Archive for February, 2009

Adakah Politik Anti-Syariat di balik Isu Kemajemukan Agama di Indonesia?

Pluralitas Agama ataukah Mayoritas Muslim

Mengapa kini makin marak saja isu adanya pluralitas agama di Indonesia padahal di negeri ini sejak dalam masa penjajahan oleh bangsa Belanda yang Protestan dan diteruskan oleh penjajahan Jepang yang menganut Budha dan Kong Hu Cu itu sudah ada kemajemukan agama. Mana pula yang lebih relevan dibicarakan dalam kaitannya dengan upaya membangun bangsa-negara Indonesia untuk menjadi bangsa-negara yang maju dalam percaturan internasional, isu pluralitas agama atau isu Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas  penduduk di Indonesia?

Sejak dahulu kala, bukan di era reformasi ini saja telah ada pluralitas agama di Indonesia. Bahkan tidak ada satupun negara di dunia yang warga negaranya hanya memeluk satu agama, tidak pula di negara Madinah masa Rasulullah di mana di sana juga ada Yahudi dan Nasrani/Kristen. Tapi kemudian mengapa sepertinya di Indonesia ini, khususnya mulai  di masa Orde Baru lalu dan berlanjut di era reformasi sekarang ini ada histeria bahwa di negeri ini ada pluralitas agama (baca: tidak hanya orang Islam saja). Mengapa pula sepertinya Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk di negeri ini tidak menjadi isu sosial politik, bahkan nampak ingin ditenggelamkan. Mengapa ada upaya untuk tidak menonjolkan bahwa strukrur sosial bangsa ini didominasi oleh muslim (sekitar 90%), sedang pemeluk agama lain, seperti Katholik, Protestan, Budha, Hindu, Kong Hu Cu membagi sekitar 10% sisanya? Bukankah proporsi seperti itu lebih layak diungkapkan, dikemukakan, dan ditonjolkan sewaktu bangsa ini sedang berupaya mencari strategi pembangunan yang efektif bisa menghantar bangsa  menjadi bangsa yang besar? Mengapa pula ada upaya sistematis untuk meyakinkan semua orang di Indonesia (baca: umat Islamnya) bahwa faktor mayoritas agama itu tidak penting untuk diperhitungkan dalam proses pengelolaan bangsa dan negara.
Read more >>>

21 February 2009 at 08:15 3 comments

Pemilu 2009 sebagai Momentum Penegakan Syariat Islam dalam Kehidupan Berbangsa-Bernegara untuk Kejayaan NKRI

Makna dan Lingkup Syariat Islam

Cara hidup atau syariat yang diajarkan oleh Islam meliputi segala aspek kehidupan yang memang diperlukan oleh manusia di dunia fana, yakni: aspek kehidupan individu, keluarga, dan sosial-kenegaraan. Rasulullah juga telah memberi contoh kongkret cara hidup Islami untuk ketiga lingkup kehidupan itu, termasuk bagaimana Rasulullah mengelola keluarganya dan mengatur negara Madinah sesuai dengan syariat sosial-kenegaraan yang diajarkan Allah swt.

Dari ke tiga lingkup syariat Islam itu yang sering menjadi polemik adalah syariat terkait dengan pengelolaan bangsa-negara. Kemantapan hati umat Islam untuk menerapkan syariat sosial-kenegaraan ini sering diganggu oleh propaganda bahwa di negeri ini hidup pula orang yang beragama lain. Realitas sosial yang majemuk atau plural seperti itu lalu dijadikan alasan kuat untuk meninggalkan syariat sosial-kenegaraan Islam dan lalu dengan rasa bangga (mungkin karena sok toleran) mengadopsi konsep ‘non-Islam’ dalam mengelola negerinya (PADAHAL DI NEGERI INI JUGA HIDUP ORANG ISLAM, BANYAK LAGI). Benarkah rasional seperti itu? Ataukah cara berfikir di atas memang perangkap yang dipasang orang lain terhadap umat agar mau meninggalkan syariat sosial-kenegaraan yang diajarkan agamanya sehingga negara lalu dikelola dengan konsep mereka dan MENGUNTUNGKAN MEREKA! Allahu akbar.

Jawaban terhadap perangkap berfikir seperti itu sebenarnya mudah, yakni: 1). Tidak ada satu negarapun di dunia, bahkan di zaman Rasulullah sekalipun, yang penduduknya itu satu agama. Semua negara dunia memiliki struktur sosial yang pasti heterogen dalam hal agama; justru yang lebih penting adalah bagaimana komposisi sosial keagamaan di negara tersebut. Dalam hal ini jelas penduduk Indonesia itu mayoritasnya muslim dan inilah fakta sosial yang tidak boleh diabaikan dan harusnya difahami oleh orang lain agar ‘tidak keberatan’ bahwa negeri ini dikelola sesuai syariat sosial-kenegaraan Islam, bukan cara mereka; 2). Islam itu adalah Rahmat bagi seluruh Alam, yang arti operasionalnya adalah  pengetrapan ajaran Islam dalam kehidupan sosial-kenegaraan akan mendatangkan rahmat bagi bangsa itu, apapun agama yang dipeluknya. Islam dalam bentuk ajaran sosial-kenegaraann adalah hadiah kemanusiaan bagi umat manusia di bumi ini untuk mencapai keadilan, kemakmuran, kedamaian, dan kelestarian alam semesta.

Islam itu ibarat ‘mercusuar’ yang harus dinyalakan oleh umat Islam untuk menerangi seluruh rakyat Indonesia yang majemuk; Islam itu ibarat ‘vitamin’ yang harus dibagikan kepada semua warga Indonesia agar mereka sehat-sejahtera.

Politik dan Penegakan Syariat Sosial-Kenegaraan Islam untuk Kejayaan NKRI

Dakwah Islam pada dasarnya adalah membawa ajaran Islam melalui cara aktif dan pasif, verbal dan perbuatan, amar ma’ruf nahi mungkar, guna menyelamatkan orang dan tatanan sosial dari kerusakan. Telah cukup lama di negeri ini berlangsung  praktek kehidupan yang membawa kerusakan, termasuk kejahatan yang semakin marak. Dari kacamata tauhid jelas sekali sebab dasarnya adalah karena banyak orang Islam sendiri di Indonesia yang tidak mengetrapkan syariat Islam secara kaaffah atau utuh. Mereka tidak melindungi keluarga melalui penerapan syariat Islam dalam berkeluarga, dan tidak melindungi negeri dan bangsanya melalui penerapan syariat Islam terkait dengan pengelolaan bangsa-negara. Bahkan juga banyak orang Islam yang tidak melindungi anak-didik dan generasi mudanya melalui penerapan syariat Islam dalam pengelolaan lembaga pendidikannya. Perilaku umat di negeri ini bagai pepatah “Melepas Punai di tangan karena mengejar Kicau Burung di atas Pohon”, yang maknanya adalah  membuang konsep sosial-kenegaraan Islam yang jelas sudah ditangan karena mengejar konsep orang lain yang diberitakan secara besar-besaran bahwa konon  telah berhasil membawa kemakmuran.

Mengingat bahwa tantangan yang dihadapi dalam upaya penerapan syariat Islam yang terkait dengan proses pengelolaan bangsa-negara itu amat berat, menghadapi ‘musuh’ Islam dalam bentuk kelompok eksternal dan internal, dalam skala nasional dan internasional, maka diperlukan kemampuan besar pula untuk menghadapinya. Kemampuan itu haruslah berbentuk kerjasama yang kokoh-kuat sesama muslim yang sadar akan panggilan perjuangan Islam dalam demensi sosial-kenegaraan. Perlu ada aliansi Partai Islam. Arti umum aliansi adalah  ‘a union or connection between families, parties, or individuals to further the common interest of the members’. ‘Common Interest’ dalam kontek di sini lalu berarti: ‘penegakan syariat Islam pada lingkup berbangsa-bernegara, agar bangsa-negara itu menjadi maju dan sejahtera di bawah lindungan dan ampunan Allah swt’.

Metode sosial yang dipilih untuk mencapai cita-cita bersama  juga patut dibahas dalam proses membangun aliansi tersebut. Sehubungan dengan ini maka titik kritisnya adalah:  Siapa yang menjadi Pemimpin Bangsa. Pendekatan secara konstitusional bercirikan keterbukaan dan profesionalisme dalam berjuang harus menjadi kesepakatan bersama dan dijunjung tinggi oleh semua aktifis Islam. Kita tidak boleh terjebak untuk menetapkan metode campur sari, yakni berkompromi dengan fihak kompetitor di aspek strategis perjuangan, antara lain berharap-harap cemas untuk dibantu kelompok ghoirul Islam dalam mengegolkan agenda politik kepemimpinan negara. Kini  sudah tiba saatnya bahwa aliansi strategis partai politik yang memihak Islam untuk kepentingan bangsa dibangun menjadi kekuatan yang kokoh-kompak berjuang memilih tokoh Islam yang siap mengetrapkan syariat sosial-kenegaraan Islam pada proses pengelolaan bangsa-negara Indonesia dalam pemilihan kepemimpinan baru Indonesia di pemilu 2009 nanti, legislatif maupun eksekutifnya.

Optimalisasi Pemilu 2009 untuk Penegakan Syariat Islam di Indonesia

Pemilu 2009 memang memiliki kekhususan yang perlu memperoleh perhatian para pejuang dan aktifis Islam di negeri ini. Kekhususan itu bisa diringkas sebagai berikut:
Read more >>>

17 February 2009 at 12:34 1 comment

Summary of “Islamic Vision to Make a Better World”

Download Summary of Islamic Vision to Make a Better World

Download here…

12 February 2009 at 14:30 Leave a comment

Agenda Terbaru


Bedah Buku Fuad Amsyari berjudul:

New Paradigm of National Development
Islamic Vision to Make a Better World

Berlangsung di PP Darun Najah Jakarta, Rabu, 11 Februari 2009, pukul 10.00-12.00 WIB.
Review oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra.


10 February 2009 at 13:44 Leave a comment

Pesan Maulud

Rasulullah adalah percontohan kita. Hal tersebut tertulis dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam syiar Islamnya beliau jelas berpolitik sehingga menjadi Kepala Negara. Jabatan tersebut untuk penerapan Syariat Sosial-Kenegaraan Islam demi kesejahteraan rakyat, sedang hidup beliau sendiri amat sederhana. Saat masih di Mekah, musyrikin pernah menawari tahta, wanita, harta melimpah, asal mau kompromi dalam ber-Islam, tapi beliau tegas menolak. Beliau jelas seorang “Politikus Ideologis” bukan “Politikus Profesi“.

Semoga kita bisa menirunya..

10 February 2009 at 13:21 Leave a comment


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 63 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Stats

  • 132,558 hits

Feeds