DI ALAM DEMOKRASI HARUSNYA PERS BERSIKAP NETRAL DALAM PERMASALAHAN IDEOLOGI AGAR RAKYAT SEMAKIN CERDAS DAN BERFIKIR JERNIH TENTANG ALTERNATIF CARA MENGELOLA NEGERIYA (Sudahkah itu Terjadi di Indonesia?)

5 February 2010 at 21:04 3 comments

Seminar Nasional bertemakan “Islam dan Demokrasi, Kompatibelkah?” yang diselenggarakan oleh Partai Bulan Bintang Jawa Timur, 31 Januari 2010 di Surabaya berlangsung semarak. Pada seminar itu Keynote Speakernya Fuad Amsyari, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Pusat, Pembicara utamanya: Yusril Ihza Mahendra dari Majelis Syuro PBB dan Irfan Awas, Ketua Tanfidziah Majelis Mujahidin Indonesia. Seminar dihadiri oleh Orpol, Ormas, LSM Islam, dan kalangan media masa. Banyak dibahas tentang masalah Islam dan demokrasi dari berbagai sudut pandang. Aspek Islamnya jelas yang terkait dengan ajaran Islam mengenai masalah sosial-kenegaraan, sedang dari materi demokrasi ditinjau baik dari makna harfiah maupun operasionalnya.

Sisi praksis yang terungkap di forum itu adalah bagaimana bisa membuat Partai Islam yang membawa misi penerapan syariat Islam untuk pengelolaan bangsa-negara bisa bersinergi dengan kelompok non-partai (Ormas dan LSM Islam) yang juga memiliki visi-misi memperjuangkan tegaknya syariat dalam bidang sosial-kenegaraan. Sejauh ini ditengarahi bahwa Partai Islam dan Ormas-LSM Islam belum banyak bisa bersinegi, bahkan sering malah saling mengkritik satu dengan lainnya. Ormas-LSM Islam hendaknya dapat lebih mendalami peran Partai Islam dan sebaliknya Partai Islam harus lebih intens dan istikomah dalam membawa misi Islamnya. Partai Islam dalam membawa misi ideologisnya sering hanya bergerak saat mendekati pemilu saja dan itupun caranya kurang efektif  untuk bisa meyakinkan bahwa Partai Islam itu sungguh berkehendak serius  mengetrapkan syariat dalam pemerintahan. Kelompok Ormas-LSM Islam banyak yang masih ragu akan niat ideologis Partai Islam tersebut karena kegiatan kampanye menjelang pemilu semacam itu lalu nampak  hanya sekedar retorika menarik simpati pemilih dan setelah pemilu banyak tokohnya yang mudah berperilaku menyimpang dari cita-cita ideologi Islam. Pendekatan Partai Islam sebagai partai ideologis perlu dimantapkan, yakni agar Partai Islam sejak jauh hari sebelum pemilu sudah bisa menunjukkan dengan jelas dan tegas identitas dirinya sebagai Partai Ideologis yang memperjuangkan tegaknya syariat dalam pengelolaan bangsa-negara sebagai alternative terhadap Ideologi Sekuler dari  Partai Non-Islam, baik melalui kegiatan-kegiatan kepartaian maupun pernyataan-sikap tegas memperjuangkan syariat oleh para wakilnya saat duduk di parlemen dan lembaga eksekutif. Jika Partai Islam mampu meyakinkan umat melalui aktifitas-aktifitasnya (bukan hanya menjelang pemilu saja) bahwa memang bervisi dan membawa misi seperti itu maka kelompok Ormas dan LSM Islam tentu akan mendukung sepenuh hati Partai Islam itu dalam pemilu dan pilkada.

Bahasan yang juga tidak kalah ramainya adalah saat menelaah apakah demokrasi itu selaras dengan Islam atau tidak, dan bagaimana mempertemukan antara demokrasi yang dimaknai sebagai pengusung ‘Kedaulatan Rakyat’ dengan Islam yang sering dikatakan membawa faham ‘Kedaulatan Tuhan’. Bagaimana makna kedaulatan tuhan secara kongkritnya, apakah forum bersama (plural)  yang di dalamnya ada representasi umat (jumlahnya bisa amat banyak jika menang pemilu) yang berteguh memperjuangkan diterapkannya ajaran sosial-kenegaraan dari Allah swt untuk mengelola Indonesia masih dianggap belum memadai? Bukankah secara faktual tidak mungkin ‘menghadirkan Tuhan’ dalam kehidupan nyata yang empiris ini?

Intens pula dibincangkan dalam seminar itu tentang bagaimana proses sosial-politik empiris bahwa Nabi Muhammad saw setelah hijrah ke Madinah bisa menjadi Kepala Negara di wilayah itu, apakah melalui proses demokrasi atau bukan. Bukankah Nabi menjadi Kepala Negara Madinah tidak melalui perang, tidak melalui tindak anarkhis, tidak melalui kudeta ataupun revolusi berdarah? Nabi menjadi Kepala Negara Madinah oleh proses damai yang di dalamnya tentu berlangsung berbagai aktifitas ‘loby’ dan pertemuan-pertemuan plural yang umumnya ada dalam alam demokrasi.

Bagaimana pula seharusnya posisi demokrasi dalam kehidupan sosial politik di  suatu negara. Apakah ‘demokrasi untuk demokrasi’ sehingga demokrasi dijadikan tujuan perjuangan? Tidak logis bukan? Apakah demokrasi itu diposisikan sebagai metoda untuk mencari Pemimpin yang baik, Kebijakan nasional yang bermanfaat, dan mendapatkan Nilai kebenaran hakiki. Apakah  demokrasi itu malah dijadikan sebagai ideologi tersendiri yang secara eksklusif  di dalamnya terikat dengan faham Kapitalisme-Sekularisme-Liberalisme yang tegas ditolak dan dinilai salah oleh Islam?

Ujung seminar yang menggembirakan adalah adanya suasana kesepahaman bahwa Islam itu bukan sekedar ajaran tentang masalah spiritual-ritual belaka (seperti shalat, doa, puasa dan semacamnya) namun juga menyangkut ideologi kenegaraan yakni cara mengelola bangsa-negara yang benar dan menjamin akan mendatangkan kesejahteraan-kemajuan-kedamaian bangsa dan dunia. Di dalam proses perjalanan dan perjuangan ke arah itu tidaklah ada larangan bahwa untuk memperoleh Kepemimpinan yang baik bagi suatu negara dan penyusunan kebijakan nasional yang bermanfaat dilakukan melalui berbagai mekanisme yang sering diklaim sebagai bagian dari demokrasi. Islam pasti menolak jika demokrasi dikatakan sebagai suatu ideologi tersendiri yang di dalamnya terikat erat dengan pengetrapan Kapitalisme-Sekularisme-Liberalisme untuk mengelola bangsa-negara.

Dalam proses interaksi berwacana pada seminar tersebut jelas sekali adanya nuansa bahwa Indonesia ini seharusnya dikelola sesuai dengan  syariat Islam bidang sosial-kenegaraan karena mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Pancasila dan UUD RI tidak melarang adanya pengelolaan negeri sesuai syariat Islam itu. Justru dengan cara mengelola bangsa sesuai syariat tersebut akan bisa membawa kemajuan dan kejayaan negara. Di samping itu juga banyak sekali catatan penting tentang makna Islam dan Demokrasi yang terungkap dalam seminar tersebut. Yang justru mengherankan adalah mengapa begitu luas substansi  terkait ideologi dalam Seminar Nasional sesignifikan itu dan menghadirkan tokoh nasional sekaliber Yusril dan Irfan Awwas TIDAK DIBERITAKAN MEDIA MASA, LOKAL APALAGI NASIONAL,  padahal cukup banyak insan pers yang hadir di dalamnya. Ada apa ini? Dari fakta-kenyataan semacam itu lalu bisa timbul pertanyaan besar: BENARKAH KLAIM BAHWA PERS INDONESIA ITU ‘NETRAL’, TIDAK MEMIHAK IDEOLOGI TERTENTU, DAN MENJUNJUNG TINGGI ASAS IMBANG  DALAM MEMBERITAKAN WACANA IDEOLOGI DI ERA KETERBUKAAN DI NEGERI INI? BENARKAH PERS INDONESIA SUDAH MENGAMBIL POSISI MEMBERI  KESEMPATAN SAMA PADA SEMUA FAHAM YANG TIDAK DILARANG OLEH UNDANG-UNDANG UNTUK DIFAHAMI OLEH RAKYAT INDONESIA MELALUI PEMBERITAANNYA? MENGAPA DUNIA PERS INDONESIA PADA UMUMNYA TERKESAN TIDAK ANTUSIAS BAHKAN NAMPAK MENGHINDAR UNTUK MENYAMPAIKAN KE RAKYAT TENTANG IDEOLOGI ISLAM POLITIK DAN SEBALIKNYA BANYAK MENSOSIALISASIKAN IDEOLOGI ISLAM SEKULER?

Jika diperbandingkan dengan jumlah pemberitaaann pers termasuk artikel yang dimuat tentang Ideologi Sekuler (termasuk Islam sekuler) maka jelas sekali pers Indonesia pada umumnya amat minim dengan  pemberitaan tentang event nasional-lokal dan artikel membahas wacana obyektifnya Islam Politik untuk memajukan bangsa-negara Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim ini. Bukankah sikap–perilaku tidak imbang dalam PEMBERITAAN IDEOLOGI seperti ini menunjukkan bahwa pers Indonesia sudah ikut-ikutan berideologi dan tidak lagi menjadi fihak netral serta memberikan wacana ideologi alternatif demi kecerdasan dan perbaikan nasib rakyat? Apa tidak seharusnya ada sanksi yang perlu dijatuhkan pada media Indonesia jika ternyata media tersebut dinilai telah terkooptasi oleh ideologi tertentu dalam menjalankan misi persnya?

Dengan memperhatikan berbagai fakta di atas maka umat Islam Indonesia perlu waspada akan adanya pemihakan media di negeri ini terhadap Ideologi Sekuler yang memang lagi berkuasa. Bahkan terasa sekali bahwa mereka telah ikut berupaya  melemahkan kaum muslimin yang mengusung ideologi Islam, yakni tegaknya syariat sosial-kenegaraan dalam pengelolaan bangsa-negara  demi kemajuan-kejayaan  Indonesia. KAPAN PERS INDONESIA BISA BERPERILAKU ‘NETRAL’, TIDAK BERFIHAK PADA IDEOLOGI SEKULER YANG TIDAK JUGA KUNJUNG BERHASIL MEMBAWA INDONESIA MENJADI NEGARA MAJU DAN JAYA? BUKANKAH RAKYAT AKAN  BISA LEBIH DICERDASKAN JIKA PERS INDONESIA JUGA MEMBERI WACANA IDEOLOGI ALTERNATIF DALAM MEMBANGUN NEGERI INI SUPAYA SEGERA KELUAR DARI BERBAGAI KRISIS MULTI DIMENSINYA?

Awal Februari 2010.

Entry filed under: Agenda. Tags: , , , , , , , , .

RASIONALKAH ORMAS ISLAM BERSIKAP ‘INDEPENDEN’ DI NEGERI MUSLIM YANG SUDAH MEMILIKI PARTAI ISLAM? EKONOMI DULU, AGAMA BELAKANGAN, Paradigma Pembangunan yang Merusak Umat dan Bangsa Indonesia

3 Comments Add your own

  • 1. abdul Karim  |  7 February 2010 at 06:30

    Kata orang:”Siapa yang menguasai media masa (MM), ia yang menguasai dunia”. Di era globalisasi ini, makin sangat penting peran MM. Kalau MM kita (yang ada) lebih berpihak kepada paham sekuler, itu sangat wajar, lihat saja siapa pemiliknya. Masyarakatpun pada hakikatnya pelan tetapi pasti sudah terpengaruh oleh paham tersebut. Lihat saja acara apa saja yang disukai masyarakat.
    Saya dengar, peran MM lokal (TV) ke depan akan besar. Walaupun terlambat, perlu kiranya mulai dirintis MM yang Islami. Tinggal berikutnya mengemas acara-acaranya agar menarik. Di sini sepertinya tokoh-tokoh Islam perlu duduk bersama, melupakan perbedaan-perbedaan kecil, dan atur strategi dakwah yang efektif dan efisien, serta barokah. Mudah-mudahan akan datang saat-saat indah seperti itu. Amin. Nasrun minAllah. Wallahu ‘alam.

  • 2. Mulja HS  |  7 February 2010 at 09:09

    Saya masih ingat terus pesan Bapak, bahaya demokrasi adalah kalau ada 10 orang yang 7 pencuri, maka voting keputusannya pasti bagaimana mencuri yang “benar”. Solusinya apa ?

  • 3. Taat  |  18 June 2010 at 07:03

    Assalamu’alaikum wr wb

    Saya sangat senang membaca artikel Hidup Sehat cara Nabi. Bila diperkenankan saya sampaikan beberapa disertasi yang meneliti tentang “persepsi agama”, anatar lain:
    1. Sholat Tahajjud meningkatkan imunitas
    2. Ibadah haji meningkatkan imunitas
    3. Puasa Ramadhon meningkatkan imunitas
    4. Dzikir meningkatan heat shock protein72 yang protektif
    5. Ikhlas menerima sakit memperbaiki imunitas
    Semoga bermanfaat
    Wassalamu’alaikum wr wb
    Taat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: