MENJADI INDIVIDU MUSLIM YANG DICITA-CITAKAN (Tanggung Jawab Siapa)

28 July 2009 at 14:12 Leave a comment

Pengantar

Sebagaimana sudah sering dijelaskan bahwa agama Islam memberi tuntunan hidup kepada manusia dalam bentuk kehidupan duniawi yang utuh, apakah  sebagai individu, keluarga, maupun  sistem sosial (tatanan bangsa-negara). Seorang ‘individu’ yang dalam kehidupan pribadinya menerapkan syariat terkait dengan masalah pribadi disebut sebagai Individu yang Islami. Sebuah ‘keluarga’ yang menerapkan syariat terkait dengan pengaturan keluarga disebut sebagai Keluarga yang Islami. Sebuah ‘bangsa-negara’ sebagai tatanan sosial yang menerapkan syariat terkait dengan pengelolaan bangsa-negara disebut sebagai Bangsa-negara yang Islami. Dalam sebuah keluarga Islami bisa saja tinggal individu anggauta keluarga yang tidak muslim. Dalam sebuah bangsa-negara yang dikelola secara Islami juga bisa  tinggal individu-individu dan  keluarga-keluarga  yang tidak Islami.

Berikut ini akan diuraikan bagaimana ciri Individu muslim yang Islami. Pada kesempatan lain insyaAllah akan dibahas Keluarga dan Sistem Sosial (Tatanan Bangsa-Negara) yang Islami.

INDIVIDU MUSLIM YANG ISLAMI

Dalam masa hidupnya setiap orang bisa berada di mana saja, bersama siapa saja, berperan sebagai apa saja. Agama Islam memberi tuntunan cara hidup yang benar dan baik untuk tiap individu orang per orang tersebut. Bagaimana ciri individu muslim yang hidup secara pribadi sesuai ajaran Islam?

  1. Individu itu melakukan ritual Islam secara tertib. Shalat fardhunya dilakukan teratur, syukur jika ditambah dengan shalat sunnat. Puasa Ramadhan dilakukan dengan benar, syukur jika ditambah dengan puasa sunnat di bulan-bulan lain. Zakatnya dibayar penuh, syukur jika dia banyak memberi lebih dalam bentuk shadaqah dan infaq. Jika sudah memenuhi persaratan dia juga menunaikan ibadah haji, syukur jika ditambah dengan melakukan ibadah umrah. Nikahnya juga sesuai tuntunan agama Islam. Doa, dhikir, dan lain ibadah ritual dilakukan semaksimal mungkin, namun tentu  semua ritual itu tidak boleh keluar dari ajaran Islam yang baku, bukan sesuatu yang bersifat bid’ah (mengada-ada, diluar ajaran Rasulullah).
  2. Dalam berhubungan dengan orang lain maka individu itu memiliki akhlak yang mulia. Beberapa bentuk akhlak baku yang harusnya dipenuhi  seorang individu muslim antara lain: berlaku jujur, amanah, menepati janji, tepat waktu, berkata benar, sopan-santun, dan suka menolong orang lain. Akhlak mulia pada dasarnya bisa diukur jika individu itu membuat orang lain senang dengan kehadirannya, tidak terganggu oleh perilakunya, dan kehidupannya bermanfaat untuk orang lain.
  3. Setiap individu tentu memiliki suatu peran dalam kehidupan sosialnya, seperti misalnya peran sebagai ayah, ibu, anak, majikan, karyawan, guru, murid, pejabat, warga-negara, dan sebagainya. Agama Islam mewajibkan individu itu melaksanakan sebaik-baiknya tanggung jawab yang diembannya sesuai tuntunan Islam. Individu harus melakukan kewajiban sosialnya secara penuh terkait dengan peran yang dipegangnya itu, bahkan kalau mungkin bisa berprestasi melebihi tugas kewajiban yang menjadi tanggung-jawabnya. Dalam melaksanakan kewajibannya tersebut seorang individu tidak boleh melanggar ajaran Islam terkait dengan peran dan tanggung jawab tersebut. Seorang individu yang misalnya menjadi seorang ayah tentu dibebani untuk melaksanakan tugas sebagai ayah sesuai dengan ketentuan Islam terkait peran ayah. Begitu pula peran sebagai majikan dalam sebuah perusahaan, atau peran sebagai pejabat dalam suatu sistem pemerintahan.
  4. Setelah individu itu melakukan ibadah mahdhah (ritual) sesuai ajaran Islam, berakhlak baik dalam pergaulan sosial, menunaikan kewajiban yang dia emban dalam kehidupan kemasyarakatannya, maka setiap individu muslim diwajibkan pula untuk melakukan Jihad Islam. Makna jihad Islam itu luas, tidak hanya perang fisik melawan musuh yang memerangi Islam. Makna jihad Islam esensinya adalah setiap kegiatan yang bersifat membela, melindungi, dan menyebarkan agama Islam. Tidak seorang muslimpun bebas dari kewajiban jihad Islam ini, sebagaimana sabda nabi yang menegaskan bahwa  siapapun muslim itu wajib menyampaikan ke orang lain kebenaran Islam walau dia  hanya tahu sebuah ayat. Jika individu itu memiliki kemampuan orasi yang baik maka jihad tersebut bisa berbentuk ceramah atau dakwah bil lisan. Jika seseorang memiliki kemampuan menulis yang baik maka jihad itu bisa dilakukan melalui tulisan-tulisannya yang bersifat memperjuangkan agama Islam. Jika dia memiliki kewenangan membuat kebijakan publik seperti pejabat negara misalnya maka dia wajib membuat langkah dan kebijakan sosial yang sesuai dengan syariat Islam dan bahkan mengarah  untuk memajukan agama Islam. Begitu seterusnya, apakah aktifitas individu muslim itu berupa ucapan, tulisan, perbuatan, membuat kebijakan, dan lain-lain nya maka tindakan individu tersebut harus mengandung  pembelaan dan penyebaran agama Islam. Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa apabila seseorang melihat suatu kemungkaran maka dia wajib mengoreksinya dengan tindakan atau kebijakan sosial, jika tidak mampu berbuat begitu maka dia harus mengoreksinya dengan lisan berupa teguran atau nasehat, dan jika dia masih tidak mampu menegur atau menasehati dengan lisan maka dia diwajibkan tidak boleh meniru dan tetap teguh dalam hati menentang kemungkarann tersebut, walau bentuk respon yang ketiga ini berarti menunjukkan adanya   keimanan Islam pada dirinya  yang amat rendah kualitasnya.

Keempat ciri individu muslim yang diuraikan di atas berlaku secara serentak, tidak boleh bertahap. Seorang muslim sekaligus dia harus menjalankan ibadah ritual Islam, berakhlak baik sesuai tuntunan Islam, menunaikan kewajiban sosialnya menurut ajaran Islam, dan melakukan jihad Islam. Keempat sikap dan tindakan seorang muslim yang digambarkan tersebut menunjukkan adanya keutuhan Islam (kaaffah) dalam diri individu muslim itu.

Pada saat yang bersamaan seorang individu muslim juga harus selalu berusaha untuk  meningkatkan kualitas individualnya agar keempat bentuk perilaku di atas juga semakin berbobot. Upaya perbaikan kualitas individu muslim yang dimaksud adalah: meningkatkan ketaqwaan qalbunya, kecerdasan-keilmuannya, dan kemampuan fisik-jasmaniahnya. Seorang individu muslim yang kokoh di cita-citakan adalah jika dia kokoh keimananan-ketaqwaan di dalam qalbunya, cerdas dan kuat keilmuan-teknologi-ketrampilan kerjanya, serta sehat  jasmaniahnya, bagus kemampuan finansialnya, dan besar pengaruh/kemampuan sosial yang dipunyainya. Dengan bekal berbagai kemampuan yang prima tadi maka seorang individu muslim diharapkan akan besar pula prestasinya dalam membawa kemanfaatan atau kemashlahatan pada umat manusia.

Apabila ukuran individu muslim yang diuraikan di atas lalu digunakan untuk menganalisis kenyataan/realitas individu umat Islam Indonesia yang ada sekarang maka sungguh amatlah menyedihkan-memprihatinkan. Seorang mualaf (baru memeluk agama Islam dari agama lain) pernah secara terbuka menyatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa seandainya dia menilai Islam itu dari kacamata perilaku orang Islamnya maka rasanya dia tidak akan tertarik untuk menjadi muslim. Coba kita perkirakan berapa persen kiranya individu umat Islam Indonesia (dari sekitar 200juta orang itu) yang sudah melakukan ibadah ritual (mahdhah) secara tertib-teratur? Berapa persen individu umat Islam Indonesia yang memiliki akhlak mulia? Berapa persen individu umat Islam Indonesia yang melaksanakan tanggung jawab peran sosial yang diembannya sesuai ajaran Islam? Berapa persen individu umat Islam Indonesia yang sudah melaksanakan jihad Islam? Jika keempat indikator tersebut dijadikan sebagai satu kesatuan untuk mengukur kualitas individu muslim maka berapa persen kiranya individu umat Islam Indonesia yang sudah melakukan ibadah ritual secara tertib-teratur, plus berakhlak mulia, plus bertanggunag jawab melakukan peran sosialnya menurut ajaran Islam, plus sudah melakukan jihad Islam? Jawaban hipotetisnya: kecil, dan amat amat kecil untuk kategori yang terakhir.

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan mudah (tidak perlu hipotetis lagi) jika dilakukan survey tentang kualitas umat Islam Indonesia. Mengapa tidak dilakukan? Bukankah kemampuan melakukan survey/jajag pendapat sudah begitu bagusnya di negeri ini, terbukti dari survey/jajag pendapat dalam  proses pemilu legislatif dan pilpres yang berlangsung baru lalu dengan begitu tinggi akurasinya? Ormas-Orpol-LSM Islam seharusnya perlu melakukan survey kualitas Islam di Indonesia itu jika mereka memang berminat untuk meningkatkan kualitas umatnya. Begitu pula kiranya Pemerintah cq Departemen Agama dengan mudah bisa melakukan survey kualitas umat Islam Indonesia yang merupakan mayoritas bangsa ini jika ada kemauan untuk itu. Bukankah fungsi Pemerintah tidak hanya untuk mencarikan makan dan keamanan warga-negaranya? Bukankah peran Pemerintah harusnya meningkatkan kualitas warga-negaranya dalam semua dimensi kemanusiaan individu warga negara itu? Bayangkan bagaimana nasib sebuah bangsa yang apabila mayoritas penduduknya tidak taat beribadah ritual, tidak berakhlak mulia, tidak bertanggung jawab atas peran sosial yang diembannya, dan tidak memiliki semangat jihad perjuangan menegakkan kebenaran sesuai dengan yang diyakininya. Akan jadi apa bangsa-negara itu di masa mendatang? Tidaklah cukup jika ormas-orpol-lsm Islam dan Pemerintah RI (khususnya Departemen Agama)  hanya membuat program-program keagamaan yang bermacam-macam, apakah mendirikan sekolah Islam, pengajian, menambah masjid, pelayanan haji, mengumpulan zakat-infaq-shadaqoh, istighosah qubro,  dan semacamnya jika tidak disertai melakukan evaluasi kualitas individu umat Islam yang menjadi mayoritas bangsa ini,  secara teratur, periodik, dan benar dari waktu ke waktu.

Setiap individu muslim Indonesia harus berusaha membangun diri sendiri sehingga menjadi individu yang Islami sesuai dengan ukuran yang telah diuraikan di atas. Setiap organissi Islam harus membawa anggautanya berkembang menjadi indvidu muslim yang semakin berkualitas melalui program-program yang baik disertai evaluasi yang teratur akan kualitas mereka. Pemerintah Indonesia wajib membangun warga negaranya yang muslim untuk memiliki kualitas sebagai individu warga-negara muslim yang Islami agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Perlu diingat bahwa kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas mayoritas penduduknya, bukan oleh kualitas minoritasnya.

Mari direnungkan dengan hati jernih dan akal sehat, semoga Allah swt membuka mata hati aktifis Islam dan pejabat negara yang muslim di negeri ini.

Indonesia, 28 Juli 2009

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , .

SUPAYA TIDAK KALAH DAN MENDERITA MAKA UMAT ISLAM WAJIB TAAT SYARIAT POLITIK (Mobilisasi Ulama-Ustadz untuk segera menanamkan Ketaqwaan Sosial, tidak hanya mengajar Spiritual-Ritual) ANTARA KEMERDEKAAAN, KEBIJAKAN SEKULER PENJAJAH, PEMERINTAH PILIHAN RAKYAT, DAN KEJAYAAN INDONESIA, Benarkah ada Korelasinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: