‘KONFERENSI NASIONAL LINTAS AGAMA’ DI INDONESIA LANTANG MENOLAK PERDA SYARIAH Apa Mau Mereka, Mengelola Negeri ini dengan Mengabaikan Cara yang Diajarkan Tuhan?

8 October 2009 at 10:53 4 comments

Harian Surya Rabo, 7 Oktober halaman 10 memberitakan adanya sebuah forum yang menyebut dirinya “Konferensi Nasional Lintas Agama” atau Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang dihadiri oleh 80 peserta ‘tokoh agama dan kepercayaan’ dari berbagai daerah dan menolak Perda di daerah-daerah yang bernuansa Syariat Islam. Mereka akan mendesak Pemerintah untuk mencabutnya.  “Kami akan sampaikan kepada presiden dan wapres yang baru terpilih agar perda-perda dievaluasi dan bisa masuk ke MK (Mahkamah Konstitusi) atau Mahkamah Agung (MA) untuk dilakukan judicial review”, ujar ketuanya. Luar biasa. Yang lebih mengejutkan adalah Ketua Forum itu ternyata seorang Doktor Agama Islam dan bekerja di Departemen Agama RI. Bagimana ini teman-teman dari jajaran Institusi Pendidikan Islam di Indonesia?

Dicontohkan oleh si Ketua bahwa banyak Perda yang muncul berdasarkan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dinilainya nerupakan ketidak mampuan Negara untuk berdiri di atas hukum dan bersikap netral akan setiap agama dan keyakinan. “Aparat hukum bertindak di atas fatwa MUI padahal institusi penegak hukum adalah institusi Negara yang seharusnya dibentuk dan bekerja berdasar undang-undang”, paparnya di koran itu. Dia juga mengatakan Pemerintah cenderung memberi celah bagi munculnya aturan-aturan yang didasarkan agama tertentu. Sungguh Luar biasa tidak masuk akalnya!!

Negeri ini sudah memiliki mekanisme bagaimana membuat kebijakan untuk  mengelola negara, baik sisi peraturan perundangan maupun kebijakan tehnisnya. Banyak kepentingan tentunya terlibat dalam proses pengelolaan negeri ini, termasuk kepentingan para PENCOLENG yang ingin mengeruk kekayaan tanah air (sumber daya alam) dan/atau mengeksploitasi sumber daya manusia Indonesia (SDM, seperti terhadap para TKW-TKI) demi memperoleh sebanyak-banyaknya kekayaan diri atau gerombolannya. Tentu ada pula kepentingan lain yang mulia (dari para PATRIOT-PAHLAWAN BANGSA), yakni mengamankan SDA dan SDM negeri untuk kepentingan keseluruhan  bangsa-negara agar negeri menjadi maju-makmur-aman-sejahtera secepatnya. Dua kepentingan itu tentu akan saling bertubrukan, bersaing tajam, menggunakan segala akal yang dianggapnya efektif mencapai tujuannya. Begitulah hakekat persaingan dalam dunia sosial-politik, dalam pengelolaan suatu daerah, atau Negara, atau bahkan dunia internasional. Aktifitas para pencoleng tentu diinspirasi oleh isi pikirannya, demikian pula yang terjadi pada para patriot bangsa yang tentu aktifitasnya juga diinspirasi oleh isi pikirannya. Dari mana isi pikiran mereka, tentu dari ajaran yang mereka peroleh semasa hidupnya, bisa ajaran kesesatan dari syetan atau ajaran Tuhan dalam bentuk tuntunan (syariat) agama yang dipeluknya.

Bagi seorang muslim yang benar tentunya tidak ada niat untuk menjadi pencoleng, dan sebaliknya akan berupaya semaksimal mungkin membuat aktifitas yang bernilai kebajikan sesuai yang diajarkan oleh Allah swt dengan mengacu isi al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Muslim yang baik tentu yakin seyakinnya bahwa tuntunan agama Islam yang dipeluknya akan mampu menyelamatkan diri pribadi, keluarga, dan wilayah-bangsa-negaranya dari kerusakan dan kehancuran. Keyakinan seperti itu akan mendorong dia lalu berusaha semaksimal mungkin mengetrapkan Syariat Islam untuk mengelola diri pribadi, keluarga, dan daerah (Negara) yang menjadi wilayah tanggung-jawab atau kekuasaannya. Aneh bin ajaib atau kebodohan yang tidak terkira jika ada orang Islam justru akan mengelola diri pribadi, keluarga, dan wilayah (Negara) yang dia menjadi PEJABAT di dalamnya dengan mengabaikan Syariat Islam, apalagi jika antipati menolak syariat agamanya. Bagi orang Islam seperti itu hanya satu jawabannya, yakni: tidak faham makna Islam sebagai agama,  atau dia sesungguhnya musuh Islam tapi berpura-pura sebagai orang Islam (ingat kasus Snouck Hugronye yang berpura menjadi muslim namun menjadi tangan kanan penguasa Penjajah Belanda yang ingin menghancurkan Islam).

Nah, mari kini dicermati apa yang disebut Perda Syariah itu.  Ada daerah-wilayah di Republik Indonesia ini, di mana para pejabat legislatifnya yang MUSLIM membuat kesepakatan untuk menggoalkan suatu Perda (Peraturan Daerah) yang diinspirasi oleh isi ajaran agamanya, yakni Syariat Islam terkait pengelolaan wilayah, (katakanlah seperti menolak perjudian, pelacuran, korupsi, dan kemasiatan lain sesuai tuntunan agama yang dipeluknya). Mereka menggunakan mekanisme yang sudah sejalan dengan proses pembuatan sebuah perda, termasuk mungkin rapat-rapat di DPRDnya dengan fihak lain, lalu mereka berhasil menggoalkan Perda tersebut. Apa yang salah dengan Perda seperti itu? Perhatikan pula analogi ini: misalkan  ada banyak ‘pencoleng’ yang berhasil menjadi legislator daerah, lalu melalui rapat-rapat di DPRDnya mereka mampu menggoalkan Perda yang isinya melegalisir bisnis maksiat perusak moral generasi muda, menjual dengan harga murah kekayaan daerah, membenarkan adanya komisi besar pada para pejabat padahal mereka sudah digaji, bagaimana? Perda semacam itu jelas akan menghancurkan PENDUDUK DI WILAYAH tersebut (ATAU menghancurkan BANGSA-NEGARA jika tidak lagi skala PERDA tapi skala NASIONAL dalam bentuk Undang-Undang). Maka jelas sekali bahwa semua Perda atau UNDANG-UNDANG buatan para legislator itu tentu hasil dari isi pikiran mereka bukan, yang diinspirasi oleh keyakinan mereka, termasuk keyakinan agamanya? Apa salahnya Perda atau Undang-Undang produk para legislator jika isi Perda atau Undang-Uandang tersebut sesuai dengan Syariat Islam karena para legislator tersebut memang muslim yang taat, bukan muslim munafik atau muslim yang dholim? Yang harusnya menjadi perhatian untuk dinilai adalah  APAKAH ISI PERDA ATAU UNDANG-UNDANG itu akan  membawa kemanfaatan bagi bangsa-negara atau akan merusak bangsa. (Lihat artikel lain sebagai penjelas lebih lanjut di blog ini dari indeks). Mana logikanya jika ada Perda atau Undang-Undang hasil renungan orang Islam taat lalu ditentang karena bernuansa syariat sedang hasil renungan pencoleng yang tentunya melanggar ajaran agama lalu  dibiarkan? Luar biasa naifnya.

Wahai kaum muslimin, waspadalah pada upaya orang yang memusuhi Islam, memusuhi tuntunan agama Islam, khususnya tuntunan Allah swt terkait pengelolaan bangsa-negara. Selamatkanlah wilayah dan negeri dengan cara pengelolaan wilayah-negeri yang benar, pengelolaan yang sesuai dengan tuntunan Allah swt, agar negeri ini tidak dijatuhi adzab oleh Allah sehingga terus menerus memperoleh musibah, bencana,  yang ujung-ujungnya pasti akan membuat negeri ini bangkrut dan porak poranda. Naudhubillahi min dhalik.

Indonesia, pasca Gempa Dahsyat di Sumatra Barat.

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , , , , , , , .

BISAKAH MENCARI REMAH EKONOMI DI G20, ATAU MALAH KEHILANGAN? KEPEMIMPINAN NASIONAL DI ERA REFORMASI, Tinjauan bagi Negeri Muslim Indonesia

4 Comments Add your own

  • 1. nbl  |  11 October 2009 at 02:04

    negara dimana mayoritas penduduknya beragama islam, yg notabene > 80%. tapi menghadapi kendala tidak dapat?/ malu?/ kelewat toleransi? dlm mengambil keputusan sebagai umat mayoritas….

  • 2. Moh. Zainuddin Qodir  |  12 October 2009 at 15:12

    pecat aja pejabatnya

  • 3. abdullah umar  |  14 October 2009 at 19:32

    Doktor Agama ada yg seperti dimaksud Alquran Al baqoroh ayat 8..

  • 4. frida  |  20 October 2009 at 03:03

    saya yakin kalo Perda itu tidak dikasih embel2 “Syariah.. pasti laku kok .. meski isinya mengacu kepadaa aturan syariat Islam, tp dijamin respon masyarakat tidak akan se”heboh” skrg ini. Tetapi karena adanya embel2 “Syraiah”, entah kenapa, lngs aja muncul reaksi keras, ketakutan, negative thinking, dll.. pdhl kalau mau ditarik ke belakang, sejak kapan aturan islam merugikan umat beragama lain, tdk bermanfaat bagi negara, ? apakah yg ada di aturan syariat, dimana para pencoleng dihukum berat, dll, bertentangan dgn aturan agama lain? dijamin jawabannya TIDAK. yg ada… syariat islam merugikan para koruptor, kriminal, dan pihak barat yg tidka ingin Indonesia maju, sadar lah rakyat indonesia… kita sedang dibodohi, dimanfaatkan oleh pihak luar, dan kita mengira bahwa kita sudah pintar? para lulusan LN yg “mau” kembali ke tanah air, mengira dirinya berhasil tidak dipengaruhi barat? Salah besar!!.. mereka, pihak barat, memang menginginkan kalian balik k tanah air, untuk kemudian menginfiltrasi dan mempengaruhi pola pikir rakyat indonesia, generasi muda, menjadi liberal, sok demokrasi, sok kebebasan, atas nama HAM, dan kepentingan rakyat banyak yg plural dan kepentingan bangsa negara. apakah mereka mengira bahwa dengan berani/bisa mengkritik negara Barat yg memberi mereka beasiswa, artinya mereka berhasil “tidak dipengaruhi” barat?? oohh.. trust me, barat tidak sebodoh itu. Semoga kita semua tidak terpeleset dan khilaf kedalam pengaruh phak2 yg ingin menghancurkan negara indonesia, NaudzubiLLAHimindzalik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: