AREA APA YANG TIDAK DISENTUH DALAM DIALOG ANTAR AGAMA, (“Clash of Civilization” Huntington Menjadi Keniscayaan?)

10 March 2009 at 06:58 2 comments

DIALOG AGAMA DAN TEORI HUNTINGTON

Polemik terhadap tesis Samuel Huntington tentang adanya benturan peradaban antara Islam dan Barat (yang mewakili Kristen: Katholik maupun Protestan) setelah tumbangnya Komunisme terus bergulir, ada yang pro dan ada yang kontra (tesis itu salah, tidak ada benturan peradaban antara Islam dan Barat). Banyak upaya sadar yang sengaja diprogram untuk menggugurkan tesis tersebut dengan cara antara lain mengadakan dialog antar agama. Upaya seperti itu terasa amat menyolok  terjadi di Indonesia, bahkan banyak diprakarsai oleh ormas Islam di samping oleh lsm-lsm yang bermacam-macam. Memang menarik untuk dianalisis mengapa justru di Indonesia program dialog seperti itu marak sekali, bahkan sepertinya saling berlomba berebut predikat penggagas dan pioner.

Mungkin oleh aktifnya acara-acara dialog antar agama tersebut maka umat Islam Indonesia sering mendapat pujian asing, disebut sebagai umat Islam yang toleran, moderat, dan ideal. Terakhir, dalam konferensi bertema  “Unity in Diversity, The Culture of Coexistence in Indonesia” hasil kerjasama antara Indonesia dan Italia yang diselenggarakan di Roma 5 Maret 2009 tercatatlah pujian baru: “Indonesia Model Masyarakat Plural” atau lebih keren lagi “Indonesia, Simbol Penting Dunia Islam”. Hancurlah tesis Huntington oleh  gerakan para tokoh Islam Indonesia. Benarkah?

MENYANDINGKAN SUBSTANSI DASAR ISLAM DAN BARAT (KRISTEN: Katholik-Protestan).

Jika sedikit saja mau berusaha maka akan segera bisa diketahui apa beda mendasar antara Islam dan Kristen. Acuan kedua agama tersebut jelas, yakni yang satu  al Qur’an-Hadits, sedang yang lain Injil, Perjanjian Baru-Lama. Maka tidak mengherankan jika ‘gaya’ orang Islam berbeda dengan orang Kristen. Walau gaya berbeda tapi hidup bisa berdampingan, jadilah masyarakat yang majemuk. Bangsa Indonesia adalah  bangsa majemuk atau plural, persis seperti bangsa-bangsa lain di dunia (masalah pluralitas bangsa lihat tulisan saya di blog ini: “Adakah Politik Anti Syariat Dibalik Isu Kemajemukan Agama di Indonesia“).

Bagi suatu bangsa yang majemuk, bisakah ada benturan peradaban? Tidakkah sikap toleran, saling memahami antar umat beragama , dan semacamnya bisa menjadi kata kunci atau obat mujarab jika datang permasalahan antar agama? Jawabannya “YA, BISA” jika yang dimaksud dengan agama hanya masalah pribadi dan keluarga. Si Suto shalat menyembah Allah swt di mesjid, si Noyo menyembah Tuhannya di Gereja. Si Suto mengadakan kenduri karena anaknya lulus SMA, si Noyo mengadakan doa keselamatan karena si puteri menjadi sarjana. Suto dan Noyo tidak saling mengolok karena saling memahami dan bersikap toleran terhadap keyakinan agama masing-masing, keluarga Suto dan Noyo pun saling undang ke rumah untuk makan-makan bersama. Bagus bukan, tidak ada masalah. Mana itu konflik peradabannya si Huntington?  Salahlah tesisnya! Benarkah?

Pandangan Huntington tentang benturan peradaban ternyata bukan masalah pribadi, ritual, dan keluarga!! Kajian Huntington tentang benturan peradaban berangkat dari hancurnya Komunisme yang semula menjadi pesaing Barat yang Kapitalistik-liberal, dan setelah Komunisme takluk maka dia memprediksi akan terjadilah benturan peradaban antara Islam dan Barat. Apa ada hubungan kekalahan kaum Komunis dengan masalah pribadi-ritual  (umumnya mereka kan atheis). Apa hubungan konflik skala kekeluargaan orang Komunis dengan orang Kristen di Barat dengan terjadinya benturan peradaban antara Komunisme dengan Kapitalisme Barat? Jelas sekali tesis Huntington bukan bicara tentang pribadi-ritual-keluarga, namun bicara tentang  CARA MENGELOLA BANGSA-NEGARA. Kaum komunis punya visi tentang cara mengelola bangsa-negara dan dia ingin visinya diterapkan secara nyata untuk kesejahteraan bangsa dan umat manusia di dunia. Barat punya visi tentang cara mengelola bangsa-negara dan dia ingin visinya diterapkan dalam praktek untuk kesejahteraan bangsa dan umat manusia di dunia. Itulah yang membuat mereka berbenturan, bahkan bisa ke tingkat perang. SEANDAINYA KAUM KOMUNIS TUNDUK SAJA PADA CARA BARAT DALAM MENGELOLA BANGSA-NEGARA TENTU TIDAK AKAN ADA BENTURAN PERADABAN DI ANTARA MEREKA. Itulah yang kini sedang terjadi dengan Rusia setelah Uni Sovyet ambruk, yang menyerah tidak lagi menggunakan faham Komunisme dalam mengatur negerinya, menyerah memakai cara Barat yang Kapilatistik-liberal dalam mengelola negerinya. Rusia kini menjadi ‘teman’, bangsa yang ‘baik-baik’, tetapi dalam dominasi ideologi Barat. Maka di antara mereka tidak ada lagi benturan peradaban. Mereka tidak lagi berbenturan dalam peradaban karena keduanya menganut cara pengelolaan bangsa-negara dengan cara yang sejenis, yakni Kapitalisme-Liberalisme.

ISLAM MACAM APA YANG BISA TIDAK BERBENTURAN  PERADABAN DENGAN BARAT.

Jika “jenis” Islam yang dianut hanya tuntunan ritual dan berkeluarga saja tentu tidak akan ada benturan peradaban antara Islam dan Barat. Tapi apa benar Islam hanya memberi tuntunan ritual dan berkeluarga belaka seperti: cara shalat, doa, puasa, manasik haji, dan waris pada umatnya? Bila acuan dari Tuhan dan contoh dari Nabi tidak mengandung petunjuk tentang cara mengatur masyarakat, bangsa, dan negara, maka manusia pasti mencari sendiri  cara untuk mengatur masalah itu karena kebutuhan sosial-politiknya. Cara  yang direkayasanya sendiri tersebut namanya Cara Sekuler, hasil kreatifitas manusiawi belaka. Karl Max yang atheis begitu gagah dan tegasnya mengarang konsep Komunisme untuk mengelola bangsa-negara, lalu dianut oleh para  pengikutnya dengan amat fanatik dan fundamental, lalu berdirilah Uni Sovyet dan satelit2nya, yang berbenturan dengan Barat yang menganut  Kapitalisme dan Demokrasi Liberal yang juga dianut dengan gigih dan fundamental oleh para pengikutnya. Mereka walau sama-sama SEKULER ternyata berbeda dalam konsep sosial-politiknya, dan karena pengikut mereka begitu yakin bahwa konsep masing-masinglah yang mampu menyejahterakan bangsa dan umat manusa.

Apakah Islam dengan acuan al Qur’an dan Hadits disertai percontohan Rasullulah sewaktu memimpin Negara Madinah memiliki cara Islam yang khas dalam mengelola bangsa-negara dan umat manusia? Apakah cara Islam di “AREA SOSIAL-POLITIK” itu sama atau tidak dengan cara Kapitalisme-Liberalisme Barat atau cara Komunismenya  Karl Max? Jika jawabnya “tidak sama” maka pasti akan terjadi benturan peradaban. Di sinilah tesis Huntington itu berlaku. Apakah toleransi agama dan saling tenggang rasa keagamaan ala si Suto dan Noyo membatalkan tesis Huntington?  Tidak. Benturan hanya akan terhindarkan jika umat Islam di negara manapun mau tunduk pada cara Sekuler Kapitalistik-Liberal dalam mengelola bangsa-negaranya. Bukankah itu yang telah terjadi dengan banyak negara muslim, seperti: Turki, Mesir, Indonesia? Apa ketundukan seperti itu akan mengangkat derajat bangsa muslim tersebut? (Silahkan melihat di blog ini artikel saya yang berjudul: “MENGAPA MENGELOLA NEGARA MUSLIM DENGAN CARA SEKULER, Waspadai Skenario Internasional untuk Melemahkan Indonesia”).

Kini menjadi jelas masalahnya, apakah Dialog Antar Agama yang dilakukan dengan frekwensi tinggi dan memakan beaya besar itu juga membahas area Sosial-Politik untuk mengatur bangsa-negara-dunia yang beda diametrikal antara cara Islam dan cara Barat tersebut? Jika tidak, maka dialog tersebut tidak akan banyak bermakna. Ataukah  dialog itu memang membawa misi bahwa Islam tidak memiliki konsep Sosial-Politik dalam berbangsa-negara dan siap tunduk dan mengikuti cara sekuler, konsep Kapitalisme-Liberalisme ala Barat dalam mengelola bangsa-negara, seperti halnya banyak negara lain di dunia sana. Allahu  a’lam, dan hanya mereka yang terlibat di dalamnya saja yang kiranya tahu.

Indonesia, di hari peringatan Maulud Nabi Muhammad saw, 1430H.

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , .

MENGAPA MENGELOLA NEGERI MUSLIM DENGAN CARA SEKULER: Waspadai Skenario Internasional Melemahkan Indonesia BENARKAH TIPIS BEDA ANTARA PARTAI ISLAM DAN PARTAI NASIONALIS, Adakah keterkaitan dengan Fatwa MUI tentang Sekularisme?

2 Comments Add your own

  • 1. Hanafi Pratomo  |  13 March 2009 at 11:19

    Manusia tidak hanya memerlukan kesejahteraan materi, tetapi selalu memerlukan aspek rohani & moral, sedangkan konsep hidup non Islami tidak memiliki dalam arti makna ketuhanan Taukhid.
    Perbedaan Islam dan non Islam ialah :
    1.Islam mendidik umat agar bertaqwa kpd ALLAH SWT
    2.Islam menetapkan nilai nilai akhlak yg berorientasi kpd al Qur’an & Hadis Rasullullah
    3.Islam menanamkan kebanggaan thd ajarannya berupa aqidah, syariat, peradaban dan peraturan hidup yg Islami

  • 2. arya  |  20 March 2009 at 03:54

    cukup menarik pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: