MEWASPADAI SOSIALISASI JARGON POLITIK YANG MEMOJOKKAN PARTAI DAN UMAT ISLAM (Skenario menjelang Pilpres?)

12 June 2009 at 16:02 2 comments

Di negeri ini sudah, sedang, dan nampaknya akan terus disosialisasikan tiga jargon besar yang bermuatan politis dan memojokkan umat Islam.

Jargon Pertama: Partai Islam sering disandingkan dengan Partai NASIONALIS. Peristilahan ini terus saja berlangsung karena memang untuk memberi nuansa indah pada selain Partai Islam. Peristilahan Partai Nasionalis tersebut jelas keliru besar dan bernuansa merugikan Partai Islam, sepertinya Partai Islam itu tidak Nasionalis,  sedang partai non-Islam itu amat nasionalis, yakni  membela kepentingan nasional bangsa. Seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya dalam blog ini (baca “Benarkah Tipis Beda antara Partai Islam dan Partai Nasionalis”), yang disebutkan dengan partai Nasionalis tersebut sebenarnya adalah Partai Sekuler. Jika ingin menggunakan istilah Nasionalis sebagai predikat sebuah partai maka yang tepat adalah Partai Islam Nasionalis dan Partai Sekuler Nasionalis. Mengapa media massa tetap saja menggunakan Partai Nasionalis dan Partai Islam? Jawabnya mudah, media massa nampaknya telah terjebak pada skenario orang sekuler untuk mempromosikan partai mereka. Mengapa takut menyebut diri sekuler jika memang berorientasi sekuler dalam berpolitik? Siapa tahu rakyat Indonesia ini memang umumnya sudah sekuler dalam berpolitik sehingga dengan senang hati mereka akan memilih partai sekuler, tidak memilih partai Islam (baca: “Mengapa Partai Islam Kalah Dalam Pemilu”)

Jargon kedua: Jargon lain yang sedang berkembang adalah istilah SEKTARIAN, yang konotasinya memiliki kepedulian hanya kepada kelompoknya saja. Ingat awal berdirinya ICMI dulu, jargon ini dilontarkan dengan nyaring oleh banyak media massa bahwa ICMI itu sektarian untuk memberi konotasi bahwa ICMI tidak memiliki wawasan kebangsaan secara menyeluruh dan hanya mau memajukan golongan Islam saja,  mengabaikan golongan lain di Indonesia. Kenyataannya adalah bahwa ICMI itu jelas mengembangkan konsep-konsep pembangunan nasional yang berorientasi untuk kepentingan bangsa-negara, di mana di dalamnya hidup juga penduduk non-muslim. Selanjutnya, setelah dibolehkannya berdiri Partai Islam maka secara langsung atau tidak jargon itu diarahkan ke Partai Islam,  sepertinya Partai Islam hanya akan membesarkan penduduk muslim belaka. Itulah sebabnya lalu sering Partai Islam disandingkan dengan partai non-Islam yang disebutnya sebagai Partai Nasionalis.

Jargon ketiga. Akhir-akhir ini marak lagi jargon PRIMORDIAL. Perlu hal itu  diwaspadai terkait dengan pilpres yang sedang menjelang datang. Kalau diperhatikan secara teliti memang sering sekali jargon tersebut disosialisasikan di media masa jika ada hal-hal yang berkaitan antara  agama dan  agenda politik nasional. Primordial dikesankan sesuatu yang buruk karena kunonya, tidak layak dipakai pertimbangan dalam proses politik yang dikesankan modern dan hebat. Makna primordial sendiri sesungguhnya malah baik karena secara harfiah berarti sesuatu yang keberadaannya sudah lama ada, sejak ‘dulu kala’. Bukankah kita  memang hidup dengan sejarah yang panjang, tidak baru lahir kemarin. Ras, Suku, Bangsa, dan Agama itu memang sudah ada sejak lama dan kita semua hidup terkait dengan itu. Bukankah kita lahir dan mensyukuri sebagai bangsa Indonesia, bersuku tertentu, berorang tua si fulan, dan ber ras Melayu. Apakah kita harus lari dari kenyataan tersebut sehingga sepertinya semua itu tidak ada dan tidak boleh menjadi pertimbangan dalam proses politik? Apalagi jika bicara tentang agama yang sudah dipeluk sekian lama dan menjadi keyakinan hati nurani bahwa justru agama itulah yang akan menyelamatkan kita dunia akherat. Apa nilai agama lalu tidak boleh dipakai dalam pertimbangan politik? Naif sekali pemikiran yang membuang pertimbangan agama dalam pertarungan politik, kecuali jika memang agama itu TIDAK MEMBERI PRINSIP POLITIK DALAM DOKTRINNYA.  Selama agama, (khususnya agama Islam yang dipeluk mayoritas bangsa Indonesia), memang sarat dengan prinsip-prinsip sosial-politik-kenegaraan maka wajib pemeluknya menggunakan prinsip agama dalam proses politik, atau dia dapat dikategorikan MELANGGAR TUNTUNAN AGAMA YANG DIPELUKNYA. Di dalam Pilpres yang akan berlangsung, dengan para pasangan calon capres-cawapresnya, pemilih memang harus memilih dengan pertimbangan yang utuh, termasuk hal-hal yang dikonotasikan sebagai PRIMORDIAL, apalagi terkait dengan AGAMA. Memilih pasangan dalam Pilpres harus pula dengan dasar keyakinan agama yang dimiliki oleh para pemilih, kecuali jika pemilih itu atheis, atheis terselubung (cryptic atheis), atau tidak beragama.

Semoga umat Islam tidak terkecoh oleh jargon ‘asing’ sehingga lari dari ajaran agamanya sendiri dalam melakukan praktek politik yang amat menentukan nasib diri, keluarga, bangsa-negaranya, dan agamanya itu.

Indonesia, 12 Juni 2009

Entry filed under: Pemilu 2009, Politik. Tags: , , , , , , , , , , .

SPONTANEOUS RESPONSE TO PRESIDENT OBAMA’S SPEECH AT CAIRO UNIVERSITY, TODAY, JUNE 4, 2009 (With Wishes to Reach to the US President) Antara Pilpres, Demokrasi, dan Khilafah

2 Comments Add your own

  • 1. Rasyid Emilly  |  18 June 2009 at 09:01

    Yang membuat rusaknya Citra Partai Politik berlabel Islam, bukan karena partainya, tetapi karena manusia yang mengelola dan memimpinnya bukan sebagai pejuang Islam, tetapi tidak lebih dari sekedar penjual nama Islam untuk kepentingan pribadi dan keluarganya saja. Lihat satu persatu tokoh/pemimpin partai Islam yang ada di era ini. Oleh sebab itu kalau mau mendirikan partai politik berlabel Islam, harus dimulai dengan penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai pejuang, yang biasa disebut kader, serta mensosialisasikan konsep-konsep yang sudah dibukukan oleh bapak Fuad Amasyari, semua ini memerlukan waktu dan persiapan, tidak sama dengan membuat warung.

  • 2. sukantosumodinoto  |  21 June 2009 at 20:18

    yang melabeli parpol islam sebagai sektarian dan primordial memang nakal .
    problemnya yang menyatakan demikian ini ya muslim .mereka ini adalah produk dakwah-pendidikan yang kurang kena sasrannya.dikedua aspek besar ini banyak terjadi ekstrapolasi konsep dlm al q dan hadis secara tak terbatas..pendidikan kita juga kurang memperhatikan akurasi-punctuality sehingga konsep yang dimaksud dalam suatu istilah misalnya sektarian yang asalnya sekte dan ini menyangkut masalah aqidah dalam suatu kepercayaan seenaknya diberi arti pada ideologi politik.
    jangan heran kalau yang melakukan termasuk yang sekolahnya sampai universitas., yang menggunakan istilah seenaknya ya karena biar sekolah tapi tidak trdidik untuk berhati hati dalam berfikir dan bertindak.barangkali para dai dan penddidik muslim perlu bertanya pada diri sendiri :” apa yang saya sampaikan ini memang yang sebenarnya ?”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: