PRESIDEN SBY TENTANG “ISLAM ITU RAHMATAN LIL ALAMIN” Bagaimana Kesempatan dia untuk Merealisasikannya?

30 August 2009 at 14:39 5 comments

Banyak orang Islam, apalagi ulama dan muballigh,  yang sering mensitir bahwa Islam itu Rahmatan lil Alamin, namun bagaimana logikanya tidak banyak dibahas. Mirip dengan slogan cita-cita menjadikan bangsa-negara sebagai ‘Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur’, namun metoda menuju ke sana tidak diterapkan. Akhir-akhir ini malah konsep ‘Islam Rahmatan lil Alamin’ sepertinya dimanfaatkan  untuk ‘melawan’ Teroris. Sesederhana itukah makna Islam Rahmatan lil Alamin? Jelas tidak. Seandainya semua teroris yang beragama Islam di dunia ini sudah dipunahkan, apakah dunia lalu menjadi penuh Rahmat oleh Islam? Kalau hanya sekedar menghapuskan teroris tentu dunia belum aman-sejahtera karena di dunia akan masih banyak pencuri, perampok, pemerkosa, koruptor, pezina, pemabuk, pencemar lingkungan, dan perbuatan-perbuatan jahat lain yang  merusak harkat manusia dan alam. Kalau dunia saja belum bisa penuh rahmat apalagi untuk alam keseluruhannya. Jadi bagaimana rasionalnya bahwa ‘Islam itu membawa Rahmat bagi Alam’?

Pada acara buka bersama di istana Negara dengan elit politik dan media massa Kamis 27/8/09 Presiden SBY diantaranya membahas materi itu. Dalam Republika esok harinya diberitakan bahwa Presiden menegaskan ‘ajaran Islam, baik dari firman Allah SWT maupun sabda Rasul, merupakan jalan bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan akhirat. Ajaran Islam juga menuju keselamatan, kelestarian alam, dan kehidupan. Nilai-nilai Islam bersifat universal bagi tatanan dunia yang makin adil dan aman, di tingkat masyarakat global. Kita meyakini bahwa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam’.

Berikut ini saya cuplik berita lanjutan dari harian Republika itu:

Bagaimana Islam selaras dengan kehidupan dunia? Presiden menjelaskan bahwa Islam mampu untuk berperan penting di dalamnya. Benarkah nilai Islam bersifat universal dan bisa bergandengan dengan demokrasi, berdampingan dengan modernitas? Apakah Islam juga betul-betul berkontribusi bagi dunia, atau apakah peradaban Islam mampu menyumbang pembangunan peradaban dunia dan hidup damai dengan yang lain? ‘Kita bisa meletakkan ajaran Islam. Saya punya pandangan dan jawaban pertanyaan itu adalah, ya benar dan bisa,’ paparnya.

Sebab, lanjut SBY, hal itu bisa terwujud berdasarkan mereka yang memahami benar ajaran Alquran dan hadis. Non-muslim juga bisa memahami betul bahwa jawaban tadi adalah benar adanya.

Lembaga survei dunia, katanya, menjadikan sampel puluhan ribu dari 35 negara mayoritas yang memiliki kantong-kantong umat Islam yang merepresentasikan 1,3 miliar umat Islam. Jawaban survei ternyata bahwa nilai-nilai Islam tidak bertentangan, bahkan bisa berdampingan dengan HAM dan peradaban dunia.

Presiden juga menyinggung Deklarasi Makkah Al Mukarramah 2005 yang diadopsi dalam Piagam OKI 2008 di Dakkar, Senegal. Menurut dia, negara-negara OKI memiliki tekad tinggi dengan negara-negara non-Islam untuk membangun dunia yang aman dan damai”.

Secara umum pernyataan-pernyataan di atas rasanya tidak ada yang keliru. Bagaimanai kedalaman pernyataan itu? Aspek mana Islam yang mampu membawa kesejahteraan dan kedamaian dunia? Apakah aspek Ritualnya, seperti shalat, puasa, doa, haji, dan umrohnya bisa mendatangkan kesejahteraan-kedamaian dunia? Seandainya semua orang Islam di dunia yang diberitakan 1,3 milyar tadi keseluruhannya sudah menjalankan ritual Islam dengan baik apakah menjamin terjadinya kesejahteraan-kedamaian dunia? Tentu tidak bukan, karena masih ada penduduk dunia lain yang sekitar 5 milyar tidak beragama Islam sehingga tidak beritual secara Islam, dan diantara mereka tentu banyak yang masih berbuat kejahatan terhadap harkat manusia dan alam. Bahkan diantara muslim yang taat ritualpun masih banyak yang akan berbuat jahat itu. Mana bisa dunia  menjadi sejahtera-damai hanya karena orang Islamnya menjalankan ritual Islam dengan khusuk?

Apa aspek Islam yang mengatur bagaimana sebuah keluarga muslim  menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagaimnana yang sering dinasehatkan dalam khotbah nikah saat ada perkawinan? Bagaaimana istri yang baik, suami yang bertanggung jawab, membina anak agar menjadi shaleh-shalihah, membagi waris sesuai al Qur’an-Sunnah, memperlakukan tetangga dengan manis, dll? Jawabannya juga akan sama, yakni tidak akan bisa membawa terjadinya kedamaian-kesejahteraan dunia. Maksimal ya hanya keluarga muslim itu saja yang insyaAllah akan sejahtera dan harmonis jika nilai-nilai keluarga sakinah diterapkan oleh seluruh keluarga muslim di dunia. Di luar keluar muslim di dunia itu bukankah juga akan lebih banyak lagi keluarga yang merupakan keluarga non-muslim. Bahkan pada anggauta keluarga muslimpun akan masih banyak yang berperilaku jahat pada masyarakat dan alam sekitar, seperti eksploitatif pada orang lain dan aset-kekayaan alam negara  karena pengelolaan tatanan sosialnya memungkinkan atau bahkan menginduksi mereka berbuat begitu.

Lalu aspek Islam mana yang mampu membawa kesejahteraan-kedamaian dunia sehingga Islam itu disebut akan membawa Rahmat bagi Alam? Apa nilai-nilai umum yang sering  disebut “UNIVERSAL”? Jika yang dimaksud nilai universal itu adalah keadilan, damai, kesetaraan gender, HAM, anti kekerasan,  dll yang indah itu, lalu mengapa harus diberi identitas Islam? Bukankah yang disebut sebagai nilai universal tersebut juga dianut oleh ajaran di luar Islam, maka apa hebatnya PERAN Islam dalam kaitannya dengan membawa kesejahteraan-kedamaian dunia? Bukankah nilai-nilai agama lain, bahkan nilai humanisme yang tidak beragamapun  juga disebut memiliki nilai universal itu, sehingga mengapa NILAI UNIVERSAL YANG HEBAT DAN BISA MEMBAWA KESEJAHTERAAN-KEDAMAIAN DUNIA itu lalu diklaim sebagai milik Islam? Naif bukan?

Islam sebagai Rahmat bagi Alam karena di dalam Islam terkandung PRINSIP MENGELOLA DUNIA sehingga dunia akan bisa menjadi dunia yang sejahtera-aman-damai. Bukan aspek Ritual Islam, bukan pula aspek Prinsip berkeluarga Islam yang mampu membawa dunia aman-sejahetra, namun TEKNOLOGI ISLAM DALAM MENGELOLA BANGSA-NEGARA yang bisa membawa dunia aman-sejahtera, membawa rahmat bagi alam. Teknologi Islam untuk mengelola bangsa-negara itu (di dalamnya termasuk prinsip pengelolaan bidang sosial-kenegaraan POLEKSOSKUMBUDHANKAM) pasti KHAS ISLAM, tidak dimiliki oleh faham lain di dunia. Itulah makna operasional Islam membawa Rahmat bagi Alam. Teknologi Islam untuk mengelola bangsa-negara itulah yang harus diterapkan dalam kenyataan hidup berbangsa-bernegara dalam skala negara dan dunia, bukan teknologi non-Islam seperti sekuler-kapitalistik atau sosialis-komunis yang sebaliknya akan membawa kehancuran dunia. (lihat  index dan silahkan membuka artikel terkait Teknologi Islam mengelola bangsa-negara dalam blog ini)

Siapa yang berkesempatan besar untuk mengetrapkan TEKNOLOGI ISLAM MENGELOLA BANGSA-NEGARA agar terwujud dunia yang aman-sejahtera? Tentu salah satunya adalah: Presiden SBY!!! Selamat bagi beliau yang memiliki kesempatan itu.

Indonesia, 10 Ramadhan 1430 H

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , , , , , , .

DI AJANG MISS UNIVERSE, BUDAYA BANGSA INDONESIA ITUKAH YANG DIKENALKAN KE DUNIA ORANG ALIM MASUK NERAKA, PELACUR MASUK SURGA? Astaghfirullah, Apa Pesan Dibaliknya?

5 Comments Add your own

  • 1. Moh Hasan Machfoed  |  30 August 2009 at 18:41

    konsep rahmatan lil alamien bagus, saya ragu pengetrapannya banyak terkontaminasi banyak kepentingan lain.

  • 2. Mohammad Hanafi  |  2 September 2009 at 10:03

    Kita doakan semoga SBY dan Obama mendapat Hidayah Allah. Amin

  • 3. Pgat  |  5 September 2009 at 23:49

    saya kira SBY benar apa yg disampaikan, semua teroris, penjahat dll harus dimished tanpa regard religion

  • 4. BJo  |  7 September 2009 at 14:02

    brantas segala bentuk teroris

  • 5. Rasyid Emilly  |  9 September 2009 at 19:43

    Pidato, Khutbah, Seminar, Tulisan, bisa bagus dan enak dibaca, apalagi lagu-lagu pada MP3 paling enak didengar kalau mata sulit untuk tidur. Untuk merealisasikan Islam itu adalah Rahmat bagi isi sekalian alam pada dasarnya tidak sulit, terkecuali kalau memang mau mempersulit, atau mau disulit-sulitkan. Realisasikanlah dalam bentuk UU dan Peraturan , lalu serahkan pelaksanaannya pada orang yang profesional, kemudian tegakkan hukum dan keadilan, maka dengan seendiirinya akan terwujud apa yang dimaksudkan. Tetapi jangan dicapur baur antara susu dengan nila. maksudnya jangan pula diberi peluang untuk membangun sesuatu kekuatan hukum atau Peraturan yang memperkuat sendi-sendi kejahatan.
    Kalau memang SBY mau mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil ALamin, sudah lima tahun yang lalu kesempatan ada ditangannya, tetapi yang dilakukannya adalah melindungi musuh2 Islam, seperti banyaknya aliran sesat dan membiarkan Islam terus terpojok, memelihara kemiskinan melalui BLT dan tidak menuntasskan mushibah Lapindo, dsb.
    Saya tidak yakin SBY akan mau menjadi pembela Islam di Indonesia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: