MENCARI PEMIMPIN PARTAI ISLAM

MENCARI PEMIMPIN PARTAI ISLAM

Partai Islam di Indonesia umumnya diidentifikasi dari asas partai yang tertera dalam AD-ARTnya. Partai Islam adalah partai yang berasas Islam. Ada partai yang lahir dari ormas Islam seperti PKB dari ormas NU namun tidak berasas Islam, juga PAN dari ormas Muhammadiyah tapi juga tidak mencantumkan Islam sebagai asasnya, maka partai-partai tersebut belum dapat disebut sebagai Partai Islam. Di samping itu ada pula pendapat yang menyebut bahwa Partai Islam adalah Partai berbasis umat Islam. Tentu saja pendapat tersebut tidak tepat karena partai politik apapun di Indonesia maka pemilih utamanya adalah umat Islam sehingga semua partai, bahkan PKI sekalipun di era orde lama dulu, juga partai berbasis umat Islam. Oleh sebab itu sewaktu membahas Partai Islam seharusnya memberi batasan atau definisi yang operasional yang jelas untuk memudahkan analisisnya. Dengan batasan bahwa Partai Islam adalah Partai yang secara formal mencantumkan asas partainya adalah Islam maka Partai Islam di Indonesia masa kini (setelah verifikasi menjelang pemilu lalu) hanya ada 3 parpol, yakni PPP, PKS, dan PBB.

Dengan mencermati berbagai kasus yang dialami Partai Islam akhir2 ini, seperti PPP yang belum solid karena masalah kepemimpinan, apalagi PBB bulan April depan akan melaksanakan Muktamar di mana dalam forum itu juga akan dilakukan suksesi kepemimpinan, timbul isu besar bagaimana seharusnya memilih Pemimpin untuk Partai Islam itu. Pertanyaan ini kini sedang banyak dibahas dan memang perlu untuk dituntaskan bagaimana idealnya Partai Islam memilih Pemimpinnya supaya Partai Islam segera memperoleh simpati umat Islam dan berhasil memenangkan pemilu, lokal maupun nasional. Tidak mustahil bahwa faktor utama kekalahan partai Islam di berbagai pemilu yang lalu adalah karena cara memilih pemimpin dan terpilihnya pemimpin di partai Islam itu belun ideal sesuai syariat Islam.

Kalau dicermati bagaimana selama ini Partai Islam memilih Pemimpinnya nampak jelas sepertinya tidak banyak beda dengan bagaimana Partai Non-Islam atau Partai Sekuler dalam memilih pemimpin, yakni para peserta konggres/muktamar Partai yang mewakili warga partai di tingkat Cabang (Kabupaten-Kota), Wilayah (Propinsi), dan Nasional (Pusat), dengan masing2 memiliki hak suara, secara ‘demokratis’ memilih satu nama untuk dinyatakan sebagai Ketua Umum Partai dengan segala kewenangannya dalam mengelola partai. Cara seperti itu sesungguhnya rawan suap atau money politik, di mana dengan janji pemberian materi (tiket, uang saku, hadiah, dll) maka seseorang bisa ‘membeli’ suara agar dipilih menjadi Ketua Umum Partai. Apakah dengan mengikuti pola pemilihan pemimpin partai semacam itu lalu Partai Islam akan terhindar dari suap/money politik sewaktu memilih pemimpinnya hanya karena partainya diberi label Partai Islam? Tentu tidak sesederhana itu bukan? Bahkan jika ada Pemimpin Partai Islam yang terpilih melalui suara terbanyak ternyata di dalam prosesnya ada money politik/suap, apakah Partai Islam tersebut bisa mengembangkan partai sepenuhnya sesuai syariat? Belum lagi jika uang suap atau money politik tersebut diperoleh oleh si calon dari kerjasama dengan fihak luar yang memiliki agenda mengerdilkan partai Islam. Astaghfirullah.

Dari gambaran pemilihan Pemimpin Partai Islam yang rawan suap seperti uraian di atas maka perlu dilakukan telaah cermat bagaimana idealnya Partai Islam memilih Pemimpinnya agar Partai Islam itu akan bergerak sepenuhnya sesuai syariat dan akhirnya memperoleh dukungan mayoritas pemilih yang nota bene umat Islam. PBB menjelang muktamarnya, maupun PPP yang beritanya sedang berancang-ancang melakukan muktamar islah, atau PKS yang tentu berencana pula memilih Ketua Umumnya mendatang, perlu mendalami bagaimana syariat Islam mengajarkan Partai Islam dalam memilih Pemimpin.

Secara ideal setiap Parpol Islam harusnya memilih Pemimpin yang merupakan figur terbaik dalam partai itu ditinjau dari ukuran “Kriteria Qualitas keislaman manusia secara Kaffah/Utuh”. Al Qur’an jelas menyatakan berislamnya seseorang itu harus ‘kaffah’/utuh, tidak hanya amalan ritualnya tapi juga amalan non-ritual termasuk amalan sosial dan amalan politik, juga memiliki ilmu tinggi tidak hanya ilmu diniyah tapi juga sains-iptek, termasuk ilmu sosial-politik, manajemen, teknologi, dll. Nah bagaimana Partai Islam bisa memiliki/mendapat pemimpin yang terbaik dengan ukuran seperti itu dalam sebuah Konggres atau Muktamarnya?

Secara faktual banyak peserta Muktamar/Konggres partai belum kenal sepenuhnya figur2 utama aktifis partai. Dengan lemahnya pemahaman mereka akan siapa aktifis partai yang terbaik sesuai ajaran Islam maka mereka akan mudah terjebak pada upaya suap/money politik yang dilancarkan makelar2 politik. Peserta Konggres/Muktamar Partai Islam harus ‘diselamatkan’ dari kelemahan seperti itu.

Ajaran Islam memberi sebutan ‘Ulama” untuk figur yang berkualitas dalam keIslaman, yakni orang yang berilmu, tentu tidak hanya berilmu diniyah saja, tapi juga berilmu duniawiyah atau sains-teknologi yang tangguh. Jangan sampai umat terjebak pada kategori ulama yang hanya terkait faham ritual dan amal sosial tapi tidak faham tentang Politik Islam, manejemen, iptek, lalu dipaksa menjadi Pemimpin Partai Islam. Juga jangan terjebak pada figur sebaliknya, yakni orang yang hanya pandai berpolitik, faham iptek dan menejemen tapi tidak memiliki pemahaman mendalam tentang aqidah Islam, syariat kenegaraan Islam, lemah dalam praktek ritual dan amal sosial. Jika figur seperti itu dijadikan pemimpin Partai Islam maka si Pemimpin akan mudah terjebak pada akhlak rendah yang membuat partai dicemooh umat.

Bagaimana peserta muktamar yang punya hak suara itu bisa mengenali aktifis partai yang memiliki kualitas ‘ulama’ berkaliber utuh seperti di atas? Kalau pemilik suara dalam muktamar hanya diminta memilih satu nama yang terbaik maka rasanya akan amat besar kemungkinan dia kesulitan mengindentifikasi figurnya, bahkan rawan termakan tipuan makelar suap. Namun jika peserta itu disuruh memilih beberapa nama, misalnya 5 nama figur ulama di dalam partainya, insyaAllah dia masih bisa menunjuk 5 figur ulama terbaik di partainya yang memiliki kualitas ulama. Jika ada 500 pemilik suara, dan masing2nya menulis 5 nama ulama berkualitas sebagai calon pemimpin partai Islam, insyaAllah mereka akan mampu memilih figur2 pilihan mereka secara lebih obyektif, terhindar dari upara rekayasa makelar suap politik. Hasil pilihan mereka itu tidaklah berjumlah 5×500=2.500 figur, namun akan mengerucut sepertinya hanya sekitar 100-200 nama figur unggulan. Tentunya tidak semua nama yang masuk dalam tahapan ini harus dipilih menjadi ulama/tokoh terbaik, cukup dipilih 15-25 nama yang tertinggi suara perolehannya, dan insyaAllah mereka itulah memang ulama partai Islam yang terbaik dari semua aktifis yang ada dalam partai Islam tersebut.

Ajaran Islam juga mengajarkan bahwa Pemimpin Tertinggi umat dipilih oleh ‘Ahlul Halli wal Aqdi’ atau Majelis Ulama berkualitas, dalam ilmu diniyah dan duniawiyah. Dalam beberapa partai Islam istilah bagi forum itu bisa berbeda-beda, namun esensinya sama. Ada yang menamakan Majelis Syuro, Majelis Pertimbangan, Majelis Syuriah, dll. Jika peserta muktamar partai Islam melakukan pilihan seperti yang diuraikan tadi, tentu 15-25 figur terpilih tersebutlah figur yang layak disebut sebagai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Maka ke 15-25 tokoh partai tersebutlah yang berhak memilih siapa yang menjadi Ketua Majelis itu sendiri, siapa pula yang akan didudukkan sebagai Ketua Umum, Sekjen, dan beberapa Pimpinan Pusat Teras Partai. Dengan cara seperti ini insyaAllah Partai Islam akan memiliki figur Pimpinan yang Paripurna, membawa Partai ke arah tujuan Ideologi Islam, yakni berjuang menerapkan syariat kenegaraan Islam dalam pengelolaan Negara jika menang pemilu nanti. Pimpinan Partai Islam akan amanah, secara pribadi dia akan menjaga syariat Islam dalam hal personal dan berkeluarga, dan secara sosial-politik dia akan tegas menerapkan misi perjuangan politik Islam.

Sebagai ringkasan maka urutan pemilihan Pemimpin Partai Islam bisa diuraikan sebagai berikut:

  1. Dilaksanakan Muktamar Partai Islam yang dihadiri Pimpinan Cabang (Kabupaten-Kota), Wilayah (Propinsi), Pusat (Nasional). Setiap perwakilan memiliki satu suara, umumnya total sekitar 500 suara.
  2. Dalam menentukan Pimpinan Partai maka tahap pertama pemilik suara akan menuliskan 5 nama figur Partai yang berkategori ulama berkualitas, baik dalam aspek Diniyah maupun Sains-Teknologi, memiliki jejak pejuang Islam yang kokoh, apakah aspek aqidah, ritual, akhlaq, dan sosial-politik.
  3. Diperkirakan akan masuk sekitar 200 nama berkategori figur ulama terbaik yang dihasilkan oleh 500 suara pemilih
  4. Tahap keduanya adalah mengambil 25 figur yang memperoleh suara terbanyak dari sekitar 200 nama tersebut, dan mereka akan duduk sebagai Ahlul Halli wal Aqdi.
  5. Tahap ketiga adalah Ahlul Halli wal Aqdi akan bermusyawarah untuk mufakat menunjuk Pimpinannya sendiri (Ketua, wakil Ketua, dan Sekretaris AHWA).
  6. Tahap keempatnya AHWA bermusyawah menunjuk Ketua Umum dan Pimpinan Pusat Partai yang penting seperti Ketua Mahkamah Partai dan lainnya.
  7. Keseluruhan keputusan AHWA tersebut dilaksanakan selama Muktamar/Konggres Partai Islam berlangsung.
  8. Ketua Umum dan Pimpinan Teras Partai lain yang ditunjuk AHWA selanjutnya akan menyusun susunan Pengurus Pusat Partai secara lengkap setelah Muktamar/Konggres
  9. AHWA adalah majelis tertinggi partai yang menentukan berbagai kebijakan strategis syar’i untuk partai, memantau dan mengevaluasi aktifitas Eksekutif-Yudikatif partai yang dilaksanakan Ketua Umum dan Ketua Mahkamah Partai
  10. AHWA memiliki kewenangan mengawasi jalannya partai, menegur Pimpinan Pusat Partai (termasuk Ketua AHWA sendiri), dan memakkzulkan Pimpinan Pusat Partai (termasuk Ketua AHWA) dan mengganti dengan yang baru jika ternyata yang bersangkutan melakukan pelanggaran syariat yang berdampak serius pada kinerja partai, tanpa melalui muktamar khusus
  11. AHWA bekerja selama periode antar muktamar, dan apabila ada anggautanya yang berhalangan tetap maka bisa diganti oleh figur yang menduduki urutan berikutnya dari calon AHWA yang terpilih oleh muktamar sebelumnya.

Pemilihan Pimpinan Partai Islam seperti yang diuraikan di atas jelas berbeda diametrikal dengan cara Partai Sekuler memilih pemimpinnya yang rawan suap/money politik dan tidak menggambarkan adanya nilai syariat.

Semoga bermanfaat untuk perjuangan umat Islam dan khususnya bagi Partai Islam di Indonesia.

Indonesia akhir Februari 2015.

26 March 2015 at 17:37 Leave a comment

KEUNGGULAM PEMERINTAHAN SYAR’I TERHADAP PEMERINTAHAN SEKULER

Fuad Amsyari PhD

 I. RASIONAL SYARIAT ISLAM MEMBAWA KESEJAHTERAAN BANGSA-NEGARA

 Dalam dunia Islam  ada dua pendekatan yang bisa memberi penjelasan akan suatu tesis dalam kehidupan, yakni pendekatan Naqliah dan Aqliyah. Dalil Naqliah adalah pendekatan melalui text nash al Qur’an dan Sunnah Nabi tentang suatu masalah di mana substansinya memberi keyakinan pada umat Islam akan kebenaran tentang tesis tersebut. Sedangkan pendekatan Aqliyah adalah upaya manusiawi untuk memberikan penjelasan secara empiris apakah Pemerintahan Syar’i lebih unggul dari Pemerintahan Non-Syar’i (Sekuler). (more…)

14 March 2015 at 19:51 Leave a comment

MEWASPADAI KECENDERUNGAN MENUHANKAN SAINS-TEKNOLOGI, MENINGGALKAN AJARAN AGAMA YANG BENAR

3 February 2015 at 17:59 Leave a comment

MAKNA SAINS

27 January 2015 at 06:44 Leave a comment

Menuju Sukses, Mengatasi Keterpurukan/Kegagalan

13 December 2014 at 14:29 Leave a comment

SEBERAPA CERDASKAH MANUSIA ITU?

Bumi ini penuh ‘kekayaan’, mulai dengan keluasan tanahnya yang bisa ditanami, lahan yang bisa ditempati, melimpahnya air yang selalu dibutuhkan untuk hampir semua kebutuhan manusia, udara dengan oksigen dan bahan kimiawi penting lain, isi buminya yang luar biasa berupa tambang bermacam-macam sepertinya tak terbatas jenis dan kuantitasnya, seperti minyak bumi, batu bara, logam emas, perak, tembaga, berbagai bantuan termasuk intan, mineral, dan sebagainya. Belum lagi binatang yang hidup di atasnya yang bisa dimakan, ditimang-dipelihara dijadikan kesayangan, bentangan geografis dengan panoramanya yang indah. MasyaAllah.

Sebagian kekayaan di bumi itu bisa didapat dengan mudah oleh manusia, namun juga banyak jenis yang memerlukan kemampuan khusus berupa ilmu dan teknologi untuk mengambilnya. Teknologi yang diperlukan sudah banyak yang diketahui dan dikuasai, ada yang sederhana ada pula yang rumit. Ada yang terbuka untuk umum, ada pula yang dirahasiakan untuk kepentingan tertentu, seperti misalnya supaya memperoleh harga melangit saat menjualnya. Maka bergabunglah kedua macam kekayaan di atas, yakni kekayaan alam dan kekayaan teknologi manusia. Seharusnya dengan kedua bentuk kekayaan itu semua manusia yang sempat hidup di bimu bisa hidup layak sebagai makhluk mulia sampai akhir hayat mereka. Namun benarkah keberuntungan manusia seperti itu yang terjadi di bumi? Dalam sejarah panjang manusia jawabannya ternyata tidak, bahkan sebagian besar manusia di bumi itu hidupnya masih sengsara, malah banyak yang hidup lebih sengsara dari binatang. Di mana masalahnya? (more…)

19 November 2014 at 19:08 Leave a comment

MELANGKAH BENAR DENGAN PENDEKATAN TaMaLa

9 November 2014 at 12:11 Leave a comment

Older Posts


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2015
M T W T F S S
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 74,298 hits

Feeds


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers