ISU JILBAB DAN POSISI AGAMA DALAM PILPRES 2009

1 June 2009 at 23:24 1 comment

Jawa Pos, Sabtu 30 Mei 2009 memuat satu judul “Demokrat Protes Politisasi Agama”. Di dalamnya dibahas tentang isu jilbab yang akhir-akhir ini mencuat terkait dengan pilpres. Seperti banyak diketahui bahwa salah satu daya tarik yang muncul dalam pengenalan capres cawapres yang sedang berlangsung adalah telah berjilbabnya istri Capres Jusuf Kalla dan istri Cawapres Wiranto, dibandingkan dengan cara berpakaian istri SBY-Budiono, dan bahkan juga Capres Megawati. Diberitakan pula cara berpakaian tersebut nampaknya menambah daya tarik terhadap  JK-Wir di mana dari hasil polling sementara menunjukkan tingkat kepopuleran JK-Wir menaik tajam. Fakta itulah yang lalu menjadi pekerjaaan rumah baru bagi tim sukses SBY-Bud dan mereka kemudian bereaksi. Khusus untuk merespon fenomena tersebut bahkan kubu Demokrat menggelar konferensi pers di mana seorang tokoh utamanya membuat pernyataan terkait dengan agama, antara lain menyebutkan bahwa  agama harus ditempatkan dalam posisi terhormat (jangan memolitisasi agama, jangan dijadikan alat politik apalagi hanya untuk alat kampanye). Bagaimanakah duduk masalah sebenarnya?

Seorang muslimah dewasa memang diwajibkan berjilbab. Itu jelas ajaran Islam bahkan dimuat pula di dalam ayat al Qur’an. Istri pasangan capres-cawapres yang sudah memiliki kebiasaan berjilbab (menutup aurat) tentunya akan terus berjilbab meski sudah menjadi isteri pasangan capres-cawapres. Bahkan seandainya suaminya nanti terpilih menjadi Presiden dan Wapres tentu harusnya muslimah tersebut juga akan tetap berjilbab. Akan salah besar jika seorang muslimah sewaktu menjadi istri orang biasa dia berjilbab dan tatkala menjadi istri capres-cawapres lalu melepas jilbabnya atau setelah menjadi istri Presiden terpilih dan Wapres terpilih lalu melepas jilbabnya karena menganggap tidak pantaslah istri Presiden dan isteri Wapres memakai jilbab. Naudhubillahi min dhalik. Muslimah semacam itu berarti menukar agamanya dengan harga murah karena melepas jilbabnya hanya oleh alasan menjadi istri Presiden atau Wapres (apalagi jika masih sekedar istri capres-cawapres). Mungkinkah ada muslimah yang seperti itu? Apa kiranya rasional yang mereka pakai? Dalam dunia seperti sekarang ini tentu bisa saja akan ada muslimah seperti itu. Alasan yang dipakai? Mereka umumnya menganggap jika sudah menjadi pejabat publik apalagi jika menjadi istri Presiden atau Wapres dirinya harus berdiri di atas semua golongan dan karena itu mereka harus menanggalkan identitas agama Islamnya. Mereka merasa harus tampak seperti seorang nasionalis tulen sehingga perlu melepas atribut kekhususan agama yang dipeluk. Benarkah perilaku seperti itu? MasyaAllah, dia atau mereka yang berfikiran dan berbuat  seperti itu salah besar, salah mengertikan apa yang disebut sebagai figur nasionalis dan lalu jadi netral sewaktu menjadi pejabat negara. Allah akan memberikan balasan setimpal untuk ketaqwaan serendah itu. Padahal figur nasionalis berarti memberikan yang terbaik untuk kepentingan negerinya dari apa-apa yang dimilikinya, termasuk isi ajaran  Islam yang sudah difahaminya dan diyakini  kemanfaatan dan  dan kebenarannya.

Bagaimana pula makna “agama harus ditempatkan dalam posisi terhormat”? Jawabannya mudah sekali, yakni jangan pandang enteng agama di mana perintah-perintah agama ditinggalkan hanya karena memegang jabatan kenegaraan yang temporer itu. Apa benar jika memegang jabatan negara lalu harus menjadi orang yang tidak berislam dengan teguh agar tampak dirinya sebagai figur nasionalis (karena di negerinya itu tidak dihuni hanya oleh orang Islam saja)? Benarkah rasional seperti itu? Cobalah sedikit merenung, mana ada negara di dunia yang isinya orang yang hanya satu agama? Apakah karena penduduk negeri itu plural maka si Kepala Negara atau isternya atau siapapun yang menjadi Pejabat Negara lalu meninggalkan ajaran agamanya? Agama harus ditempatkan di posisi terhormat berarti mengetrapkan semua ajaran agama (yang menjadi kewajibannya) di manapun berada dan apapun jabatan yang dipegangnya. Justru menempatkan agama secara terhormat oleh seseorang jika apabila berada dalam jabatan puncak atau dalam perebutan jabatan puncak kenegaraan harus selalu ingat untuk mengetrapkan ajaran agama yang diyakininya. Keberanian untuk mengetrapan ajaran agama dalam semua bidang kehidupan (dalam hal ritual, cara berpakaian, akhlak terhadap sesama, dan mengelola masayarakat-bangsa-negara) di setiap saat dan posisi apapun adalah indikator apakah menempatkan agama dalam posisi terhormat atau tidak. Jelaslah kini bahwa  pengetrapan ajaran agama sewaktu sedang memegang posisi puncak sungguh merupakan bentuk nyata menempatkan agama dalam posisi terhormat.

Indonesia, akhir Mei 2009

Entry filed under: Pemikiran, Pemilu 2009. Tags: , , , , , .

UMAT MENANYAKAN: MANA CAPRES-CAWAPRES DARI PARTAI ISLAM ? KAITAN ANTARA JILBAB DENGAN PERBAIKAN EKONOMI, PENDIDIKAN, KESEHATAN MASYARAKAT

1 Comment Add your own

  • 1. hairul Wz  |  2 June 2009 at 14:17

    bismillahi rahman rahim pilih No. 3 JK -Win
    insya Allah lebih taat beragama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: