ISLAM SEBAGAI PANDANGAN HIDUP VS ISLAM SEBAGAI ASESORIS

7 May 2010 at 15:58 4 comments

Siang ini tema khotbah Jumat yang diminta pada saya untuk dibahas adalah ‘Islam sebagai Pandangan Hidup’. Pada hari yang sama ada Pembukaaan Konggres Umat Islam Indonesia (KUII) di Jakarta oleh Presiden RI. Kemarin pagi Koran Republika  memuat rubrik Resonansi tulisan Azyumardi Azra tentang ‘Kelas Menengah Muslim Baru’  di berbagai negeri muslim termasuk Timur Tengah, Malaysia dan Indonesia. Saya mencoba merenungkan apa semua itu ada hubungannya?

Islam sebagai Pandangan Hidup adalah tema lama, mengapa diminta untuk dibahas lagi dalam khotbah Jumat oleh sebuah mesjid besar Surabaya (Mesjid Mujahidin yang jamaah Jumatnya ribuan orang). Apakah aktifis Islam kini lagi gelisah bahwa Islam sebagai Pandangan Hidup sudah berganti menjadi Islam sebagai Asesoris Kehidupan yang setiap saat bisa digeser, ditutupi, atau bahkan dibuang dan diganti yang lain. Jika Islam sekedar sebagai asesoris lalu apa yang masih tersisa pada hati-nurani manusia muslim itu?

Di dalam banyak negeri Muslim yang katanya mengalami ‘economic booming’ seperti Timur Tengah dan beberapa Negara Asia termasuk Indonesia telah tumbuh Kelas Menengah Muslim Baru yang ternyata berciri menyedihkan yakni mereka bergaya hidup konsumerisme, bermegah-megah, berfoya-foya. Jika masih dikaitkan dengan Islam maka itupun terbatas pada sisi spiritulitas dan ritual belaka, antara lain mereka suka berkunjung ke lokasi situs sejarah Nabi-Nabi di nun jauh di luar negeri sana,   mengumpulkan barang seni Islam yang langka-mahal, pergi haji-umrah berkali-kali dengan paket khusus, atau menumpuk busana fashionable yang harganya selangit. Begitulah kiranya ciri Kelas Menengah Muslim Baru yang diberi sebutan pula ‘modern-kontemporer’. Ciri mereka itu jelas amat jauh berbeda dengan Kelas Menengah Muslim masa kejayaan Islam (sebut saja Kelas Menengah Muslim Lama) yang diwakili oleh kalangan ulama, ilmuan, pedagang, professional, dan seniman yang hidupnya jauh dari konsumerisme yang dilarang dalam ajaran Islam. Mereka justru menggunakan status sosialnya, apakah kemampuan intelektualitas ataupun ekonomi, untuk berjuang membenahi kelemahan umat-bangsa-negerinya yang masih jauh dari kondisi ideal. Kelas Menengah Muslim ‘Lama’ adalah pejuang Islam, pendombrak kebobrokan sosial, sedang Kelas Menengah Muslim ‘Baru’ adalah pemboros dan egosentris. Saya jadi ingat sinyalemen Allah swt dalam surat At Takaasur. Mengapa sama-sama muslim dan sama-sama menyandang status Kelas Menengah namun bisa menjadi berbeda karakter seperti itu? Jawabnya sebenarnya sederhana: “Kelas Menengah Lama tumbuh dalam negeri yang ditata sesuai Sistem Sosial-Politik Islami sehingga mereka masih memandang Islam sebagai Pandangan Hidup untuk diikuti semua ajarannya secara utuh termasuk ajaran akhlak mulia dan semangat jihad Islamnya, sedang Kelas Menengah Baru tumbuh dalam negeri yang dikelola dengan  Sistem Sosial-Politik Sekuler yang materialistic-hedonistik dan memandang Islam hanya sekedar sebagai Asesoris Spiritual-Ritual dalam kehidupan”.

Esensi Islam sebagai Pandangan Hidup adalah memberi jawaban atas dua pertanyaan mendasar, yakni: “Untuk apa manusia itu hidup dan Bagaimana manusia itu seharusnya menjalani kehidupannya”, Muslim yang berkualitas baik akan berprinsip bahwa hidup di dunia fana itu untuk beribadah (dalam arti  luas bukan hanya ritual) pada Allah dan menjalani aktifitas hidupnya (dalam semua dimesi kehidupan) harus selalu sejalan dengan tuntunan Allah terkait dengan fungsi yang sedang dikerjakan. Sebagai contoh: seorang muslim yang memiliki Pandangan Hidup Islam akan melakukan semua kegiatan hidupnya (berfikir, bicara, bekerja, berkarya, berjuang, dll) bermotif ibadah pada Allah swt, dan melakukannya sesuai dengan syariat,  tuntunan Islam yang diajarkan Allah swt terkait masing-masing fungsi tersebut. Sewaktu dia melakukan shalat maka dia melaksanakannya dengan niat ibadah dan menjalankannya sesuai tuntunan shalat Islam. Sewaktu dia mengurus keluarga maka dia melakukannya  dengan niat ibadah pada Allah dan mengerjakannya sesuai dengan syariat terkait pengelolaan keluarga Islami. Sewaktu dia menjadi pejabat publik (mulai Presiden sampai RT) maka dia melakukan tugas politiknya dengan niat ibadah dan melaksanakan semua aktifitas politik terkait jabatan publiknya sesuai tuntunan syariat sosial-kenegaraan yang diajarkan oleh Islam. Dengan Pandangan Hidup seperti itu maka tatkala si muslim naik status sosialnya  menjadi anggauta kelompok Kelas Menengah atau bahkan menjadi Elite Masyarakat yang lebih bergengsi dia akan tetap pada jalur Islam, tidak menjadi lupa daratan (lihat artikel: Menjadi Pribadi Muslim yang Islami).

Jika Islam hanya sebagai Asesoris Kehidupan maka tatkala seorang muslim  berhasil naik  status sosialnya menjadi anggauta Kelas Menengah apalagi jika sampai menjadi Elite di negerinya maka dia makin lupa akan ajaran Islam dimensi akhlak dan misi perjuangan jihad sosialnya dan malah mudah berubah menjadi binatang ekonomi yang rakus, boros, dan pesolek (maksimal dia masih bertahan dengan spiritual dan ritual Islam). Cara hidup pribadi seperti itu jelas melawan ajaran Islam dan pasti akan menambah  efek rusak pada tatanan kehidupan berbangsa-bernegaranya. Kasus semacam ini mudah terjadi jika si muslim hidup dalam Negara yang tatanan sosial-politiknya dikelola tidak secara Islami,  dan yang berorientasi hanya untuk membuat warganegara mendapat rasa aman dan sejahtera ekonominya belaka. Sistem sosial-politik seperti itulah yang kini memang sedang mendominasi kehidupan negeri muslim, sistem sosial-politik Kapitalisme-Sekularisme yang dikembangkan oleh ajaran non-Islam.

Konggres Umat Islam Indonesia (KUII) yang kini lagi digelar dan bertema pokok ‘Kepemimpinan dan Peningkatan Ekonomi Umat’ nampaknya masih berpotensi tidak akan merubah nasib umat Islam dan rakyat di negeri ini selama hasilnya tidak mengarah untuk memberi tekanan dan penyadaran pada para penguasa agar secepatnya meninggalkan Sistem Sekuler-Kapitalistik dalam mengelola Indonesia. Para penguasa harus disadarkan bahwa sistem seperti itu adalah ssitem yang dimurkai Allah swt dan akan membawa negeri ini terus menjadi bulan-bulanan eksploitasi Kekuatan Kapitalisme Internasional yang mengincar kekayaan alam tanah air untuk kejayaan mereka dan memelaratkan rakyat negeri ini. Mengelola Indonesia sesuai dengan tuntunan sosial-kenegaraan Islami seperti kebijakan ekonomi, politik, pendidikan, hukum, budaya, hankam Islami seperti yang diajarkan Allah swt dan dicontohkan Nabi Muhammad saw akan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia, bukan yang beragama Islam saja, dan akan memhuat Indonesia menjadi negeri maju-aman-sejahtera disegani dunia internasional. Umat Islam juga harus segera disiapkan untuk faham dan mendukung Islam Politik, tidak hanya berislam secara spiritual-ritual belaka. Mereka perlu didorong melalui KUII supaya sadar agar memilih pemimpin bangsa, baik untuk lembaga legislative, eksekutif, dan yudikatifnya, yang berorientasi pada figur yang mendukung penegakan syariat sosial-kenegaraan Islami.  InsyaAllah dengan orientasi seperti itu maka KUII baru akan bisa memberi makna ke depan. Mampukah KUII kali ini untuk itu? Mari kita saksikan hasil dan kelanjutan prosesnya.

Indonesia, awal Mei 2010

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , , , , .

DEMOKRASI BUKAN IDEOLOGI, DEMOKRASI ADALAH METODE MEMILIH PEMIMPIN YANG BERKUALITAS SEHINGGA BERMANFAAT UNTUK RAKYAT MARKET BASED EDUCATION vs ENVIRONMENT BASED EDUCATION, Mana Yang Bermanfaat untuk Bangsa Indonesia?

4 Comments Add your own

  • 1. Abdul Karim  |  8 May 2010 at 09:58

    Di negeri yang lebih mengedepankan pengkultusan individu seperti Indonesia, memilih pemimpin yang baik memang perlu mendapatkan perhatian serius. Masalahnya, masyarakat sudah terlanjur terbagi dalam kelompok-kelompok. Ada nasionalis, agamis dengan berbagai variasinya, sekuler, dan lain sebagainya, termasuk oportunis. PR terbesar kita adalah bagaimana menyatukan kelompok-kelompok yang ada, paling tidak kelompok Islam.
    Ada perbedaan besar antara orang Islam yang NU, Muhammadiyah, serta yang Nasionalis. Belum lagi kalau kita bicara orang Muhammadiyah yang PAN, PBB, PKB, PKS, dan lain sebagainya. Kalau orientasinya pemimpin nasional, peran partai jelas dominan, namun bila non formal, saya sampai saat ini belum melihat tokoh Islam yang menonjol yang bisa berterima sekaligus ngayomi firqoh-firqoh yang ada. Akhirnya, di samping berusaha sesuai dengan kemampuan/ metode kita, wajib kiranya kita selalu memohon pertolongan ALLAH SWT, memohon yang disertai kesabaran dan sholat yang berkualitas. Wallahu ‘alam.

  • 2. Mohammad Hanafi  |  11 May 2010 at 07:25

    Yang bisa kita lakukan dengan cepat yalah:
    1.Marilah kita berdoa bersama dengan tulus dan ikhlas, semoga para pemimpin kita mendapat taufik dan hidayah Allah SWT, agar mereka memimpin negeri tercinta ini sesuai dengan tuntunan Allah.
    2.Marilah kita masing-masing tetap mempelajari tuntunan Allah Al Qur’an dan Al Hadiz, semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dunia dan akhirat.
    3.Bagi para ustadz atau kiyai, hendaknya menjadi tauladan bagi umatnya. Hendaknya hati-hati dalam menjalani hidup ini, agar tetap dipercaya dan ditauladani.
    4.Apapun pekerjaan kita, seperti pak Fuad tulis, hendaknya kita bekerja diniati untuk ibadah, bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan akherat.
    Semoga.

  • 3. Teguh  |  17 May 2010 at 11:15

    Terpuruknya umat Islam dalam kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan bahkan bulan2 an kekejaman kaum kafir di seluruh penjuru dunia hampir 1 abad terahir adalah buah dari penyingkiran Islam dari kehidupan. Islam hanya dijadikan sebagai acesoris pelengkap kehidupan. Sementara kehidupan diatur oleh sistem buatan manusia yg jelas2 bertentangan dengan Islam. Dalam bidang pemerintahan diadopsi sistem demokrasi, dalam bidang ekonomi, negara lebih memilih menerapkan sistem ekonomi kapitalis liberal, dalam sistem sosial marak budaya hedonisme yg materialistik, dalam dunia pendidikan lebih pro pd sistem pendidikan sekuler yg abai thd aspek agama. Akibatnya umat Islam hanya menjadi buih di tengah laut. Jumlahnya banyak tapi tanpa kekuatan.

  • 4. M Zainuddin Qodir  |  18 May 2010 at 09:59

    Kok masih ada kasta dalam pengamalan Islam. Tugas manusia itu hanya mengamalkan dan memperjuangkan syariah Islam. Kalau ada yang mengamalkan atau menjadikan hanya simbol, resikonya ditanggung sendiri. Toh semua ada pertanggungan jawabnya. Kita hanya diperintah menyeru, memanggil, mengajak, bukan memaksa, dan itu adalah selemah-lemah iman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: