SUPAYA TIDAK KALAH DAN MENDERITA MAKA UMAT ISLAM WAJIB TAAT SYARIAT POLITIK (Mobilisasi Ulama-Ustadz untuk segera menanamkan Ketaqwaan Sosial, tidak hanya mengajar Spiritual-Ritual)

16 July 2009 at 18:16 1 comment

‘Headline’ Republika Senin 13 Juli 2009 memuat berita tentang Muslim suku Uighur di wilayah Xinjiang, Cina. Jelas sekali tergambar di sana bagaimana Kekuasaan Negara begitu mudahnya memporak porandakan umat Islam di wilayah mereka itu. Di daerah tersebut yang semula mayoritas penduduknya suku Uighur yang muslim secara bertahap dimasuki besar-besaran suku Han yang ‘non-muslim’ sehingga akhirnya di wilayah itu suku Uighur muslim menjadi minoritas. Kemudian dilakukan juga berbagai upaya intensif  melemahkan kondisi sosial-ekonomi-politik suku itu sehingga mereka terbelakang di semua bidang kehidupan, bahkan perempuan muslimahnya banyak yang dibawa ke kota menjadi pelayan dan pelacur.  MasyaaAllah. Mungkin didorong oleh rasa ketidak-adilan seperti itulah lalu terjadi konflik fisik berdarah  tanggal 5 Juli lalu dan jatuhlah ratusan korban mati. Apakah kemudian  masalah selesai, ternyata belum juga. Allahu Akbar. Berita di harian yang sama hari lusanya lebih memperjelas lagi betapa kondisi muslim Uighur begitu menyedihkan di tengah-tengah  ekonomi nasional Cina yang dilaporkan gemerlapan. Umat Islam ternyata hanya sebagai warga, bukan sebagai penentu kebijakan negara.

Kasus mirip seperti yang dialami suku Uighur di Cina  itu  juga sudah terjadi di Palestina dan Bosnia. Kondisi umat Islam di Eropa, seperti Perancis dan Jerman, sekarang ini juga  sedang menghadapi perilaku ‘memusuhi’ umat Islam oleh fihak penguasa dan kelompok-kelompok non-muslim, antara lain  larangan Pemerintah terhadap pemakaian jilbab di sekolah, di samping meningkatnya ketidaksukaan pada imigran muslim di negara-negara tersebut. Sekali lagi  umat Islam di sana juga hanya sebagai warga, bukan sebagai penentu kebijakan negara.

Jika dicermati secara mendalam tampak bahwa sumber segala sumber dari berbagai bentuk tekanan sosial-ekonomi-politik pada umat Islam yang telah terjadi di banyak negara di atas sebenarnya jelas sekali, yakni karena  Pemerintahan Negara tidak di tangan orang yang mengerti dan memihak pada ajaran Islam. Mengapa kekuasaan itu jatuh ke tangan orang lain, bahkan jatuh ke tangan ‘kafir’ yang memusuhi Islam? Di sinilah hakekat persoalannya.

Kalau kasus pelecehan dan penindasan terhadap umat dan ajaran Islam oleh Penguasa Negara itu terjadi di negeri yang penduduk muslimnya minoritas tentu mudah dimengerti logikanya, yakni karena berlakunya sistim demokrasi di negara tersebut. Saat menentukan pemerintahan negara maka diberlakukanlah ‘one man one vote’ yang lalu dimenangkan oleh kelompok mayoritas non-muslim sehingga kekuasaan jatuh di tangan mereka yang tidak mengerti dan tidak memihak ajaran Islam. Namun bukankah aneh bin ajaib jika di negara yang penduduk muslimnya merupakan mayoritas namun Kekuasaan Negara itu ternyata  jatuh juga di tangan orang yang tidak mengerti bahkan lalu ‘memusuhi’ ajaran Islam? Turki adalah contoh yang amat demonstratif di mana kaum muslimin di negara itu yang merupakan mayoritas besar (sekitar 95%) penduduk  tapi justru konstitusinya menentang diterapkannya syariat Islam tentang kehidupan berbangsa-bernegara, termasuk bagi para mahasiswi yang muslimahpun  dilarang berjilbab di kampus. MasyaaAllah. Bahkan Mesir yang amat terkenal menelurkan banyak ‘sarjana keilmuan Islam’ dengan  Universitas Al Azharnya, namun juga dikelola tidak sejalan dengan syariat sosial-kenegaraan Islam. Dunia Islam tentu masih ingat bagaimana Pemerintahan di sana pernah berdarah-darah ‘membasmi’ Ikhwanul Muslimin, kelompok Islam yang dituduhnya garis keras karena bervisi mengelola negara sejalan dengan ajaran syariat. Bagaimana pula dengan Pemerintahan di Indonesia yang mayoritas (sekitar 90%) penduduknya juga muslim, dengan total muslimnya sekitar 200 juta orang, komunitas muslim terbesar di dunia yang ada dalam satu negara?

Sejak kemerdekaan sampai saat ini Indonesia tidak pernah dikelola sesuai dengan syariat sosial-kenegaraan yang diajarkan oleh Allah swt. Partai Islam Masyumi misalnya bahkan “dibubarkan” begitu saja walau menjadi ‘pemenang’ pemilu di tahun 1955 yang lalu. Pada masa Orde Baru partai berasas Islam dilarang,  sedang  Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan peleburan partai-partai Islam di era sebelumnya harus ganti asas partai dan sering memperoleh tekanan-tekanan sosial-politik dari fihak penguasa negara. Mana pula Presiden Indonesia yang memihak syariat Islam bidang sosial-kenegaraan?  Pada era reformasi yang kini sedang berlangsung di mana partai berasas Islam boleh berdiri dan bersaing dalam memperebutkan kekuasaan negara ternyata partai Islam juga kalah telak dalam pemilu 2004 dan 2009. Capres dari kelompok muslim seperti Amien Rais dan Hamzah Haz juga tergusur dalam pilpres 2004, sedang JK yang ramai diberitakan telah didukung tokoh ormas-ormas Islam besar di Indonesia juga hanya menduduki urutan buncit dalam hasil ‘quick count’ pilpres 2009. Bagaimana akibat kekalahan-kekalahan politik umat Islam di atas? Maka Pemerintahan di negara yang muslimnya mayoritaspun tidak lagi  ideal mengikuti syariat Islam sehingga berakibat umat Islam yang jumlahnya amat besar di negeri itupun tetap terpuruk kehidupan sosial-ekonomi-politiknya. Kenyataan-kenyataan di atas menunjukkan: ‘ada yang salah dalam tubuh umat Islam, termasuk  di negeri yang mayoritas penduduknya muslim itu’.

Di luar beberapa kasus tertentu, apa gerangan kesalahan utama umat Islam sehingga jangankan di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim, bahkan di negara yang mayoritas penduduknya muslim sekalipun ternyata Pemerintahan di negara tersebut tidak memihak pada umat dan nilai Islam? Jawaban atas pertanyaan ini sesungguhnya realtif mudah, yakni: “Umat Islam umumnya tidak taat pada syariat Allah swt yang terkait dengan Politik, walau mereka sudah taat pada syariat terkait masalah pribadi dan ritualnya.  Umat Islam pada umumnya tidak memiliki Ketaqwaan Sosial”. Syariat Politik adalah syariat Islam terkait dengan masalah kekuasaan dan pemerintahan. Ketaqwaan Sosial adalah ketaatan umat untuk berfihak dan menjalankan syariat Islam terkait dengan  kehidupan sosial-kenegaraan, khususnya keteguhan hati memilih Partai Islam dan Figur Pro Syariat dalam Pemilihan Umum.

Kecenderungan yang salah dalam berpolitik bagi umat Islam tersebut karena mereka memperoleh pengajaran Islam (apakah dari ulama-mubaligh-da’i, melalui khutbah, ceramah, pengajian, ataupun pelajaran agama di sekolah/madrasah), hanya tentang aspek spiritual-ritual, sekedar akhlak,  tata cara pernikahan dan berkeluarga, tanpa diberi pengajaran yang memadai tentang politik dan pemerintahan menurut syariat Islam. Oleh pengajaran Islam semacam itulah  maka ketaatan umat Islam tentu sebatas  ketaatan spiritual-ritual dan berkeluarga saja. Saat pemilu mereka pasti tidak menggunakan prinsip Islam dalam menentukan pilihan terhadap Partai maupun Capres yang akan mereka pilih. Lalu salahkah umat yang lemah pemahamannya tentang Islam Politik tersebut jika mereka ikut pemilu namun memilih Partai dan Capres yang tidak aspiratif pada kepentingan Umat dan Ajaran Islam?

Pengajaran Islam di Indonesia yang umumnya diajarkan oleh para ustadz dan ulama di berbagai forum memang amat jarang menyentuh materi Islam Politik atau Islam Pemerintahan (coba dicermati bagaimana materi yang diberikan dalam pengajian subuh di TV dan isi materi khutbah Jumat ataupun pengajian rutin pada umumnya). Akibatnya umat tidak memiliki keimanan akan syariat sosial-kenegaraan Islam itu, tidak memiliki kegigihan untuk memenangkan Partai Islam dan Capres yang memperjuangkan syariat sosial-kenegaraan Islam. Mereka merasa sudah cukup kualitas Islamnya jika telah mengerjakan shalat, puasa, zakat, haji, berupacara perkawinan, pembagian waris, serta pengurusan jenazah setelah mati secara Islam. Mereka belum atau tidak memiliki keyakinan iman untuk berpolitik sesuai ajaran Islam,  memilih dalam Pemilu Legislatif dan Presiden dengan pilihan bukan pada Partai dan Figur bervisi penerapan syariat sosial-kenegaraan. Sikap politik umat Islam seperti itu disebut sebagai sekuler, mengabaikan ajaran tuntunan Islam dalam kehidupan sosial-kenegaraan. Dengan kata lain: Umat Islam umumnya menjadi sekuler karena tidak dididik oleh ulama-mubaligh-da’i-ustadznya untuk memahami prinsip Islam dalam berpolitik. Mereka memperoleh pengajaran Islam tidak menyeluruh. Siapakah yang harus introspeksi diri  jika negara dengan mayoritas penduduknya muslim tapi pemerintahannya malah membuat orang Islam di negeri itu terus saja menderita, tetap miskin, dan semakin terpinggirkan (bandingannya dengan umat yang lain)?

Proses depolitisasi Islam seperti tergambar di atas ternyata juga bersifat terstruktur dan global. Umat yang awam umumnya memperoleh pengajaran Islam dari ulama dan guru Islam yang ternyata mendapat banyak pendidikan Islam dari luar negeri tapi negeri yang sekuler pemerintahannya. Bisakah dibayangkan bagaimana kedalaman Islam Politik para ulama dan ustadz hasil didikan negara Barat (a.l. Amerika, Kanada), Turki, Mesir, dan semacamnya? Sulit diharapkan mereka akan banyak memberi materi Islam Politik dan Ketaqwaan Sosial ke santri-muridnya di Indonesia, kecuali jika mereka lalu terbuka wawasannya tentang kekeliruan Sistem Pemerintahan   negeri di mana mereka belajar Islam itu. Di sisi lain, bagaimana pula ulama-ustadz hasil didikan di luar negeri yang mengetrapkan sistem Kerajaan dalam pemerintahannya? Dalam sistem Kerajaan di mana semua aspek pemerintahan dipegang penuh oleh fihak kerajaan yang bersifat turun temurun maka di kalangan ‘bawah’ (non elit) pendidikan Islamnya tentu banyak mengutamakan aspek non-politik, memberi bobot besar pada aspek spiritual-ritual dan penyadaran agar memiliki ketaatan penuh pada sultan/raja. Lulusan sarjana keilmuan Islam dari wilayah seperti  itu juga perlu introspeksi diri agar tidak cenderung mengajar Islam fokus ke arah spiritual-ritual dan lemah dalam pemberian materi Islam Politik dan Ketaqwaan Sosial. Jika tidak dilakukan introspeksi seperti yang dijelaskan di atas maka tentu akan berlangsunglah proses sekularisasi umat Islam Indonesia secara masif dan intersif yang bersifat struktural.

Dengan kesadaran tinggi atas adanya potensi pengaruh negatif pendidikan Islam luar negeri seperti yang digambarkan di atas, maka semua ulama-sarjana Islam dari manapun asal pendidikannya  harus punya inisiatif tinggi untuk mendalami Islam Politik dan melatih  ketrampilan dalam menanamkan Ketaqwaan Sosial kepada para santri, murid,  ataupun jamaah pengajiannya.

Ulama dan ‘guru’ Islam di negeri ini harus kerja keras merobah paradigma pengajaran Islamnya. Secara khusus  mereka  harus intensif memberi materi Syariat tentang Politik dan menanamkan keimanan yang utuh, terutama menanamkan Ketaqwaan Sosial sehingga di masa mendatang umat Islam Indonesia dalam berdemokrasi tidak salah memilih Partai dan Capres yang sedang maju di pemilu. Umat Islam di Indonesia harus segera disadarkan melalui pengajaran agama dalam forum-forum dakwah, apakah khotbah Jum’ah, Pengajian, Ceramah Islam di Radio-TV, pelajaran agama di sekolah-madrasah, dan lain-lain agar mereka memiliki Ketaqwaan Sosial, tidaklah cukup jika hanya memiliki ketaqwaan Spiritual-Ritual belaka. Nasib mereka (umat Islam) di dunia dan di akherat juga ditentukan oleh Ketaqwaan Sosial mereka, tidak hanya oleh Ketaqwaan Spiritual-Ritual. Dalam Pemilu legislatif umat Islam wajib memilih caleg Partai Islam dan dalam Pilihan Presiden mereka wajib memilih Capres Pro Syariat.

Semoga Allah swt memberi kemudahan dan keberhasilan dalam perjuangan Islam di negeri ini. Amien.

Indonesia, 16 Juli 2009.

Entry filed under: Pemikiran, Pemilu 2009, Politik. Tags: , , , , .

MENCERMATI POLA DAKWAH ISLAM PASCA PILPRES, (Strategi Mendidik Umat Ke Depan) MENJADI INDIVIDU MUSLIM YANG DICITA-CITAKAN (Tanggung Jawab Siapa)

1 Comment Add your own

  • 1. Rasyid Emilly  |  24 July 2009 at 07:37

    Kita kaum muslimin yang mayoritas di Indonesia tidak banyak bisa berbuat untuk membantu saudara kita yang menderita di Cina, karena kitapun sedang digiring untuk mengalami nasib yang sama, di minoritaskan dan dimarginalkan, Kaum muslimin di Timur Tengah-pun bernasib sama, mereka sudah kehilangan ruh Islam, berganti dengan ruh liberalisme, Nasib, nasib yang menyedihkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: