MENGAPA MENGELOLA NEGERI MUSLIM DENGAN CARA SEKULER: Waspadai Skenario Internasional Melemahkan Indonesia

3 March 2009 at 08:56 3 comments

Tesis:

Negeri Muslim yang dikelola dengan Cara Sekuler tidak akan pernah menjadi bangsa besar karena dua proses pelemahan: 1). Pelemahan kualitas sumber daya manusianya karena mayoritas penduduk yang muslim akan kehilangan jati diri sebagai muslim sejati sehingga lemah integritas internalnya dan berubah menjadi setara mualaf, munafiq, dan kehilangan akhlak mulia; 2). Sumber daya alamnya akan terkuras oleh rekayasa global yang liberalistik melalui eksploitasi ekonomi internasional dari negara yang sudah jauh lebih kuat dalam permodalan dan kemampuan teknologi & militernya.

Kata kunci:

  1. Negeri Muslim adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim
  2. Cara sekuler adalah metoda pengelolaan negara yang meninggalkan tuntunan Allah swt di bidang sosial-kenegaraan (poleksosbudhankam).

KARAKTERISTIK PERSAINGAN GLOBAL

Sebagai warga negara Indonesia, apalagi jika sedang menjadi pejabat,  seharusnya selain bekerja keras ‘membangun bangsa’ juga perlu melakukan introspeksi terus menerus apakah dirinya, melalui kebijakan-kebijakannya, malah tidak secara langsung disadari  berperan menjadi kaki tangan asing untuk mencederai bangsa-negaranya sendiri. Mencederai berarti membuat bangsa-negaranya ‘terluka’ sehingga semakin lemah dalam berbagai bidang kehidupan sosial-kemasyarakatan, seperti: ekonomi, ketahanan militer, kemandirian, kedaulatan, keluhuran budi-pekerti dan budaya, serta kecerdasan intelektual dan spiritual bangsa.

Amatlah rasional bahwa pihak asing akan terus berupaya keras agar negeri mereka sendirilah yang menjadi semakin kuat-jaya, dan untuk itu tidak mustahil mereka akan melakukan berbagai upaya strategis membuat intervensi untuk melemahkan negara lain, apalagi jika negara lain itu memiliki potensi menjadi negara kuat karena kaya akan sumberdaya alam disertai jumlah manusianya banyak. Intervensi tersebut tentu akan lebih intensif ditujukan kepada negeri yang mayoritas penduduknya memiliki keyakinan akan makna hidup yang jelas berbeda. Indonesia sebagai suatu bangsa memang memiliki kekhasan yang tidak banyak dimiliki negara lain dan berpotensi menjadi negara besar dan maju jika dikelola dengan benar.

Indonesia yang terkenal sebagai mutiara katulistiwa, memiliki kekayaan alam melimpah, posisi strategis diantara dua benua dan dua samudra,  area negaranya (darat-lautnya) yang luas, dan jumlah penduduk yang juga besar, mendekati 250 juta. Bandingan Indonesia di dunia dilihat dari sisi luas wilayah hanya ada beberapa negara saja seperti AS dan Brazil, dari sisi posisi geografis hanya Malaysia dan Filipina, dari sisi jumlah penduduk hanya tertandingi AS, India, Cina, dan Rusia, dan dari sisi keanekaragaman kekayaan alam hanya dimiliki  beberapa negara tropis belaka. Di luar itu semua, yang perlu juga disadari adalah bahwa  keyakinan agama mayoritas penduduk Indonesia adalah agama Islam di mana tidak ada satupun negara yang menyamainya (sekitar 200 juta orang Islam ada di dalamnya).

Indonesia potensial menjadi negara adidaya yang berciri khas: muslim. Bagi kekhasan yang muslim itu hanyalah Iran dan Pakistan yang mendekati Indonesia dari sisi keluasan wilayah serta jumlah penduduknya. Negara-negara di Timur Tengah walau mayoritas penduduknya  muslim namun wilayah dan jumlah penduduknya amat jauh dibanding Indonesia.

Di dunia ini memang sudah ada negara yang relatif kuat dalam banyak hal seperti: militer, keilmuan-teknologi, kaya sumberdaya alam, dan berpenduduk besar, tetapi amat berbeda dalam keyakinan agamanya. Katakanlah Amerika Serikat berkeyakinan Protestan-Katolik, Rusia dan Cina berkeyakinan Atheis, India berkeyakinan Hindu. Negara lain seperti Jepang dan negara-negara Eropa yang sering disebut sebagai negara maju tidak sepotensial Indonesia karena penduduknya yang relatif jauh lebih kecil, luas daerah yang lebih sempit, dan kekayaan alam yang tidak variatif.

Kaidah ekologi menegaskan bahwa pada populasi spesies yang sama akan terjadi proses interaksi kompetisi karena adanya kesamaan kebutuhan hidup dari anggota populasi itu. Dunia  manusia yang hanya satu spesies  (homo-sapien), jelas terkena kaidah ini dan di dalamnya telah terjadi interaksi bersifat kompetisi itu. Bentuk kompetisinya saja yang  bervariasi, bisa bentuk kasar seperti perang sampai bentuk terhalus berupa eksploitasi ekonomi secara amat tersamar. Di sinilah esensinya mengapa bangsa Indonesia, khususnya para inteletual dan pejabat negaranya, haruslah meningkatkan kewaspadaan agar negeri ini tidak menjadi hancur oleh proses kompetisi internasional dengan pihak negara lain.

KASUS YANG DIALAMI INDONESIA  TERKAIT KEBIJAKAN NASIONALNYA YANG SEKULARISTIK

Terkait dengan upaya menyelamatkan bangsa dari skenario pelemahan negara dalam proses kompetisi internasional, maka mari disimak kejadian atau hal-hal berikut:

  1. Bagaimana penyebaran agen rahasia negara lain di Indonesia di era reformasi sekarang, apakah dengan dalih keterbukaan atau kerjasama maka mereka menjadi semakin leluasa bergerak atau beroperasi di negeri ini?
  2. Bagaimana peran kaki tangan asing di kalangan bangsa sendiri, termasuk melalui jaringan LSM yang sok humanis dan intelek yang tega membarter data nasional dengan bantuan ‘sedikit’ dana operasional bagi kelompok kecil mereka dari pihak negara lain dan ternyata data tersebut digunakan oleh asing untuk menyusun strategi guna mengeksploitasi dan mencederai Indonesia.
  3. Bagaimana IMF telah sempat berhasil meyakinkan penguasa untuk menghilangkan subsidi negara bagi berbagai sektor vital pembangunan seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar kehidupan rakyat banyak (BBM, pupuk, dll) demi alasan efisiensi ekonomi  makro. Akibatnya adalah pendidikan, pelayanan kesehatan, serta bahan kebutuhan pokok penduduk menjadi mahal, sulit terjangkau oleh mayoritas penduduk.
  4. Bagaimana sektor pertanian, termasuk perikanan, nelayan, dan kehutanan  tersisihkan dalam pembangunan nasional karena pemerintah lebih mengutamakan pertumbuhan industri yang bermodal besar dan berteknologi canggih tapi sedikit menyerap tenaga kerja sehingga pengangguran merajalela.
  5. Bagaimana negara mengutamakan perolehan pendapatan dari sektor ekonomi yang spekulatif dan ‘quick yielding’ seperti misalnya semakin bergantung kepada praktek ekonomi maya antara lain  pasar saham dan obligasi dengan alasan pertumbuhan ekonomi makro, sehingga walau pendapatan perkapita dilaporkan bisa naik namun yang menikmati hanyalah beberapa investor asing, konglomerat, kroni, serta partner birokrasinya saja sedang rakyat banyak masih tetap miskin. Di samping itu ternyata ekonomi maya dan kapitalistik tersebut  tidak menjamin ketangguhan ekonomi nasional karena  begitu ekonomi kapitalistik global ambruk maka cepat sekali membawa krisis ekonomi nasional.
  6. Bagaimana hutang negara semakin menumpuk dengan alasan demi pembangunan nasional padahal hutang tersebut walau namanya ‘soft loan’ namun jika dicermati ternyata sebagian besar dana yang dipinjam itu  segera pula kembali ke negara pendonor melalui pembayaran tenaga konsultan dan pembelian peralatan teknologi ‘canggih’ yang selangit harganya. Ujungnya rakyat dan kekayaan negara pula yang membayar hutang dan bunganya yang menjadi beban dalam masa bertahun-tahun mendatangnya.
  7. Bagaimana budaya luhur bangsa telah hancur berganti dengan budaya rusak mengumbar nafsu seksual, kebrutalan, hilangnya sopan-santun ketimuran kepada orang tua dan guru, serta ketamakan akan harta karena didorong oleh kepentingan ekonomi sesaat. Alasan kebebasan berkreasi seni, persamaan hak, mendukung HAM, dan semacamnya dipompakan ke negeri ini, bahkan telah berhasil menggunakan corong sebagian anak bangsa sendiri yang telah terperangkap cara berpikir sekularistik itu.
  8. Bagaimana penghargaan pada ilmuan di perguruan tinggi dan lembaga riset nasional yang rendah, hanya disediakan  fasilitas keilmuan seadanya disertai gaji kecil (beberapa juta sebulan). Bandingkan itu dengan pemberian honor pada para artis yang menjual bentuk fisik tubuh,  kemerduan suara, kemampuan berpura dalam akting,  dan goyangan pinggul dalam gerak (bisa menerima ratusan juta dalam beberapa jam tayang) disertai fasilitas teknologi tercanggih yang tersedia di dunia. Kebijakan nasional seperti ini jelas membuat bangsa akan terarah menjadi sekedar bangsa penghibur, bukan bangsa yang maju dalam bidang ilmu dan teknologi.
  9. Bagaimana eksodus para pakar bangsa (doktor pertanian, teknologi minyak, mesin, rekayasa, dll) karena di negeri sendiri tidak terjamin hidup dan karirnya oleh kurangnya perhatian negara dalam  membina dan mengembangkan mereka.
  10. Bagaimana  sektor perdagangan tidak cukup memadai dalam upaya melakukan pembatasan import sehingga hasil produksi dalam negeri termasuk hasil pertanian rakyat terjual murah yang membuat petani kian sulit hidupnya? Apakah karena kegiatan impor akan memberikan keuntungan dalam bentuk berbagai macam komisi?
  11. Bagimana kebijakan perlindungan terhadap pertanahan, di mana tanah dengan mudah dimiliki oleh pihak asing padahal tanah itulah sesungguhnya yang diwariskan dan diperjuangkan kepemilikannya oleh nenek moyang dan pendiri bangsa Indonesia dengan berdarah-darah dan nyawa. Tanah harusnya maksimal hanya boleh disewakan ke investor asing dengan komitmen waktu terbatas disertai uang sewa yang menjamin perbaikan hidup rakyat pemilik, dan jika mereka hengkang karena rugi atau menilai keuntungannya kurang besar  maka tanah tersebut akan kembali tetap menjadi milik bangsa sendiri.
  12. Bagaimana komitmen terhadap eksplorasi pertambangan oleh pihak asing yang lebih memberikan keuntungan besar pada asing sehingga kekayaan tanah air yang tidak terbaharukan itu lalu tergerus habis bukan untuk kesejahteraan rakyat banyak. Seharusnya kekayaan alam seperti itu lebih baik disimpan dulu untuk anak cucu nanti bila pihak nasional tidak mampu mengeksplorasinya secara relatif mandiri.

KEMBALI KEPADA KEMANDIRIAN BANGSA

Jika hal-hal di atas dicermati maka ternyata dalam era reformasi ini Indonesia belumlah menjadi  semakin baik sebagai suatu bangsa, dengan ukuran kemajuan sebuah bangsa seperti: jumlah orang miskin tetap besar, kekayaan alam semakin menipis, budaya bangsa semakin rusak, keimanan penduduk akan agamanya semakin luntur, tanah semakin banyak terjarah, ekonomi semakin bergantung pada luar negeri. SIAPAKAH yang paling banyak berperan dalam permasalahan ini? Jawabnya jelas sekali, yakni para penguasa yang memang memiliki kewenangan formal dalam mengelola bangsa-negara ini. Mereka telah memilih cara sekuler yang disodorkan orang lain dalam mengelola negerinya.

Semoga penguasa negeri ini  semakin sadar akan tanggung jawabnya menyelamatkan bangsa-negaranya agar tidak terperangkap skenario pelemahan bangsa oleh pihak asing. Dari sisi para intelektual diminta juga perlu menjadi semakin waspada akan tantangan yang ada dalam skala internasional, dan intensif berpikir untuk memajukan kepentingan nasional melalui proses rasional sesuai dengan kenyataan struktur sosial bangsa. Rakyat umumnya juga harus banyak diyakinkan dan dimobilisasi agar mereka semakin hati-hati dalam memilih pemimpin negerinya. Rakyat jangan tertipu oleh calon pemimpin yang didanai oleh pihak asing dalam usahanya memenangkan pemilu di negerinya, apakah pemilu legislatif ataupun pemilu untuk memilih Presiden RI nanti.

Indonesia, 3 Maret 2009.

Fuad Amsyari

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , .

Adakah Politik Anti-Syariat di balik Isu Kemajemukan Agama di Indonesia? AREA APA YANG TIDAK DISENTUH DALAM DIALOG ANTAR AGAMA, (“Clash of Civilization” Huntington Menjadi Keniscayaan?)

3 Comments Add your own

  • 1. Habloel  |  7 March 2009 at 10:26

    Sepakat. Gagasan Bpk harus disebarluaskan, paling tidak di internal kita. Indonesia memang dalam kondisi kritis akibat diserang virus sekulerisme, bukan hanya perilaku, tp yg bahaya adalah pemikiran.

  • 2. mirza  |  13 March 2009 at 19:02

    setuju bapak.. terlebih lagi penguasaan atau eksploitasi negara barat tidak lagi dengan hard power melainkan smart power..

    pak tapi kenapa pemerintah cenderung membiarkan atau malah mendukung pengelolaan negara muslim dengan cara sekuler?

    serta menolak pengelolaan negara secara syariah dengan mengait2kan “indonesia bukan negara yg hanya islam saja di dalamnya” sebagai sebabnya..
    apa alasan penolakan tersebut? (saya kurang paham)

    Setiap kebijakan tentu terkait dengan visi ideologis pembuat kebijakan tersebut. Banyak Pejabat Indonesia yang muslim namun visi ideologisnye masih sekularistik. Kewajiban kita semua untuk membenahi ketimpangan tersebut. Coba ikuti terus blog ini, insyaAllah akan saya tulis lebih jauh agar menjadi lebih jelas nantinya.

  • 3. dibu  |  1 June 2009 at 13:29

    Indonesia bisa menjadi negara adidaya asal hutang luar negerinya lunas,selama belum lunas sampai kapan pun kita tidak akan bisa menjadi negara adidaya,seluruh kebijakan politik luar negeri kita masih harus tunduk dan mengikuti koridor barat/AS,belum pernah ada presiden kita yang berani komen tuk menentang kebijakan politik luar negerinya AS,mungkin Soekarno berani karna waktu itu ada 2 blok sehingga AS mau di stir oleh Soekarno karna takut Indonesia menjadi negara komunis dan ujungya Australia menjadi terbuka dan masuk ajaran ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: