KESHALIHAN SOSIAL VS BERWACANA ISLAM

18 August 2009 at 06:51 2 comments

Saat saya membaca Republika 15 Agustus 2009, saya tertarik sebuah artikel di halaman 12 yang diberi judul: “Saatnya Ulama Mengubah Kondisi Umat”. Di dalam artikel tersebut dinyatakan bahwa dari 230 juta penduduk Indonesia ada 207 juta jiwa yang muslim. Sedangkan menurut BPS dari penduduk Indonesia itu, sebanyak 32,5 juta hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia identik dengan kemiskinan umat Islam, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.Menurut salah seorang Ketua MUI, para ulama harus tampil untuk mengubah kondisi umatnya dengan ilmu dan kompetensi yang dimilikinya. Sejatinya, para ulama tak hanya berkutat dalam masalah ibadah, yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa ulama juga harus berperan dalam masalah mu’amalah. “Ulama sebagai panutan karena ilmu dan integritasnya sangat dibutuhkan untuk memberikan bimbingan kepada umatnya, karena posisinya yang sentral, maka dituntut untuk memberi pencerahan, tidak hanya dalam aspek ibadah, melainkan juga dalam dimensi mu’amalahnya.”. Demikian dicuplik pernyataan Ketua MUI tadi.

Melihat pentingnya isi artikel tersebut, maka saya lalu mengirim sms yang berbunyi sebagai berikut: ==AsWW. Rep 15/8 h-12: “Saatnya Ulama Mengubah Kondisi Umat”. TEPAT sekali. Dakwah ulama harus bermateri SYARI’AT Sos-Pol supaya Umat mau Pilih Pimpinan Negara yang Syar’i”. Ws, FA==. Sms itu saya kirimkan ke banyak teman supaya bisa  ikut mengetahui pola pemikiran yang bagus di Republika tadi.  Kondisi kemiskinan yang begitu besarnya di Indonesia tidak mungkin bisa diselesaikan oleh orang per orang (sekalipun oleh para Konglomerat Indonesia), namun hanya bisa diatasi oleh KEBIJAKAN PEMERINTAH yang benar.  Di sisi lain, pemerintah hanya akan mampu membuat dan melaksanakan kebijakan yang benar apabila pemerintah itu dipimpin dan diisi oleh orang-orang yang beriman-bertaqwa secara utuh, khususnya memahami dan mengetrapkan prinsip sosial-kenegaraan dari ajaran Islam. Pada urutan berikutnya, Pimpinan Negara yang berkualitas seperti diharapkan di atas hanyalah akan bisa terpilih jika dalam pemilihan umum dan Pilkada UMAT Islam yang mayoritas di negeri ini sudah sadar dan TAAT akan syari’at sosial politik oleh peran ulama (termasuk para ustadz, da’i, muballigh) yang mengajar agama pada umatnya.

Alhamdulillah banyak tanggapan balik dari sms saya tadi. Dari beberapa tanggapan tersebut ada yang sifatnya agak khusus, yakni dari seorang guru besar di sebuah Universitas Negeri di Malang yang juga dikenal sebagai aktivis Islam (saya singkat di sini namanya IRM). Berikut dialog saya via sms selanjutnya:

IRM: Ada yang lebih penting dari berwacana dan debat, yakni berbuat keshalihan sosial, karena masyarakat (bisa) melihatnya. Ini kelemahan umat Islam. Semoga Allah membimbing kita. Amiin.

Saya: Berwacana-debat memberi alternatif konsep yang benar tentang permasalahan Islam adalah sebuah keshalihan. Tentu membuat sekolah, masjid, sedekah, dan lain-lain juga keshalihan ASAL MENGARAH PADA KEJAYAAN ISLAM. Ada kasus: aktivis Islam membuat lembaga pendidikan ‘umum’ yang katanya untuk mencerdaskan UMAT, tapi ternyata menjadi markas liberal, itu jelas tidak keshalihan sosial. Jadi, di era ini kita harus hati-hati, tidak asal berbuat. Bagaimana dampak ke depan terhadap umat dan bangsa ini jika ulama hanya berdakwah ritual, tidak mendidik umat tentang syari’at sosial politik?

Demikianlah dialog sms dengan teman tersebut. InsyaAllah sudah ada kesepahaman akan pentingnya ulama agar menyampaikan ke umat tentang syari’at sosial politik Islam, tidak hanya materi ibadah mahdhah atau akhlak saja agar umat tidak keliru memilih Pemimpin Negara sewaktu Pemilu atau Pilkada. Pemimpin yang dipilih UMAT yang dididik ULAMA  itulah yang akan membuat kebijakan untuk penduduk Indonesia yang mayoritasnya muslim ini. Kebijakan Pemerintah yang sesuai dengan syariat sosial-kenegaraan Islam itulah yang menjamin terwujudnya kesejahteraan umat dan bangsa Indonesia, terbebas dari kemiskinan yang melanda selama ini (sudah 64 tahun merdeka). Wahai para ulama-kyai (termasuk cendekiawan muslim, ustadz, da’i, mubaligh, dan guru agama) setuju bukan?

Indonesia, 18 Agustus 2009.

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , , , , , , .

ANTARA KEMERDEKAAAN, KEBIJAKAN SEKULER PENJAJAH, PEMERINTAH PILIHAN RAKYAT, DAN KEJAYAAN INDONESIA, Benarkah ada Korelasinya? DI AJANG MISS UNIVERSE, BUDAYA BANGSA INDONESIA ITUKAH YANG DIKENALKAN KE DUNIA

2 Comments Add your own

  • 1. Beta  |  7 September 2009 at 13:40

    OK

  • 2. Moh. Zainuddin Qodir  |  6 October 2009 at 11:25

    Ulama kita selama hanya jelas surga dan neraka. dakwahnya belum membumi, masih melangit. Untuk merubah, perlu satu generasi ulama. Harus dicetak ulama yang saleh dalam sosial dan politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: