UMAT MENANYAKAN: MANA CAPRES-CAWAPRES DARI PARTAI ISLAM ?

24 May 2009 at 12:26 3 comments

(Tatkala umat Islam bertanya, yang mana itu Capres-Cawapresnya Partai Islam, maka jawaban formalnya adalah ‘SBY-Budiono’, karena mereka secara resmi dicalonkan oleh Partai-Partai Islam. Namun apa jawaban ideologis dari pertanyaan itu?????)

Seusai pemilu legislatif April lalu dan setelah melihat hasil ‘quick count’ tentang perolehan Partai Islam, banyak sekali komentar dan analisis tentang perolehan tersebut. Bahkan pakar politik luar negeripun heran mengapa negeri yang mayoritasnya muslim ternyata dukungan terhadap Partai Islam hanya sedikit. Salah satu artikel Azyumardi Azra di media mengulas juga hal tersebut. Seorang tokoh Islam lain juga mengirim saya sms terkait itu, mungkin setelah membaca artikel di blog saya yang berjudul “Mengapa Partai Islam Kalah Dalam Pemilu 2009”. Dialog saya melalui sms untuk itu sudah saya muat di blog ini pada ‘Brief Notes”.

Masalah yang sesungguhnya lebih menentukan masa depan Indonesia adalah bagaimana perilaku Partai Islam dalam menyiapkan Presiden RI periode 2009-2014 dalam Pilpres Juli nanti. Menurut undang-undang dinyatakan bahwa Capres-Cawapres dicalonkan secara berpasangan dan diusung/diusulkan ke KPU oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik yang memiliki kursi DPRRI sebanyak 20% (112 kursi) atau suara hasil pemilu legislatif sebesar 25%. Dari diktum tersebut maka bisa saja terjadi berbagai kemungkinan untuk Capres-Cawapres yang akan berlaga di pilpres nanti. Di sinilah kemudian orang lalu bertanya-tanya bagaimana perilaku Partai Islam terhadap proses pencalonan dan calon yang akan diusungnya.

Kalau yang disebut Partai Islam adalah Partai yang berasas Islam maka hasil pemilu menunjukkan bahwa hanya PKS dan PPP saja yang lolos Parlementary Threshold (PT) 2,5% dan akan memiliki wakil di DPRRI. Partai berasas Islam lainnya ternyata gagal memenuhi syarat itu, termasuk PBB, PKNU, PMB, dan lainnya. Sedangkan jika yang disebut Partai Islam termasuk juga Partai dari komunitas Ormas Islam walau tidak tegas berasas Islam maka yang lolos PT termasuk PAN dan PKB. Perolehan kursi DPR RI dari keempat partai tersebut adalah: PKS 57, PAN 43, PPP 37, dan PKB 27 kursi. Umat Islam yang peduli politik lalu mulai bertanya bagaimana perilaku Partai Islam terhadap pencalonan Capres-Cawapres ini apalagi proses pembentukan pasangan tersebut oleh banyak partai ternyata juga tidak berjalan mulus. KPU menetapkan pendaftaran pasangan Capres-Cawapres diberi waktu terbatas, yakni dari 10 s/d 16 Mei 2009. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hanya pasangan Jusuf Kalla-Wiranto saja yang mendeklarasikan sebagai pasangan resmi (11 Mei 2009), walau ternyata mendaftarnyapun di hari teakhir pendaftaran, 16 Mei 2009.

Proses penentuan pasangan SBY-Budiono lain lagi ceritanya. Siapa gerangan pasangan SBY dari Partai Demokrat ternyata juga belum bisa diketahui publik sampai sehari sebelum penutupan pendaftaran. Walau Partai Demokrat jelas memperoleh kursi DPR RI lebih 20% yang berarti bisa mencalonkan pasangan Capres-Cawapres sendirian namun siapa pasangan SBY itu menjadi misteri sampai diputuskan pada 15 Mei malam hari. Kasus SBY ini unik karena walau sebagai pemenang pemilu legislatif namun di sana tampak ada proses berlambat-lambat menentukan Calon Wapresnya. Apakah ini disebabkan karena ciri khas pribadi SBY atau taktik karena alasan politik, tentu sulit dipastikan. Di sinilah pokok permasalahan yang  menjadi pemicu polemik tentang terjadinya semacam kemelut keputusan Partai Islam dalam menentukan Capres-Cawapres yang akan diusungnya.

Sejak dari awal terasa bahwa Partai Islam memang tidak bermaksud untuk memiliki Capres-Cawapres dari Partai Islam sendiri. Seusai pemilu mereka banyak diberitakan akan mengusung SBY sebagai Capres dengan target Cawapresnya dari fihak mereka. Majelis Syura PKS akhirnya juga memutuskan mencalonkan SBY sebagai Capres PKS dan mengusulkan tiga nama dari PKS untuk menjadi pasangannya (diberitakan nama itu adalah: Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, dan Salim). PAN dari hasil rakernasnya juga memutuskan hal yang mirip, yakni mengusung SBY dengan mengusulkan Soetrisno Bachir atau Hatta Rajasa sebagai Cawapres. PPP nampaknya lama belum  mengambil keputusan jelas dengan sedikit ada gesekan pendapat di internalnya dan akhirnya menyerahkan putusan pilihan ke Ketua Umumnya. PKB lebih awal banyak diberitakan pasti mendukung SBY sebagai Capres dan ternyata dari rakernasnya juga memutuskan begitu ditambahi dengan mencalonkan Muhaimin Iskandar sebagai Cawapres. Begitulah ilustrasi ringkas yang terjadi terkait Partai Islam lolos PT dalam proses menentukan Capres-Cawapres untuk Pilpres 2009 nanti. Umatpun banyak bertanya-tanya mengapa bisa begitu perilaku politik Partai Islam terkait masalah yang begitu strategis yang menentukan nasib bangsa di negerinya.

Secara ideologis Partai Islam itu berbeda dengan Partai Non-Islam atau Partai Sekuler (lihat artikel di blog ini  berjudul:  “Benarkah Tipis Beda antara Partai Islam dan Partai Nasionalis”). Perbedaan tersebut ternyata begitu besarnya karena terkait dengan aqidah agama dan keyakinan hati apa yang wajib dilakukan terhadap negeri ini seandainya mereka yang menjadi pemegang kekuasaan. Oleh sebab itu hampir tidak bisa dinalar mengapa Partai Islam ujung-ujungnya hanya siap menjadi Cawapres dan menyerahkan posisi Capres kepada figur dari Partai Sekuler yang tidak berniat mengusung syariat sosial kenegaraan yang diajarkan Allah SWT dalam mengelola negerinya. Bukankah posisi Wapres selama ini hanya sebagai “Pembantu Presiden” seperti halnya para menteri kabinet? Mengapa begitu mudahnya menyerahkan kusi kepresidenan kepada figur sekuler sebelum berjuang maksimal (istilah lain oleh seorang Rektor Universitas Islam adalah: ‘sampai titik darah penghabisan’ yang juga saya  upload di bagian lain blog ini) dalam pilpres nanti? Mungkin saja dalil yang dipakai adalah kaedah ushul yang berbunyi: “jika tidak bisa mendapatkan semua maka dapatkan saja yang bisa didapat”. Nampaknya sejak awal Partai Islam sudah berhitung (manusiawi) bahwa akan kalah dalam pilpres jika mencalonkan sendiri Capresnya, yang berakibat akan menjadi kelompok oposisi dan tidak bisa ikut dalam pemerintahan nanti. Kaedah di depan tadi adalah alasan yang bagus bagi yang ngeri jika tidak mendapat kue kekuasaan eksekutif walau mereka sesungguhnya sudah diberi Allah SWT banyak kekuasaan legislatif (banyak mendapat kursi di DPRRI).

Proses penentuan Cawapres oleh SBY ternyata jauh dari harapan Partai Islam. Jangankan calon mereka yang ditunjuk sebagai cawapres, bahkan berundingpun tidak mereka peroleh saat penentuan cawapres itu. Mereka hanya mendapat pemberitahuan, bukan dari SBY sendiri. Sungguh ironis. Mereka pun mulai resah karena diperlakukan begitu, yang mungkin tidak diperkirakan sama sekali sebelumnya. Berbagai reaksipun lalu muncul. MasyaAllah. Saya lalu jadi teringat firman Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 85 (hizyun fil khayaatid dunya), walau tentu masih dapat diperdebatkan.

Tatkala terbetik berita tentang akan ditetapkannya Budiono sebagai Cawapres tanpa konsultasi formal terlebih dahulu antara SBY dengan petinggi Partai Islam, sesungguhnya di dalam itu tersembunyi berkah, yakni terbuka peluang untuk bangkit dari “kelemahan” semangat juangnya. Bagi partai yang baik manajemen organisasinya akan dengan mudah melakukan ‘counter attack’ dengan membentuk poros alternatif, yakni Poros Partai Islam. Poros ini memiliki 164 kursi DPRRI sehingga punya kesempatan/legitimasi  memiliki Capres-Cawapres dari Partai Islam sendiri. Mengapa hal itu tidak juga dilakukan? Sejauh ini belum ditemui ada mendalam di media tentang perilaku ini. Sebagian umat pasti akan bangga dan mendukung seandainya hal itu terjadi, bahkan tidak mustahil akan mendapat dukungan luas karena mereka dianggap sudah  di’aniaya’ dalam proses politik.

Dalam politik tentu ada hitungan matematik, tapi dalam Islam juga ada hitungan non-empiris. Perang Badar misalnya, menjadi rujukan betapa pasukan yang kecil (sekitar 300 orang) ternyata menang dari musuh jauh lebih banyak (sebesar 3000 orang). Pakar bisa berkilah bahwa itu kan karena metoda perang masa lalu, yang tidak berlaku untuk masa sekarang. Di masa sekarang coba juga lihat Israel yang kecil ternyata juga membuat seluruh negara Teluk tidak berkutik, tapi tentu contoh itupun akan dibantah dengan argumen macam-macam. Jelas argumen akan selalu ada, bisa segudang, namun ‘keyakinan hati akan mendapat pertolongan Allah’ yang lebih menentukan keputusan apa yang dipilih pemimpin umat. Keputusan itu jelas akan dimintai tanggung jawab oleh Allah SWT di alam barzah nanti.

Minimal ada tiga manfaat seandainya ada poros alternatif Partai Islam dalam pertarungan Capres-Cawapres nanti. Pertama, poros itu akan bisa mengukur secara empiris seberapa besar sesungguhnya kekuatan umat yang mendukung Tokoh/Calon ideologis dari Partai Islam. Kedua, bangunnya poros itu adalah pernyataan diri bahwa Partai Islam tidak bisa seenaknya diperlakukan dalam proses berkoalisi sesama partai politik. Ketiga, masih ada waktu untuk menentukan posisi terakhir pada putaran kedua pilpres  karena dengan adanya poros tersebut amat kecil probalilitas, jika tidak bisa dikatakan mustahil, pilpres akan berlangsung satu putaran. Begitu logisnya pilihan akan perlunya poros alternatif tersebut, namun mengapa pula tidak menjadi keputusan Partai-Partai Islam?

Jika dianalisis dari sisi kualitas suatu bangunan partai, maka ada dua penentu kualitas sebuah partai, yakni AD-ART yang memberi jiwa atau ruh partai dan Pengurus yang menjadi penggerak atau jasad partai. AD-ART Partai umumnya memberi ketegasan tentang asas, visi, dan misi partai. Bisa  saja ada perbedaan antara beberapa Partai yang sudah sama asas, visi, dan misinya, seperti cara memilih pengurus, bagaimana menyelesaikan masalah internal, dll, namun umumnya Partai akan tetap bergerak ke arah asas, visi, dan misi itu. Partai Islam jelas berbeda dengan Partai Sekuler karena asasnya Islam dan mengusung visi-misi untuk mengetrapkan syariat sosial-kenegaraan Islam jika mereka memimpin negara. Keyakinan aqidah seperti itulah yang mendorong Partai Islam dilahirkan. Partai Sekuler asasnya bisa variatif (tapi bukan Islam) dan visi-misinya juga bermacam-macam namun intinya adalah mengelola Indonesia tidak dengan cara syariat, bisa saja Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, dll. Kedua macam jenis  Partai itu (Islam dan Sekuler) bermaksud membawa kejayaan dan kemajuan Bangsa-Negara (keduanya lalu disebut Nasionalis) namun metodanya berbeda jauh, bertolak belakang.

Partai Islam yang ideal tentu memiliki kejelasan substantif dalam menegakkan syariat sosial-kenegaraan pada AD-ARTnya dan diurus oleh Pengurus yang juga militan ideologinya. Partai Islam seperti itu akan kokoh-kompak, teguh dalam berjuang untuk merealisasi ideologi politik partai, siap bertarung untuk menang dan kalah. Dari sisi ini memang sulit dimengerti dan tidak ada alasan logis mengapa tidak ada poros Partai Islam setelah diketahuinya hasil pemilu legislatif bulan lalu itu. Mengapa toh akhirnya poros itu diabaikan keberadaannya dan menerima figur non-ideologis (Figur Sekuler dari Partai Sekuler) sebagai orang pertama dalam memimpin negara serta hanya siap menjadi figur ‘pembantu’ dapat kiranya dijelaskan minimal oleh 4 alasan berikut:

  1. Pertama, Di Partai Islam memang belum ada figur militan ideologis yang sedang menjadi pemimpin utama partai yang memilki keberanian untuk maju menjadi Presiden dengan segala permasalahan bangsa-negara yang rumit dan berat.
  2. Kedua, Partai Islam memang masih tidak solid ideologi yang diembannya sebagai sebuah partai untuk  bertarung merebutkan kekuasaan yang strategis.  Ideologi partai untuk  memperjuangkan syariat Islam dalam bidang sosial-kenegaraan demi kemajuan bangsa-negara tidak difahami dengan teguh oleh pemimpin partai. Prinsip bahwa berpartai tidak sekedar mencari kekuasaan tapi berpartai untuk berkuasa dan menggunakan kekuasaan itu untuk menyelamatkan bangsa melalui metoda syariat bisa saja belum tercantum jelas pada AD-ART atau sudah tercantum namun tidak dipegang teguh oleh Pengurus Inti Partai. Dengan kata lain Pengurus inti Partai Islam masih belum kuat aqidah politik Islamnya  (mereka mungkin saja sudah amat taat dalam beribadah mahdhah).
  3. Ketiga, komunikasi antara Partai Islam amat lemah atau tidak lancar oleh kuatnya nilai persaingan antara sesama Partai Islam, khususnya dalam berebut kekuasaan non-esensial (sebagai ‘pembantu’ Presiden) sehingga tidak mampu mengadakan kesepakatan bersama pada masa-masa yang kritis dan strategis demi ideologi politik Islam.
  4. Keempat, belum ada tokoh Partai Islam lolos PT yang berani tampil menjadi Pemimpin Bersama dengan mengambil inisiatif mengundang, melakukan lobi,  dan menjadi pemrakarsa mendobrak alur pikir yang non-ideologis dalam persaingan politik nasional.

Nah begitulah kiranya jawaban ideologis tentang Capres-Cawapres Partai Islam di Indonesia, bagaimana pendapat yang lain? Sungguh diperlukan Partai Islam yang benar-benar kokoh ideologi dan tangguh kepemimpinannya. Masih mungkinkah akan terbentuk di Indonesia Partai Islam semacam itu, di negeri yang sekitar 200 juta penduduknya muslim? InsyaAllah.

Indonesia, akhir Mei 2009

Entry filed under: Pemilu 2009, Politik. Tags: , , , , , , , , , .

EKONOMI NEO-LIBERAL DAN KERAKYATAN: Manakah Perbedaan Sisi Kebijakan Operasionalnya? ISU JILBAB DAN POSISI AGAMA DALAM PILPRES 2009

3 Comments Add your own

  • 1. Suharto  |  24 May 2009 at 19:59

    Ya runyam juga jadi simpatisan PKS sekarang. Mau pilih SBY, benar SBY didukung sama partai2 Islam. Tapi kalau lihat penampilan istri2 capres cawapres kok lebih pas kalau saya pilih JK Win. Seperti ada obsesi , baru kali ini insya Allah, ada ibu negara pake jilbab setiap hari , nggap cuma waktu menghadiri maulid nabi dan isra mi’raj aja. belum lagi soal lain. Liat aja waktu JK tampil di depan KADIN, saya hakul yakin soal mendukung Palestina sih kecil, la wong lawan USA aja JK bakal berani. Dia ini tipikal orang yg bakal alot kalau berunding sama asing. JK ini bakal mati-matian mendahulukan kepentingan nasional daripada kepentingan asing. Nah biar fifti -fifti kali ini pilihan saya yg sesuai hati nurani aja ah. yg penting udah berpikir. dan akhirnya pake hati nurani.

  • 2. ANDRI  |  14 June 2009 at 22:10

    meskipun saya adlh simpatisan PKS, namun dlm PILPRES nanti saya tdk akan mendukung SBY-BUDIONO, saya akan memilih JK-WIRANTO, krn menurut saya, JK itu lebih nasionalis, lebih cinta kpd kemandirian, tegas thd asing dan berani berkata tidak…..sementara WIRANTO adl sosok tegas, jenius namun santun… terus terang,,sbg pendukung PKS, saya kecewa dgn pilihan PKS mendukung SBY-BUDIONO sbg CAPRES-CAWAPRES pd PILPRES yg akan datang……….

  • 3. Pemilih.com  |  2 July 2009 at 15:32

    FuadAmsyari: UMAT MENANYAKAN: MANA CAPRES-CAWAPRES DARI PARTAI ISLAM ?…

    Dari sisi ini memang sulit dimengerti dan tidak ada alasan logis mengapa tidak ada poros Partai Islam setelah diketahuinya hasil pemilu legislatif bulan lalu itu. Mengapa toh akhirnya poros itu diabaikan keberadaannya dan menerima figur non-ideologis …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: