KERUKUNAN DI INDONESIA JADI MODEL (Suatu Fakta atau Harapan atau Rekayasa?)

2 December 2009 at 22:19 2 comments

‘KERUKUNAN DI INDONESIA JADI MODEL’ demikian judul  tulisan-berita di Republika, 1 Desember 2009 halaman 12. Dengan membaca judulnya rasanya semua orang menjadi senang, siapa yang tidak bangga menjadi model kerukunan, namun jika dibaca isinya baru nampak ada sesuatu yang ‘aneh’ di dalamnya. Adakah yang salah dengan judul itu? Jawabannya  amat mudah: fakta kehidupan di Indonesia saat ini memang tidak begitu, secara internal saja kerukunan masih jauh dari ideal, apalagi  jika disebut sebagai model kerukunan untuk dunia. Banyak negara di dunia yang masyarakatnya lebih rukun sehingga lebih layak menjadi model.

Setelah dibaca isinya ternyata judul itu terkait dengan “kerukunan beragama”. Diberitakan tentang acara di UIN Kalijaga, Jogjakarta yang sedang mengadakan “Studium Generale Religious Harmony in Global World” dengan mengundang Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Pontificial Council for Inter-Religious Dialogue (PCID). Materi yang diberikan oleh Kardinal tidak dicuplik, hanya diberitakan Kardinal mengatakan bahwa kehadirannya di Indonesia untuk berdialog dengan tokoh agama dan masyarakat agar lebih banyak mengetahui kehidupan beragama di Indonesia. Menurut dia ada tiga pilar untuk bisa membangun dialog antar agama yakni: saling menghormati nilai, saling percaya, dan komunuikasi yang sejajar.  Mari selanjutnya disimak dengan menggunakan tiga kriteria tersebut bagaimana berbagai kejadian di dunia, termasuk di Indonesia.

Berita di media itu justru banyak mengutip dari Amin Abdullah, Rektor UIN Jogja, yang disitir antara lain menyatakan bahwa kerukunan beragama tercipta karena Indonesia memiliki Pancasila dan dialog antarumat beragama yang dilakukan secara intensif. Logiskah pernyataan tersebut?  Dialog antar agama di Indonesia benarkah menjadi penentu kerukunan agama di sini? Memang akhir-akhir ini nampak sering diadakan dialog antar agama di negeri ini namun apa manfaat dan hasil kongkretnya juga  masih menjadi tanda tanya. Dicuplik oleh harian itu Amin mengatakan: “Kecuali bagi mereka yang secara apriori menolak tujuan dan segala hal yang berkaitan dengan dialog, kebanyakan orang berasumsi intensitas dan kualitas dialog agama ke depan justru semakin meningkat”. Amin juga disebut mengutip pendapat Friedrich Max Muller yang menyatakan barang siapa yang hanya mengetahui satu agama, seseorang tak mengetahui apapun. Diktum ini, kata dia, memiliki urgensi dan efek yang lebih jauh. Diktum itu tak hanya mengandung ungkapan bahwa kegagalan untuk terlibat aktif menghadapi keanekaragaman adalah suatu tindakan marginalisasi diri. Keanekaragaman tentang apa dan benarkah harus diselesaikan dengan dialog agar tidak gagal? Banyak perbedaan pendapat-pandangan hanya selesai dengan voting dan atau sikap tahu diri.

Memang indah ungkapan-ungkapan itu, dengan bahasa retorika sepertinya terasa amat ilmiah dan akan menarik hati bagi intelektual yang sedang mencari jati diri, seperti halnya kebanyakan para mahasiswa. Namun apa makna sesungguhnya pembahasan tersebut bila dilihat fakta yang terjadi dan dipandang dari isi ajaran Islam? Mari dicermati hal-hal berikut.

  1. Minoritas muslim di Eropa sudah lama gelisah oleh tekanan-tekanan sosial politik termasuk pelarangan jilbab, sulitnya mendapat pekerjaan hanya karena muslim walau mereka memiliki kualifikasi untuk suatu pekerjaan, dan terakhir sikap menolak bangunan menara mesjid di Swiss. Mana kerukunan itu?
  2. Penghujatan pada nabi Muhammad melalui karikatur, penghinaan al Qur’an oleh seorang legislator di Belanda, ucapan Paus yang jelas mendeskreditkan Islam. Mana ada rasa penghormatan pada Islam di sana?
  3. Bandingkan berapa banyak orang Kristen (Katolik-Protestan) yang hidup rukun dengan muslim di negara Timur Tengah, mengerjakan proyek-proyek ekonomi raksasa, memperoleh gaji amat besar dan wisata indah padang pasir dan oase tanpa gangguan oleh kaum muslimin dan tokoh muslimnya. Bukankah itu yang sebenarnya kerukunan sejati?
  4. Tidak ada satupun suara pelecehan kepada Yesus dan Tuhan lain oleh tokoh Islam karena Islam memang tegas mengajarkan tidak boleh menghina agama orang lain. Itulah yang disebut dengan penghormatan pada sesama agama.
  5. Benarkah pernyataan bahwa bila tahu hanya satu agama sama dengan tidak tahu apapun? Berapa banyak manusia di dunia termasuk di Indonesia yang memang sejak awal tahu hanya satu agama saja, apakah mereka itu lalu tidak tahu apapun? Apakah pernyataan bernada ‘menghina’ seperti ini patut disitir oleh seorang intelektual agama Islam di negeri yang mayoritas penduduknya muslim? Apalagi pernyataan itu dari fihak lain. Untuk apa mensitir pernyataan orang lain yang menyesatkan dan bersifat tidak realistik seperti itu?
  6. Agama Islam jelas sekali bentuk acuan dan isi ajarannya. Keimanan Islam itu tegas, yakni bahwa tuhan itu satu, tidak beranak-tidak diperanakkan, tidak ada apapun yang menyamainya, dan semuanya bergantung padaNya. Tuntunan hidup Islam bagi manusia juga jelas, yakni memberi tuntunan dalam semua bentuk kehidupan manusia, apakah mengenai masalah pribadi seperti ibadah ritual, mengurus keluarga, mengelola masyarakat, dan mengatur bangsa-negara. Bagaimana dengan agama lain? Bagaimana keimanan tentang tuhan mereka, apa pula yang dituntunkan dalam kehidupan manusia di dunia, apakah juga memberi tuntunan tentang mengatur keluarga, mengatur masyarakat, mengelola bangsa-negara? Itu semua kan urusan pemeluk agama lain tersebut. Apa kita mesti berdialog tentang macam tuhan yang mereka yakini, apa juga berdialog tentang cara menyembah tuhan itu, apa harus berdialog tentang mengatur keluarga masing-masing, apa juga harus berdialog tentang cara bagaimana mengatur negara menurut versi agama?
  7. Banyak hal dalam hidup ini antara Islam dengan non-Islam yang berbeda diametrikal, dan tidak akan bisa didialogkan untuk mendapat kesepakatan bersama. Islam mengajarkan cara shalat secara khas, makan-minum harus halal (bukan babi, khamar, dll), pakaian harus menutup aurat, hubungan laki-perempuan harus menganut asas mahram,  keluarga diatur sesuai syariat (seperti waris, peran kepala keluarga, kewajiban anak, dll). Islam juga menegaskan bahwa suatu bangsa-negara harus dikelola sesuai tuntunan Allah swt, seperti perbankan tanpa riba, pelarangan aktifitas ekonomi yang bersifat maksiat,  pemimpin harus figur muslim taat syariat, hukum  pidana yang diberlakukan harus berpedoman pada hudud-qisas-ta’zir, dll. Apa yang harus didialogkan lagi? Visi orang lain kan jelas akan beda dengan ajaran Islam itu?
  8. Orang Islam tidak akan melakukan kekerasan ataupun perusakan pada orang lain karena memang dilarang agama, kecuali jika lebih dahulu disakiti, dihinakan, diintimidasi, diperangi. Pada kasus seperti itu Islam memang mengajarkan untuk tidak tinggal diam, harus membela keyakinan agamanya, dan melindungi umatnya. Apa jika dihina, dilecehkan, disakiti, diintimidasi, dirayu dengan materi agar melepas keimanan dan syariat agamanya lalu harus diam saja?? Lalu apalagi yang harus didialogkan?? Apa dengan dialog berarti orang Islam siap ikut cara hidup orang lain dan meninggalkan prinsip Islam dalam kehidupan sebagai pribadi, keluarga, masyarakat-bangsa-negara? Apa itu makna dan tujuan dialog antar agama??
  9. Apa dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara di Indonesia yang plural (mana ada negara  di dunia yang tidak plural) itu umat Islam harus mau dikendalikan dengan kebijakan sosial-kenegaraan yang keluar dari ajaran Islam?? Apa orang Islam harus menerima saja jika banknya berriba, bisnis di negerinya penuh dengan komoditas maksiyat, budaya yang diberlakukan sarat kemungkaran dan kesesatan, menerima saja siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini, setuju saja hukum apapun yang dipakai asal tidak yang hudud-qisas-ta’zir, atau orang Islam bahkan harus ikut menolak berlakunya hukum hudud-qisas-ta’zir?? Astaghfirullah!! Apa begitu arah dialog antar agama di Indonesia yang sekitar 200 juta penduduknya muslim ini? Apa dialog antar agama di Indonesia memang untuk ‘menjinakkan’ umat Islam?
  10. Apa dialog-dialog agama itu mengarah agar orang Islam diam saja jika umat Islam dihinakan-dilecehkan, diam saja jika negeri yang mayoritas penduduknya muslim namun dikelola dengan cara non-Islami, penuh kemaksiatan-kemungkaran yang meracuni umat dan merusak bangsa??
  11. Apa dialog itu untuk membuat orang Islam siap membuang ajaran sosial-kenegaraan Islam dan tersisa hanya spiritual-ritualnya belaka?

Wahai intelektual Islam dan media Islam mari waspada terhadap rekayasa canggih dari musuh-musuh Islam. Jangan terpesona oleh pujian kosong dan harapan-harapan semu dari orang lain. Jangan berperilaku egois-individualistik dan mengorbankan kepentingan umat & kejayaan Islam yang akan membawa kemajuan bangsa-negara.

Indonesia, awal Desember 2009

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , .

“JIKA TOKOH UMAT BICARA-DAKWAHNYA TIDAK LUGAS, MAKA UMATNYA AKAN TERLEPAS, DAN NEGARA PUN RUSAK KARENA DIPERAS” DIALOG TENTANG PERAN NEGARA TERHADAP AGAMA

2 Comments Add your own

  • 1. Mohammad Hanafi  |  20 December 2009 at 06:28

    Orang nonmoslem ingin menghancurkan aqidah orang Islam kalau diumpamakan dengan main catur memikirnya lebih dari tiga tahap kedepan. Orang Islam ingin menunjukkan kebenaran ajaran Islam memikirnya hanya dengan satu tahap kedepan.

  • 2. Rasyid Emilly  |  27 December 2009 at 09:15

    Diseluruh Wilayah NKRI tidak ada disebut Wilayah Islam yang membatasi penganut agama lain untuk menjalankan syariatnya. Biar di NAD sekalipun, tidak ada larangan orang beragama lain untuk menjalankan syariat agamanya. Bagaimana di Provinsi Papua Barat ( Manokwari ) yang disebut sebagai Kota Injil, Disana kaum muslimah dilarang berjilbab, Dari masjid dilarang menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan azan. Dilarang membangun masjid yang baru. Ketika ummat Islam menolong penganut agama lainnya tidak terjadi proses pengislaman. Berbeda dengan setiap terjadi Bencana Alam, lalu terjadi proses pemurtadan. Apakah ini yang dimaksud kerukunan Beragama. UU Kerukunan Beragama hanya untuk kalangan umat Islam ( membatasi gerak Islam ) bukan untuk semua agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: