BAGAIMANA ISLAM MEMAKNAI “KNOWLEDGE BASED ECONOMY”?

(Sisi yg blm  didalami dlm Silaknas KAHMI: Prof-Dr bid Ekonomi)

Oleh Fuad Amsyari

Ahad 10feb yl, Forum KAHMI di hotel JW Mariot SBYA  memang terasa luar biasa dilihat dari jumlah yg hadir sktr 50 gubes-doktor bid ekonomi. Pembicr utamanya di sesi pertama  Ketua BPK Hari Ashar Azis, Pakar Ekonomi IPB Didin Samanhudi, dan Staf Khusus Presiden bid Ekonomi, serta dimoderatori oleh Rektor Unair sendiri yg ahli ekonomi. Alhamdulillah di forum itu saya sempat ketemu, foto2, dan bincang2 dg teman2 lama termasuk Bung Abdullah Hehamahua dll.

Saya cermati paparan teori & praktek ekonomi pembangunan skala nasional & internsional  dari ke tiga nara sumber utama tadi  sampai habis. Memang terasa menarik jika dipandang dr sisi  pergulatan pemikiran secara umum, spt uraian ukuran2 & fakta kondisi  ekonomi makro termasuk growth rate yg 5,1%, gini ratio yg katanya sktr 0,37 tapi itu tinjauan pengeluaran, yg jika diukur dari sisi pendapatan rakyat bisa nilainya di atas 0,50. Luar biasa memprihatinkn. (more…)

Advertisements

18 February 2019 at 18:51 Leave a comment

PEDOMAN DASAR BerISLAM dlm Dunia Plural di Era Saintek

Oleh Fuad Amsyari

 

Mari tdk gelisah menghadapi dunia fana yg kian rusak oleh ulah berbagai macam  manusia. Slhkan dijalani pedoman hidup berikut:

  1. Pilihlah PROFESI Halal apapun yg diminati dlm dunia yg Plural ini, asalkan melakukan hal2 berikut:
  2. Bertuhankan Allah SWT dg keimanan yg BENAR bercirikan:
  3. Sikap Taslim/Surrender, tunduk takluk di hadiratNya (ini suasana nurani/jiwa kita, tdk bisa terpantau orang lain)
  4. Tawakal/Submission, menerima dg rela hati nasib apapun yg diterima ssd kerja maksimal (ini juga suasana hati nurani/jiwa kita masing2)
  5. Mengerjakan Syiar/Dakwah/Jihad Islam (ingat ini perintah Allah sejak dari awal2 wahyu sekalipun, jangan sampai tidak dikerjakan. Slhkn diperhatikan isi 3 wahyu pertama yg turun: surat al ‘Alaq 1-5, al Mudatsir 1-7, ad Duha 1-11)
  6. Berakhlaq baik, spt Lurus, Jujur, Adil, termsk Suka Menolong, Dermawan, Biasakan Hidup Sederhana walau sedang berharta. Ini juga perintah dlm berislam di awal2 wahyu Allah SWT (lht surat al Ma’un, al Humazah, at Takatsur)
  7. Melaksanakan Ritual, perbanyak DOA secara khusu’ memohon kepada Allah SWT, tdk hanya unt  kebutuhan pribadi-klg saja tapi juga unt memohon perbaikan kondisi sosial umat-bangsa  yg sedang  rusak.
  8. Melaksanakan Upaya2 untuk tercapainya CITA2 ISLAM MEMBAWA RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA, termasuk Pemuliaan & Penyejahteraan Tatanan Sosial Manusia yg Plural dg beraktifitas ISLAM POLITIK. Berislam politik adalah WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM krn hal itu perintah al Qur’an & dilakukan Rasulullah sewaktu di Madinah yg plural penduduknya. Islam Politik menuntun  bagaimana spy Islam memimpin Masy/Bangsa yg plural.  Untuk mencapai tujuan  itu maka setiap muslim dituntun  jangan sekali-kali keliru masuk/membesarkan suatu Partai Politik (jangan membesarkan  Partai Sekuler) , dan jangan salah memilih Pemimpin Formal di masy pluralnya  (Islam melarang memilih non-muslim maupun muslim yg berkategori  munafiqiin, dholimiin, jahiliin sbg Pemimpin Formal di masy plural kita)
  9. Kuatkan kemampuan Saintek semaximal bisa agar mampu bersaing mengatasi para kompetitor di segala bidang dlm era saintek ini  shg dapat meningkatkan Status Sosial anda setinggi mungkin unt  bekal perjuangan.
  10. Selamat BERJUANG MENJALANI KEHIDUPAN DUNIA FANA INI dg Acuan yg benar.

Jangan sampai hidup di dunia fana mengabaikan isi 2 Acuan  Hidup Operasional yg diperinthkan Allah SWT,  yakni:

  1. WAHYU (dlm bentuk nyatanya adalah substansi dari al Qur’an & Hadis Shohih). Acuan Wahyu tdk sebatas ibadah mahdhah (shalat, puasa, dll) tapi juga  termasuk prinsip2  dlm Pengelolaan Tatanan kehidupan  sosial-politik  manusia yg plural (Kebijakan2  Poleksosbudkumhankam).
  2. Produk SAINS valid yg merupakan Sunnatullah (kaidah2 empiris alam semesta). Pencarian sunnatullah melalui kajian SAINS unt dipakai bekal hidup adalah bentuk nyata ketaatan thd  perintah Allah dari jalur  Wahyu (lht a.l  Qs al Ghosiah 17-20).  Hidup di dunia fana berbasis sunnatullah dari produk SAINS akan  membuat umat Islam   terhormat,  TIDAK MENJADI KELOMPOK MANUSIA YG TERBELAKANG, menjadi bulan2an orang lain yg kuat bersainsnya  dlm menjalani proses di dunia fananya.

 

Sby, 10 Januari 2019

11 January 2019 at 09:01 Leave a comment

Catatan Akhir Tahun: MEMAHAMI PILPRES DARI SISI ISLAM POLITIK

Oleh Fuad Amsyari

 

Berbagai pendapat terkait Pilpres 2019 yad sdh  muncul di medsos, baik dr kubu Capres-Cawapres maupun oleh  pengamat yg belum memihak. Saya cuplik saja bbrp kasus yg menarik dan kemungkinan  akan terus muncul unt dibahas-dianalisis dari sisi Islam Politik:

  1. Posting yg mengkritisi upaya2 membuat Pencitraan diri agar dipilih rakyat, baik oleh Capres maupun Caleg (kritik2 sejenis itu sdh muncul di era Pemilu2  sebelumnya). Apa yg salah dg pencitraan?  Bukankah penampilan personal spt tampak lugu atau garang atau intelek dll, atau citra muncul krn  berprestasi bidang tertentu spt sains-olah raga-seni, dll adalah bagian dari budaya  manusia.  Publikasinyapun apakah  via media, cerita pinggir jalan/warung kopi, internet dll juga bagian wajar dari kehidupan ini.

Dalam persaingan di era  demokrasi masalah utamanya  terletak pd pertanyaan:  “Bgmn umat Islam bisa MENGENALI  MANUSIA YG BENAR UNTUK DIUSUNG/ DIPILIH MENJADI PEMIMPINNYA DI MASY/DUNIA PLURALnya”.  Itulah sesungguhnya kata  kunci untuk bisa menggapai  sukses agar Islam & umat Islam bisa menjadi  Pemimpin Formal, lalu membuat Kebijakan2 operasional sesuai Syariat yg diajarkan Allah SWT,  sehingga  berujung terwujudnya   kemuliaan-kesejahteraan-keadilan-kejayaan pd  bangsa yg plural/majemuk/bhineka.

Bgmn kenyataan perilaku umat Islam masa kini dlm memilih Pemimpin  di lapangan, baik saat PROSES PENGUSUNGAN CAPRES/CALEG maupun waktu coblosan di TPS?  Sudah FAHAMKAH  UMAT ISLAM (termasuk Pengurus Parpol) SIAPA YG SEHARUSNYA  DIUSUNG / DIPILIH JADI PEMIMPIN DI MASY/NGRI nya? Apa ulama, ustad, cendekiawan muslim di ngri ini sdh  intens-istqomah  mengajarkan hal itu saat tabligh-ceramah-seminar-dakwahnya? BELUM FOKUS KE PENGAJARAN ISLAM POLITIK ITU BUKAN? Itulah hakekat  SEBAB  mengapa  umat membuat  kesalahan besar/fatal saat mendpt kesempatan untuk  mengusung & memilih dalam proses demokrasi (katakan terkait pilihan KETUA RT-RW-REKTOR-LEGISLATOR-BUPATI-GUBERNUR-PRESIDEN).

Dengan kesadaran umat dalam  berkehidupan sosial-politik  selemah itu kini saatnya (walau sdh amat terlambat) umat dididik untuk berislam secara benar,  mengikuti yg dicontohkan Nabi, tdk dididik unt berislam Ritual & Amal Sosial belaka, tapi hrs  diajarkan juga  Islam Politik sedini mungkin.

  1. Seorang teman intelek yg saya kenal sbg aktifis Islam yg cukup merakyat, tiba2 saja di saat2 sibuk pilpres ini kirim posting ke japri saya bercerita bhw di Era Tabiit Tabiin (sekitar 100 th sesudah nabi)  adanya  seorang budak berpakaian kumuh namun ditengarahi  sepertinya punya posisi  teramat dekat dg  Allah SWT shg terjamin makbul tiap doanya. Budak itu bahkan jadi rebutan antara si pemilik semula dg tokoh Islam yg menginginkan memilikinya. Posting tsb membuat saya teramat heran,  lalu berkembang  jadi khawatir jangan2 unt memenangkan Pilpres nanti  akan ada KESIBUKAN  CARI2  MANUSIA  ‘SUCI/SETENGAH DEWA’ UNT DIMINTAI  BERDOA AGAR ALLAH SWT MEMBERI  KEMENANGAN PADA CALON YG DIUSUNG.  Oleh sebab itu pd teman intelek tadi  saya respon postingannya sbb:

“Semua hal yg  terkait  ke-GHOIB-an (spt cerita budak belian yg dianggap punya kemampuan ghoib doanya selalu makbul)  di dlm ajaran Islam HANYA boleh jadi pedoman jika bersumber HADITS SHOHIH saja. Cerita itu BUKAN HADITS (eranya tabiit tabiin),  jadi tdk boleh dipakai pegangan hidup berislam,  apalagi kini sedang berada di tengah2  perjuangan Islam Politik yg di dalamnya banyak sekali kaidah baku terkait interaksi antar manusia yg merupakan Sunnatullah empiris/ sahadah yg hrs diupayakan oleh umat Islam. Katakanlah masalah spt:  Cara kampanye, Materinya, Figur2 yg hrs  berkampanye,  Perilaku si Calon sendiri,  dll.

Urusan ghoib itu mutlak hak prerogatif Allah SWT yg di dlm al Qur’an disebutkan  boleh   diusahakan via  doa. Namun hrs difahami bhw  kemakbulan doa oleh seseorang tidak ada yg bisa menjamin. Berdoa itu juga dilakukan  SESUDAH ADA UPAYA SERIUS  EMPIRIS (lht Surat as Syarh: 7-8).

Dlm Islam TIDAK ADA PROFESI PENDOA YG PASTI  TERJAMIN  MAKBUL spt  cerita dlm posting tadi, bahkan hal itu dpt dinilai Syirik jika menjadikannya sbg suatu kepastian.

Jangan lupa perjalanan umat Islam memang banyak  dininabobokkan oleh musuh Islam lewat  Hadis2 lemah-palsu & dongeng2 ttg hal2 ghoib agar umat jadi sibuk dg dunia khayalan/mimpi dan  lupa unt memakai waktunya di dunia fana yg terbatas untuk  memahami SUNNATULLAH EMPIRIS via pendalaman  Sain-teknologi.

Coba dicermati bgmn Orang Lain yg kerja keras untuk  memahami  Sunnatullah empiris/sahadah dlm kehidupan dunia fana  (termasuk teknologi bom  nuklir, pengindraan, rekayasa sosial-politik)  dan lalu  digunakan unt MENEKUK  umat Islam yg mimpi2 keghoiban tanpa percontohan shohih dari  Nabi.

Ayo menangkan pilpres secara sahadah/ empiris tanpa mencari2 Dukun/orang suci/setengah dewa seperti dlm  cerita tadi.  SEMUA saja, apalagi si CALON sendiri, hrs  berdoa khusu’ memohon kemenangan oleh Allah SWT dlm Pilpres 2019 nanti     selain upaya2 empiris serius sesuai Sunnatullah dlm kompetisi politik oleh para pendukungnya.

  1. Ada pula posting yg bernuansa berbangga  hati  terkait hasil polling Medsos via tweeter, fb, instgr, dan semacamnya.

Saya beri komentar:

Kita hrs bersikap obyektif rasional, tdk emosional.  Polling medsos itu kelemahannya krn hanya menyentuh porsi kecil penduduk terpelajar saja,  pdhal mayoritas rakyat Indonesia itu umumnya belum banyak yg terpelajar sedang yg terdidikpun masih banyak yg tdk  tersentuh survey medsos. Oleh sebab itu unt bisa menang dlm Pilpres hrs kerja keras  PENYADARAN RAKYAT BANYAK DG  MEDIA/CARA  YG BISA SAMPAI/ MENYENTUH MEREKA. Bahan yg disampaikan juga hrs  BERISIKAN MATERI YG BERBOBOT, spt: Kembali pd ajaran Islam yg Benar  bukan Islam Buatan, materi ttg berbagai  kondisi obyektif seperti  Ekonomi yg kian susah, Kesejahteraan rendah & penuh ketimpangan tajam, Pekerjaan sulit didapat tapi malah dimasuki berbondong  pekerja asing,   Keadilan Hukum yg lemah termasuk maraknya korupsi & ketidak adilan, Rusaknya Kerukunan hidup rakyat bawah spt maraknya  persekusi, menderitanya banyak ulama-ustad krn berbagai tuduhan2 saat mereka berdakwah, dll.

Materi kembali ke berislam secara  benar  PERLU TERUS DISOSIALISASIKAN/DIGELORAKAN , termasuk nasehat jangan berislam hanya sebatas ritual-amal sosial, namun juga hrs proaktif meraih Kepemimpinan Islam dlm masy plural spy masy plural itu menjadi masy mulia-sejahtera dlm berkah Allah SWT. Manusia  juga hrs diajak kembali ke ajaran Tauhid, yi  beriman hanya pd Allah SWT.

Para Muslim Pemilih  sehrsnya dipandu dg  kaidah2 Islam dlm berPolitik oleh Ulama-Ustad,  khususnya ttg  dua prinsip Qaidah Ushul Fiqih :

  1. Fokuskan penilaian pd Kualitas  CAPRESnya,  bukan pd Wakil/ Pendamping krn ada  qaidah ushul: “At taabi’ut taabi’ / Pembantu itu mengikuti”.
  2. Penerapan Kaidah ushul: ‘Dar-ul mafaasid muqoddamu ‘ala jalbil masholih’, yi dahulukanlah pertimbangan bhw Kepemimpinan TIDAK   MEMBAWA KERUSAKAN pd Islam & umat-bangsa, drpd pertimbangan akan  kebaikan manusiawi secara  umum (bila memang ada prestasi kebaikan itu).  Menghindari Kedholiman hrs  jadi pertimbangan dlm memilih Pemimpin drpd mengharap2 ada kebaikan umum saja dari si calon pemimpin.

Dg kedua kaedah ushul di atas seharusnya UMAT ISLAM SDH TERBIMBING DLM SETIAP ADA  PERISTIWA DEMOKRASI APAPUN.

 

Sby, 31 Desember 2018

Ws Fuad Amsyari

31 December 2018 at 18:36 Leave a comment

Islam Politik, antara Ajaran vs Kenyataan

29 December 2018 at 22:50 Leave a comment

ISLAM POLITIK DALAM PERSPEKTIF KETELADANAN NABI

11 September 2018 at 21:17 Leave a comment

Peran Islam Menjaga Kedaulatan NKRI Melalui Kepemimpinan Islami

7 August 2018 at 10:07 Leave a comment

KOALISI PARTAI ISLAM DENGAN PARTAI SEKULER?

Pembenaran ataukah benar dari sisi SYARI’AT ISLAM?

Oleh Fuad Amsyari.

 

Menjelang Pilkada (bisa saja menjadi kasus saat Pilpres sebentar lagi) banyak didata & dibahas  adanya KOALIASI antara PARTAI ISLAM dg PARTAI SEKULER. Bahkan dihitung jumlah koalisi itu baik terkait Cagub-Cawagub maupun di level Kabupaten-Kota.

Sebelum masuk ke materi koalisi tsb tentu perlu didefinisi- operasionalkan dulu apa yg dimaksudkan sebagai Partai Islam itu (selainnya Partai Islam  tentu masuk kategori Partai Sekuler, jangan salah sebut sbg PARTAI NASIONALIS krn PARTAI ISLAM ITU JUGA NASIONALIS). (more…)

27 June 2018 at 16:23 Leave a comment

Older Posts


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 56 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2019
M T W T F S S
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 118,770 hits

Feeds