Antara Pilpres, Demokrasi, dan Khilafah

16 June 2009 at 21:02 2 comments

Setelah menerima sms tentang artikel yang mengkaitkan Jargon PRIMORDIAL dengan Pilpres (dimuat juga di blog ini) maka seorang teman (disingkat SA) merespon dengan sms yang menyatakan bahwa dalam proses memilih pemimpin seharusnya memakai sistem PERWAKILAN, tidak dengan pemilihan umum. Kemudian berlangsunglah dialog via sms sebagai berikut ini:

Saya: Apa yang dimaksudkan PERWAKILAN? Siapa yang mewakilkan pada siapa? Dan apa caranya?

SA: Ahlul hali wal aqdi adalah toko-tokoh muslim kaffah mewakili umat Islam, bertugas mengangkat pemimpin taat syariah. Jadi semacam pengangkatan para Khulafaur Rasyidin. Tentunya ini sulit dan harus diperjuangkan oleh tokoh Islam lewat: 1. jihad fil aqli; 2. persatuan dan persaudaraan muslim tegakkan syariat; 3. tinggalkan firqoh dan cara pemilihan sekuler; 4. galang kebersamaan dengan tokoh-tokoh muslim yang berjuang menegakkan daulah Islamiyah dan khilafah. Tentunya akhi Fuad kan kenal dengan mereka dan lain-lain. InsyaAllah kalau kita istiqomah dan berani, Allah akan meridhai dan memudahkan. Jazakallah.

Saya: Setelah dakwah-dakwah tentang makna khilafah (sudah berlangsung puluhan tahun kan), lalu ujungnya bagaimana? Apa penguasa sekuler dengan rela hati mundur dan memberikan kekuasaan pada yang pro-khilafah begitu saja? Logiskah itu? Apa dengan cara demo-demo, tanpa ikut pemilu bisa? Jangan lupa sunnatullah sosial agar bisa jadi kenyataan. Jangan golput. Dukung yang paling baik Islam-nya. Tidak ada orang sempurna.

SA: Rasul saja perlu waktu. Sepanjang sejarah pemilu di Indonesia, partai Islam tidak pernah menang sebab lewat jalur demokrasi sekuler.

Saya: Mari diikuti sunnah Nabi, yang berhasil menjadi Kepala Negara Madinah walau sebelumnya sedang dikuasai sekuler. Tidak dengan kudeta, demo-demo, tapi dengan proses politik bersama orang sekuler Madinah, yang itu jelas bagian demokrasi kan. Mari dievaluasi ujung prosesnya, supaya bisa selesai. Nabi hanya perlu 13 tahun lho, bukan tidak berujung

SA: Kalau berunding dengan kuffar dan musyrik, boleh, karena beliau adalah pemimpin. Tapi kalau memilih pemimpin Islam lewat jalur demokrasi liberal, berarti mencampur adukkan haq dengan bathil, dan jangan qiyaskan kerjasama kedemokrasian Nabi yang rahmatan lil ‘alamin dengan metode pemilihan pimpinan umat di negara yang mayoritasnya muslim.

Saya: Justru proses awal pun harus ikut cara Nabi, baru lanjutannya ikut Khulafahur Rasyidin. Apa kita ini sekarang sudah punya “Khalifah”? Siapa, di mana, dan bagaimana penunjukannya? Jika belum, maka harus ikut cara Nabi dalam cara mengawalinya. Coba juga direnung SIAPA AHLUL HALLI WAL AQDI DI INDONESIA? MUI tegas melarang GOLPUT (baca: Fatwa MUI tentang Pemilu).

SA: Apa harus kembali ke fase Makkiyah? Hadits nabi antara lain menyatakan: “Jaman sebelumku banyak nabi-nabi, saat ini akulah nabi, sesudahku adalah khulafahur rasyidin, selanjutnya jaman mulkan (raja), sesudah itu jaman khilafah alaminhaajin nubuwah”. Dan ini wajib diwujudkan oleh tokoh Islam kaffah, bukan larut oleh demokrasi liberal. Khilafah sudah ada, nanti akan kita kirim CD-nya

Saya: Saya jadi faham, ternyata antum berpendapat SUDAH “PUNYA” KHALIFAH. Mohon dijelaskan wilayah kekuasaannya, (misalnya: Nabi dengan wilayah Madinah yang penduduknya plural lalu dikelola secara syar’i). Bagaimana mula penunjukannya? Karena DUNIA belum dikelola sebagai SATU KESATUAN, maka per negara fasenya bisa beda-beda. Indonesia masih dalam fase belum punya khalifah.

SA:  Kalau saya sempat CD-nya saya bawa ke antum, selanjutnya kita diskusikan. Syukron.

(Lalu kemudian datang lagi sms:

1. Seyogyanya, kalau sudah terwujud Khalifah yang mengerti syar’i dan pemahaman tentang khilafah-nya utuh, wajib berbai’at, tidak perlu mengangkat Khalifah baru di tiap negara. Hadits menyebutkan bila ada Khalifah baru sesudah pertama, maka tidak dibenarkan.

2. Di Indonesia seyogyanya diangkat AMIR atau WALI sebagai wakil Khalifah yang sudah ada. Ini justru kewajiban kita).

(Catatan: Demikianlah,  lalu berakhir dialog sms SA dengan saya, dan saya masih menunggu CD-nya)

Sejauh ini saya berpendapat bahwa yang dimaksud hadits Nabi: “Sesudah zaman mulkan (raja) akan datang zaman khilafah”, perlu diartikan zaman di mana suatu wilayah (negara) dengan penduduk plural dikelola oleh Kepala Negaranya dengan metoda syar’i demi kesejahteraan dan kedamaian di dalam wilayah tersebut. Itulah hakekat dari Sistem Khilafah. Setiap wilayah (negara) manapun harus berusaha ke arah itu, dan diperjuangkan oleh umat Islam yang dipimpin oleh tokoh umat di wilayah tersebut, siap bersaing dengan penduduk lain di negara yang sama namun memiliki cara berfikir lain (sekuler). Bentuk sistem ketata-negaraan wilayah (negara) bisa saja model Republik seperti yang sekarang sedang populer, yang Kepala Negaranya disebut sebagai Presiden, (tidak harus bernama Khalifah, lihat buku saya: “Mengelola Indonesia Dengan Syariat”). Presidennya dipilih melalui pemilihan umum oleh penduduk negeri yang plural, namun umat Islam akan memilih Capres yang paling syar’i diantara Capres2 yang bersaing. Presiden terpilih nantinya dicita-citakan oleh umat akan mengelola negerinya sesuai dengan cara yang diajarkan oleh Allah SWT.

Sulit kiranya bisa difahami jika dinyatakan SUDAH ADA Khalifah itu (di suatu tempat atau negara tapi tanpa memiliki kewenangan mengelola negeri tempat dia tinggal), sedang di tempat lain (katakanlah negara X) lalu diperjuangkan tegaknya Sistem Khilafah dengan metoda Perwakilan yang Amirnya akan ditunjuk oleh Khalifah tersebut. Pada saat yang sama di negara itu sudah memiliki sistem ketata-negaraan yang sedang jalan dan dipimpin oleh Figur Sekuler yang menolak syariat.

Semoga Allah SWT menunjuki kita semua. Amin.

Indonesia, 16 Juni 2009

Entry filed under: Pemilu 2009, Politik. Tags: , , , , , , .

MEWASPADAI SOSIALISASI JARGON POLITIK YANG MEMOJOKKAN PARTAI DAN UMAT ISLAM (Skenario menjelang Pilpres?) ADAKAH YANG DISEBUT SEBAGAI: ISLAM DALAM BINGKAI “KEINDONESIAAN DAN KEMANUSIAAN?”

2 Comments Add your own

  • 1. Rasyid Emilly  |  18 June 2009 at 09:23

    Inilah satu masa dimana kita mendapat tantangan untuk membuktikan kepada dunia bahwa ajaran Islam itu sempurna dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Tantangan itu akan terjawab kalau kita mempelajari Islam secara utuh dan mau bersatu, bisa memimpin dan mau dipimpin.

  • 2. abdillah wasi'an  |  19 June 2009 at 16:46

    mudah2an indonesia segera mendapatkan pemimpin yg menegakkan syariat islam dan negri di berkahi oleh Allah swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: