AL QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP KAUM MUSLIMIN: (Khotbah Iedul Fithrie 1430H/2009M)

14 September 2009 at 15:22 2 comments

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,

(Iftitah)

Allaahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Pertama sekali marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk limpahan rahmat pada pagi hari ini, hari yang cerah, sejuk,  segar, penuh ceria. Pagi ini kita bersyukur bisa bersama-sama melakukan sholat Ied menyambut hari raya Islam di tahun 1430 H, setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui. Dari semua ni’mat karunia yang diberikan oleh Allah swt pada kita rasanya tidak ada yang lebih tinggi dari ni’mat dalam bentuk iman yang membukakan hati ini menjadi hati yang bersih, hati yang fithrie, meyakini bahwa Allah swt satu-satunya tuhan yang harus disembah dan harus dipatuhi tuntunanNya. Alhamdulillah.

Selanjutnya kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad saw, khususnya sebagai ungkapan kecintaan kita pada beliau dan penghormatan yang tinggi atas segala perjuangan dan pengorbanan beliau dalam menyampaikan risalah Illahi Rabbi sehingga telah sampailah risalah itu dengan selamat ke tangan kita untuk kita gunakan sebagai cara hidup mengelola pribadi, keluarga, dan masyarakat agar hidup kita mencapai keberhasilan di dunia dan akherat nanti. Tuntunan Allah swt dalam bentuk cara  mengurus kehidupan pribadi, berkeluarga, dan bermasyarakat-berbangsa-bernegara itulah sesungguhnya yang disebut sebagai ‘Syari’at-Islam’ yang wajib bagi kita umat Islam untuk mengamalkan dan mensosialisasikannya sesuai dengan kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki. Aplikasi syari’at Islam di semua tatanan kehidupan kita akan membawa keselamatan dan keberhasilan hidup, sedang penolakan terhadap syari’at Islam akan mengakibatkan kerugian, keterpurukan, dan kegagalan dalam proses kehidupan kita. Di sinilah hakekat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat at Thalaq ayat 2-3:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membukakan baginya jalan keluar (bagi setiap permasalahan hidup yang dihadapinya). Allah akan memberi rizki baginya dari jalan yang tidak mereka sangka. Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah maka Allah akan melindungi/memeliharanya.”

Dalam Surat al Ghasyiah 23-24 Allah memperingatkan:

“Barang siapa yang berpaling dan mengingkari (syari’at Islam) akan memperoleh adzab yang besar dari Allah swt (di dunia ini maupun di akherat nanti)”

Allaahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Setelah sebulan kita menunaikan ibadah puasa Ramadhan, disertai banyak melakukan sholat tarawih, mengendalikan berbagai godaan syaitan, memperbanyak amalan-amalan terpuji, maka insyaAllah hati nurani atau qalbu kita kini menjadi qalbu yang lebih bersih, qalbu yang berkualitas keimanan dan ketaqwaan. Qalbu yang seperti itulah yang bisa membawa perilaku kita menjadi lebih terpuji, tidak loba dan tamak harta, menjadi lebih teduh, tidak tercengkeram dendam kesumat, lebih ramah, tidak sombong dan takabur akan kelebihan yang ada pada dirinya. Dengan hati lebih teduh, bersih, dan ramah kita peluk keluarga kita, kita datangi Saudara kita, dan kita salami teman-teman kita. Semuanya itu kita kerjakan dengan ikhlas, semata untuk melaksanakan tuntunan Allah, syari’at Islam, tuntunan yang diwahyukan lewat Rasulullah, tuntunan yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi  manusia, baik sebagai pribadi, keluarga, maupun masyarakat-bangsa-negara yang mau melaksanakannya.

Perilaku terpuji seperti itu, lebih-lebih setelah kita menjalankan puasa Ramadhan, tercermin dalam al Qur’an surat Ali Imran ayat 134:

“(Orang yang bertaqwa itu) adalah orang yang selalu menginfaqkan sebagian rizkinya baik ketika sedang dalam keadaan berkelebihan maupun sedang dalam keadaan kekurangan, dan mereka mampu menahan amarah, serta mudah memaafkan bagi sesamanya, dan Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan.”

Secara sosial-kenegaraan Allah SWT menegaskan dalam al Qur’an surat al A’raf ayat 96:

“Apabila penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa (mengetrapkan syariat sosial-kenegaraan dari Allah swt) maka Allah akan menurunkan karuniaNya dari langit dan bumi (sehingga mereka akan menjadi makmur, aman, sejahtera-lahir bathin). Namun jika mereka itu ingkar (terhadap tuntunan sosial-kenegaraan dari ajaran Allah) maka akan ditimpakan pada mereka berbagai kesulitan hidup karena perilaku mereka sendiri (yang mengingkari syariat Islam itu).”

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Di dalam bulan suci Ramadhan  kita juga memperingati hari turunnya al Qur’an, hari Nuzulul Qur’an, yang peringatan itu penting untuk mengingatkan kita agar mengkaji-mempelajari terus isi kandungan al Qur’an guna dipakai sebagai acuan hidup kita sehari-hari. Tidaklah wajar jika terhadap textbook keilmuan saja kita mempelajarinya terus-menerus sedang terhadap al Qur’an, textbook cara hidup yang menentukan nasib kita dunia-akherat, tidak terus kita perdalam memahaminya. Kita perlu selalu introspeksi apa saja kandungan al Qur’an (syariat Islam) yang telah mampu kita kerjakan  dan mana pula yang belum bisa kita laksanakan dalam kehidupan kita sekarang ini (karena belum memiliki kekuasaan untuk itu). Apa yang belum bisa kita praktekkan perlu kita telusuri sebab-sebabnya dan terus diupayakan pemberlakuannya. Membaca dan mendalami kembali ajaran Islam amatlah perlu apalagi kita kini menjadi anggauta suatu bangsa yang sedang terpuruk, sedang dalam masa krisis berat, khususnya krisis moral dan akhlak. Kita kini sedang berada dalam lingkungan di mana di sekitar kita penuh dengan tantangan-godaan syaitan berupa rayuan materi dan kesesatan-kemaksiatan melalui berbagai jalur informasi masal lewat media cetak maupun media elektronik seperti televisi dan internet. Dalam suasana lingkungan yang amat tidak mendukung itu kita perlu meningkatkan kewaspadaan agar tidak ikut hanyut pada tarikan propaganda materi, kemewahan, kesesatan dan maksiat yang membawa kita pada jurang kekeliruan/ kekufuran yang kita sesali akibat buruknya nanti. Na’udhubillahi min dhaalik.

Salah satu tantangan serius yang harus kita waspadai akhir-akhir ini adalah propaganda  untuk membuat orang Islam menjadi ragu akan perlunya menegakkan syari’at Islam, menjadi ragu akan ketentuan Allah dalam al Qur’an, menjadi ragu akan substansi rinci dan spesifik dari ajaran Islam. Propaganda oleh yang menamakan diri sebagai “Islam Liberal” misalnya, yang dimuat secara intensif dalam banyak media jelas mengarahkan umat Islam untuk memeluk Islam hanya sebagai ajaran moral yang umum,  tidak spesifik, seperti keadilan, kejujuran, kerakyatan, dan semacamnya, yang tentunya tidak lagi menjadi khas Islam dan terasa maya, tidak kongkret, dan retorika. Propaganda itu mengarah pada pengenceran iman Islam, dan bermaksud membuang kebanggaan umat akan metoda spesifik Islami (teknologi Islam) dalam mengelola kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara seperti: pentingnya memilih pemimpin yang taat syariat (a.l sewaktu pemilu-pilkada), membuat kebijakan ekonomi yang non ribawi dan memberi prioritas pemberdayaan rakyat yang lemah, membuat-melaksanakan hukum-peraturan secara adil dan menjerakan para penjahat termasuk koruptor, mengarahkan budaya bangsa agar berbudaya luhur-mulia sesuai ajaran agama, dan tegas dalam memberantas  praktek sosial yang haram dan maksiyat. Propaganda jahat itu sampai-sampai mengarah untuk  menyamakan iman semua agama, menyamakan nasib semua orang di akherat nanti, apakah memeluk Islam atau tidak. Astaghfirullah. Mereka maunya mengikis iman orang Islam dengan perkataan dan tulisan, namun insyaAllah bila kita penuh kewaspadaan maka Allah swt akan melindungi iman kita dari faham sesat seperti itu.

Allah swt berfirman dalam surat as Shaf ayat 11:

“Mereka itu berusaha meredupkan sinar Ilahi dengan mulut-omongan-perkataan mereka, namun Allah lebih memancarkan sinarNya walaupun orang-orang sesat itu tidak menyukainya”.

Hadirin yang saya muliakan,

Reaksi manusia terhadap al Qur’an pada dasarnya hanya bisa dikelompokkan dalam dua bentuk, yakni:

  1. Menerima al Qur’an sepenuh hati untuk dipraktekkan isinya secara utuh demi keberhasilan hidup di dunia-akherat, baik syariat yang terkait kehidupan pribadi, keluarga, maupun tatanan sosial-kenegaraan, sesuai dengan kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki
  2. Menolak al Qur’an sebagai acuan untuk hidup, atau menerima hanya sebagian isinya yang disukai dan menolak prinsip lainnya yang dinilai tidak menguntungkannya.

Golongan pertama disinyalir oleh Allah dalam surat al Baqarah ayat 4-5:

“(Golongan yang bertaqwa itu) meyakini apa yang telah diwahyukan oleh Allah (al Qur’an) dan juga meyakini terjadinya hari kiamat. Mereka itulah orang yang memperoleh petunjuk dari Allah dan memperoleh keberuntungan dalam hidupnya.”

Sebaliknya untuk golongan kedua Allah berfirman dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 6-7 yang menyebutkan:

“Golongan kafir itu sama saja apakah kamu beri peringatan atau tidak, mereka akan tetap mengingkari tuntunan Allah. Hati, pendengaran, dan penglihatan mereka telah tertutup sehingga mereka tidak bisa lagi memahami kebenaran.”

Juga dalam surat al Furqon ayat 30 dinyatakan oleh Allah:

“(Kaum munafik itu) memandang al Qur’an sebagai sesuatu yang tidak berarti dalam hidup mereka.”

Juga dalam surat al Baqarah ayat 85 Allah berfirman:

“(Kaum munafik itu) hanya mau mengetrapkan sebagian ayat al Qur’an dan menolak ayat lainnya. Sikap mereka yang seperti itu membuat mereka terhinakan semasa hidupnya di dunia sedang di akherat nanti mereka akan menerima siksa yang pedih.”

Bagi golongan yang menolak ajaran al Qur’an, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagiannya saja, Allah SWT akan menimpakan kepada mereka kegagalan baik secara pribadi maupun sebagai suatu tatanan sosial, sedang di akherat pasti akan menerima adzab di neraka. Sedang bagi kelompok yang meyakini akan benarnya nilai ajaran al Qur’an secara utuh atau kaffah dan melaksanakan yang dia mampu sesuai wewenang yang dimilikinya tentu akan memperoleh ketenangan hati, kelapangan dada, rizki yang cukup sewaktu di dunia,  serta tempat indah-terpuji di alam akherat nanti.Amien.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Dalam menghadapi serangan-serangan ideologis seperti yang diuraikan sebelumnya,  mari kita kembali merenungkan esensi firman Allah, ayat  pertama dan  terakhir yang diturunkanNya melalui Nabi Muhammad saw.

Ayat pertama yang tertera dalam surat al ’Alaq ayat 1-7:

“Bacalah, bacalah demi nama Tuhanmu Yang Maha Pencipta. Tuhan yang menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmu itu maha Mulia, yang mengajarmu dengan kalam, mengajarimu tentang apa yang tidak kamu ketahui. Ketahuilah, sesungguhnya manusia sering melampaui batas, karena ia melihat dirinya telah mampu/berkecukupan (tidak mau lagi menggunakan cara hidup yang diajarkan oleh Allah swt).“

Allahu Akbar,

Jelas sekali sejak dari awalnya Islam telah memberi perintah pada manusia untuk mengenal Tuhannya, tidak sombong, dan mau belajar dari Allah swt agar mereka tidak bodoh, tidak spekulatif hidupnya. Ayat pertama al Qur’an menunjukkan pentingnya manusia untuk ‘membaca’ mengenali cara hidup yang benar dan melaksanakannya secara nyata.

Allaahu Akbar,

Ayat terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT, yang diterima oleh Rasulullah sewaktu beliau sedang melaksanakan ibadah haji di padang Arafah ternyata memiliki nuansa yang berbeda. Wahyu terakhir itu bernuansa mengingatkan manusia akan sempurnanya isi al Qur’an, yang berarti mengingatkan manusia agar tidak lagi ragu untuk menerapkan ajaran/syariat Islam, bukan yang umum-umum saja seperti propagandanya Islam Liberal dan Islam Sekuler tapi juga ajaran yang spesifik sebagai teknologi cara hidup bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Ayat ini menegaskan agar manusia yakin untuk berpegang teguh dalam menjalani hidupnya di dunia ini dengan tuntunan al Qur’an dan percontohan Rasulullah.

Ayat yang diturunkan terakhir itu tercantum dalam surat al Maidah ayat 3:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan Aku telah rela Islam sebagai agamamu.”

Allaahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Jarak waktu antara turunnya ayat pertama dan terakhir itu yang menandai pula masa-masa pembinaan kelompok dan pengelolaan sosial oleh Islam ternyata juga penting untuk disimak, yakni hanya 23 tahun, jauh lebih pendek dari masa kemerdekaan yang telah kita jalani (64 tahun). Jangka waktu sependek itu ternyata juga sudah cukup untuk merubah masyarakat dari kondisi terbelakang/terpuruk penuh krisis menjadi kondisi maju peradaban tinggi; dari bangsa pinggiran di tengah padang pasir menjadi bangsa yang memimpin peradaban dunia, menggantikan adikuasa kekaisaran Romawi dan Persia yang feodalistik dan represif. Kasus ini seharusnya memberi sinyal bahwa menyelesaikan krisis sosial itu tidak perlu makan waktu panjang asalkan metodanya benar. Bahkan lebih dramatis lagi kasus yang dialami Umar bin Abdul Aziz, khalifah Islam di zaman Mua’awiyah. Beliau hanya perlu 2 (dua) tahun untuk merubah masyarakat yang semula haus menerima zakat menjadi masyarakat yang tercukupi sehingga berebut memberi zakat setelah mengetrapkan syari’at Islam dalam proses pengelolaan negerinya.

Kasus-kasus seperti itu seharusnya memberi kita pelajaran berharga, yakni bahwa proses membangun masyarakat-bangsa-negara itu harus dimulai dengan upaya keras membentuk pribadi manusia berakhlak mulia dan membentuk tatanan masyarakat–bangsa yang tertib hukum penuh keadilan sesuai dengan syariat Islam, bukan mendahulukan penumpukan harta/materi atau pembangunan ekonomi berorientasi pertumbuhan yang kemudian bila ada hasilnya maka hasil itu dimanipulasi dan dieksploitasi oleh pejabat korup dan pengusaha  rakus sehingga rakyatnya tetap miskin dan terlantar. Dengan kualitas manusia yang berbudi luhur dan tatanan sosial yang tertib harmonis sesuai dengan syariat Islam maka kejayaan ekonomi akan datang dengan sendirinya melalui proses sosial-alamiah sesuai dengan sunnatullah. Fenomena pembangunan manusia dan masyarakat yang benar itu nampaknya sudah dilupakan manusia pada umumnya karena dalam proses sosial-politik yang berlangsung biasanya manusia lalu terjerat godaan syetan, memulai upaya pembangunan dengan ukuran ekonomi, bukan ukuran akhlak. Akibat salah orientasi dan salah prioritas dalam proses pembangunan itu maka nasib masyarakat-bangsa kita menjadi berlarut-larut tidak menentu secara berkepanjangan, merosot kualitasnya sebagai bangsa, sehingga tidak pernah tercapai suatu keberhasilan sosial seperti yang terjadi di jaman Rasulullah, yakni terbentuknya pribadi manusia yang berbudi serta terbentuknya tatanan sosial bangsa-negara yang adil-makmur berbudaya luhur, penuh kesejahteraan, kerukunan dan keharmonisan di tengah kemajemukan  agama, suku, dan ras. Kita perlu ingat bahwa Negara Madinah di zaman pemerintahan Rasulullah dan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah negara majemuk (plural) yang di dalam negara itu hidup orang beragama non-Islam, ada Yahudi dan Nasrani, namun secara sosial-kenegaraan dikelola dengan syari’at Islam

Allaahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Dalam masa hidupnya setiap orang bisa berada di mana saja, bersama siapa saja, berperan sebagai apa saja. Agama Islam memberi tuntunan cara hidup yang benar dan baik untuk tiap individu orang per orang tersebut. Bagaimana ciri individu muslim yang hidup secara pribadi sesuai ajaran Islam?

  1. Individu itu melakukan ritual Islam secara tertib. Shalat fardhunya dilakukan teratur, syukur jika ditambah dengan shalat sunnat. Puasa Ramadhan dilakukan dengan benar, syukur jika ditambah dengan puasa sunnat di bulan-bulan lain. Zakatnya dibayar penuh, syukur jika dia banyak memberi lebih dalam bentuk shadaqah dan infaq. Jika sudah memenuhi persaratan dia juga menunaikan ibadah haji, syukur jika ditambah dengan melakukan ibadah umrah. Nikahnya juga sesuai tuntunan agama Islam. Doa, dhikir, dan lain ibadah ritual dilakukan semaksimal mungkin, namun tentu  semua ritual itu tidak boleh keluar dari ajaran Islam yang baku, bukan sesuatu yang bersifat bid’ah (mengada-ada, diluar ajaran Rasulullah).
  2. Dalam berhubungan dengan orang lain maka individu itu memiliki akhlak yang mulia. Beberapa bentuk akhlak baku yang harusnya dipenuhi  seorang individu muslim antara lain: berlaku jujur, amanah, menepati janji, tepat waktu, berkata benar, sopan-santun, dan suka menolong orang lain. Akhlak mulia pada dasarnya bisa diukur jika individu itu membuat orang lain senang dengan kehadirannya, tidak terganggu oleh perilakunya, dan kehidupannya bermanfaat untuk orang lain.
  3. Setiap individu tentu memiliki suatu peran dalam kehidupan sosialnya, seperti misalnya peran sebagai ayah, ibu, anak, majikan, karyawan, guru, murid, pejabat, warga-negara, dan sebagainya. Agama Islam mewajibkan individu itu melaksanakan sebaik-baiknya tanggung jawab yang diembannya sesuai tuntunan Islam. Individu harus melakukan kewajiban sosialnya secara penuh terkait dengan peran yang dipegangnya itu, bahkan kalau mungkin bisa berprestasi melebihi tugas kewajiban yang menjadi tanggung-jawabnya. Dalam melaksanakan kewajibannya tersebut seorang individu tidak boleh melanggar ajaran Islam terkait dengan peran dan tanggung jawab tersebut. Seorang individu yang misalnya menjadi seorang ayah tentu dibebani untuk melaksanakan tugas sebagai ayah sesuai dengan ketentuan Islam terkait peran ayah. Begitu pula peran sebagai majikan dalam sebuah perusahaan, atau peran sebagai pejabat dalam suatu sistem pemerintahan.
  4. Setelah individu itu melakukan ibadah mahdhah (ritual) sesuai ajaran Islam, berakhlak baik dalam pergaulan sosial, menunaikan kewajiban yang dia emban dalam kehidupan kemasyarakatannya, maka setiap individu muslim diwajibkan pula untuk melakukan Jihad Islam. Makna jihad Islam itu luas, tidak hanya perang fisik melawan musuh yang memerangi Islam. Makna jihad Islam esensinya adalah setiap kegiatan yang bersifat membela, melindungi, dan menyebarkan agama Islam. Tidak seorang muslimpun bebas dari kewajiban jihad Islam ini, sebagaimana sabda nabi yang menegaskan bahwa  siapapun muslim itu wajib menyampaikan ke orang lain kebenaran Islam walau dia  hanya tahu sebuah ayat. Jika individu itu memiliki kemampuan orasi yang baik maka jihad tersebut bisa berbentuk ceramah atau dakwah bil lisan. Jika seseorang memiliki kemampuan menulis yang baik maka jihad itu bisa dilakukan melalui tulisan-tulisannya yang bersifat memperjuangkan agama Islam. Jika dia memiliki kewenangan membuat kebijakan publik seperti para pejabat negara misalnya maka dia wajib membuat langkah dan kebijakan sosial yang sesuai dengan syariat Islam dan bahkan mengarah  untuk memajukan agama Islam. Begitu seterusnya, apakah aktifitas individu muslim itu berupa ucapan, tulisan, perbuatan, membuat kebijakan, dan lain-lain nya maka tindakan individu tersebut harus mengandung  pembelaan dan penyebaran agama Islam. Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa apabila seseorang melihat suatu kemungkaran maka dia wajib mengoreksinya dengan tindakan atau kebijakan sosial, jika tidak mampu berbuat begitu maka dia harus mengoreksinya dengan lisan berupa teguran atau nasehat, dan jika dia masih tidak mampu menegur atau menasehati dengan lisan maka dia diwajibkan tidak boleh meniru dan tetap teguh dalam hati menentang kemungkarann tersebut, walau bentuk respon yang ketiga ini berarti menunjukkan adanya   keimanan Islam pada dirinya  yang amat rendah kualitasnya.

Keempat ciri individu muslim yang diuraikan di atas berlaku secara serentak, tidak boleh bertahap. Seorang muslim sekaligus dia harus menjalankan ibadah ritual Islam, berakhlak baik sesuai tuntunan Islam, menunaikan kewajiban sosialnya menurut ajaran Islam, dan melakukan jihad Islam. Keempat sikap dan tindakan seorang muslim yang digambarkan tersebut menunjukkan adanya keutuhan Islam (kaaffah) dalam diri individu muslim itu.

Pada saat yang bersamaan seorang individu muslim juga harus selalu berusaha untuk  meningkatkan kualitas individualnya agar keempat bentuk perilaku di atas juga semakin berbobot. Upaya perbaikan kualitas individu muslim yang dimaksud adalah: meningkatkan ketaqwaan qalbunya, kecerdasan-keilmuannya, dan kemampuan fisik-jasmaniahnya. Seorang individu muslim yang kokoh di cita-citakan adalah jika dia kokoh keimananan-ketaqwaan di dalam qalbunya, cerdas dan kuat keilmuan-teknologi-ketrampilan kerjanya, serta sehat  jasmaniahnya, bagus kemampuan finansialnya, dan besar pengaruh/kemampuan sosial yang dipunyainya. Dengan bekal berbagai kemampuan yang prima tadi maka seorang individu muslim diharapkan akan besar pula prestasinya dalam membawa kemanfaatan atau kemashlahatan pada umat manusia.

Apabila ukuran individu muslim yang diuraikan di atas lalu digunakan untuk menganalisis kenyataan/realitas individu umat Islam Indonesia yang ada sekarang maka sungguh amatlah menyedihkan-memprihatinkan. Seorang mualaf (baru memeluk agama Islam dari agama lain) pernah secara terbuka menyatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa seandainya dia menilai Islam itu dari kacamata perilaku orang Islamnya maka rasanya dia tidak akan tertarik untuk menjadi muslim. Coba kita perkirakan berapa persen kiranya individu umat Islam Indonesia (dari sekitar 200juta orang itu) yang sudah melakukan ibadah ritual (mahdhah) secara tertib-teratur? Berapa persen individu umat Islam Indonesia yang memiliki akhlak mulia? Berapa persen individu umat Islam Indonesia yang melaksanakan tanggung jawab peran sosial yang diembannya sesuai ajaran Islam? Berapa persen individu umat Islam Indonesia yang sudah melaksanakan jihad Islam? Jika keempat indikator tersebut dijadikan sebagai satu kesatuan untuk mengukur kualitas individu muslim maka berapa persen kiranya individu umat Islam Indonesia yang sudah melakukan ibadah ritual secara tertib-teratur, plus berakhlak mulia, plus bertanggunag jawab melakukan peran sosialnya menurut ajaran Islam, plus sudah melakukan jihad Islam? Kecil-Sedikit, dan amat amat kecil untuk kategori yang terakhir.

Allah menegaskan dalam al Qur’an Surat an Nahl ayat 90:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, menyantuni kaum kerabat, serta melarang perbuatan keji, mungkar, dan sikap permusuhan.”

Allah juga menyatakan dalam al Qur’an surat An Najm ayat 39:

“Allah swt menilai manusia dari perbuatannya (bukan khayalan/dalam pikiran belaka)”

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Dari keseluruhan pembahasan ini bisa kiranya disimpulkan  perlunya 6 hal pokok yang perlu segera diupayakan kaum muslimin di semua lini kehidupan di negeri ini, dengan perbuatan nyata, bukan sekedar pikiran atau angan-angan,  yakni:

  1. Membentuk diri masing-masing menjadi Pribadi Muslim yang Islami dan berkualitas
  2. Mengelola Keluarga Muslim sesuai syariat Islam dalam berkeluarga agar menjadi keluarga sakinah yang menjadi inti dan motor penggerak  untuk membangun masyarakat-bangsa-negara yang diridhoi Allah swt.
  3. Mengelola masyarakat-bangsa-negara termasuk lembaga2nya sesuai dengan ajaran syariat sosial-kenegaraan Islam, pada semua bidang pembangunan yakni poleksoskumbudhankamling (politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya, pertahan-keamanan, dan lingkungan)
  4. Memilih Pengelola masyarakat-bangsa-negara (skala nsional-wilayah) TOKOH-FIGUR yang memiliki ketaatan akan ajaran Allah swt secara kaaffah, bukan oleh orang yang hanya berani berkata beriman tapi tidak mau menjalankan syariat Islam.
  5. Memberantas segala bentuk praktek kemaksiatan dan kemungkaran untuk membangun lingkungan yang bersih dan bermartabat demi penyelamatan generasi muda dari kerusakan akhlak-moral-intelektual.
  6. Secepatnya memberdayakan ekonomi umat Islam melalui proses swadaya dan struktural sejalan dengan tuntunan Islam dalam bidang ekonomi.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1430 H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa.Berikanlah kepada kami ya Allah perlindunganMu agar kami tidak lagi tersesat setelah kami beriman.

Ya Allah, kami ini memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri dan masyarakat serta lingkungan kami, bukan menjadi manusia serakah yang merugikan orang lain dan merusak alam sekitar.

Ya Allah, tambahkanlah ilmu kami, kuatkanlah iman kami, dan kokohkanlah ketaqwaan kami. Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

*) Khotbah Iedul Fithrie 1430H/2009M
di Lapangan Sepakbola, Wage, Sidoarjo
Disampaikan oleh: DR. FUAD AMSYARI
(Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Pusat)

Entry filed under: Agenda. Tags: , , , , .

NASIB MINORITAS MUSLIM DI NEGARA ASING

2 Comments Add your own

  • 1. abdul Karim  |  20 September 2009 at 10:31

    Ust, Fuad, TAQOBALULLAHU MINNA WA MINKUM TAQOBAL YA KARIIM.
    Buah puasa termahal, termewah, terindah, terlezat, bahkan tersempurna adalah Taqwa. Dan itu tampaknya hanya diberikan pada hamba2NYA yang berpuasa IManan wa TIhsaban. Semoga kita semua termasuk yang demikian. Amiiin
    Kami tunggu tulisan-tulisan berikutnya. Syukron.

  • 2. Rasyid Emilly  |  30 September 2009 at 09:50

    Sementara Jaringan Islam Liberal merupakan organisasi yang kuat dan terorganisir, hendak meng-amandemen Al Qur’an, karena mereka menilai Al Qur’an itu tidak adil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: