak orang dinyatakan kurang/tidak disiplin karena  tidak menepati waktu yang disepakati dalam perjanjian, tempat pelaksanaan perjanjian, dan materi yang dijanjikan. Ajaran Islam tegas sekali memerintahkan untuk memenuhi janji ini. Disiplin terhadap janji ini nampaknya lebih banyak dilaksanakan oleh Non-Muslim walau Kitab Suci Orang Islam memberi perintah berkali-kali pada Umat Islam untuk memenuhi janji itu.
  6. Kelompok Kedua: aturan yang mengikat seseorang terkait dengan agama yang dipeluknya. Beragama, di samping keyakinan akan adanya Tuhan namun juga diasiosiasikan sebagai janjinya pada Sang Maha Pencipta untuk mentaati tuntunan yang diberikanNya, apakah melaksanakan perintah maupun menjauhi-meninggalkan laranganNya. Mestinya seorang muslim selalu ingat bahwa dia adalah muslim, terikat dengan aturan-aturan sebagai seorang muslim, disiplin dalam melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, dan tingkat kedisplinannya itu akan menentukan nasibnya dalam kehidupannya di dunia dan akherat. Bukankah menjadi amat naif jika seorang muslim mengabaikan tuntunan Allah SWT ini? Secara ringkas aturan Islam yang mengikat seorang muslim meliputi: 1). kewajiban  beribadah ritual/mahdha; 2). kewajiban mengurus kehidupan pribadi dan berkeluarga, seperti makan-minum yang halal, berpakaian menutup aurat, berbuat santun pada tetangga; 3). kewajiban mengurus orang lain yang menjadi tanggung jawabnya secara Islami (dari lingkup kecil sebagai ketua RT sampai limngkup luas seperti Kepala Negara); dan 4).kewajiban untuk membela-menyebarkan Islam (dikenal sebagai perintah Jihad);
  7. Kelompok Ketiga: aturan karena seseorang itu hidup sebagai warga negara. Ketaatan pada aturan kenegaraan seperti: Identitas Diri, kewajiban memilih Pemimpin Formal lingkup nasional maupun daerah (seperti pemilu), dll. Dalam ajaran Islam, ketaatan pada aturan dalam klasifikasi ini tidak boleh mengalahkan ketentuan untuk taat pada aturan agama, seperti diperintah atasan untuk mencarikan wanita penghibur untuk bos pusat yang sedang berkunjunag ke daerah.  “Tidak ada Ketaatan dalam hal Kemaksiatan”.
  8. 8. Kelompok Keempat: aturan karena seseorang mengikatkan diri pada sebuah kelompok sosial, termasuk aturan dalam Organisasi Sosial, Partai Politik, Paguyuban, dll. Tiap kelompok sosial-politik ini memiliki juga aturan internal yang harus ditaati secara ketat demi suksesnya kinerja dan tercapainya cita-cita kelompok. Aturan organisasi yang harus ditaati jelas tidak boleh aturan yang melanggar tuntunan agama. Aturan organisasi itu bisa luas, mulai dengan AD/ART, Kode Etik, Kebijakan Partai, dll. Permasalahan yang sering terjadi adalah adanya ketidak-samaan persepsi tentang materi-substansi aturan yang dibuat organisasi itu oleh para anggautanya. Di sinilah pentingnya mekanisme yang mengatur bila ada kekeliruan persepsi dan atau pelanggaran terhadap aturan organisasi. Muslim umumnya juga sering lemah dalam disiplin berorganisasi ini sehingga prestasi organisasi Islamnya juga terpuruk.
  9. Kelompok Kelima: aturan yang dibuat oleh dan untuk diri sendiri. Kesadaran akan makna penting aturan sendiri ini pada umat Islam sering rendah sekali. Umat jarang membuat program untuk merencanakan jenjang kariernya ke depan yang kalaupun dibuat tidak dalam bentuk yang bagus dan ditaati secara ketat. Umat banyak yang hidup berserah diri pada arus yang melindasnya, ikut apa kata orang lain, ikut ajakan orang lain.  Aturan yang disusun dan dibuat untuk diri-sendiri demi perbaikan nasib hidupnya ke depan memang hanya ada pada individu yang berkualitas. Muslim sekali lagi umumnya juga lalai untuk masalah ini. Kedisiplinan tipe ini hanya dimiliki oleh individu yang faham bahwa hidup itu harus direncanakan dan rencana itu harus ditaati sehingga hidupnya tidak hanya mengikuti ke mana angin bertiup atau ikut ke mana arus mengalir. Seorang yang matang akan memiliki rencana hidup, lalu membuat Program Kerja Pribadi, dan ketat mengikuti aturan yang dibuatnya dalam rencana hidup itu tersebut. Sebagai muslim yang baik apalagi sudah menyandang status ‘aktifis Islam’, mestinya sudah memiliki rencana hidup dan program kerja personal yang juga harus ditaatinya, berdisiplin untuk melaksanakannya.

Perbedaan kualitas kedisiplinan mengikuti aturan-aturan  dalam berbagai macam  klasifikasi di atas tentu menuai implikasi. Berikut ini bentuk akibat yang bisa terjadi:

  1. Tidak disiplin terkait pemenuhan janji akan berakibat orang itu mendapat penilaian buruk oleh orang lain. Jika terjadi berulang dan disengaja maka akan menjadi citra buruk diri. Berita ‘tidak tepat janji’ pada seseorang akan bisa menyebar dan mengakibatkan ketidak percayaan yang meluas dan merugikan yang bersangkutan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, politik, dan lainnya.
  2. Tidak disiplin dalam melaksanakan aturan agama tentu akan mendapat sanksi dari Sang Maha Pencipta, baik sanksi duniawi maupun di akherat. Orang tidak disiplin dalam memenuhi ajaran agama bisa karena berbagai alasan: 1). Tidak faham bahwa agama itu memilki aturan untuk dilaksanakan, dianggapnya cukup mengakui adanya Tuhan; 2). Faham ada aturan agama namun sengaja mengabaikan karena tidak memahami akan adanya sanksi kehidupan terkait itu; 3). Tahu dan taat pada aturan agama namun hanya sebagian aspek saja karena diajari ulama-guru agamanya secara salah, seperti hanya menganggap agama itu masalah ibadah mahdhah dan hanya berimplikasi pada kehidupan akherat; dan 4). Beragama hanya karena tradisi sosial-budaya sehingga dengan mudah dia akan membuang agama atau pindah dari satu agama ke agama lain dan bahkan lalu menjelek-jelekkan agama yang ditinggalkannya. Islam jelas menekankan adanya sanksi sangat berat bagi manusia seperti itu.
  3. Tidak disiplin terkait aturan menjadi warga negara tentu akan berakibat mendapat sanksi dari negara. Tergantung bagaimana negara itu ketatnya dalam memberikan sanksi kewarga-negaraan pada warga negaranya. Walau begitu kedisiplinan terhadap aturan negara ini juga tergantung seberapa besar komitmen orang akan negerinya. Banyak orang yang tidak memiliki nasionalisme apapun sehingga dia akan enteng saja pindah ke negeri lain jika diusir oleh negaranya.
  4. Tidak disiplin terkait aturan sebuah organisasi, apakah organisasi sosial maupun organisasi politik, juga berakibat terkena sanksi, tentunya sanksi yang dibuat oleh organisasi itu. Banyak anggauta yang masuk ke suatu organsiasi tidak dengan motif yang mendasar sehingga dengan entengnya dia keluar begitu saja dari organisasi itu dan pindah ke organisasi lain. Umumnya memang begitulah yang sering terkait dengan permasalahan disiplin keorganisasian itu. Diberi sanksi atau dikeluarkan dari organisasipun tidak masalah bagi dia. Di sini pentingnya organisasi tersebut menimbang, meningkatkan, dan menilai kesadaran motif berorganisasinya. Dalam kaitan itu bahkan ada organisasi yang memberikan sanksi membunuh anggauta yang keluar dari organisasinya.
  5. Tidak disiplin terkait perencanaan hidup atau program kerja yang dibuat sendiri tentu berakibat pada proses kehidupannya secara umum. Jika tidak disiplin dalam masalah ini akan bisa membuat dia bingung dan hidup lalu tidak tahu akan ke mana.

Dari uraian di atas kini bisa mudah difahami bahwa orang akan memiliki kedisiplinan tinggi jika dia memiliki motif besar dalam proses kehidupannya. Motif apa yang mendorong orang itu menganut agama, menjadi warga negara, menjadi anggauta organisasi, berjanji dengan orang lain, dan menentukan apa pula tujuan hidupnya. Tanpa adanya motif yang kuat jangan berharap orang akan disiplin.

Jika motif dalam  beragama, bernegara, dan berjanji relative mudah dikenali, maka motif orang masuk ORMAS-PARTAI memang sulit ditebak. Orang masuk ormas-partai politik umumnya ada dua motif saja: 1). Motif sebagai sarana yang akan membawa dia bisa berhasil mencapai misi perjuangan ideologisnya; dan 2). Motif mencari kehidupan duniawi yang lebih layak dengan menjadi anggauta partai itu, apakah kebutuhan ekonomi (mendapat penghasilan dari berpolitik walau untuk itu harus berjudi dengan mengeluarkan modal dulu), menambah harkat diri (mendapat kekuasaan formal), atau kebutuhan sosial lain seperti supaya memiliki teman lebih banyak dan lainnya. Menjadi anggauta Ormas-Partai Islampun tidak terlepas dari berbagai kemungkinan di atas. Orang lain hanya bisa mengirakan saja apa gerangan motif seseorang menjadi anggauta atau bahkan aktif dan akhirnya menjadi pengurus Ormas-Partai Islam. Hanya yang bersangkutan dan Allah swt mengetahui motif sebenarnya. Terhadap masalah ini ormas-partai memang tidak bisa berbuat banyak. Orang yang bermotif keduniaan belaka dalam berormas-berpolitik sulit diperbaiki disiplinnya karena seandainya dikeluarkan dari ormas-partaipun sebagai sanksi disiplin maka yang bersangkutan oke saja apalagi jika hanya diberi sanksi ringan. Yang lebih harus diwaspadai oleh ormas-partai politik adalah adanya orang yang masuk ke ormas-partai politik justru motifnya menyusup untuk merusak ormas-partai  agar tidak bisa menjadi ormas-partai besar, mengkerdil, dan kalah dari ormas-partai lain dalam persaingan. Motif oknum seperti ini umumnya duniawi namun bisa saja motif ideologis (lawan ideologi organisasi yang dimasukinya). INI CATATAN BAGI ORMAS-PARTAI ISLAM UNTUK SEGERA BISA MEMENANGKAN PERSAINGAN DENGAN IDEOLOGI SEKULER.

Indonesia, medium Juli 2010

Entry filed under: Politik. Tags: , , , , , , , , , .

BAGAIMANA BENTUK ’TAJDID’ MUHAMMADIYAH DI ERA 2010, SE-ABAD SETELAH BERDIRINYA? MUI DAN NKRI, Ke mana Arah Geraknya? Bagaimana Nasibnya?

1 Comment Add your own

  • 1. itqonmarsudi  |  12 October 2010 at 20:00

    Perubahan berawal dari gagasan orang yang cerdas, dilaksanakan oleh orang2 yg berani dan berhasil karena dilandasi ketulus ikhlasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 43 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2010
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Stats

  • 70,861 hits

Feeds


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: