MEWASPADAI ‘MONEY POLITIK’ SEBAGAI INSTRUMEN UNTUK MERUSAK ORMAS-PARTAI ISLAM, Bagaimana Proses Kerjanya?

19 March 2010 at 19:44 1 comment

Menjelang diselenggarakannya Konggres-Muktamar berbagai Ormas dan Partai Islam tentu umat, khususnya warga ormas dan partai Islam tersebut, perlu waspada akan upaya orang lain untuk menginfiltrasi organisasinya dengan tujuan ideologis. Dalam sebuah artikel di blog ini sebelumnya sudah dijelaskan bagaimana secara tersamar sering ormas Islam dibelokkan arah organisasinya menjadi hanya sekedar untuk bersosial-berritual ria dan bersikap ‘independen’ terhadap perjuangan politik Islam di tataran kehidupan berbangsa-bernegara. Peran ormas Islam menjadi sesederhana itu umumnya disuntikkan lewat ‘tokoh’ atau pimpinan ormas Islam tersebut yang memang lemah dalam ideologi Islamnya. Tokoh Islam seperti itulah yang lalu diusahakan untuk  dimunculkan menjadi pemimpin formal Ormas Islam dalam perhelatan Konggres-Muktamar organisasi (lihat artikel berjudul ‘RASIONALKAH ORMAS ISLAM BERSIKAP ‘INDEPENDEN’ DI NEGERI MUSLIM YANG SUDAH MEMILIKI PARTAI ISLAM??).

Dari sisi Partai Islam yang jelas lebih langsung terkait dengan masalah perjuangan ideologi Islam juga sering terjadi upaya yang sama walau tentu kadarnya menjadi lebih tajam. Ada tiga tantangan besar yang dihadapi Partai Islam di Indonesia sebagai Partai Ideologis (Partai yang membawa ideologi Islam, ideologi beorientasi untuk mengetrapkan syariat Islam dalam mengelola bangsa-negara), yakni:

1). Kekuasaan politik secara faktual sedang berada di tangan Partai dan Pemimpin sekuler yang tentunya akan berusaha keras mensekulerkan pola pikir dan kehidupan bangsa;

2), Citra Partai Islam lagi  terpuruk yang selain karena faktor eksternal namun juga antara lain oleh perilaku Pengurus yang menjadi ‘ikon’ Partai Islam itu sendiri; dan

3). Umat Islam sudah terlanjur kian sekuler, semakin banyak yang menjauhi dan bahkan antipati terhadap Islam Politik karena dakwah ulama-mubaligh Islam umumnya hanya mengajarkan Islam lingkup tuntunan spiritual-ritualnya belaka. Materi dakwah dari para ulama-kyai-muballigh yang semacam itu pada dasarnya juga produk rekayasa lawan ideologis umat Islam untuk menaklukkan umat Islam dalam permasalahan bangsa-negara.

Untuk mampu mengatasi tantangan sebesar itu maka Partai Islam di Indonesia  harus mengambil langkah strategis yang bersifat tegas dan menyeluruh agar masih memiliki peluang bisa memenangkan pemilu sehingga berhasil  secara operasional merealisasikan ideologi yang diemban partainya demi kejayaan umat dan bangsa Indonesia. Langkah strategis tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama: Dalam gerak berpolitiknya Partai Islam harus tampak khas, menunjukkan tidak akan sama dengan perilaku Partai Sekuler. Agar umat bisa mengidentifikasi adanya sikap berbeda dari Partai Islam tersebut maka ikon Partai Islam tidak selayaknya memposisikan diri menjadi subordinasi (‘bawahan’)  dari penguasa sekuler yang sedang berkuasa yang berakibat  disadari atau tidak ikut mengetrapkan kebijakan-kebijakan sekuler dalam mengelola bangsa-negara. Umat harus diberi persepsi nyata bahwa cara memerintah negara oleh Partai Islam jika menang nanti akan jelas beda dengan cara Partai sekuler melalui sikap partai untuk menjadi kelompok yang tidak terlibat sebagai ‘pembantu’ penguasa sekuler. Alasan yang mengatakan bahwa dengan menjadi bagian pemerintahan sekuler walau pada posisi yang tersubordinasi masih bisa memperngaruhi kebijakan nasional melalui berbagai manuver interaksi antara ‘pembantu’ dengan yang ‘dibantu’ jelas tidak akan tampak oleh umat. Fakta bahwa ikon Partai Islam sebagai bagian dari pemerintahan sekuler yang sedang berkuasa menjadikan Partai Islam dipersepsi ikut melegitimasi kebijakan sekuler pada umumnya yang diambil penguasa. Sikap menjadi bagian dari pemerintahan sekuler dalam posisi subordinasi akan diartikan oleh umat bahwa Partai Islam itu memberi persetujuan dan membenarkan langkah-langkah pemerintahan sekuler yang sedang dilaksanakan. Persepsi umat seperti itu jelas merugikan partai Islam karena nantinya dalam pemilu umat akan menilai sama saja antara memilih Partai Islam dan Partai Sekuler. Asumsi umat seperti itu membuat umat lalu justru cenderung  untuk memilih Partai Sekuler karena mereka memang memiliki banyak keunggulan tehnis berorganisasi secara umum seperti dalam dana, fasilitas, cara berkampanye, dan semacamnya. Tidak boleh juga dilupakan bahwa dengan menjadi pejabat yang subordinatif terhadap penguasa sekuler maka ikon Partai Islam berisiko tinggi masuk dalam berbagai perangkap skenario-skenario kejahatan/kriminal yang akan dijadikan instrumen menghancurkan citranya.

Kedua: Partai Islam harus memperbaiki citranya sebagai partai yang memang koheren dengan syariat Islam, khususnya menunjukkan kualitas  bersih, jujur, terpercaya, anti kecurangan, anti maksiyat, dan membela kepentingan rakyat lemah. Citra semacam itu akan dapat dibentuk melalui pernyataan, sikap, dan perilaku Pengurus Partai Islam, khususnya mereka yang menjadi ikon utama Partai di semua tingkatan, terutama yang ada di level nasional. ‘Ikon’ Partai Islam harus merupakan figur yang terpuji karena perilaku pribadi dan keluarga dekatnya yang Islami. Ikon Partai Islam yang menjadi simbul partai dan akan selalu diamati oleh umat pada umumnya terletak pada figur Pimpinan terasnya, seperti Ketua Umum, Sekjen, Ketua Majelis Syuro, dan Pimpinan inti  lainnya termasuk mereka yang menjadi anggauta DPR-DPRD dari partai Islam itu. Dari berbagai hasil survey dan analisis politik dinyatakan bahwa kesan atau ‘image’ terhadap figur sentral partai  justru memegang 40% porsi kontribusi mengapa seseorang justru memilih suatu partai tertentu dalam pemilu. Oleh sebab itu maka mudah dimengerti mengapa IKON partai Islam akan terus-menerus menjadi sasaran tembak lawan ideologi partai Islam dengan cara dijadikan target kampanye negatif. Berbagai cara akan digunakan untuk terus merusak citra Islami dari Partai Islam itu di mata masyarakat. Karena adanya dana besar dan kekuasaan formal maka citra negatif akan relatif mudah untuk direkayasa lalu dilancarkan melalui berbagai media cetak maupun elektronik secara luas dan sambung-menyambung tiada putus, apalagi menjelang pemilu. Kampanye negatif  bahwa ikon Partai Islam tersebut terlibat dalam kasus korupsi ini dan itu, walaupun secara hukum ternyata dia tidak bersalah, akan terus mewarnai dunia informasi di masyarakat Pemberitaan pers secara berkala dengan tuduhan keterlibatan ikon Partai Islam pada perkara kriminal akan berdampak pada persepsi umat terhadap Partai Islam tersebut walau ternyata yang bersangkutan secara hukum dia bersih. Tuduhan insinuatif seperti itu memang merupakan bagian dari strategi musuh ideologis umat Islam untuk menghancurkan citra Partai Islam. Oleh sebab itu dalam membuat pilihan terhadap siapa yang seharusnya dipilih menjadi ikon Partai Islam harus memperhitungkan faktor penting ini agar Partai Islam mampu bertahan memiliki citra positif dan bisa menjadi Partai besar yang dipercayai dan didukung umat dan rakyat pada umumnya. Pimpinan teras yang dipilih seharusnya bukan figur yang potensial bisa dijadikan bulan-bulanan berita bahwa dia terlibat pada perbuatan-perbuatan tercela seperti korupsi, suap, pelacuran, perjudian, dan semacamnya.

Ketiga: umat Islam sudah lama terjerat arus berislam secara sepenggal, yakni berislam sekedar dalam hal spiritual-ritual belaka, sehingga umat menjadi tidak faham bahwa memilih Partai Islam  dalam pemilu adalah merupakan kewajiban syar’i bagi seorang muslim. Setiap muslim dewasa di Indonesia yang juga tentunya sebagai seorang warganegara jelas  tidak bisa terlepas dalam realitas politik, minimal dia akan menghadapi peristiwa pemilu, pilpres,  dan pilkada. Caleg mana yang dia pilih atau siapa calon Presiden atau calon Kepala Daerah yang dipilihnya seharusnya juga sesuai dengan tuntunan agama Islam. MUI sudah jelas memberi fatwa siapa yang harus dipilih dalam pemilu (lihat artikel sebelumnya). Lemahnya pemahaman  umat dalam masalah politik Islam seperti inilah yang mengharuskan ormas-partai Islam secepatnya bergerak melakukan koreksi secara masif. Program penyadaran umat akan pentingnya berislam secara kaffah (utuh) yakni tidak cukup berislam hanya sekedar menjalankan ritual-akhlak Islam saja, harus menjadi program utama Ormas-Partai Islam. Program ke arah itu bisa melalui  perbaikan materi dakwah yang benar di  mesjid-surau-pengajian, pengajaran agama Islam di sekolah, maupun saat melakukan aktifitas sosial lain. DALAM MASALAH INI ORMAS ISLAM MESTINYA BERPERAN BESAR. Jika umat pada umumnya sudah sadar bahwa sebagai muslim wajib hukumnya memilih tokoh dari Partai Islam yang memperjuangkan syariat DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA-BERNEGARA maka pasti tidak akan ada peluang Partai Sekuler memenangkan pemilu yang jurdil di Indonesia dalam era keterbukaan seperti sekarang. Umat Islam wajib hukumnya memilih caleg, capres,  dan calon kepala daerah dari Partai Islam. Sering ada pertanyaan: “Bukankah ada caleg dan calon Presiden-Kepala Daerah dari parai sekuler yang juga ingin menegakkan syariat sehingga masih boleh dipilih umat?” Jawaban pertanyaan seperti ini amat mudah karena  caleg dan Kepala Pemerintahan itu kan dikendalikan partainya sedang partainya tersebut jelas berideologi sekuler, non-Islam, jadi mustahil bukan?

Dengan memahami ketiga prinsip tersebut di atas kini akan mudah dianalisis bagaimana sesungguhnya peran ‘Money Politik’ dalam upaya menghancurkan Ormas-Partai Islam. Money Politik umumnya dilakukan jika ada proses pilihan pimpinan, apakah pilihan figur untuk menduduki jabatan kenegaraan (seperti pemilu) maupun pilihan posisi kunci dalam suatu Ormas-Partai politik.

Dalam proses pemilihan pejabat negara seperti pemilu, pilpres, dan pilkada, atau dalam lingkup lebih kecil seperti pemilihan di dalam kalangan DPR-DPRD saat voting menentukan kebijakan atau menunjuk orang untuk  mengisi jabatan strategis sering money politik bekerja. Pemilih didekati untuk memilih orang yang lemah kualitas dan integritasnya dalam membela kepentingan rakyat dan figur yang lebih mudah untuk dikendalikan oleh pelaku money politik yang umumnya mereka yang memiliki dana besar. Salah satu keburukan  sistem demokrasi liberal memang terletak di sisi ini, yakni dominannya peran pemilik modal atau ‘kapitalis’ (umumnya peran tersembinyi)  dalam proses pemilihan figur yang berwenang membuat kebijakan. Mereka mengarahkan agar proses pemilihan itu memilih figur yang nantinya akan dapat mereka kendalikan untuk membuat kebijakan yang menguntungkan si pemilik modal sehingga dana yang digunakan untuk menyuap akan bisa kembali berlipat secepatnya. Money politik dalam bentuk ini jelas berlawanan dengan ajaran Islam, memberi dampak merusak akidah dan syariah umat Islam dan merugikan masyarakat  secara keseluruhan. Money politik memang tidak bisa lepas  dan bahkan menjadi komponen dari sistem kapitalisme yang berorientasi untuk memenangkan para kapitalis dalam menguasai dunia. Sistem Kapitalis jelas lawan ideologi Islam yang berorientasi mengikis eksploitasi, anti ketidak jujuran, dan berorientasi mensejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Dimensi lain dari money politk yang  harus lebih diwaspadai umat adalah jika terkait dengan proses pilihan Pimpinan teras Ormas-Partai Islam.  Kewaspadaan umat perlu fokus pada masuknya infiltrasi lawan ideologis ormas-partai Islam melalui praktek money politik. Musuh ideologis Ormas-Partai Islam jarang melakukan money politik dengan cara vulgar seperti berupaya menggoalkan ‘orang mereka’ yang jelas sekuler menjadi pimpinan ormas-partai Islam. Praktek semacam itu pasti terlalu menyolok dan mudah ketahuan belangnya. Money politik justru digunakan dengan cara yang lebih halus seperti delegasi yang punya hak memilih diberi uang banyak agar menjatuhkan pilihannya pada figur calon yang masih memilki persaratan Pemimpin Ormas-Partai Islam namun relatif lemah pemahaman ideologi Islamnya sehingga akan mudah diajak bekerja sama, mudah diajak menjadi pengusung figur sekuler dalam pemilu, pilihan Presiden, dan pilkada, figur yang ambisius ikut berebut agar memperoleh  posisi kekuasaan formal walau hanya sebagai subordinasi dari penguasa sekuler, dan semacamnya.

Target maksimal money politik, umumnya lebih sering ditujukan pada Partai Islam, adalah mendorong terpilihnya figur yang nantinya tidak bersemangat membesarkan Partai Islam sebagai PARTAI IDEOLOGIS, kerja seadanya agar partai itu tetap ada namun dalam posisi kalah. Di saat pilihan terhadap figur ikon Partai Islam maka lawan ideologis Partai Islam akan bekerja keras bermain melalui oknum-oknum mereka yang ada di partai Islam tersebut. Melalui penyuapan kepada para pemilih dalam forum strategis seperti Konggres atau Muktamar itulah mereka beroperasi, kadang amat halus tapi juga bisa amat kasar atau mencolok mata. Tentu akan lebih berbahaya jika sifatnya halus, tidak semata langsung memberi uang, namun janji memberi fasilitas, memberi proyek, memberi bantuan untuk partai, dan semacamnya. Mereka tidak mengusulkan memilih figur yang kontroversial namun figur alternatif yang dipandang masih pantas namun akan mudah  ‘dikendalikan’ oleh lawan ideologis partai Islam. Jika tidak ditemukan figur yang dapat dikendalikan atau lemah ideologis sehingga mau menjadi subordinasi penguasa sekuler maka dipilihlah figur yang potensial mudah menjadi sasaran tembak untuk dirusak citranya, figur yang berpotensi mudah dijadikan bulan-bulanan pencitraan negatif. Rusaknya citra ikon partai Islam pasti akan merusak citra partai Islam tersebut sehingga mustahil partai Islam itu memperoleh simpati umat dan bisa menang dalam pemilu. Di situlah hebatnya permainan politik lawan ideologis partai Islam dan sayang masih tidak banyak fungsionaris partai Islam yang menyadarinya.

Money politik inilah yang kini lagi menghantui Ormas-Partai Islam khususnya di saat ormas-partai Islam sedang melakukan pergantian kepemimpinan. Sungguh ironis bahwa masih saja ada praktek money politik dalam ajang pemilihan Pimpinan teras Ormas-Partai Islam itu. Ormas-Partai Islam di Indonesia masih rawan terjerat money politik yang halus dan licin seperti yang diuraikan sebelumnya. Satu-satunya harapan adalah terus berusaha memurnikan ideologi para fungsionaris ormas-partai Islam agar bukan saja tidak bisa disuap tapi berani tegas bertindak membongkar adanya praktek penyuapan dalam forum-forum di partainya.. Secara syar’i hukum money politik amat terang, yakni haram dan akan memperoleh murka Allah swt. Money politik yang bentuk operasionalnya adalah penyuapan dilarang dalam syariat Islam. Pelaku dan yang menerima penyuapan itu akan masuk nereka jahannam di akherat nanti sedang di dunia pasti akan memperoleh banyak musibah. Money Politik memang momok yang diwaspadai dan harus dibongkar habis jika ditengarahi ada dalam forum ormas-partai Islam. Sungguh licin dan jahat praktek money politik itu.

Semoga dengan melaksanakan  ketiga langkah dasar di atas dan kesadaran tinggi akan jahatnya  money politik dalam perjuangan Islam maka dunia ormas-partai politik Islam di Indonesia akan bisa mengalami perubahan  positif yang bermakna. Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesai akan difahami dan dilaksanakan secara benar oleh umat, bukan hanya memahami dan melaksanakan sisi ritual-akhlak saja namun juga memahami dan melaksanakan sisi syariat sosial-politik-kenegaraan yang diajarkan Allah swt agar umat dan bangsa Indonesia secepatnya menjadi maju-jaya. Dengan pemahaman Islam yang benar dan utuh seperti itu insyaAllah Ormas Islam tidak lagi bersikap ‘independen’ terhadap perjuangan politik Islam dalam kiprah melakukan aktifitas mereak. Sedang bagi  Partai Islam insyaAllah akan dapat memenangkan pemilu saat  berhadapan dengan Partai Sekuler yang sudah merajai dunia politik Indonesia hampir sepanjang sejarah kemerdekaaan ini yang mengakibatkan berlarutnya berbagai keterpurukan umat dan bangsa Indonesia.

Indonesia, 19 Maret 2010

Entry filed under: Politik. Tags: , , , , , , , , , , .

WHEN ‘SCIENTIFIC FINDINGS’ ARE IN DISAGREEMENT WITH QUR’ANIC VERSES, the Area of Differences and the Rational of an Accurate Solution MENGAPA POLITIK KEBANGSAAN, BUKANNYA POLITIK ISLAM, Mengapa Ormas Islam Netral dalam Politik, Bukan Mendukung Politik Islam?

1 Comment Add your own

  • 1. Mohammad Hanafi  |  2 April 2010 at 16:39

    Uang memang berkuasa.Lihat saja berita hangat akhir-akhir ini. Hanya orang-orang yang sangat kuat imannya saja yang mungkin bisa tahan menghadapi godaan ini. Usaha kedua dan ke tiga tidak bisa dipisahkan. Memilih orang yang hati-hati dan sederhana (tawadu’), amanah, lebih mementingkan orang lain dst… sepertinya susah mencari orang yang seperti itu. Minimal sering solat berjamaah, sabar, mudah memaafkan kesalahan orang lain, tidak mudah marah dan banyak lagi ciri-ciri orang beriman yang penting untuk dicari pada orang yang akan kita percayai.
    Money politic, uang suap, apapun namanya, sekali lagi, hanya orang yang betul-betul beriman saja yang bisa menolaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: