ADAKAH YANG DISEBUT SEBAGAI: ISLAM DALAM BINGKAI “KEINDONESIAAN DAN KEMANUSIAAN?”

19 June 2009 at 18:32 2 comments

“Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah” adalah judul buku terbaru Syafii Maarif. Azyumardi Azra lalu ikut mengulasnya dengan memberi banyak pujian dalam artikel di Republika, 18 Juni 2009. Dikatakannya bahwa judul itu merupakan sebuah refleksi kerisauan dan kepedulian intelektual seorang guru bangsa terhadap masa depan bangsa yang sekitar 88% penduduknya memeluk Islam. Dekat di ujung tulisannya dia mencuplik sebagian isi buku yang berbunyi:

”Sebagai penduduk yang mayoritas di Nusantara semestinya umat Islam tidak lagi sibuk mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaaan. Ketiga konsep ini haruslah dihembuskan dalam satu napas, sehingga Islam yang mau dikembangkan di Indonesia adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara; sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, subkultur, dan agama kita yang beragam; sebuah Islam yang memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan, dan perlindungan kepada semua orang yang berdiam di nusantara ini tanpa diskriminasi apapun agama yang diikutinya, atau tidak diikutinya. Sebuah Islam yang sepenuhnya berfihak kepada rakyat miskin, sampai kemiskinan itu berhasil dihalau sampai ke batas batas yang jauh di negeri kepulauan ini” (saya memberi penulisan dengan cetak tebal dan miring untuk fokus pembahasan selanjutnya). Berikut ini tanggapan saya:

  1. Jika ada Islam dalam bingkai ’keindonesiaan’ berarti akan ada Islam dalam bingkai ‘Amerika, Rusia, Saudia, dll”. Apa benar? Jelas keliru, karena Islam itu ajaran dengan satu rujukan jelas, yakni al Qul’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, di manapun dan kapanpun. Kalau ada variasi budaya, misalnya baju kurung, celana panjang, dan gamis, atau makanan pedas, steak, dan gulai itu hanya kultur lokal, boleh saja, namun nilai dasarnya tetap, yakni: menutup aurat dan makanan halal-baik, bukan buka dada-paha dan minum khamar serta makan gorengan darah-babi. Di manapun di dunia ini (Indonesia, Amerika, Saudi, dll) jika beragama Islam ya harus begitu.
  2. Islam dalam bingkai ‘kemanusiaan’ berarti akan ada Islam dalam bingkai ‘kemakhlukan, kebendaan, dll”. Apa pula makna kemanusiaan itu? Apa yang dimaksud anthropocentris atau humanity yang berarti bahwa semuanya harus berorientasi pada manusia sehingga tuntunan Pencipta manusiapun dikalahkan oleh kehendak manusia? Islam yang berlandaskan al Qur’an dan Sunnah sudah memberi pegangan jelas tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hablum min Allah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum min an nas), termasuk rincian bentuk hubungan itu. Mana lagi yang harus dipusingkan, kan tinggal ngajinya? Katakanlah hubungan dengan orang kafir sekalipun, muslim harus bersikap baik dan adil kepada mereka kecuali jika mereka memusuhimu karena agamamu (Islam) dan mengusirmu dari tempat tinggalmu karena agamamu (lihat surat al Mumtahanah, ayat 8-9). Itulah satu contoh bagaimana ‘kemanusiaan’ dalam ajaran Islam yang harus dipatuhi oleh pemeluk Islam di manapun mereka berada dan kapanpun. Dalam satu contoh ini saja sudah tercakup banyak bahasan tentang prinsip Islam dalam bermasyarakat, Islam yang memberi keadilan, inklusif, melindungi semua penghuni nusantara, dll. Pada sisi lain, apa orang Islam yang taat agama akan hanya diam jika ada orang lain yang jelas-jelas berperilaku memusuhi Islam atau mengkampanyekan ajaran sesat/menyesatkan ajaran Islam? Apakah atas nama “Islam yang ramah, terbuka, sejuk, toleran, dan lain-lain penamaan indah lagi” maka membiarkan saja perusakan terhadap agama Islam seperti itu? Tidak logis bukan?
  3. Alhamdulillah ada pengakuan bahwa pemeluk Islam di Indonesia ini mayoritas (88%), namun apa makna operasionalnya? Kualitas sebuah negeri ditentukan oleh kualitas mayoritasnya bukan oleh kondisi golongan minoritasnya. Negeri ini akan dinilai orang oleh kondisi mayoritas bangsa, yakni kondisi muslim di sini yang umumnya masih miskin, pendidikan rata-rata masih SD, dan kesehatan masyarakatnya rendah. Banyak orang lain memandang Indonesia masih sebagai negeri ‘terbelakang’ karena mayoritas penduduknya masih seperti itu, apalagi jika mereka melihat TKI-TKWnya. Income per kapita diberitakan dengan bangga katanya sudah naik, mencapai di atas US$3000, namun coba dilihat bagaimana cara menghitung sampai ke angka itu? Ternyata mereka memakai nilai rata2 (mean) di mana hasilnya amat bias sekali karena  nilainya dipengaruhi oleh pendapatan raksasa dari beberapa orang kaya, maha kaya-raya saja (dalam statistik disebut sebagai outlier) yang umumnya non-muslim, sedang jumlah orang miskin di negeri ini masih amat banyak dan tampak makin banyak dan umumnya mereka muslim.Coba secara statistik menggunakan angka ‘median’ atau ‘mode’ tentu nilainya akan masih rendah,  masih jauh dibawah US$1000.  Masalah seperti inilah  yang harus dipecahkan oleh intelektual muslim, para guru bangsa yang muslim secara logis dan operasional berdasar keimanan agama Islam yang dipeluknya. Mengapa di negeri ini masih bisa begitu  timpang kondisi ekonomi rakyatnya, belum lagi jika dilihat dari rusaknya akhlak bangsa.? Jawaban ideologis dan rasionalnya adalah: Karena pengelolaan negeri ini (walau mayoritas penduduknya muslim) memakai cara SEKULER yang materialistik-eksploitatif, meninggalkan METODA ISLAM terkait pengelolaan bangsa-negara yang diajarkan Allah swt. (baca artikel-artikel terkait di blog ini). Itulah sesungguhnya  hakekat makna dari pernyataan “Islam di negeri ini harus berfihak pada rakyat miskin”. Bagaimana akan bisa  mengusir kemiskinan di Indonesia padahal metoda yang dipakai mengelola bangsa, khususnya kebijakan ekonomi makro yang diterapkan masih kebijakan sekuleristik yang beda secara diametrikal dan  JAUH DARI TUNTUNAN ISLAM TENTANG PENGELOLAAN BANGSA-NEGARA (baca: ekonomi nasional berbasis syariah). Mari  kita berislam tidak dengan retorika namun dengan mengetrapkan tuntunan Islam secara utuh atau kaffah, baik dimensi pribadi, berkeluarga, dan berbangsa-bernegara demi terwujudnya ‘kemanusiaan’ yang luhur dan Indonesia yang maju-aman-sejahtera.

Indonesia, 19 Juni 2009

Entry filed under: Buku Baru, Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , , .

Antara Pilpres, Demokrasi, dan Khilafah DEBAT CAWAPRES MEMANAS TATKALA TERKAIT ISU AGAMA (Adakah hubungan Agama dengan Politik?)

2 Comments Add your own

  • 1. Sarjono  |  22 June 2009 at 22:52

    Banyak pakar berbicara Islam namun yang sejatinya yang di perbincangkan bukan Islam,namun yang mereka bicarakan ide-ide manusia belaka,yang mengatas namakan Islam.Kalau berbicara Islam tidak boleh lari dari Al Qur’AN dan sistem inilah yang harus kita menangkan bukan di perbicarakan dan diperdebatkan inilah cara yang harus kita tempuh untuk mengatasi semua problem di alam raya ini sampai di Akhirat nanti.tidak percaya silahkan tentukan tema persoalan dialam raya ini Al Qur’an akan menjawabnya dengan tuntas dan bisa diaplikasikan.

  • 2. Suhartono Taat Putra  |  29 June 2009 at 11:02

    Assalamu’laikum wr wb

    Menurut saya yang terekspresi dari tindakan penganut agama adalah “persepsi agama” dari ybs. Misi utama agama itu memperbaiki akhlak manusia. Jadi bila manusia akhlaknya berkembangan dalam nuasa “persepsi agama” yang benar, insya Allah semua perilakukan menyejukkan dan penuh dengan teladan moral. Yang paling tahu maksud agama adalah pencipta agama itu sendiri. Persepsi manusia terhadap agama selalu berusaha dan berupaya mendekati “kebenaran” sehingga perilakukan juga mendekati kebanaran tersebut. Seorang yang faham agama yangt dianutnya (persepsi agamanya mendekati kebenaran) tentu berbeda dalam berpolitik.Agama itu pentunjuk bagi penganutnya dalam menjalani hidup, termasuk berpolitik.Jangan sampai agama dipisahkan dengan cara hidup penganutnya.
    emoga sedikit lomentar yang jauh dari benar ini bermanfaat, terutama bagi diri saya, alhamdulillah bagi yang lain.
    Wassalamu’alaikum wr wb
    Taat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: