BERKORBAN UNTUK KEBAIKAN YANG BERMAKNA: “Membawa Kejayaan Umat dan Bangsa karenaMengelola Negeri Sesuai Syariat Allah SWT”

13 November 2010 at 13:26 Leave a comment

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,

Ifititah

Allaahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Mengawali khotbah ini marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk limpahan rahmat pada pagi hari ini, pagi di hari raya Iedul Adha, Iedul Qurban 1431H.

Kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Rasulullah, Nabi Muhammad saw, khususnya sebagai ungkapan kecintaan kita pada beliau yang tiada tara. Beliau itu telah berjuang dengan pengorbanan luar biasa, dihina, dicerca, disakiti, dan bahkan akan dibunuh oleh kaum musyrik-kafirin sewaktu menyampaikan risalah Illahi Rabbi. Kini telah sampailah risalah itu dengan selamat ke tangan kita untuk kita gunakan dalam menjalani hidup sehari-hari, apapun peran dan posisi kita dalam kehidupan di dunia fana ini. Ajaran dari Allah swt yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw itulah yang akan mampu membawa keselamatan hidup kita dunia akherat, di dunia akan menjadi bahagia-sejahtera lahir-bathin sedang di akherat akan memperoleh jannatun na’im. Sayangnya ajaran Islam itu belum sepenuhnya dipraktekkan dalam kehidupan sehingga nasib umat di negeri ini pada umumnya masih saja terbelakang, penuh ketimpangan lahir-bathin. Di manakah hakekat letak kesalahannya? Tampaknya ada pada tiga pilar utama Islam yang diabaikan, yakni: AQIDAH, UKHUWAH, DAN SEMANGAT BERKORBAN.

Allahu Akbar,

Hadirin Jamaah sholat Ied yang berbahagia,

Aqidah adalah keyakinan hati yang teguh terhadap makna dan tujuan hidup. Jika dicermati, sejak masa kecil sampai dewasa umumnya umat Islam sudah diajari untuk meyakini bahwa Allah swt itu tuhan kita dan Muhammad saw itu adalah utusan Allah,  nabi dan rasulNya. Begitulah bentuk aqidah yang sudah diajarkan. Alhamdulillah. Tapi cukupkah makna aqidah hanya yang setingkat itu? Tentu tidak. Ingatlah bahwa iblis itu pasti yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah itu tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa, tapi mengapa nasib iblis celaka?

Iblis ternyata tidak memaknai aqidah secara lengkap, yakni Aqidah dalam bentuk KEYAKINAN mendalam bahwa jika MENGETRAPKAN ajaran Allah dan RasulNya (Syariat Islam) akan membuat hidup manusia berhasil dunia-akherat, sedang bila MENGABAIKAN Syariat Islam maka hidup manusia akan menuai kesulitan dan kegagalan dunia-akherat. Sudahkah aqidah tingkatan ini  ditanamkan di nurani umat? Sayangnya belum banyak disentuh dalam dakwah Islam. Sisi aqidah  ini yang terkait KETAQWAAN, dan iblis  berani mengabaikannya, belum mendalam dihayati umat Islam Indonesia.

Aqidah dalam makna lebih luas lagi, yakni KEYAKINAN hati umat akan pentingnya melaksanakan Syariat Islam secara menyeluruh, yakni syariat lingkup kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat-bangsa-negara lebih sedikit lagi dihayati. Umat nelum banyak tahu bahwa jika mengabaikan praktek Syariat Islam secara TIDAK LENGKAP maka hidupnya masih akan banyak menemui kegagalan. Penanaman  aqidah Islam di tingkat ini amat jarang dilakukan oleh para pengajar-muballigh Islam.

Umat Islam Indonesia umumnya tidak diajari oleh guru agama, da’i, muballigh, ustad, penceramah, kyai, dan ulama tentang aspek kedua dan ketiga dari makna aqidah Islam sepertiyang diterangkan di atas. Pengajaran aqidah Islam  yang tidak lengkap seperti itulah yang kemudian berakibat merugikan nasib umat Islam di negeri ini. Perlu diingatkan bahwa kegagalan hidup umat di dunia fana ini selain karena kesalahan mengurus diri-pribadi atau salah mengurus keluarga, juga banyak disebabkan karena proses mengurus Masyarakat-Bangsa-Negara yang salah. Kesalahan mengelola masyarakat-bangsa-negara (mengabaikan syariat Islam tentang sosial-kenegaraan) akan membuat bangsa itu jadi terpuruk dan mengalami berbagai musibah yang tentu saja akan berdampak pada kualitas hidup orang-perorang atau keluarga yang berada di negara bersangkutan. Orang menjadi miskin atau keluarga menjadi rusak-berantakan sering bukan karena salahnya orang atau keluarga tersebut dalam mengurus dirinya tapi karena salahnya negara di mana mereka berada itu diurus.

Secara ringkas bisa dinyatakan bahwa Kekeliruan Pengajaran Aqidah yang umumnya diterima umat Islam Indonesia pada dasarnya ada dua bentuk:

  1. Pengajaran Aqidah yang hanya memberikan keyakinan adanya Allah swt dan keyakinan bahwa Muhammad adalah RasulNya tanpa memberikan keyakinan keharusan melaksanakan syariat Islam, dalam arti bila MELAKSANAKAN akan memperoleh keselamatan dan jika MENGABAIKAN akan celaka kehidupannya.
  2. Pengajaran Aqidah yang hanya memberikan keyakinan bahwa syariat Allah itu isinya hanyalah meliputi ibadah mahdhah, ahlak pribadi, serta pengaturan keluarga saja, sehingga umat Islam yakin bahwa mereka akan sudah selamat dunia-akherat bila melaksanakan syariat seperti itu saja. Pengajaran aqidah seperti ini sungguh menyesatkan karena al Qur’an dan sunnah Nabi  tegas mengandung TUNTUNAN Syariat Sosial-Kenegaraan, meliputi: hukum-peradilan, kepemimpinan nasional, politik,  ekonomi, pendidikan, budaya, dan keamanan-ketertiban negara. Akibat pengajaran aqidah yang mengabaikan sisi ini maka umat Islam Indonesia kemudian hanya bersemangat untuk  melakukan ibadah mahdhah dan  acuh tak acuh terhadap DIPRAKTEKKANNYA syariat sosial-kenegaraan Islam di negerinya. Mereka mengira sudah akan sejahtera hidupnya di dunia dan masuk surga di akherat nanti hanya dengan berbekal pelaksanaan ibadah mahdhahnya  tanpa harus mengetrapkan syariat sosial-kenegaraan dalam mengelola negerinya. Pemahaman aqidah sepotong seperti inilah yang membuat mereka akan terpuruk hidupnya di dunia (melalui mekanisme bermacam-macam, antara lain ditipu pemimpinnya yang dholim, tereksploitasi kekayaan negerinya oleh orang lain) dan terancam adzab neraka di akherat nanti sesuai dengan firman Allah dalam surat al Baqarah ayat 85: “Apakah mereka itu hanya mau mengetrapkan sebagian saja dari isi al Qur’an (tuntunan ibadah mahdhah dan ahlak pribadi) dan menolak ayat lainnya (syariat sosial-kenegaraannya). Sikap mereka yang seperti itu akan membuat mereka terhinakan-terpuruk semasa hidupnya di dunia fana sedang di akherat nanti mereka akan menerima siksa yang maha pedih”

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Kenyataan hidup yang sedang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini memberi indikasi ke arah firman Allah di atas. Karena dididik salah tentang makna aqidah Islamiyah, baik oleh orang tua, guru ngaji, da’i-muballigh-ustad, kyai, dan ulamanya maka umat Islam Indonesia kini terpuruk dalam hampir semua bidang kehidupan sosial kemasyarakatannya. Penduduk Indonesia yang mayoritasnya muslim terhinakan hidupnya di dunia, dilihat dengan sebelah mata oleh bangsa lain karena utang yang menumpuk, moral yang rusak, dan penuh konflik terancam disintegrasi. Apakah kita masih mempunyai muka menganggap kita ini, umat Islam, yang berhasil hidupnya di dunia fana? Apakah kita masih punya keberanian menepuk dada akan masuk surga sesudah mati nanti? Kita sedih, kita prihatin melihat nasib umat Islam Indonesia yang sebagian besarnya hidup pas-pasan bila tidak bisa disebut melarat, banyak anak terlantar dan perempuannya melacurkan diri, menderita tuduhan sebagai teroris, berakhlak rendah, selalu was-was karena di sekitarnya tidak cukup aman dari kejahatan para perampok-penipu-pencoleng-pemerkosa.

Secara syar’i sumber dari semua kegagalan yang dialami umat di negeri ini jelas hanya satu, yakni karena umat Islam Indonesia meninggalkan syariat Islam dalam mengelola negerinya. Negeri ini yang mayoritas penduduknya muslim ternyata dikelola dengan kebijakan yang menyimpang dari syariat sosial-kenegaraan Islam yang diajarkan Allah dalam al Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah. Maksiat dibiarkan bertebaran atas nama kebebasan berekspresi, perzinahan lalu dientengkan sebagai perselingkuhan sehingga menjamur, barang najis dan haram tidak dikontrol sehingga beredar luas, riba meraja-lela, korupsi menjadi kebiasaan dalam birokrasi, hukum negara  meniru hukumnya orang kafir, pemimpin negeri jauh dari kualitas-kriteria orang beriman, politik jauh dari percontohan nabi. Semua itu bisa  terjadi karena umat Islam Indonesia tidak memiliki keyakinan aqidah Islam yang benar sehingga kehilangan semangat, motivasi, dan kesungguhan hati yang cukup besar untuk memberlakukan syariat Islam bidang sosial-kenegaraan di negerinya. Mereka hanya bergelut dengan urusan ibadah mahdhah, akhlak pribadi, serta membangun keluarga saja. Umat tidak dididik aqidah Islam secara utuh, sehingga membiarkan negerinya dikelola oleh orang  yang tidak selayaknya memimpin negara karena tidak memenuhi kriteria pemimpin dalam ajaran Islam, dan membiarkan negerinya dikelola  dengan cara pengelolaan yang tidak sejalan dengan substansi  syariat kenegaraan  Islam. Astaghfirullah.

Allah berfirman dalam surat al Baqarah ayat 208:

“Wahai orang beriman, berislamlah kalian secara utuh, dan janganlah mengikuti langkah syetan karena sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu”.

Dari uraian di atas kini jelas bahwa BERIBADAH RITUAL, BERKELUARGA, DAN BERPOLITIKPUN  ITU HARUS ISLAMI. Jangan sekali-kali keluar dari tuntunan Islam dalam aspek manapun supaya umat Islam selamat dan berhasil hidupnya dunia-akherat. Semua aspek kehidupan itu harus dijalani sesuai syariat Islam, menjadi fardhu ‘ain bagi setiap insan muslim.

Allahu Akbar,

Pada sisi lain, dalam masyarakat Islam di Indonesia kosa kata UKHUWAH sering dipakai, dianjurkan, dan dipropagandakan. Namun sayangnya, seperti halnya aqidah, makna ukhuwah yang diajarkan juga banyak  salah makna. Kalau AQIDAH diajarkan secara tidak utuh, UKHUWAH disampaikan secara tidak proporsional atau tidak tepat sasaran. Rasanya memang Islam di negeri ini sering dibicarakan tanpa makna yang lengkap, al Qur’anpun banyak  dibaca tanpa mempraktekkan prinsip yang terkandung di dalamnya. Sungguh benar sabda Rasulullah dalam hadits yang bunyinya:

“Akan datang suatu masa di mana Islam itu hanya tinggal namanya, dan al Qur’an hanya tinggal tulisannya belaka”

“Akan datang suatu masa di mana banyak orang sudah melaksanakan shalat, berpuasa, dan berhaji, tapi mereka pada hakekatnya bukanlah orang beriman”.

Ukhuwah selalu dianjurkan tapi kehilangan makna operasionalnya. Ukhuwah umumnya dimaknai kumpul-kumpul sekedar berkumpul, bahkan tidak jarang berkumpul hanya untuk menghabiskan waktu luang, dari pada menganggur di rumah. Kumpul asal berkumpul bahkan kadang sekedar berkumpul sesama teman untuk hadir di pengajian tapi diperlakukan sepertinya mencari hiburan setelah penat bekerja di siang hari, apalagi jika muballighnya membawa lawakan segar bahkan menyerempet porno yang mengundang tawa.

Apakah itu yang disebut ukhuwah Islamiah? Apakah ketemunya seorang muslim dengan muslim lain, asal sudah ketemu saja? Setipis itukah makna ukhuwah Islamiah, yakni ketemu dalam berjamaah di masjid (yang sering tanpa bertegur sapa), ketemu karena mendengar penceramah di tempat pengajian (yang sering lalu diperlakukan sebagai panggung hiburan), bertemu karena melayat orang mati, bertemu karena istighosah bersama? Itukah  ’ukhuwah’ yang bermakna agar hidupnya menjadi selamat dunia-akherat, berhasil sebagai pribadi, keluarga, masyarakat-bangsa-negara?

Mari kita perhatikan frman Allah dalam al Qur’an berikut ini:

“Orang kafir itu saling menolong satu sama lain (dalam mendukung kepentingan sosial-politik mereka), dan bila kalian tidak melakukan hal yang sama maka akan terjadi kerusakan di dunia dan kehancuran maha dahsyat (karena ’pemilunya’ dimenangkan mereka dan negeripun lalu dikelola dengan cara mereka yang tidak Islami)” (Surat al Anfal ayat 73)

“Orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan rela (tidak berhenti berupaya bersama, saling-menolong sesama mereka) sampai kalian berada dalam genggaman kekuasaan mereka.” (Surat al Baqarah ayat 120)

“Orang munafik lelaki dan munafik perempuan itu bertolong-tolongan satu dengan lainnya untuk membuat-menebarkan hal yang mungkar dan menangkal/menghalangi kebaikan” (Surat at Taubah ayat 67)

“Orang beriman lelaki dan perempuan itu saling bertolong-tolongan satu dengan lainnya, membuat-menebarkan kebaikan dan menangkal/ menghalangi kemungkaran (dalam lingkungan masyarakatnya yang plural), menegakkan shalat, menunaikan zakat, mentaati perintah Allah dan rasulNya (termasuk dalam kehidupan sosial-kenegaraannya). Maka mereka itulah yang akan memperoleh rahmat dari Allah, dan sesungguhnya Allah itu maha Perkasa dan Bijaksana.” (Surat at Taubah ayat 71)

Allahu Akbar,

Hadirin Jamaah Shalat Ied yang berbahagia,

Di dalam ayat-ayat di atas itulah sesungguhnya tercermin hakekat makna ’ukhuwah Islamiah’, yakni saling tolong-menolong sesama muslim untuk bekerja bersama mengetrapkan kepentingan umat dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara yang memang memerlukan kebersamaan langkah kaum muslimin. Di sanalah makna operasional ukhuwah Islam itu, untuk bersatu padu saling medukung memilih-mendudukkan figur orang beriman penegak syariat sosial-kenegaraan Islam menjadi PEMIMPIN di negerinya, apakah legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Di sanalah makna operasional ukhuwah Islamiah itu, yakni untuk mengawal dan menjaga agar kebijakan sosial-kenegaraan yang diberlakukan di negerinya sesuai dengan substansi Syariat Sosial-Kenegaraan Islam, sehingga negeri itu lalu dicintai dan diridhoi Allah swt, menjadi negeri aman-sejahtera disegani di dunia internasional. Di sanalah makna ukhuwah Islam itu, bekerja-sama membongkar kemaksiatan di masyarakat karena kemaksiatan itulah yang akan merusakkan sendi kehidupan sosial masyarakatnya. Di sanalah makna ukhuwah Islamiah itu, saling mendukung satu sama lain untuk membela-membantu pejuang syariat Islam yang dicederai, diintimidasi, dihinakan, diteror, diintimidasi oleh musuh Islam. Ukhuwah tidaklah sesederhana asal ketemunya seorang muslim dengan muslim lainnya. Ukhuwah Islamiah baru memiliki arti bila dimaknai kebersamaan umat untuk upaya mengetrapkan Syariat Sosial-Kenegaraan Islam yang memang memerlukan langkah bersama sesama muslim mengatasi kebersamaannya kaum kafirin dan munafiqin.

Allahu Akbar,

Hadirin Jamaah shalat Ied yang berbahagia,

Aqidah yang utuh, Ukhuwah yang benar amatlah terkait dengan Iedul Adha. Berkorban yang diunggulkan oleh ajaran Islam melalui simbul menyembelih ternak yang dagingnya dibagikan kepada fakir-miskin adalah bukti betapa ajaran Islam menyuruh umatnya BERKORBAN dalam makna siap merelakan apa yang dicintainya guna menegakkan kebenaran dan merealisir kebaikan yang diajarkan oleh Allah swt.

Allah berfiman dalam surat Muhammad ayat 7 yang artinya:

“Wahai orang yang beriman tolonglah Allah (menyebarkan dan mengetrapkan tuntunanNya dalam kehidupan manusia, pribadi dan masyarakatnya) maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

Dalam surat al Kautsar yang terkenal itu Allah juga tegas menyuruh umat Islam untuk shalat (simbul ritual Islam) dan berkorban (simbul perjuangan sosial Islam) yang dampaknya akan membuat MUSUH Allah menjadi kecewa karena gagal dalam upayanya untuk MENGHINAKAN DAN MENGALAHKAN umat Islam DALAM DUNIA PLURAL. Perhatikanlah kalimat penutup dari surat itu.

“Sesungguhnya telah banyak karunia Allah yang telah kamu terima. Oleh sebab itu shalatlah hanya karena Allah dan berkorbanlah (memperjuangkan syariat Islam). Sesungguhnya orang yang memusuhimu itu pasti akan kecewa.”

Sungguh tepat bahwa pada hari raya Iedul Korban ini kita memperbaharui pemahaman kita akan AQIDAH Islam, memperbaharui pemahaman akan makna  UKHUWAH Islamiah kita, dan memperbaharuhi pengertian kita tentang arti BERKORBAN itu. Kita sungguh diberi Allah wahana pengingat setahun sekali yakni hari raya Iedul Qurban ini untuk melakukan telaah diri atau introspeksi mengapa kita ini, sebagai sebuah negeri muslim,  belum juga terentas dari kemiskinan, keterpurukan, berada di bawah terus, dilecehkan terus, difitnah terus,  walau kita katanya sudah merdeka dan mengelola negerinya sendiri, terbebas dari penjajahan Penjajah, sudah ngurus negerinya sendiri selama lebih dari 65 tahun.

Allah memperingatkan umat Islam betapa bila tatanan negara itu yang rusak, bila lingkup bangsa-negara itu yang terpuruk, maka semua warga-negara yang berada di negeri itu akan ikut menderita, bukan hanya para pencoleng, koruptor, dan penjahatnya saja. Allah berfirman dalam surat al Anfal ayat 25:

“Takutlah kalian (wahai umat Islam) akan musibah yang jika telah didatangkan oleh Allah (pada tatanan suatu negara karena dikelola dengan mengingkari syariat sosial-kenegaraanNya), bukan hanya akan menimpa orang jahat/dhalim belaka. Dan ketahuilah bahwa Allah itu amat keras hukumanNya”.

Para ulama, kyai, da’i, muballigh, ustad, guru ngaji, dan orang-orang baik lainnya pasti akan ikut menderita bila tatanan sosial kenegaraan di mana mereka itu tinggal telah terpuruk karena salah kelola, tidak dikelola sesuai dengan syariatNya.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Allah swt juga menegaskan dalam al Qur’an Surat al A’raf ayat 96, yang maknanya:

”Apabila penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa (melaksanakan syariat Islam secara kaffah) maka Allah akan menurunkan karuniaNya dari langit dan bumi (sehingga mereka akan menjadi sejahtera-lahir bathin). Namun jika mereka itu ingkar akan tuntunan Allah (mengabaikan syariat Islam) maka akan ditimpakan pada mereka berbagai kesulitan hidup karena perilaku mereka sendiri yang ingkar itu.”

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Sehubungan dengan itu semua kini bisa disimpulkan perlunya 4 hal pokok yang perlu segera diupayakan/dipegang teguh kaum muslimin di semua lini kehidupan di negeri ini, yakni:

  1. Mengarahkan proses pengelolaan masyarakat-bangsa-negara dari cara pengelolaan yang SEKULARISTIK (meninggalkan tuntunan sosial-kenegaraan Islam), kepada cara pengelolaan yang syar’i sesuai tuntunan Allah swt.
  2. Mengupayakan BERSAMA-SAMA agar Kepemimpinan Bangsa-Negara tidak jatuh ke tangan orang Sekuler, yang tidak taat syariat dan tidak berminat menerapkan syariat Islam dalam pengelolaan masyarakat-bangsa-negara. Umat Islam harus berusaha keras agar kepemimpinan negeri ini jatuh ke tangan Figur yang taat syariat Islam secara menyeluruh dan berjuang sungguh-sungguh untuk mengetrapkan syariat Islam dalam peengelolaan masyarakat-bangsa-negara.
  3. Berusaha secara proaktif dan kreatif memberdayakan umat Islam Indonesia dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat seperti bidang ekonomi, politik, keilmuan, dan budaya, agar status umat Islam yang mayoritas itu bisa secepatnya kokoh dan kuat. Jangan terkecoh dengan slogan bahwa yang penting sekarang ini adalah mengangkat ekonomi umat. Perhatikanlah sebuah axioma Islam ini: MUSTAHIL UMAT AKAN BISA MAJU EKONOMINYA BILA KEBIJAKAN EKONOMI NASIONALNYA TIDAK SESUAI SYARIAT ISLAM.
  4. Perkokoh visi nasionalisme umat dengan paradigma bahwa “Jika umat Islam yang mayoritas ini menjadi berdaya maka kelompok minoritasnya akan ikut berdaya (TIDAK BERLAKU SEBALIKNYA) dan Negeripun akan Kokoh-Kuat”. Oleh sebab itu seluruh jajaran umat, apakah Ulama, Pejabat, Politisi, Intelektual, Cendekiawan, Pengusaha, Guru, Muballigh, dan umat awam semuanya harus berusaha keras untuk memegang AQIDAH ysng utuh, UKHUWAH yang benar, dan BERANI BERKORBAN untuk kebaikan yang bermakna dan luas lingkupnya.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Demikianlah Khotbah Iedul Adha 1431H ini dan mari kita tutup khotbah ini dengan doa yang khusuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah pertolonganMu agar kami tidak keliru dalam mengartikan keimanan-ketaqwaan kami itu dan kami tidak menjadi  tersesat setelah kami beriman. Berikanlah kepada kami ya Allah hidayahMu sehingga kami tetap teguh memegang aqidah Islam secara utuh, saling membantu berukhuwah  untuk perjuangan sosial yang berat medannya itu, dan berkorban untuk mencapai kebaikan yang bermakna dan luas lingkupnya.

Ya Allah, kuatkanlah iman kami, kokohkanlah ketaqwaan kami, dan tambahkanlah ilmu kami. Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Surabaya, 10 Dzulhijah 1431 H,

Khotbah Iedul Adha

di Mesjid Baitur Rozak, Citraland, Surabaya

About these ads

Entry filed under: Agenda. Tags: , , , , .

Strategy to Deactivate Huntington Thesis on Clash of Civilization between Moslems and Western Society, RATIONAL ACTIONS TO BE IMPLEMENTED TO MAKE A PEACEFUL WORLD PERBANKAN NASIONAL DALAM EKONOMI SYARIAH, Solusi Indonesia untuk Mengatasi Krisis Ekonomi Global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 39 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

November 2010
M T W T F S S
« Oct   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Stats

  • 68,381 hits

Feeds


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers

%d bloggers like this: