‘SPRING’, ‘FALL’, ATAU ‘DARKNESS’, Komparasi Huruhara yang terjadi Arab dan Indonesia
14 December 2011 at 14:08 Leave a comment
‘Spring’ adalah musim semi, musim setelah masa-masa dingin membeku di daerah sub-tropis. Musim semi memberi nuansa periode waktu yang indah, penuh harapan menuju puncak kondisi cuaca yang bagus untuk berlibur dan bergembira.di musim panas. ‘Fall’ sebaliknya adalah musim gugur, musim bersiap-siap menghadapi suasana berat di musim dingin, bersalju, sesudah masa berjaya berlalu di periode ‘summer’.
‘Darkness’ adalah kondisi gelap atau kegelapan. Saya ingat ada jargon ‘darkness’ yang dipakai untuk mengungkap terjadinya pencemaran udara hebat dikota besar Eropa Timur era Uni Sovyet, dan diberi judul ‘Darkness at Noon’. Jadi darkness dalam konteks sosial-politik adalah malapetaka yang akan menghancurkan suatu komunitas.
Maka apa makna Arab Spring saat beberapa negeri Arab di Afrika Utara dan Timur Tengah dilanda huru-hara sosial yang berujung jatuhnya rezim yang sedang berkuasa? Tentu bagi si pemberi predikat Arab Spring bermaksud bahwa huru-hara itu merupakan suasana semi yang akan membawa mereka merengkuh keceriaan setelah fase kebekuan bersalju. Seandainya diberi predikat Arab Fall bukan hanya bermakna sedang meluncur menuju kebekuan sosial namun juga bisa diartikan kejatuhan martabat ras Arab Sebaliknya jika huruhara sosial tersebut disebut Arab Darkness berarti terjadi kegelapan di komunitas Arab yang merupakan malapetaka sosial yang perlu diwaspadai dan harus segera dikoreksi demi keselamatan dan kejayaan mereka di masa depan. Ingat datangnya agama Islam di Arab jelas membawa suasana spring di sana, yang menghasilkan bunga dan buah kejayaan, kemuliaan, dan kehormatan bagi mereka. Benarkah yang sekarang terjadi adalah suatu spring, bukan fall, atau malah darkness?
Bagi sebagian orang, khususnya komunitas Barat, si pemberi istilah Arab Spring itu, melihat gejolak sosial hebat yang terjadi di dunia muslim tersebut menunjukkan harapan besar bahwa negeri-negeri Arab di atas akan segera berada dalam pangkuan ideologi mereka, ideologi sekuler-kapitalistik. Spring, musim semi bagi penyemaian ideologi sekuler-kapitalis. Memang banyak negeri muslim yang masih dalam ambang kemelut ideologi antara memilih Politik Islam atau Politik Sekuler. Sebagian negeri muslim juga dalam keraguan, mau memilih yang mana, setengahhaitisedang dalam era transisi. Pergolakan sosial yang terjadi di Tunisia lalu diikuti Mesir, kemudian Libya, dan kini sedang berlanjut di daratan Timur Tengah, yakni Yaman, Yordania, dan Syria sepertinya menjadi harapan besar akan runtuhnya penguasa yang tidak sepenuhnya memihak Barat, pioner-pemilik ideologi sekuler-kapitalistik.
Tentu tidak semua orang sama pendapatnya, bahkan ada yang berbeda diametrikal, yakni sepertinya pergolakan di dunia Arab itu menunjukkan bahwa perjuangan Islam Politik yang sukses, meruntuhkan rezim sekuler-kapitalis yang tiranis, pengikut thohut (meminjam istilah beberapa teman yang kontak via sms). Jatuhnya rezim yang sedang berkuasa di negeri muslim disambut gembira dan antusisasme sebagai era baru berkembangnya negeri yang akan menuju sepenuhnya dalam rengkuhan Islam Politik, melepaskan diri dari pelukan politik sekuler-kapitalis yang pro Barat.
Mana kiranya yang benar? Harapan siapa yang sesungguhnya akan terpenuhi?
Seorang tokoh Ormas Islam yang dikenal tegas pemihakannya pada perjuangan Islam Politik mengirim sms yang isinya sebagai berikut:
“Mengapa gerakan Islam di dunia Arab dan Afrika bisa menyapu bersih para tiran/thoghut. Di Indonesia……..(saya buat titik2 karena kalimatnya terasa ‘tajam’ bernuansa kegagalan perjuangan Islam Politik di sini)”
Nada sms ini sepertinya memihak faham ke dua, yakni bahwa huru-hara di negara Arab Afrika Utara dan Timur Tengah itu terjadi oleh penganut ideologi Islam Politik, bukan penganut Politik Sekuler-Kapitalis. Begitukah? SMS tersebut saya jawab sebagai berikut:
“Masih harus dicermati, tidak boleh gegabah menyimpulkan siapa dalang sesungguhnya huru-hara di dunia Arab Timur Tengah-Afrika. Yang jelas negeri muslim Tunisia, Mesir, Libya, dan kasus lama Afganistan-Iraq, sampai kini berantakan, set back kondisi sosialnya puluhan/ratusan tahun ke belakang. Kecuali Afganistan dan Iraq yang hancur karena diinvasi secara brutal melalui serangan militer vulgar dan langsung, tiga negeri lainnya (di samping Syria dan Yaman yang lagi bergolak) juga sudah rusak karena dilanda perang saudara berkelanjutan oleh proses adu-domba. Negeri2 muslim yang sekuleristik (Indonesia juga termasuk di dalamnya) jelas rawan untuk diadu-domba, jadi harus waspada”.
Saya khawatir banyak tokoh Islam yang terlalu terburu memberi konklusi dari suatu proses sosial-politik, apalagi bila terjadi di luar negeri dan dikait-kaitkan dengan semangat perjuangan Islam di dalam negeri. ‘Pejuang Islam’ diIndonesia sering melihat bahwa di dunia luarsana itu perjuangan Islamnya hebat dan sukses sedang di rumah sendiri perjuangan Islam itu berantakan, padahal yang bersangkutan berada di dalam negerinya.
Saya teringat kasus jatuhnya rezim Orba yang dipimpin Pak Harto melalui huru-hara sosial pula. Siapa dalangnya? Apa pejuang Politik Islam? Apa bukan malah pejuang Politik Sekuler? Terjadinya huru-hara tahun 1998 lalu yang sampai menjatuhkan rezim Suharto justru terjadi di saat rezim itu mulai berfihak pada Islam Politik, seperti ditandai lahirnya ICMI, MPR hijau royo2, dan semacamnya. Apakah pejuang Islam Politik di Indonesia berani menepuk dada dan berteriak berhasil sukses perjuangannya menjatuhkan rezim Orba? Mari dicermati apa yang terjadi pasca jatuhnya Orba. Setelah berjalan lebih dari 10 tahun bagaimana kenyataan Indonesia sekarang, malah dikeluhkan karena jauh dari cita-cita Islami Politik seperti yang tersirat dari SMS teman aktifis tadi.. Dengan kata lain bahwa kondisi pasca huru-hara 1998 itu Politik Sekuler-Kapitalis kian jaya saja. Di mana salahnya?
Dari berbagai kasus yang diungkap di atas nampaknya memang akan susah jika negeri muslim tidak tegas memihak ideologi Islam Politik, bersikap lebih memihak politik sekuler atau ambigu, tidak jelas pemihakannya. Negeri muslim yang tidak tegas memihak Islam Politik akan mudah diporak porandakan oleh kekuatan asing pendukung ideologi sekuler-kapitalis yang sudah mapan, kokoh ekonomi dan militernya. Jika negeri muslim tidak mendukung Islam Politik maka akan membuat penduduknya lemah iman sehingga mudah di adu domba. Itulah yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya, suatu negeri muslim yang setengah hati dalam berfihak pada Islam Politik. Afganistan era Taliban yang relatif tegas dalam Islam Politik dan Iraq yang juga teguh menolak mengikut Barat hanya bisa dijatuhkan melalui invasi militer, bukan huru-hara sosial. Kasus Iran menarik untuk dicermati. Karena jelas sebagai Republik Islam yang tidak mau berada di bawah kendali Barat, pendukung Politik Sekuler-Kapitalis, mereka tidak berhasil diadu domba (ingat sempat ada upaya ke arah itu oleh pendukung Islam Sekuler di Iran pasca pemilu Presiden Iran tahun lalu). Begitu pula Arab Saudi danPakistan yang tegas memihak Islam Politik juga relatif stabil, tidak mempan adu-domba.
Maka kini pilihan bagi negeri muslim, termasuk Indonesia, nampaknya tidak banyak, yakni 1). mendukung ideologi Sekuler-Kapitalistik yang membuatnya akan rawan diadu-domba jika tidak sepenuhnya taat (ada gejala membangkang) pada perintah negara ‘Patroon’ (lalu mudah dieksploitir kekayaan tanah airnya, diencerkan aqidahnya, dan dirusak akhlaknya) atau 2). teguh berpegang pada Islam Politik sehingga tidak mudah diadu-domba yang membuat terjadinya perang saudara dan memporak-porandakan negeri karena keimanan rakyatnya berkualitas baik.
Dari sisi Islam Politik, negeri-negeri muslim Afrika Utara dan Timur Tengah tersebut kini bukan berada dalam Arab Spring, namun terjebak ke dalam ‘Secularisme Spring’. Mereka masuk ke dalam era Arab Fall, menuju Arab Darkness karena meninggalkan agama Islam, khususnya dimensi Islam Politiknya. Semoga menjadi pelajaran bagi umat Islam.
Indonesia medio Desember 2011
Entry filed under: Internasional. Tags: arab spring, Politik, revolusi, Timur Tengah.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed