PERLUKAH HARI RAYA ISLAM ITU SERAGAM HARINYA?

26 September 2009 at 09:36 4 comments

Tahun ini Iedul Fithrie di Indonesia ‘umumnya’ dirayakan Ahad, 20 September 2009. NU dan Muhammadiyah sepakat dan melakukan shalat Ied pada hari yang sama. Suasana menjadi semarak dan nampak rukun-akrab penuh ukhuwah antara sesama muslim. Suasana itu jelas berbeda pada Iedul Fithrie tahun lalu yang tidak sama harinya antara warga NU dan Muhammadiyah. Namun memang benarkah semua umat Islam Indonesia merayakan Iedul Fithrie tahun ini pada hari Ahad 20 Serpetember itu? Tidak juga!! Sebagian (‘walau sedikit’) umat Islam ada yang merayakan hari raya itu Saptu 19 September, juga ada yang Senin 21 September, dan bahkan ada yang Rabo 22 September. Lho kok bisa? Ternyata memang begitu faktanya, padahal Pemerintah melalui Departemen Agama sudah melakukan ‘sidang penentuan’ yang dihadiri oleh beberapa menteri dan ormas2 Islam (bahkan ada juga yang dari perwakilan Negara sahabat) sebelum menetapkan tanggal hari raya itu. Semua metoda diberitakan  sudah diikuti, metoda khisab (perhitungan awal bulan melalui sistem kalender) dan metoda rukyah (menyaksikan dengan mata adanya hilal) di sekitar 24 lokasi strategis tersebar di berbagai lokasi wilayah Negara. Hasilnya ditetapkan 1 Syawal jatuh 20 September itu. Bagimana mungkin masih ada juga muslimin di negeri ini yang keluar dari hasil keputusan sidang penentuan yang diselenggarakan oleh Pemerintah RI tesebut? Ternyata .masih. ada saja beberapa metoda  lain yang digunakan oleh kelompok muslim tertentu di negeri ini dalam menentukan 1 Syawal, yakni: 1). ikut 1 Syawal menurut (mengikut) putusan Pemerintah Saudi  (hilal di Negara itu); 2). ada yang menentukan hilal menurut cara setempat, bukan menerawang dengan mata bulan sabit 1 Syawal namun mengukur terjadinya pasang air laut yang maksimal;  dan bahkan 3). ada yang lebih yakin jika melihat hilal dengan mata kepala sendiri di ….sekitar rumah/pondoknya. Luar Biasa!! Tentu nantinya bisa saja berkembang terus cara-cara ‘lain’ dalam menentukan 1 Syawal itu, oleh kelompok muslim di negeri ini yang  bermunculan (apa motifnya??), dan mereka toh boleh-boleh saja mengarang sendiri cara penetapan 1 Syawal tersebut,  lalu shalat Ied berjamaah sesuai selera kelompoknya, tidak ada larangan oleh Penguasa Negara, juga dilarang  ada protes dari masyarakat sekitarnya, dengan alasan utamanya ….. HAM. Luar Biasa!! Logiskah beragama seperti itu? Masih akan ditoleransikah beragama model begitu?

Dalam agama Islam harus dibedakan dua rana pokok, yakni mana yang rana pribadi dan mana yang rana sosial. Dalam rana pribadi masih dimungkinkan ada ibadah dengan perbedaan ‘kecil’ yang sering disebut sebagai ‘khilafiah’, seperti  misalnya shalat dengan melafalkan  ‘ushalli’ atau tidak, mulai mencegah tidak makan-minum mengawali puasa di saat subuh atau sekitar 12 menit (imsak) menjelang subuh. Namun untuk rana sosial tidaklah boleh ada perbedaan dalam masalah ibadah agama agar  menjaga prinsip uhkuwah, keharmonisan, dan kerukunan-kekokohan umat. Bisakah dibayangkan bagaimana akan jadinya jika seandainya di Arab Saudi sana saat wukuf, 9 Dhulhijah, mentolerir visi awal Dzulhijah oleh kelompok-kelompok muslim di Arab Saudi seperti orang Islam Indonesia mentolerir 1 Syawalnya? Bahkan untuk cara shalat jika sudah berjamaah pun di Mesjidil Haram dan Mesjid Nabawi harus seragam, tidak seenaknya sesuai selera cara shalat masing-masing jamaah sehingga mengganggu kekompakan dan keharmonisan sosial umat. Jelas sekali agama Islam memerlukan Kekuasaan Negara untuk bisa menjalankan dengan tertib dan melindungi seluruh amal ibadah ajaran agama. Sadarkah akan tanggung jawab semacam itu  bagi Penguasa muslim yang sedang memiliki kekuasaan di Negeri ini? Sedang catatan khusus untuk umat Islam yang sadar akan pentingnya tuntunan Islam di rana sosial, jangan keliru memilih pemimpin, saat memiliki kesempatan untuk memilih pemimpin!! Allahu Akbar!

07 Syawal 1430H

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , .

BISAKAH MENCARI REMAH EKONOMI DI G20, ATAU MALAH KEHILANGAN?

4 Comments Add your own

  • 1. Syamsuri Yusup  |  27 September 2009 at 06:34

    Sejauh mana pemahaman kita dengan makna ayat “athiullahu wa ‘athiurrasuul wa ulilamriminkum ………….

  • 2. abdul Karim  |  27 September 2009 at 07:27

    tampaknya memang kita ini terlalu toleran terhadap paham-paham yang tak ada nalarnya. Kalau kita otoriter model saudi misalnya, bahwa pemerintah punya hak penuh untuk menentukan awal romadhon, Idul Fitri dlsb, rakyat jangan-jangan jadi pasiv dan apatis, pasrah bongkokan, yan pada gilirannay akan muncul ketaklidan. Bila terlalu longgar kaya di Indonesia, jadinya ya seperti sekarang ini. Orang bebas-sebebasnya dalam beragama, bahkan untuk meyembah pohon, patung dan sejenisnya. Katanya HAM. Barangkali jalan keluarnya, adalah tugas kita semua untuk berdakwah dan berdakwah dengan harta, ilmu, tenaga, dan lain sebagainya, Bi amwalikum wa anfusikum. Kita mulai dari keluarga kita, lingkungan dst. Wallahu ‘alam.

  • 3. Suhartono Taat Putra  |  28 September 2009 at 08:50

    Assalamu’alaikum wr wb

    Persepsi beginilah yang mendasari saya melakukan bimbing riset tentang “persepsi agama”, seperti shalat tahajjud, puasa ramadhan, dzikir, dll
    Saya sependapat dengan Anda, walau boleh beda (pribadi) namun bila bisa ada pemahaman yang sama (sosial) akan lebih baik. Bila para ahli dibidang ini terus berusaha memperkecil perbedaan dan memperluas persamaan maka insya Allah suatu saat hal demikian akan tercapai. Amin ya Robbal alamin.

    Wassalamu’alaikum wr wb
    Taat

  • 4. yana  |  30 September 2009 at 13:09

    begitulah, kalo menjalankan agama tidak secara kuffah, tapi berdasarkan nalar terbatas manusia. syariat islam, di nalarkan semua, disesuaikan dengan HAM, di sesuaikan dengan logika manusia yg terbatas juga. Kalo gk sesuai logika, ya dibikin kabur, dengan alasan, mengikuti perkembangan jaman dan nalar manusia. NaudzubiLLAHimindzalik..
    Islam memang menganjurkan kita utk menggunakan logika, nalar, dan kemampuan maksimal akal manusia, tapi hal itu lebih ditujukan untuk mengejawantahkan hablum minannas, misalnya, mengapa kita di wajibkan berzakat? mengapa kita dianjurkan utk menyembelih hewan dengan cara tertentu? .. semua itu ada alasan logis yang ternyata memang membuktikan Rahmatan lil alamin. Bukan menggunakan akal terbatas manusia untuk “pembuktian” , mengapa ALLAH menyuruh kita shalat? mengapa syaitan dibiarkan mengganggu manusia? .. dll.
    Saya sangat setuju dan terinspirasi dengan kalimat “RANA PRIBADI” dan “RANA SOSIAL”.. karena hal ini lah yg membuktikan betapa Islam berbeda dengan agama lainnya.. betapa ruang lingkup Islam meliputi seluruh aspek logis dan fitrah manusia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: