PARTAI ISLAM KALAH, SIAPA SUSAH?

2 April 2009 at 20:25 5 comments

Selama ini yang sering disebut sebagai Partai Islam adalah partai berasas Islam seperti PBB, PKS, PPP, PKNU, dll. Mereka umumnya dianggap atau dipercayai akan  berjuang untuk menegakkan syariat Islam bidang sosial-kenegaraan dalam mengelola Indonesia yang berdasar Pancasila jika mereka berhasil memegang kekuasaan..

Dalam banyak jajak pendapat atau survey politik menjelang pemilu 2009  dilaporkan (lepas dari kualitas jajak pendapat itu) bahwa partai Islam hanya akan menjadi partai kelas menengah, artinya perolehan suaranya tidak lebih dari 6%. Perolehan ini amatlah jauh dibanding perolehan dari  Partai Non-Islam (sekuler) seperti Golkar, PDIP, Demokrat, Gerindra, dll di mana dikatakan ada yang  bisa mencapai di atas 20%. Jika hal itu menjadi kenyataan apa gerangan yang akan terjadi? Bukankah ini pertanyaan yang strategis, bukan asal memprediksi partai macam mana yang akan menang dalam pemilu nanti.

Melihat sejarah masa lalu Indonesia dan  paham sekularisme di dunia politik maka jika partai sekuler memenangkan pemilu maka Indonesia akan kembali dikelola dengan mengabaikan ajaran Allah swt bidang sosial-kenegaraan. Pejabat negara apakah legislatif, eksekutif, dan yudikatifnya akan dikendalikan oleh Partai Non-Islam itu dan pengelolaan Indonesia lalu tidak banyak berubah seperti halnya di zaman Orde Baru dan era reformasi selama ini. Kebijakan-kebijakan nasional yang akan dibuat tentu berkisar begitu-begitu saja, dengan slogan menarik ‘pembangunan untuk rakyat’ namun metodanya tidak jelas, mudah berubah sesuai dengan arus yang sedang pasang di dunia  umumnya mengikuti pola pembangunan negara sekuler, khususnya negara Barat. Maka pola pembangunan ekonomi, budaya bangsa , hukum, pendidikan. dan lainnya akan berputar sekitar variasi kebijakan pajak, moneter, pengembangan budaya serba boleh asal menguntungkan secara ekonomi, agama adalah masalah  pribadi, taat atau tidak taat terserah masing-masing orang, hukum pidana tetap hasil peninggalan penjajah Belanda, perbankan dengan menggunakan riba, bahkan diajari oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) berupa SUN dan SBI, perdagangan maya diunggulkan seperti bursa saham dan obligasi untuk mendapat keuntungan bagi pendapatan negara, aset bangsa termasuk kekayaan tanah air dieksplorasi secara maksimal untuk menutup kebutuhan pengeluaran negara yang besar, gaji pejabat tinggi negara termasuk Presiden,  Menteri, Gubernur Bank Indonesia  dan ekskutif BUMN termasuk para dirut BUMN amat tinggi disertai tunjangan-tunjangan yang terus bertambah macamnya, konglomerat dimanjakan dan menjadi  semakin kaya raya  karena mendapat dukungan penguasa baik fasilitas kemudahan berbisnis  maupun permodalan.Berapa orang dari bangsa Indonesia yang memperoleh keuntungan dengan pola kebijakan seperti itu? Tidak banyak. Sebaliknya siapa yang menangis dalam pembangunan bangsa yang non-Islami tersebut? Rakyat miskin semakin banyak, dilaporkan 15% penduduk hidup miskin dan jika sedikit saja diangkat garis kemiskinannya maka orang miskin Indonesia  mencapai lebih dari 50%, bersusah payah mencari penghidupan, jumlah bayi kurang gizi dan sakit hingga mati juga tinggi, anak putus sekolah juga banyak karena tidak ada dana biaya belajar yang mahal, lapangan kerja sulit, modal kerja bagi usaha kecil sulit, kejahatan meningkat sehingga rasa aman terganggu, mencari keadilan bagi rakyat kecil tidak mudah, suap dan korupsi terus membudaya sampai keakar rumput. Bangsa Indonesia menangis kecuali yang menduduki jabatan pemerintahan dan beberapa konglomerat, pengusaha sukses yang menjadi makin kaya, serta beberapa profesional, khususnya yang terjun di bidang hukum dan ekonomi.

Begitulah Indonesia yang dikelola tidak sesuai dengan tuntunan Allah swt bidang sosial-kenegaraan, tapi dikelola secara sekuler kapitalistik. Indonesia harus bersaing dengan negara kapitalis lain yang sudah kuat, maju, dan kaya-raya dalam memperebutkan kekayan ekonomi dan sumber daya alam dunia. Dalam persaingan bebas pasti akan kalahlah negara sekuler yang masih lemah kualitas penduduknya dan kecil permodalannya sehingga kekayaan alamnya akan semakin terkuras dan kedaulatannya akan semakin tergadaikan. Bukankah begitu kondisi negeri ini sejak masa kemerdekaannya yang sudah lebih dari 60 tahun itu? Rakyat banyak akan menangis, dan mereka umumnya justru kaum muslimin, sekitar 200 juta orang. Allah swt akan membiarkan Indonesia bersaing dengan dunia kapitalis lain tanpa perlindungan dan pertolongan non-empirik dariNya karena pemerintahannya berani meninggalkan tuntunanNya. Kini jelas mudah dipahami, siapa gerangan yang susah jika dalam pemilu ini partai Islam kalah. Siapa yang akan gembira jika partai Islam kalah? Tentulah kaum sekuler kapitalis, di dalam dan luar negeri yang akan terus hidup semakin makmur secara materi dari hasil eksploitasi sumber daya alam, kekayaan materi, dan perusakan budaya luhur bangsa Indoensia.

Banyak yang berfikir bahwa kalahnya Partai Islam dalam Pemilu akan membuat fungsionaris dan aktifis partai Islam  bersusah hati. Benarkah dugaan seperti itu? Aktifis dan fungsionaris sejati Partai Islam tidak susah karena mereka berpartai bukan untuk mencari makan dari kegiatan politik, tidak akan mencari kekayaan dan posisi sosial dengan berpartai. Mereka berpartai karena panggilan perjuangan menegakkan syariat Islam yang menjadi tuntutan aqidah sebagai seorang mukmin. Mereka melaksanakan kewajiban agamanya. Mereka berpartai untuk memperoleh ridha Allah swt, bukan mencari nafkah dan status sosial. Kekuasaan bagi mereka hanya alat untuk menolong bangsa yang miskin, lemah, mustadhafiin karena dieksploitasi oleh orang atau bangsa lain. Jika bangsa itu tidak mau memilih Partai Islam maka itu tentu terserah pada bangsa itu sendiri untuk mau dikelola secara sekuler, jauh dari tuntunan Allah swt, serta merasakan dampak yang akan mereka terima. Kemenangan partai sekuler di Indonesia akan membuat rakyat Indonesia pada umumnya menangis, hidup di dunia fana penuh kesulitan karena dieksploitasi orang lain dan hidup di akhiratpun akan menderita karena memilih pemimpin yang tidak taat syariat.

Aksioma di atas  jelas tertera dalam ayat al Qur’an:

“APAKAH MEREKA HANYA MENGIKUTI TUNTUNAN ALLAH SEBAGIAN SAJA (ibadah mahdhanya) DAN MENGABAIKAN SEBAGIAN AYAT ALLAH LAINNYA (pengelolaan sosial-kenegaraannya). JIKA DEMIKIAN CARA MEREKA MAKA TIDAK LAIN IMBALAN YANG PANTAS KECUALI KEHINAAN DI DUNIA SEDANGKAN DI AKHERAT NANTI MEREKA AKAN MERASAKAN SIKSAAN YANG BERAT’ (al Baqarah 85).

“APABILA PENDUDUK SUATU NEGERI BERIMAN-BERTAQWA (secara benar, dengan mengelola negerinya sesuai tuntunan Allah swt), MAKA AKAN DIDATANGKAN KEPADA MEREKA KEMAKMURAN DARI LANGIT DAN BUMI. NAMUN JIKA MEREKA INGKAR (mengabaikan tuntutan Allah swt dalam mengelola negerinya) MAKA AKAN DITIMPAKAN PADA MEREKA BANYAK MALAPETAKA KARENA ULAH MEREKA SENDIRI” (al A’raf 96).

Semoga umat Islam Indonesia bisa menyadari konsekwensi pilihan mereka dalam pemilu tahun ini. Sejarah Indonesia akan memberi buktinya.

Indonesia, awal April 2009.

Entry filed under: Pemilu 2009, Politik. Tags: , , , , , , .

MENGAPA HARUS MENGELOLA INDONESIA DENGAN METODE SYARIAT, Rasional dan Implikasi Kebijakan Nasional yang Diterapkan MENGAPA PARTAI ISLAM KALAH DALAM PEMILU LEGISLATIF 2009

5 Comments Add your own

  • 1. Andri  |  2 April 2009 at 20:43

    Assalamualaikum

    Masyarakat indonesia masih banyak ber pola pikir tradisional….ada salah satu partai islam baru yang menggunakan sistem pengkaderan dari anak muda mungkin di tahun 2014 akan menjadi partai besar. tapi kenapa partai islam tidak bersatu saja…pasti jumlah massa-nya besar apabila tidak terpecah

    Penyatuan misi perjuangan Islam dalam negara bisa dengan dua pendekatan: kebersamaan setelah semua partai Islam memiliki wakil di DPR/ Pemerintahan, atau beberapa partai Islam sebagai embrio menuju terbentuknya satu partai Islam di negeri tersebut.

  • 2. AGUS SUHARTO  |  7 April 2009 at 20:10

    karena “Bagi para pejuang Dienullah, gak ada istilah kalah” maka, jangan segala cara bentuk perjuangannya demi memperoleh kekuasaan !

    Kita juga harus bisa realistik, yang dimaksudkan dengan kekalahan partai Islam maknanya secara operasional itu jelas, bahkan bisa bersifat kuantitatif, jangan diambangkan dengan makna perjuangan dalam dimensi lain sehingga menjadi rancu.

  • 3. Ika Rochdjatun S  |  20 April 2009 at 11:57

    Kekalahan partai “Islam” menurut saya karena:1. pengurus tidak becus untuk mengaktualiasikan konsep islam dalam masyarakat, mereka bukan minta slogan seperti istilah syariat islam, allahu akbar, dsb, melainkan minta makan, lapngan kerja, pendidikan murah, kesehatan, dsb. 2. pengurus menggunakan slogan islam hanya untuk kepentingan kedudukan pribadi dan kroninya, bahkan banyak diantaranya tak jelas asal-usul perjuangannya.3. pengurus tidak startaegis dalam pengkaderan (untuk ini saya punya konsep bila diperlukan).
    Wassalam P. Fuad.
    Ika RS.

  • 4. Endang Abdurrahman  |  2 May 2009 at 16:36

    Assalmu’alaikum
    Memang benar, partai Islam saat ini cukup banyak dan beragam. Maksudnya dengan membawa misi dan visi masing-masing. Sangat disayangkan memang bila mayoritas kaum muslimin ternyata tidak bisa mendapat mayoritas suara melalui partai berbasis Islam. Ada argumen yang mengatakan, saat lemenangan itu akan segera tiba, hal itu bila melihat perolehan angka suara beberapa partai Islam berada pada peringkat menengah ke atas. Tapi alangkah lebih baik bila kemenangan itu pada pemilu 2009 ini. Semakin lama kekalahan itu diderita, maka akan semakin menguatkan strategi mereka yang tidak suka Partai Islam menang. Sudah saatnya umat Islam bersatu untuk berdakwah melalui bidang politik yang cantik, elegan, berwibawa dan bermartabat dengan tidak meninggalkan syari’at. Sukses selalu Pa Fuad

  • 5. Suhartono Taat Putra  |  11 May 2009 at 08:49

    Assalamu”alaikum wr wb

    Saya sependapat dengan Anda, Dr Fuad.
    Pengurus Partai Islam belum trampil menggunakan persepsi ke Islaman nya untuk menjawab kebutuhan riil bangsanya.
    Selamat berjuang

    Wassalamu’laikum wr wb
    Taat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: