DIALOG TENTANG PERAN NEGARA TERHADAP AGAMA

4 December 2009 at 16:23 1 comment

Setelah menerima sms saya mengenai masalah ‘Dialog Antar Agama’ (lihat artikel sebelumnya di blog ini)  seorang teman mengirm sms dan lalu berkembang menjadi dialog yang menarik. Berikut ini dialog tersebut:

TEMAN: Dialog antar agama untuk apa, percuma. Yang perlu masing2 agama urus sendiri, tanpa diurus negara dan tanpa ganggu agama lain. Bisa begitu nggak?

SAYA: Apa negara lalu  tidak peduli rakyatnya beragama atau tidak? Gawat.

TEMAN: Justru aman. Negara tidak ngurusi kebutuhan kelompok, tapi kebutuhan seluruh rakyat, lintas kelompok. Kebutuhan masing2 kelompok urus sendiri.

SAYA: Dalam negara itu banyak macam2 kelompok. Misalnya kelompok dokter, apa tidak perlu diatur negara? (Catatan: teman ini seorang dokter)

TEMAN: Hubungan antar kelompok yang diatur negara, bukan kebutuhan kelompok.Kebutuhan dokter intern diatur dokter sendiri. Sumpah dokter hanya untuk dokter, pasien tak tahu. Sumpah orang Hindu hanya orang Hindu yang ngerti.

SAYA: Negara mengatur hubungan antar kelompok!!! Maknanya luas lho jika menyangkut agama. Masalah pelecehan, penodaan, pemurtadan, penghambatan pelaksanaan syariat yang diwajibkan agama, dll. Agama itu (ISLAM) menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, bukan ritualnya saja, TERMASUK BAGAIMANA HARUS MENGELOLA NEGARA.

TEMAN: Mengelola negara berarti mengelola orang lain, agama lain, berdasar  kepercayaan satu agama yang tidak dipercayai agama lain. Ya Ribut, – makanya kepercayaan itu untuk sendiri aja.

SAYA:  Islam memberi ajaran bagaimana MENGELOLA ORANG LAIN DENGAN BENAR! Orang lain maunya mengelola orang dg cara yang di kira2nya sendiri.  Mana yang kita pakai?

TEMAN: Benar menurut kepercayaan, lain dengan benar secara ilmiah. Yang satu tidak pakai bukti, yang lain pakai bukti. Untuk orang banyak dengan ber macam2 agama di satu negara mestinya yang dipakai yang pakai bukti. Bukan cuma hipotesis. Itu baru benar universal, semua menerima. Jadi kepercayaan ya untuk diri sendiri saja. Boleh.

SAYA: Ilmiah dalam bidang sosial sarat error karena ada kepentingan dan rekayasa.Tidak semua kebutuhan hidup berdasar ‘ilmiah’ manusia yang lemah itu. Maka perlu agama untuk diyakini. Keyakinan pada kebenaran ajaran agama TIDAK TENTANG RITUAL SAJA, TAPI JUGA TENTANG AKHLAQ, DAN MASALAH SOSIAL POLITIK YANG SARAT ERROR. ITU YANG DISEBUT AKSIOMA.Bukti2 yang dijadikan UKURAN ILMIAH juga harus diwaspadai karena sarat manipulasi juga, disamping bentuknya tidak harus berdimensi pendek.

TEMAN: Harus bisa bedakan kepentingan publik dan kepentingan personal / kelompok. Axioma itu kebenaran yang self-evident bukan hipotesis.

SAYA: BANYAK TUNTUNAN AGAMA ISLAM YANG UNTUK KEPENTINGAN PUBLIK JUGA. Melarang pelacuran, riba, hukuman berat pada koruptor, dll itu untuk kepentingan publik agar mereka tidak rusak dan dieksploitasi. ITULAH ISLAM KAFFAH, bukan ritual belaka.

TEMAN: Terima kasih diskusi pagi ini.

Demikian dialog sms saya dengan seorang teman (Guru Besar Emiritus di Perguruan Tinggi Negeri Jawa Timur) di awal pagi, semoga bisa menambah pemahaman kita tentang makna hidup dalam kehidupan yang semakin kompleks ini.

Indonesia, 4 Desember 2009

Entry filed under: Pemikiran, Syariat Islam. Tags: , , .

KERUKUNAN DI INDONESIA JADI MODEL (Suatu Fakta atau Harapan atau Rekayasa?) PERLUKAH TERUS MENGELUH TENTANG KEBIJAKAN-KEBIJAKAN PEMERINTAH? Apa Solusi Terbaiknya!

1 Comment Add your own

  • 1. abdul Karim  |  5 December 2009 at 09:05

    Menarik. Perdebatan dengan ‚Payung‘ yang bebeda. Adalah sulit menilai dua pendekatan yang berbeda. Sebab pendekatan (landasan Filosofis) itu tatarannya seperti iman. Kalu kita tengok masa lalu, penerapan syariah Islam Sukses besardi zaman Rosul, menginjak khulafak khorisidin pelan-pelan mulai menurun. Naik lagi di zaman Ummar bin Abdulaziz, mencapai puncak, ‚kemudian menurun dan menurun sampai lebur di era dinasti Fatimiyah. Sekarang kita lihat beberapa negara berlebel Negara Islam. Iran, Saudi, Malaysia, Pakistan, …. Kalau disuruh memilih, mana yang kita angap terbaik dan tersukses?
    System Sekuler yang kita lihat sekarang, yang sepertinya berhasil, merupakan perjalanan panjang masyarakatnya , melalui kerja keras, tumpahan keringat, air mata, dan darah. Perang Protesten lawan katolik, perang saudara antara Utara dan Selatan di Amerika, Perang Dunia I dan II. Pendek kata, melalui kerja keras dari generasi ke generasi. Sekarang mereka memetik buahnya, paling tidak dari segi kemakmuran.
    Sepertinya kita perlu mengkaji semua variabel yang dapat menunjang kesuksesan penyelenggaraan negara. AlQur’an banyak memberika pelajaran melalui kisah-kisah orang dahulu. Kenapa kita tidak belajar dari pengalaman-pengalaman bangsa lain? Wallahu alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: