“JIKA TOKOH UMAT BICARA-DAKWAHNYA TIDAK LUGAS, MAKA UMATNYA AKAN TERLEPAS, DAN NEGARA PUN RUSAK KARENA DIPERAS”

28 November 2009 at 10:34 4 comments

Judul tulisan yang mirip puisi di atas adalah ungkapan keprihatinan saya tentang kondisi umat Islam dan tokoh-tokohnya di negeri ini. Saya jadi sedih setelah mengamati dalam perjalanan waktu yang relatif panjang betapa ‘tokoh-tokoh’ umat yang sudah punya pendidikan keislaman mumpuni, bekal dukungan ‘virtual’ umat Islam cukup besar di belakangnya, namun ujung-ujungnya tokoh-tokoh Islam itu hilang tidak berbekas dalam proses menentukan nasib bangsa-negaranya. Negeripun lalu dipimpin oleh orang yang tidak mengerti Islam karena umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk lalu terperangkap orang lain melalui isu politik menyesatkan dari musuh Islam karena pidato-pidato si tokoh tentang masalah bangsa-negara masih abstrak, tidak tegas memberi arahan keislaman dalam kehidupan berbangsa-bernegara yang harus diikuti umatnya.

Kita mungkin sering menyaksikan bagaimana seorang tokoh Islam sepertinya amat populer, dipuja-puji oleh umat Islam akan kehebatan ilmu Islamnya namun akhirnya dia  tidak banyak berperan dalam menentukan nasib bangsanya karena dia tidak memiliki kewenangan formal membuat kebijakan nasional yang begitu desisif terhadap nasib bangsa-negara. Kita perlu selalu ingat bahwa nasib  bangsa-negara  di mana umat Islam berada di dalamnya amat bergantung pada keputusan yang dibuat oleh pemilik kekuasaan formal negara. Tokoh Islam umumnya masih saja hanya  bermain di lahan ritual-spiritual karena dikiranya dengan dakwah  seperti itu otomatis akan membuat kebijakan negeri oleh para pejabat negara berobah menjadi sesuai dengan tuntunan Islam.

Sering kali pula kita menyaksikan tokoh-tokoh umat menggunakan kata-kata indah dalam berbagai forum di ‘kalangannya’ sendiri namun umumnya kata-kata itu amat abstrak, tidak kongkret nilai keislamannya, dan semua orang lalu sudah merasa telah menjadi ideal Islami. Oleh arahan abstrak semacam itu maka umatnya lalu tidak mengerti bahwa sesungguhnya umat tidak boleh memilih sembarang orang menjadi pemimpin formal di negeri (pemilu) atau di daerahnya (pilkada), serta tidak sembarang partai boleh dimasuki dan dibantunya. Karena umat tidak mengerti itulah maka si tokoh Islam kemudian terhenti peran sosial-politiknya hanya sampai di tingkat wacana belaka, dan tidak mampu secara operasional membuat kebijakan yang bisa menyelamatkan umat dan bangsanya. Ironis bukan???

Berikut ini contoh substansi indah pidato tokoh Islam menghadapi kemelut di negerinya (dicuplik dari sebuah media):

  1. Diperlukan rekonstruksi visi dan karakter di tubuh bangsa ini demi kelangsungan hidup dan kejayaan masa depan bangsa Indonesia.
  2. Kita kehilangan momentum untuk brrgerak cepat dan baik, padahal kita memiliki potensi yang luar biasa.
  3. Mari belajar dari para pendiri bangsa ini tentang jiwa kearifan, keberanian, kecerdasan, pengabdian, pengorbanan, dan kenegarawanan.
  4. Seluruh warga bangsa perlu memiliki visi dan karakter yang berbasis kebudayaan bangsa yang utama.
  5. Kembangkan budaya hidup yang relijius, rukun damai, beretos kemajuan untuk tumbuh menjadi bangsa yang unggul.
  6. dll semacamnya.

Mana sisi solusi Islami untuk berbagai krisis yang sedang dihadapi bangsa yang mayoritasnya muslim ini? Mana arahan tuntunan Islam sosial-kenegaraan agar umat mengacu dan bersikap dalam menghadapi kemelut di daerah-negerinya? Bayangkan jika pidato yang disampaikan di depan forum kelompok Islamnya sendiri saja substansinya masih umum seperti itu, bagaimana pula jika pidato di depan forum yang lebih terbuka? Bagaimana umat bisa memahami bahwa untuk menyelamatkan bangsa-negaranya umat Islam harus memilih tokoh Islam yang taat syariat sebagai pemimpin formal di negerinya karena si tokoh memiliki solusi Islami tentang masalah sosial-kenegaraan terhadap kemelut di negeri ini.

Ada tiga alternatif mengapa banyak tokoh Islam di Indonesia dalam pidato, ceramah, atau dakwahnya tidak kongkret mengangkat solusi Islami dalam mengatasi kemelut sosial di negeri ini. Pertama: tokoh itu memang tidak faham akan adanya solusi Islami tentang krisis sosial multi dimensi di negerinya. Kedua: tokoh itu sedang bertaktik agar dipuji sebagai tokoh nasionalis sehingga lalu akan bisa diterima oleh ‘semua’ orang. Ketiga: tokoh tersebut takut dicap sebagai tokoh Islam radikal atau fundamentalis sehingga terancam eksistensinya.

Saya sering berpikir alangkah akan cepatnya Indonesia menjadi bangsa-negara yang maju dan besar jika tokoh-tokoh Islam yang sudah memiliki umat pendukung itu langsung memberi arahan dalam berbagai forum (apakah: dakwah, ceramah, seminar, debat publik, dan pelajaran formal  agama di sekolah/pelatihan agama) menyentuh-berisi substansi metoda Islam  yang kongkret dalam mengatasi berbagai masalah bangsa. Tokoh tersebut langsung bisa menasehati dan mengarahkan umat agar memilih partai yang bervisi mengelola negeri sesuai tuntunan Allah swt (bukan partai pengusung ideologi sekuler) demi kemajuan bangsa-negaranya, dan memilih pemimpin skala nasional pada tokoh yang kualifikasinya ‘seperti dirinya’, yakni: sudah beribadah mahdhah secara tertib, berakhlak mulia, memahami Islam secara menyeluruh khususnya solusi Islam dalam bidang ekonomi, budaya, politik, hukum, keamanan-ketertiban, dan lingkungan hidup untuk diterapkan sewaktu dia terpilih sebagai pemimpin bangsa yang plural. Umat tentu akan cepat tercerahkan, terkoordinir, memiliki keteguhan wawasan Islami dalam permasalahan negara, tidak mudah tertipu isu politik sekuler, dan tidak terbeli orang lain dalam pemilu-pilkada. Umatpun  akan memilih dan masuk ke  partai yang bervisi Islami, dan beramai memilih orang seperti ‘dia’ (tokoh Islam yang ulama pro-syariat) sebagai pemimpin formal bangsa. InsyaAllah Indonesia cepat menjadi negara maju, rakyatnya hidup makmur sejahtera karena kekayaan tanah air  tidak dijarah orang dan dilarikan ke luar negeri, dan sumber daya manusianya tidak dieksplotir dijadikan ‘kuli’ bergaji rendah serta  ‘penghibur’ (maaf..) nafsu birahi manusia serakah.

Indonesia, akhir November 2009

Entry filed under: Pemikiran, Politik, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , .

IEDUL ADHA ADALAH MOMENTUM BERISLAM SECARA KAAFFAH (Fokus: Wajib Berislam dalam Kehidupan Sosial-Kenegaraan) KERUKUNAN DI INDONESIA JADI MODEL (Suatu Fakta atau Harapan atau Rekayasa?)

4 Comments Add your own

  • 1. abdul Karim  |  29 November 2009 at 11:49

    Masalah Kita:
    1. Kurangnya koordinasi diantara tokoh-tokoh Islam, bisa karena idealis paham sempit, bisa karena kepentingan pribadi atau kelompok. Akhirnya ummat terpecah.

    2. Bangsa ini memang mayoritas Islam, namun sedikit sekali, termasuk pemimpinnya, yang paham Islam secara utuh. Budaya meng-kaji AlIslam sangat rendah sekali. Masyrakat lebih suka ceramah agama yang lucu, memukau, karena mereka butuh hiburan untuk menghadapi hidup yang semakin kejam.

    3. Budaya materialis sudah menjadi pandangan hidup sebagian besar bangsa ini. Hal ini wajar, karena memang kemiskinan terjadi dimana-mana. Lebih dari 100juta penduduk berpenghasilan dibawah 2 US$ perhari. Akibatnya tokoh Yang berduit dan royal akan cepat populer. Kalau ingin jadi politisi yang menjabat harus siap uang banyak, untuk membeli suara, yang memang itu dibutuhkan segera oleh masyarakat. Dengan kata lain kalau ada tokoh bicara lugas, tapi tak berduit dan bagi-bagi duit, tidak laku. Masyarakat itu perlu makan, bukan idealisme.

    Para pemimpin ummat harus duduk bersama untuk membicarakan problem ummat. Dan itu bukan masalah gampang

    Mudah-mudahan Allah melembutkan hati kita semua dengan hidayah2NYA. Amin. Wallahu ;alam bissawab.

  • 2. rofiqi  |  30 November 2009 at 22:08

    yang namanya “bersama” ini yang sekarang susah atau bahkan tidak bisa.

  • 3. Agung Dharmawan  |  2 December 2009 at 02:17

    Kadang-kadang definisi “Lugas” tergantung juga kepada Karakteristik Organisasi si TOKOH UMAT tsb.

    Saya setuju dgn komentar Bapak Abdul Karim, bahwa mencla menclenya Tokoh Umat, dikarenakan kita sudah sangat jauh dari perasaan “Bersatu” sebagai Islam. sebagai akaibat dari berbedanya “datum” atau “Tolok Ukur” yg dipakai oleh setiap organisasi…sudah sangat wajar bila jika kita mebdengar Perbedaan diantara Tokoh-tokoh umat tsb…..

    Wallahu’alam

  • 4. PIMPINAN RANTING MUHAMMADIYAH - BLURU KIDUL  |  13 December 2011 at 12:16

    marilah tetap memiliki spiritualitas illahiyah yg konsist yg bermuara kepada hasil dalam berfastabiqul khoirot, mubarakah ust.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: