BISAKAH MENCARI REMAH EKONOMI DI G20, ATAU MALAH KEHILANGAN?

29 September 2009 at 13:55 6 comments

Banyak orang Indonesia yang berbangga hati menjadi anggauta G20 dan ramai membahas sukses ‘peran Indonesia’ di forum itu. Rakyatpun lalu mengelu-elukan termasuk rakyat yang hidupnya masih di bawah garis kemiskinan karena ramainya berita oleh media bahwa ‘konsep Indonesia’ diterima dan banyak pula dipuji  berhasil mengatasi kemiskinan dengan program BLTnya (walau berita lain sebelumnya menyatakan BLT akan dihapus tahun depan). Begitulah umumnya memang gemuruh dunia sosial-politik, media masa sebagai corong berita (siapa), dan nasib rakyat miskin yang belum juga habis harapannya. Bagaimana hakekat dan rasional ekonomi dunia dan ekonomi Indonesia dikaitkan dengan G20 tadi?

G20 adalah forumnya 20 Negara (dipilih siapa?) untuk bicara masalah ekonomi dan perbankan. Umur forum itu juga baru beberapa tahun saja, namun karena dianggap bermanfaat (oleh siapa?) lalu dikukuhkan sebagai forum permanen (Indonesia diberitakan termasuk pengusul permanenisasinya), bahkan menjadi pengganti forum G8 (yang semula juga untuk membahas ekonomi dunia tapi hanya beranggautakan 8 negara kaya dari Barat ditambah Jepang). Lalu dimasukkanlah 12 ‘negara’ baru dan menjadi G20. Di antara Negara baru itu  sebagiannya dari  negeri berkembang (ekonomi lemah), termasuk Indonesia, India, China, Afrika Selatan, dan lainnya. Masuk pula Negara yang lumayan kaya seperti Arab Saudi, Australia, Korea Selatan, dll. Masih banyak Negara lain di dunia yang tidak masuk (tidak dimasukkan) ke G20 walau relatif lebih kaya dari Indonesia, seperti: Malaysia, Singapura, Iran, Kuwait, UEA, dll. Bagimana bisa? Mari dianalisis mengapa yang masuk justru Negara-Negara tersebut, apa kiranya yang ada dibalik semua itu?

Jika digunakan pendapatan per kapita penduduk per tahun tiap Negara anggauta G20 maka bisa di urut sebagai berikut (dalam ribu US$, dibulatkan):

AS (46), Perancis (40), Jepang (39), Jerman (37), Kanada (37),  Australia (35), Itali (33), Inggris (33), Uni Eropa (31), ….., Korsel (15), Arab Saudi (15),…. Rusia (8), Turki (8), Argentina (8), Meksiko (8), Brazil (7),…. Afrika Selatan (5), China (4), Indonesia (2), India (1).

Dari data di atas jelas bahwa  Negara ‘lemah ekonomi’ dengan income per capita US$5000 ke bawah adalah: Afsel, China, Indonesia, dan India. Negara yang lumayan kondisinya dengan income per capita lebih  dari US$5000 namun di bawah US$ 10.000 adalah: Rusia, Turki, Argentina, Meksiko, dan Brazil. Sisanya tergolong kaya-raya dengan income per capita di atas US10.000, bahkan ada yang mendekati US$50.000 per kapita per tahun. Luar biasa. Dari tinjauan income per capita ini saja bukankah masih ada puluhan negara lain di dunia yang memiliki income per kapita diatas Afsel, China, Indonesia, dan India? Mengapa mereka tidak dimasukkan dalam G20? Selain itu memang jelas ada pula Negara yang memang teramat miskin, income per capitanya jauh di bawah US$500 dan di pandang tidak layak (oleh siapa?) diajak masuk G20..

Sekarang mari dilihat dari sisi Produk Domestik Bruto (Produktifitas ekonomi Negara secara keseluruhan yang bisa dihitung terbalik, dari income per capita tadi dikalikan jumlah penduduk Negara masing-masing). Data dibawah ini dalam Trilyun US$, dibulatkan:

Uni Eropa (15.3), AS (14.0),….. Jepang (5,0), China (4,8), Jerman (3,1), Perancis (2,5), Inggris (2,0), Itali (2,0), Brazil (1,3), Kanada (1,2), India (1,2), Rusia (1,2),….. Meksiko (0,8), Australia (0,8), Korsel (0,7), Turki (0,6), …..Indonesia (0,5), Arab Saudi (0,4), Argentina (0,3), Afsel (0,2).

China dan India yang semula tergolong Negara miskin namun dalam hitungan per Negara menjadi terangkat karena jumlah penduduknya yang teramat besar. Arab Saudi dan Argentina yang semula di posisi atas menjadi rendah posisinya karena jumlah penduduknya yang relatif sedikit. Dari data di atas ternyata posisi Indonesia tetap saja di kelompok terbelakang. Namun walau di posisi ekor, PDB per Negara di empat anggauta G20 yang terendah itu jelas masih di atas beberapa Negara kecil yang income per kapitanya sudah di atas US$ 10.000 seperti Kuwait, Brunai, UEA, dll. Mereka tidak dimasukkan mungkin karena terlalu kecil peran internasionalnya. Tapi mengapa Negara yang juga besar PDBnya seperti Mesir, Iran, Venezuela, dan semacamnya tidak masuk? Ada apa?

Kini mari fokus pada analisis ANATOMI ekonomi Negara yang masuk (dimasukkan) dalam G20. Setengah dari anggauta G20 yang teramat besar PDBnya umumnya penghasilan mereka datang dari kegiatan industri, terutama industri dengan teknologi canggih seperti senjata pemusnah, satelit, pesawat, kapal, mobil, motor,  komputer, dan  farmasi. HARGA PRODUK MEREKA RELATIF TERAMAT MAHAL, SELANGIT, DIPROTEKSI DENGAN MEKANISME SISTIM PATEN. Bandingkan itu dengan struktur ekonomi dari Negara dengan PDB kecil, seperti  Indonesia, Arab Saudi, Argentina, dan Afsel. Umumnya mereka itu justru PDBnya dari menjual kekayaan tanah air mereka, seperti Arab Saudi dari menjual minyak, Argentina dan Indonesia dari hasil menjual kekayaan alam lain disamping minyak juga, Afsel dari menjual emas dari tambang mereka. Apa kesimpulan ringkasnya? Masuknya Negara lemah ekonomi ke G20 itu memang ada indikasi dipilih (oleh siapa?) untuk suatu kepentingan. Negara terpilih tersebut memang kaya sumber daya alamnya yang tentunya potensial bisa “dieksplorasi” (bahasa halusnya) kekayaan tanah-airnya. Di samping itu ada juga faktor penduduk dan luas negara tersebut yang besar dan tentunya bagus untuk menjadi pasar  barang industri. Dengan kata lain, di dunia manusia ini memang tidak ada yang kebetulan dan gratis,  semua itu pada hakekatnya terkait dengan POLITIK, khususnya POLITIK EKONOMI, yakni memilih Negara yang walau lemah ekonominya namun secara potensial masih bermanfaat bagi kepentingan ekonomi Negara Kaya dan bisa diajak ‘kerja sama’.

Sampai kapan Arab Saudi, Afsel, Indonesia, dan Argentina bisa bertahan menjadi anggauta G20 dengan mengandalkan kekayaan tanah airnya yang kaya raya itu untuk diekpslorasi (dieksploitasi) dan dinikmati hasilnya oleh  Negara yang sudah amat kokoh ekonominya di dunia ini (melalui proses rekayasa sosial-politik seperti perdagangan bebas dll)? Jawaban hipotetisnya: TIDAK LAMA, yakni sampai kering sumber daya alam Negara tersebut. Bagaimana Indonesia bisa bertahan dalam dunia dengan dominasi (kangkangan) ekonomi kapitalis yang rakus dan tamak di jaman ini? Hanya ada satu jalan: Indonesia mau ‘berhemat’  dengan kekayaan tanah air nya, diproses untuk dinikmati oleh rakyatnya sendiri, tidak boleh dieksploitasi asing yang rakus. Bagaimana caranya? Perlu Pemimpin Negara yang benar-benar Cerdas-Pengabdi, pro rakyat, mau hidup sederhana seperti rakyat umumnya, jabatan tidak untuk kepentingan  kekayaan-kemewahan kehidupan pribadi dan keluarganya,  taat ajaran agama, takut adzab Allah swt di akherat nanti, tidak menjadi antek dan mau didikte Negara asing, membawa penduduk memiliki kemampuan teknologi canggih secara bertahap,  bukan membiarkan penduduknya menjadi bangsa penghibur dan bermoral rusak,  bertahan dari jebakan sistem ekonomi kapitalis, dan giat bekerja sama dengan sesama Negara senasib. Bagaimana Indonesia, bisa???? Jawabannya ada di tangan yang sedang Memimpin Negara serta pada Rakyat Indonesia.

10 Syawal 1430H

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , , .

PERLUKAH HARI RAYA ISLAM ITU SERAGAM HARINYA? ‘KONFERENSI NASIONAL LINTAS AGAMA’ DI INDONESIA LANTANG MENOLAK PERDA SYARIAH Apa Mau Mereka, Mengelola Negeri ini dengan Mengabaikan Cara yang Diajarkan Tuhan?

6 Comments Add your own

  • 1. Syamsuri Yusup  |  30 September 2009 at 07:49

    Waspada dan hati-hati sangat diperlukan…… Sebaiknya pemerintah perlu menjelaskan maksud dan tujuan nya.

  • 2. Rasyid Emilly  |  30 September 2009 at 09:38

    Setiap peristiwa bisa diselewengkan maknanya oleh dunia Pers dan kemampuan pencernaan kecerdasan masyarakatnya. Dalam hal G20, jelas ada kepentingan kaum kapitalis, oleh sebab itu media informasi yang mereka kuasai telah meramu pertemuan G20 itu se-enak enaknya sehingga masyarakat Indonesia menyantapnya dengan lahap tanpa memikirkan apakah berita itu racun atau obat bagi bangsa Indonesia.

  • 3. QUDSI FAUZY  |  30 September 2009 at 12:56

    mEMANG MASUKNYA iNDONEASIA MENJADI BAGIAN G 20 APALAGI AKAN DIPERMANENKAN DAN MENGGANTIKAN G 8 YANG DIPANDANG KUMPULAN NEGARA MAJU, MAU TIDAK MAU MEMIKILIKI DAMPAK BAGI iNDONESIA YAITU MERASA MENJADI BAGIAN YANG MEMBERIKAN PEMIKIRAN TERUTAMA EKONOMI BAGI DUNIA, AKAN TETAPI MELIHAT KONDISI DAN TINGKAT PEREKONOMI iNDONESIA YANG MASIH LEMAH MEBUAT iNDONESIA AKAN DIGIRING MENGIKUTI KONSEP EKONOMI DAN SISTEM KEHIDUPAN MENURUT MEREKA, APALAGI SAMPAI SAAT INI BELUM ADA PEMIMPIN YANG BENAR BENAR MEMBAWA iNDONESIA MENJADI NEGARA DAN BANGSA YANG BERDIKARI DIATAS EKONOMI SENDIRI YANG BERKEPRIBADIAN DIATAS JATIDIRI SENDIRI DAN BERDAULAT ATAS NEGARA SENDIRI.TAPI MUDAH2HAN AKAN DATANG ADA RATU ADIL YANG BERBASIS RELIGIOLITAS DAN BERJATIDIRI KEINDONESIAAN SENDIRI SERTA KEMANUSIAAN YANG INIVERSAL.

  • 4. abdul Karim  |  30 September 2009 at 20:39

    Negeri maju tak perlu dibahas lagi. mereka berlandaskan filsafat Machiveli. Rigt or wrong is my country. Kedalam mereka nayaris sempurna “Islaminya”. Ke luar mereka pakai hukum rimba. Yang kuat, yang pandai, dan yang super melahap yang lemah, kalau ada yang bisa dan mungkin dilahap tentunya. Lihat saja bagaimana tertibnya, aman, & beradabnya dalam negeri mereka, tapi di saat yang sama mereka lindungi koruptor2 dari negara2 dunia ketiga, termasuk para pengemplang BLBI. Aslinya, mereka senang kalau ada negara kaya hasil bumi yang rakyat dan pemimpinnya rakus dan korup.
    Ada du asifat negatif yang amat berbahaya, yaitu dholim dan jahil (dholuman jahula). Saya khawatir itu meraja-lela di negeri yang katanya mayoritas “Islam” ini. Wallahu ‘alam

  • 5. Suhartono Taat Putra  |  1 October 2009 at 05:38

    Dh
    Sangat prihatin bila kekayaan alam Indonesia yang melimpah tidak dirasakan olah bangsa Indonesia. Menurut saya kajian terhadap hal ini perlu dilakukan unutk mendasari kebijakan pemerintahan dalam memanfaatkan SDA Indonesia.
    Salam hormat
    Taat

  • 6. Moh. Zainuddin Qodir  |  6 October 2009 at 11:08

    Energi sudah habis dijual, letak indonesia yang strategis juga telah dikuasai asing. Melalui G-20 akan ada penguasaan dibidang politik luar negeri, dan pengelolaan hasil bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: