EKONOMI DULU, AGAMA BELAKANGAN, Paradigma Pembangunan yang Merusak Umat dan Bangsa Indonesia

18 February 2010 at 18:48 3 comments

Banyak tokoh politik bahkan sebagian ulama atau kyai sudah berpikiran bahwa yang penting bagi umat ini adalah memperbaiki kondisi ekonominya. Jika mereka sudah makmur maka agamanya nanti juga akan menjadi baik. Bentuk redaksinya juga sering dibalik: ‘bagaimana umat bisa memikirkan masalah agama kalau untuk memenuhi kebutuhan pokok ekonominya saja masih kesulitan’. Maka dengan cara berfikir seperti itu lalu mereka (banyak tokoh politik yang beragama Islam dan sebagian ulama-kyai) menjadi begitu toleran jika ada perempuan melacurkan diri karena tekanan ekonomi, bahkan bisa membenarkan jika lokalisasi pelacuran dibiarkan saja atau marak dan ikut protes bahkan menjadi pelindung di garis depan jika ada upaya memberantas kemaksiyatan seperti itu. Astaghfirullah. Akibatnya berbagai kebejatan akhlak semakin menjadi, kejahatan merajalela, kekayaan negara semakin terkuras, umat dan bangsa semakin terpuruk oleh perilaku jahat pengusaha dan penguasa karena semua perbuatan jahat lalu dilakukan atas nama demi perbaikan ekonomi rakyat!! Benarkah akan bisa memakmurkan rakyat jika cara atau  metoda pembangunan yang dipakai dilaknat Allah? Mana rasionalnya?

Benarkah bahwa dalam hidup ini yang terpenting adalah memperbaiki perekonomian walau untuk itu harus mentolerir ketidaktaatan pada ajaran agama? Benarkah jika perekonomian umat membaik (oleh berbagai macam kebijakan-rekayasa ekonomi, termasuk yang bersifat tipu daya dan melanggar prinsip agama) lalu agama umat akan ikut membaik? Paradigma inilah yang dilemparkan kaum sekuler-kapitalis untuk bisa mengeruk kekayaan dunia. Paradigma inilah yang dipakai untuk mengalahkan para pesaing mereka yang masih lemah dalam hal modal, teknologi, dan militer di dunia intermasional. Paradigma ini pula yang dipakai untuk menghancurkan Paradigma Islam yang mengutamakan ketaaatan pada ajaran agama dan kemuliaan akhlak dalam proses kehidupan di dunia. Islam jelas mengajarkan bahwa jika manusia itu taat ajaran agama (secara utuh, bukan ritualnya belaka), termasuk mulia akhlaknya dan penerapan prinsip sosial-kenegaraannya, maka kehidupan ekonomi bangsapun akan terjamin, BUKAN SEBALIKNYA!

Jika skala negara diperkecil menjadi sebuah ‘keluarga besar’ (katakanlah sebuah keluarga yang jumlah anggauta keluarganya sedikit lebih kecil dari sebuah negeri mini yang  penduduknya beberapa ribu orang), mungkin penalarannya akan lebih mudah untuk dicernak di akal mengapa paradigma kapitalis-sekuler itu salah besar dan paradigma Islam dalam membangun bangsa-negara itu yang benar-benar bermanfaat bagi manusia. Jika kepala keluarga (ibarat Presiden dalam sebuah negera) fokus kerjanya pada upaya menambah kekayaan keluarga dengan alasan agar bisa memiliki banyak materi bagi keluarganya (belum dinilai bagaimana dia akan membagi materi itu, adil atau curang) dan untuk itu dia mentolerir anggauta keluarganya tidak taat ajaran agama (berarti boleh melacur, berjudi, menyuap, me’rente’kan uang menjual miras, ‘mencuri’, dan semacamnya) maka apa yang akan terjadi pada keluarga itu? Pasti kehidupan keluarga tersebut akan berantakan, hubungan antara orang tua dengan anak rusak, interaksi antara sesama anggauta keluarga juga hancur karena mereka sudah tidak lagi memiliki sopan-santun dan akan saling mencurigai. Bahkan jika sejak awal keluarga itu sudah memiliki kekayaan besar, misalnya dari warisan (dalam skala bangsa-negara adalah kekayaan tanah air berupa tambang, hutan, dan lain lain), maka akhirnya kekayaan keluarga itupun akan dipertengkarkan oleh tiap-tiap anggauta keluarga yang buruk akhlak itu dengan cara agresif karena masing-masing berlomba menguasainya tanpa kontrol agama. Keluarga akan cepat bangkrut dan anggautanya menjadi gelandangan (dalam skala negara maka bangsa itu akan hancur dan bubar berkeping-keping). Karena rusaknya akhlak anggauta keluarga maka dalam memperebutkan kekayaan keluarga mereka sering tidak malu-malunya membawa tetangga masuk ke keluarga itu guna menjadi teman dalam membuat rencana lebih canggih bagaimana ‘merampok’ harta keluarganya sendiri dan rela harta warisan nenek moyangnya dibawa lari oleh tetangganya. Si Kepala keluarga (yang juga berakhlak buruk karena tidak taat agama) bahkan bisa menjadi ‘pioner’ dalam upaya perampokan kekayaan keluarga tersebut dengan berbagai dalih, termasuk dalih atas nama kebijakan kepala keluarga yang nanti akan memberi kemakmuran pada anggauta keluarga. Begitulah ilustrasi bagaimana sebuah paradigma sekuler-kapitalistik berproses dalam sebuah tatanan bangsa-negara dan membuat negeri itu jadi bangkrut habis-habisan. Mau bukti? Mudah saja, mana ada negara sekuler yang penguasanya berhasil membawa kesejahteraan merata dan ketenteraman dunia, dan  individu mana yang jatuh miskin dengan menjadi pejabat-penguasa di negara yang sekuler-kapitalistik (kecuali saat dia sudah lengser lalu dihujat habis rakyat banyak dan kekayaan pribadinya disita oleh pengadilan pada rezim baru).

Dalam agama Islam alur berfikir yang diajarkan dan model berprosesnya pembangunan nasional berbeda diametrikal. Kepala keluarga (Kepala Negara untuk skala bangsa) memberi arahan-pembelajaran-keteladanan-pengawasan ketat agar anggauta keluarga taat pada ajaran agama secara mendasar (bukan ritualnya belaka), sehingga hati (kendali internal) akan takut berbuat buruk-kejahatan dan segan untuk melanggar aturan main yang ditetapkan dalam keluarga (kendali internal dan eksternal). Dalam beraktifitas di dalam maupun ke luar tiap anggauta keluarga juga menjadi terkendali sehingga tidak menyimpang menjadi perbuatan jahat. Anggauta keluarga boleh mencari nafkah tapi nafkah yang ‘halal’ sehingga tidak merusak dan mengganggu hak yang lain. Anggauta keluarga boleh minta bagian dari kekayaan keluarga asal sesuai dengan kebutuhan yang masuk akal bukan memanipulasi untuk ditumpuknya menjadi kekayaan pribadi. Kepala keluarga teguh memberi keteladanan mulai dengan dirinya sendiri dalam hidup sederhana, bersikap lebih mementingkan kebutuhan hidup dan perkembangan anggauta keluarganya, khususnya masa depan generasi muda keluarga. Dari model keluarga yang dikelola secara Islami semacam itu maka keluarga itu menjadi keluarga yang berkualitas, menjadi keluarga terhormat, dan secara ‘alami’ maka kebutuhan ekonomi semua anggauta keluarga akan tercukupi dengan sendirinya (oleh proses sosial-ekonomi-politik yang wajar). Keluarga akan menjadi kokoh-kuat-mandiri. Dari tinjauan kacamata keyakinan  agama (tentu tidak bisa dimengerti oleh manusia yang sudah terperangkap paradigma sekuler-kapitalis) maka pada keluarga itu jelas Allah swt akan memberi perlindungan dan petunjuk pada perjalanan keluarga tersebut serta menurunkan banyak rizki pada keluarga itu dari sumber yang tidak tersangka-sangka sebelumnya. Allahu Akbar.

Bandingkan proses di atas dengan pola pembangunan sekularistik di mana Kepala keluarga  hidupnya bermewah, berfasilitas besar dan minta gaji tinggi atas nama tugas yang berat sebagai kepala keluarga (memanfaatkan kesempatan mumpung dipercaya sebagai kepala keluarga),  membiarkan akhlak rusak terjadi di tengah keluarganya, acuh saja pada kecurangan-kecurangan di sekitarnya terutama jika dilakukan oleh anggauta keluarga yang disayangi, dan tidak memusingkan kebutuhan dasar manusia seperti agama dan keilmuan para anggauta keluarga termasuk kesiapan masa depan generasi mudanya ke depan. Belum lagi dengan berbagai dalih dan cara dia lalu mengeruk kekayaan keluarga semaksimal mungkin dan disimpannya diam-diam di tetangga. Kepala keluarga yang sekularistik umumnya berbangga diri, senang,  tersanjung, dan menikmati berbagai bentuk kehormatan-pelayanan yang diperolehnya, lalu berperilaku bagaimana bisa  terus mempertahankan posisinya sebagai kepala keluarga kalau perlu dengan kekerasan atas nama stabilitas, kerukunan, dan kelangsungan program. Dalam sistem kapitalis-sekuler kekuasaan adalah kenikmatan-kejayaan duniawi sedang dalam Islam kekuasaan adalah amanah untuk bekerja maksimal menyelamatkan-mensejahterakan rakyat dalam kehidupan dunia-akherat.

Kapan umat Islam Indonesia, khususnya para Pemimpin Formal Negara yang Muslim,  menjadi sadar untuk memprioritaskan kebijakan-kebijakan nasional yang menginduksi terbentuknya ketaatan  pada ajaran agama bagi para birokrat dan rakyat, dan sadar untuk tidak lagi memberi prioritas tinggi pada program menumpuk materi secara membabi buta dengan segala cara (apalagi hanya dengan ukuran makro yang padat dengan  jebakan atau ‘pitholes’) sehingga umat menjadi semakin jauh dari ajaran agama dan jauh pula dari perlidungan Allah swt? Kapan pula tidak ada lagi ulama dan kyai di negeri ini yang terjebak oleh paradigma sekuler-kapitalistik sehingga membiarkan perbuatan maksiyat sebagai sesuatu yang dianggapnya wajar  karena ada ‘kedharuratan sosial’ sedang dalam aktifitas mendakwahkan agama Islam pada umatnya hanya memberi nasehat untuk beribadah ritual belaka dan melupakan aspek sosial-politik-kenegaraan Islam? Ingatlah TIDAK SATUPUN NEGARA MUSLIM YANG DIKELOLA DENGAN POLA SEKULER-KAPITALISTIS YANG BERHASIL MENJADI NEGARA MAJU-JAYA DAN MANDIRI. Perhatikan pula secara cermat, bahwa di Negara Kapitalis-Sekuler manapun hanya sedikit proporsi penduduknya yang bisa kaya-raya hidup mewah bergelimang harta, sedang mayoritas rakyat di sana juga tetap masih hidup pas-pasan atau bahkan miskin. Di akhir-akhir ini banyak negara kapitalis-sekuler berlarian ke sana kemari mengeksploitir kekayaan negara lain (khususnya negeri muslim yang kaya sumber daya alamnya) dengan cara halus (tipu daya ekonomi) dan cara teramat kasar  (perang atas nama apa saja). MARI MEMBANGUN INDONESIA DENGAN PENEKANAN AGAR PEJABAT DAN RAKYAT HIDUP BERKETAATAN AGAMA, BUKAN FOKUS PADA PERTUMBUHAN EKONOMI MAKRO DAN MAYA MELALUI CARA HARAM.

Catatan untuk Hari ke 120 Pemerintahan KIB2

Entry filed under: ekonomi. Tags: , , , , , , , .

DI ALAM DEMOKRASI HARUSNYA PERS BERSIKAP NETRAL DALAM PERMASALAHAN IDEOLOGI AGAR RAKYAT SEMAKIN CERDAS DAN BERFIKIR JERNIH TENTANG ALTERNATIF CARA MENGELOLA NEGERIYA (Sudahkah itu Terjadi di Indonesia?) WHEN ‘SCIENTIFIC FINDINGS’ ARE IN DISAGREEMENT WITH QUR’ANIC VERSES, the Area of Differences and the Rational of an Accurate Solution

3 Comments Add your own

  • 1. Rasyid Emilly  |  21 February 2010 at 07:26

    Contoh kepala keluarga yang disinonimkan dengan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang diuraikan oleh pak Fuad sangat tepat sekali. Paling tidak, dua dari enam orang presden RI mempunyai riwayat seperti contoh tulisan diatas, dari harta yang berlimpah ruah yang membawa anak keturunannya ketempat kehinaan di dunia dan akhirat.
    Kita, Indonesia adalah bangsa yang kaya raya dan penduduknya mayoritas beragama Islam, lalu karena kurang memikirkan persiapan dunia, bangsa kita bisa terjajah sampai lebih dari tiga setengah abad oleh kaum kafir. Dimasa penjajahan itulah kekayaan alam Nusantara ini digali dan diboyongnya ke Eropah negeri kaum penjajah itu. Setelah kita berpeluang untuk merdeka, maka kondisi untuk dijajah itu berjalan terus. Komunisme dan Kapitalisme saling memperebutkan Indonesia ini. Bangsa kita di diadu domba, di dikte, ditekan sampai diancam dan terancam. Bung Karno karena melawan gigih pada Imperialis, maka dia diturunkan ditengah jalan, demikian pula Soeharto. Siapapun yang akan menjadi Presiden di negara ini tidak akan lepas dari cengkeraman Komunis atau Imperialisme. Jadi siapapun yang menjadi presiden RI, kalau mau aman ya cukuplah menjadi boneka atau wayang dari Komunisme atau Imperialisme. Tiga dari enam Presiden RI, turun ditengah jalan karena ada remote dari Imperialis Amerika. Reformasi yang terjadi tahun 1978 bukanlah kehendak secara sadar sebagian besar rakyat Indonesia, tetapi karena dibiayai dan untuk kepentingan negara Adikuasa. Empat kali amandemen terhadap UUD 1945 juga semata-mata untuk kepentingan kaum Imperialis, bukan untuk kemakmuran bangsa Indonesia. Yang menjadi tokoh (baca boneka atau wayang reformasi) juga sebagian adalah tokoh-tokoh umat Islam sendiri. Sudah lebih dari enam puluh tahun Indonesia merdeka, belum pernah lembaga atau institusi , atau Ormas atau partai politik ke Islam yang mengkaji dan mempersiapkan seorang umatnya untuk dipersiapkan menjadi presiden.

  • 2. abdul Karim  |  21 February 2010 at 11:14

    Saya pikir, apa keduanya tidak sebaiknya jalan bersama-sama? Agama dan semua aspek kehidupan? Ibarat mata uang dengan dua wajah yang saling melengkapi. Menaikkan pertumbhan ekonomi, tentu bagus asal caranya Islami. Kalau manaikkan ekonomi tapi dengan sitem riba, misalnya, tentu itu tidak benar. Sekarang hal-hal yang sesuai ‘syariat’ sudah mulai tampak, lihat saja bagaimana bank-bank mualat, BMT, yang mulai menjamur dimana-mana. Beberapa daerah mulai menerapkan sebagian hukum Islam, dan sebagian lagi siap menggunakan syariat Islam dalam mengatur daerahnya, seperti Riau, dan beberapa lagi.
    Saya pikir perubahan secara drastis akan menimbulkan gejolak, bahkan mungkin harus dibayar mahal. Biarlah cita-cita menuju ke syariat Islam bergerak secara alami, dan dengan cara ini saya yakin hasilnya akan lebih mantab dan mengakar, karena orang menerima dengan kesadaran, bukan dengan paksaan. Saya yakin kita menuju ke sana, kata kuncinya adalah kita bekerja keras sesuai bidang kita, beri teladan yang Islami, didik masyarakat, dan tentu saja disertai dengan senantiasa berdo’a, sabar dan solat. Wallahu’alam

  • 3. Rasyid Emilly  |  24 February 2010 at 08:20

    Kalangan umat yang sudah hidup makmur dan sejahtera, kelihatannya masih sangat banyak yang belum memahami tentang Pola Hidup yang Islami. Coba lihat kedalam rumah mereka yang serba wah dan serba mewah. Ruang tamunya dipenuhi dengan berbagi pernak-pernik yang sama sekali tidak ada manfaatnya, hanya sebagai Simbol Kekayaan yang berlebihan. Barang Koleksi yang mubazir itu rata-rata lebih dari puluhan juta rupiah dan mungkin ada yang sampai ratusan juta rupiah untuk setiap rumah. Sementara di pedesaan, uang 10 ribu rupiah saja sudah sangat ber-arti. Bank Syari’ah mereknya tetapi kebanyakan prakteknya tidak beda dengan yang bukan syari’ah. Kalau memang Bank Syariah, maka sebagian besar dananya di pinjamkan secara adil kepada masyarakat luas. Bukan hanya untuk kalangan internal mereka saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: