BERTAHAN DENGAN BERKELUARGA SAKINAH dan PRIBADI MUSLIM BERKARAKTER, (Dalam Proses Menunggu Hasil Perjuangan Mengoreksi Sekularisasi Kehidupan Berbangsa-Bernegara)

13 January 2010 at 07:39 3 comments

Pengantar

Dunia Islam dilanda arus sekularisasi kehidupan sosial-kemasyarakatan melalui penguasaan negara oleh kekuatan non Islam (sekuler). Melalui kebijakan negara yang sekularistik maka pribadi dan keluarga muslim secara licin dan sistematik dibawa ke arah kehidupan non Islami yang dimurkai Allah swt. Secara obyektif bisa dihitung dengan jari berapa negara yang mayoritas penduduknya muslim sudah dikelola secara Islami dalam proses berbangsa-bernegaranya. Bahkan untuk Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia (sekitar 200 jiwa) masih juga dikelola tidak berorientasi pada syariat sosial-kenegaraan Islam. Demikian juga Mesir, Turki, Banglades, Afganistan, dan masih banyak negara muslim lain yang pemerintahannya meninggalkan tuntunan Allah swt bidang sosial-kenegaraan. Akibatnya amat mudah ditebak, negeri-negeri itu nenjadi bulan-bulanan eksploitasi oleh negara lain yang sejenis,  khususnya Negara Sekuler dengan Mayoritas Penduduk non-Muslim, karena sudah kalah dalam hal modal, teknologi, dan kekuatan militernya. Negara-negara muslim seperti itu walau katanya merdeka namun semakin kehilangan kemandirian dalam melaksanakan kebijakan kenegaraannya.  Itulah yang disebut sebagai DOMINASI negara non-Muslim terhadap negeri muslim. Mengapa banyak umat Islam masih saja tidak sadar untuk berislam secara kaffah?

Dampak pengelolaan negara yang sekuleristik tersebut adalah (sudah menjadi skenario) terjadinya   arus sekularisasi (deislamisasi) yang melanda pada kehidupan pribadi dan berkeluarga muslim. Sungguh memprihatinkan-memalukan jika seorang muslim secara individu bergaya hidup amat jauh dari tuntunan Islam, seperti suka berpesta-pora, berdansa-dansi, berfoya, buka aurat, berakhlak rusak seperrti  korupsi, melacur, dan bermabuk-mabukan. Semua itu terjadi karena kendali sistem sosial di negerinya sudah di tangan orang yang tidak faham makna pengelolaan negara secara Islam. Selain dampak pada  pribadi yang semakin jauh dari nilai Islam maka dampak buruk juga sudah menyentuh sistem keluarga.. Banyak keluarga muslim menjadi hancur karena terperosok pada praktek nilai non-Islam dalam mengelola keluarganya. Kehancuran keluarga muslim itu bukan saja melanda kalangan artis dan selebriti muslim namun juga  merambah ke banyak keluarga birokrat dan orang kaya baru muslim yang muncul dalam era  reformasi. Coba perhatikan bukankah semakin banyak saja keluarga muslim yang membuat ‘bar’ di ruang tamunya dengan segala minuman khamr di sana? Begitu pula kekayaan membuat banyak keluarga muslim suka boros berfoya-glamor, berumah-bermobil mewah mencolok, mengkoleksi butik bermodel buka dada, lukisan porno, dan patung dengan sosok seroknok atas nama seni dan gaul? Umumnya mereka menganggap bahwa cara hidup keBaratan (non Islami) itulah yang membuat mereka jadi modern dan hebat. Benarkah mereka dengan cara hidup seperti itu akan menjadi selamat dunia-akherat?

ISLAM DAN KEHIDUPAN MANUSIA

Manusia itu hidup dalam tiga lingkup kehidupan, yakni: lingkup pribadi,  keluarga, dan masyarakat-bangsa-negara. Islampun memberi tuntunan bagaimana cara hidup pada ke tiga lingkup kehidupan itu. Pengetrapan Islam dalam tatanan berbangsa-bernegara adalah yang tersulit karena tantangannya berat, perlu perjuangan yang kadang memakan waktu lama. Sambil menanti keberhasilan perjuangan di dimensi itu maka umat harus tetap bertahan berislam dalam kehidupan pribadi dan berkeluarga.

MEMBANGUN PRIBADI  MUSLIM BERKARAKTER

Islam jelas mengajarkan bagaimana hidup sebagai individu muslim berkarakter yang menjamin kehidupan yang sehat, dan sukses dunia-akherat. Lihat artikel tentang Individu Muslim.

MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH

Islam yang diambil ajaran ritualnya saja sering disebut sebagai Islam sekuler, dan penganutnya disebut sebagai muslim sekuler yang diancam oleh Allah di dalam al Qur’an menjadi orang yang terhinakan di dunia sedangkan di akherat nanti akan memperoleh azab yang teramat pedih (al Qur’an  Surat al Baqarah 85). Tentulah hal ini tidak dikehendaki oleh mereka yang mau berfikiran sehat. Ajaran Islam harus dipraktekkan dalam semua lingkup kehidupan, dan inilah yang harus menjadi fokus ulama, kyai, dai, muballigh, penceramah, dan guru agama sewaktu mereka mengajarkan Islam pada umat muslim di semua arena. Setiap individu muslim mestinya hidup dengan orientasi utuh/kaffah seperti itu.

Bagaimana mengelola sebuah keluarga sehingga menjadi keluarga yang selamat dunia akherat? Jawabannya amatlah  mudah, yakni mengelola keluarga itu sesuai dengan syariat Islam yang terkait dengan berkeluarga. Prinsip mengelola keluarga sesuai dengan syariat Islam sudah banyak ditulis oleh para ulama dan cendekiawan muslim, jadi para keluarga muslim tinggal mencari bukunya dan mengetrapkan prinsip-prinsip yang terkandung di sana. Jadi sesungguhnya tidaklah sulit kalau keluarga itu sungguh-sungguh ingin mengetrapkan syariat Islam dalam berkeluarga. Masalah yang umumnya perlu diatasi hanya satu, yakni kesediaan keluarga muslim, khususnya suami-isteri, untuk belajar dan sepakat-teguh mengetrapkan isi ajaran syariat tentang cara berkeluarga ini.

Dalam kenyataan sehari-hari godaan syaitan agar tidak  mengetrapkan cara mengelola keluarga sesuai syariat itu sering datang justru dari unsur lingkungan keluarga itu sendiri, seperti koran, majalah, tv, dan semacamnya. Nasehat-nasehat tentang cara mengelola keluarga dalam media masa seperti itu serta contoh-contoh kehidupan yang digambarkan dalam tayangan film dan sinetron justru yang banyak dipakai sebagai tuntunan dalam mengelola keluarga, secara sadar maupun tidak. Ironisnya nasehat-nasehat seperti itu malah cepat masuk dan diserap karena keluarga itu sendiri yang mendatangkannya ke dalam rumah mereka (katakanlah koran yang mereka berlangganan dan stasiun tv yang mereka pilih), padahal substansi programnya  banyak yang jauh dari syariat.

Bagimana bisa bertahan di tengah arus sekularisasi sosial yang mendunia ini? Di sinilah pentingnya untuk berteguh memiliki pribadi dan keluarga Islami di tengah arus dahsyat sekularisasi yang bahkan dipelopori oleh institusi negara muslim itu sendiri melalui kebijakan-kebijakan sekuler yang diterapkan oleh pimpinan negaranya yang muslim. IRONIS! Jelas umat Islam harus bertahan di kedua dimensi kehidupan itu (pribadi dan keluarga) jika pemerintah negerinya belum memberi payung naungan Islami dalam habitat makronya. Untuk itu perlu diketahui dan diterapkan prinsip kehidupan berkeluarga Islami yang akan membawa ke kehidupan yang indah sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rokhmah sambil menunggu keberhasilan perjuangan proaktif mengoreksi pengelolaan bangsa-negara yang masih sekularistik.

Ada 6 prinsip-ciri utama yang ada dalam sebuah keluarga Islami:

  1. Islam jelas mengajarkan bahwa dalam sebuah keluarga itu figur  suamilah yang menjadi pemimpin keluarga. Peran pemimpin disini tentu terkait dengan tanggung-jawab dalam memelihara, melindungi, menjaga, dan mengarahkan dinamika kehidupan keluarga ke arah yang benar. Hak pemimpin tentu juga perlu difahami, yakni membuat keputusan final yang mengikat semua anggauta keluarga selama keputusan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sering sebuah keluarga penuh konflik dan kemudian pecah karena anggauta keluarga berebutan menjadi pengambil keputusan.
  2. Suatu prinsip penting dalam hidup berkeluarga adalah perlu adanya ketegasan acuan yang disepakati bila terjadi perbedaan pendapat diantara anggauta keluarga (termasuk perbedaan pendapat dengan kepala keluarga). Di sini penting untuk dicatat bahwa Islam mengajarkan bila ada perbedaan pendapat itu maka haruslah kembali kepada tuntunan Allah dan RasulNya. Jangan sekali-kali menjadikan ajaran non-Islam sebagai acuan menyelesaikan konflik dalam keluarga karena pasti konflik akan semakin menjadi-jadi. Lihat teks al Qur’an dan hadits bila ada perselisihan, dan jadikan itu sebagai kata putus, insyaAllah akan terselesaikanlah perbedaan itu. Bila perlu konsultasilah ke ulama.
  3. Suatu sumber konflik besar dalam keluarga adalah masalah pergaulan laki-perempuan dan kesalah-fahaman. Khusus mengatasi ini Islam memberikan tuntunan tegas yang justru ditentang keras oleh penganut faham feminisme yang bersumber ajaran non-Islam. Tuntunan Islam itu adalah prinsip mahram dan budaya ijin. Dalam prinsip mahram tegas dinyatakan ‘siapa-siapa’ yang boleh dan tidak boleh bergaul akrab antara laki-perempuan. Tidak boleh sembarang lelaki masuk rumah keluarga muslim tanpa seijin suami, sedang suami itu sendiri juga harus mengetrapkan prinsip mahram dalam proses pergaulan kekeluargaan mereka. Pergaulan bebas antara laki-perempuan tanpa melihat prinsip mahram inilah yang sering membuat perpecahan keluarga, perselingkuhan, dan bencana besar dalam berkeluarga. Di samping itu dalam proses pengelolaan keluarga ini juga diajarkan prinsip ijin sebagai adab yang berlaku  bagi anggauta kepada kepala keluarga untuk masalah-masalah prinsip,  misalnya bila akan bepergian agar kepala keluarga mengetahui dan memahami untuk apa istri-anak-anggauta itu keluar.
  4. Permasalahan manajemen keuangan juga amat penting dalam membina keluarga muslim. Suamilah yang bertanggung-jawab memberi nafkah pada keluarganya. Suami harus bekerja keras memperoleh rizki agar keluarganya tidak terlantar. Bila suami tidak berhasil mendapat kebutuhan keluarga secara ‘berlebihan’ maka keluarga harus siap hidup sederhana sesuai dengan kadar penghasilan suami. Isteri dan anak harus berhemat dan menekan kebutuhan hidup untuk penyesuaian itu, kecuali bila suami mengijinkan isteri dan anak untuk ikut mencari nafkah tambahan. Dalam sistem keluarga muslim harta milik isteri dan anak, apakah karena warisan atau karena pekerjaan, tidak dipakai untuk belanja kehidupan sehari-hari keluarga itu. Harta itu tetap menjadi hak isteri dan anak tersebut kecuali bila diinfaqkan untuk keluarga dengan ikhlas. Di sisi lain perlu ditekankan pula bahwa isteri dan anak-anak tidak boleh menuntut berlebihan terhadap kebutuhan hidup keluarga itu. Kekacauan keuangan sering terjadi karena borosnya pembelanjaan keluarga oleh menejemen keuangan yang tidak efisien oleh fihak istri yang diserahi mengelola nafkah dari suami. Perlu diketahui bahwa kebutuhan keluarga muslim itu pada dasarnya relatif tidak besar karena mereka tidak diarahkan untuk hidup bermegah-berfoya. Kehidupan keluarga muslim haruslah wajar-wajar saja, hemat, dengan mempertimbangkan rasa kepekaan sosial di sekitarnya. Hidup keluarga muslim pada dasarnya harus sederhana, tercukupi pangan, sandang, dan papan secara secukupnya, tidak berlebihan dan mencolok.
  5. Dari aspek pendidikan keluarga maka suami pada dasarnya juga punya peran mendidik anggauta keluarga, khususnya isteri dan anak-anak. Bahkan dalam al Qur’an jelas sekali dicontohkan bagaimana Lukman mengajar anak-anaknya. Seorang isteri muslimah seharusnya akan selalu memperoleh nasehat dan pengarahan dalam hidup keseharian dari suami. Inilah sesungguhnya latar-belakang mengapa suami tidak boleh orang kafir dan idealnya si suami itu lebih baik keimanan dan pendidikannya dari si isteri. Pendidikan keluarga harus meliputi aspek keimanan-ketaqwaan yang nyata dan aspek keilmuan-ketrampilan bekerja. Suami harus selalu memantau secara langsung atau tidak langsung  perilaku isteri, anak, dan anggauta keluarga lainnya. Suami harus menegur bila mereka menyimpang dan harus memberi arahan agar perilaku dan kemampuan anggauta keluarganya semakin membaik dari hari ke hari. Tidaklah cukup bila suami hanya mencari harta saja untuk mencukupi kebutuhan materiel keluarganya dan menjadi tidak acuh pada perkembangan keimanan-ketaqwaan-keilmuan dari keluarganya. Kepala Keluarga perlu peka terhadap dinamika suasana lingkungan yang terjadi dalam keluarga itu. Orang tua (suami-isteri) juga harus menyiapkan secara sadar dan sistematis sejak dini  agar anak-anaknya memiliki jiwa dan semangat patriotisme untuk menjadi Pejuang Islam yang siap dan mampu merubah tatanan kehidupan sosial-kemasyarakatan di mana mereka berada agar  menjadi masyarakat-bangsa-negara yang dikelola secara Islami. Jangan hanya mendidik anak-anak berorientasi untuk bisa hidup makmur-kaya belaka. Orientasi mendidik anak seperti itu hanya akan membuat anak-anak menjadi egois, materialistik, tidak peka sosial, atau bahkan bisa mencelakakan diri mereka dan berperani perusak masyarakatnya. Naudhubillahi min dhaalik. Jadikan anak terdidik untuk bervisi Patriot Islam
  6. Sebagai bagian terakhir dalam catatan ini adalah bagaimana seharusnya seorang kepala keluarga membawa keluarganya dalam kehidupan sehari-hari ke arah yang baik dan semakin baik. Untuk itu ada 4 analogi keluarga dalam proses berkeluarga, yakni:
    1. a. Diupayakan bahwa di dalam rumah selalu dilakukan ibadah mahdhah secara teratur dan dibaca pula al Qur’an setiap waktu. InsyaAllah keluarga itu akan terhindar dari bisikan-bisikan syetan yang mengoncangkan keimanan-ketaqwaan mereka. Rumah diibaratkan menjadi mesjid yang semarak.
    2. Dalam keluarga itu juga harus selalu dihidupkan aktifitas saling belajar dan mengajar, baik tentang masalah keimanan-ketqwaan maupun tentang keilmuan-ketrampilan kerja. Latihan disiplin, kebersihan, dan kerapian juga harus selalu dipraktekkan dalam keseharian hidup. Rumah dalam peran ini ibaratkan sebuah sekolah yang selalu mendorong kemajuan dalam keimanan-ketaqwaan, keilmuan, dan pengabdian. Sebagai sekolah yang baik maka lingkungan rumah juga harus bersih dari simbul dan hiasan yang non-Islami.
    3. Sebuah keluarga ideal seharusnya juga mampu menahan ancaman dari luar rumah, bukan hanya ancaman fisik seperti pencuri-perampok atau keamanan dari kecelakaan dan serangan penyakit, tapi juga tidak kalah pentingnya adalah menahan serangan dari musuh ideologis, musuh agama, dalam bentuk infiltrasi budaya yang diajarkan syetan dalam bentuk-bentuk tersamar. Dalam fungsi ini rumah akan berperan sebagai benteng pertahanan yang melindungi keluarga dengan kokoh. Untuk hasil yang maksimal maka bersihkan pula rumah dari media cetak dan elektronik yang merusak akhlak isteri dan anggauta keluarga.
    4. Akhirnya rumah harus menjadi tempat yang menggembirakan bagi semua penghuninya, memberi rasa aman-tenteram, beristirahat, santai, menyenangkan, dan menyejukkan hati. Di sinilah rumah akan berperan sebagai surga dunia, yang dalam hadits disebut sebagai ‘rumahku adalah surgaku’. Untuk memiliki kebahagiaan dalam rumah seperti itu tidak berarti memoles fisik rumah menjadi semahal-semewah mungkin, walau uang keluarga itu sedang berlimpah.

Semoga membantu dan bermanfaat.

Indonesia, awal 2010.

Entry filed under: Keluarga. Tags: , , , , , , , , , .

Untuk Memperoleh Ridho Allah dan Dukungan Umat PARTAI ISLAM WAJIB MEMURNIKAN IDEOLOGINYA RASIONALKAH ORMAS ISLAM BERSIKAP ‘INDEPENDEN’ DI NEGERI MUSLIM YANG SUDAH MEMILIKI PARTAI ISLAM?

3 Comments Add your own

  • 1. abdul Karim  |  14 January 2010 at 14:39

    Saya sependapat dengan Bapak 100 %. Semuanya memang harus dari manusianya, dan keluarga adalah kumpulan manusia terkecil di masyarakat. Sehngga tepat sekali kalau Allah berfirman: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Kalau kata A-Agim: Mulailah dari dirimu, dari hal yang terkecil, dan mulai sekarang”. Wallahu ‘alam

    Sebagai tambahan (masih hipotesis): Kalau sebuah Negara hanya priyanya yang bekerja, insyaAllah akan sedikit PHK, akan sedikit Perselingkuhan, dan akan terminimalisasikan kehancuran generasi muda. Itu produk barat yang namanya ‘persamaan Gender”, bikin dunia tambah tidak karu-karuan aja.

  • 2. Mohammad Hanafi  |  18 January 2010 at 07:40

    Sayangnya untuk masuk ke sekolah yang Islami sangat mahal. Untuk SD tahun ini Rp. 8.500.000.- Pendapatan kita umat islam pada umumnya tidak banyak. Suami istri harus bekerja. Anaknya terlantar batiniah, akibatnya jiwanya kurang stabil, karena kurang perhatian orang tuanya.
    Usul, bagi orang Islam yang mempunyai perusahaan, hendaknya mendahulukan muslimin, sebagaimana mereka mendahulukan golongannya.
    Pendidikan, ekonomi hendaknya kita raih selain ilmu agama. Tirulah Malaysia, biarpun mendapat banyak kecaman, jalan terus!

  • 3. Rasyid Emilly  |  1 February 2010 at 19:42

    Jika dibandingkan kondisi umat Islam di awal kemerdekaan dengan kondisi sekarang yang sudah lebih dari 64 tahun kita merdeka, maka sesungguhnya umat Islam mengalami jauh kemunduran, kemuduran dalam semua lapangan kehidupan. Umat Islamlah yang peling banyak miskin, menganggur dan terkebelakang. Islam dirongrong terus oleh berbagai idiologi, mulai dari komunis, liberalis dan kapitalis, hukum Islam semakin jauh dikalahkan oleh demokrasi dan HAM. Rasanya semakin sedikit umat Islam yang ber- IMAN. umat Islam susuah diajak jujur, diajak disiplin, pembangkang dan susah diatur. Sekarang kita sudah tidak banyak memiliki ulama. Partai Islam lebih banyak yang menjadi pengkhianat Islam. Beberapa Ormas Islam hanya tinggal Papan Nama saja lagi. Memang kita harus menyelamatkan diri dan keluarga kita terlebih dahulu dan setelah itu lalu bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: