MARKET BASED EDUCATION vs ENVIRONMENT BASED EDUCATION, Mana Yang Bermanfaat untuk Bangsa Indonesia?

17 May 2010 at 17:25 Leave a comment

Upaya mencari model Pendidikan Nasional yang bisa  menghantar Indonesia menjadi Negeri maju dan sejahtera nampak belum juga tuntas. Umumnya pakar mengusulkan model yang sudah ada di luar negeri namun lalu terbentur pada kenyataan lingkungan (Sosial dan Biofisik) di negeri sendiri yang tidak kondusif sehingga gagal mencapai sasaran mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana menjadi cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

Kalau dirunut kondisi masa kini dari awal kemerdekaannya tampak jelas bahwa pendidikan nasional belum mampu menunjang pembangunan Indonesia secara menyeluruh, walau undang-undang pendidikan nasional sudah dicanangkan. Keluhan demi keluhan akan gagalnya model pendidikan nasional masih terus terjadi, bahkan akhir-akhir ini semakin banyak warganegara yang meneteskan air mata jika sudah memasuki masa-masa pendaftaran anak sekolah dan pengumuman kelulusan anak didik. Besarnya anak didik yang tidak lulus ujian nasional atau gagal lolos ujian masuk jenjang pendidikan lebih tinggi membuat banyak orang tua menangis. Keluhan akan beaya yang amat mahal untuk memasukkan anak ke sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi terdengar hampir di seluruh penjuru tanah air, bukan hanya untuk masuk sekolah favorit, namun juga untuk sekolah standar biasa. Kebijakan Pemerintah yang mengijinkan sekolah negeri memungut uang tambahan untuk meningkatkan mutu pendidikan (kasus SBI misalnya) bahkan menjadikan sekolah negeri mengarah pada komersialisasi pendidikan. Kecendeungan bahwa sekolah negeri cenderung berlomba menjadi sekolah favorit dengan program khusus akan melahirkan strata sosial baru yang kontra produkrif, yakni terbentuknya kelompok orang pintar yang sekaligus kaya namun teralienisasi (terasing) dari masyarakat umum yang miskin dan tidak pintar. Apa memang benar cita-cita kemerdekaan bangsa seperti itu?

MARKET BASED EDUCATION

Model pendidikan Indonesia yang kini sedang dianut pada dasarnya adalah Pendidikan berbasis Kebutuhan Pasar (Market Based Education). Anak didik dipacu memiliki ketrampilan untuk bisa mengisi lowongan pekerjaan di pasar ekonomi yang variatif dan semakin mengglobal. Untuk mengejar kemampuan mengisi lowongan pekerjaan itu maka sekolah kejuruan semakin diprioritaskan, demikian pula upaya pendidikan mencapai tingkat kompetensi tinggi dibuka lebar, walau untuk itu pemerintah tidak memiliki dana sehingga menyerahkan pada kebijakan sekolah untuk memungut dana pendidikan pada orang tua. Bukankah itu yang membuat beaya pendidikan di Indonesia semakin tidak terjangkau oleh rakyat negeri ini yang umumnya masih miskin. Ingat bahwa angka kemiskinan masih sekitar 15% dan jika ambang kemiskinan dinaikkan sedikit saja diatas standar BPS maka angka kemiskinan di negeri ini bisa mencapai 60% penduduk negeri. Pemerintah sepertinya memang lalu berlepas tangan menghadapi krisis tersebut dan membiarkan persaingan dalam proses pencerdasan rakyatnya terjadi secara  liberalistik.

Pada sisi lain, dunia pendidikan di negeri ini juga nampak merisaukan jika ditinjau dari teori pembangunan ekonomi. Dari aspek perkembangan pasar sudah mudah ditebak siapa gerangan yang mampu menciptakan dan memiliki  lapangan pekerjaan. Jawabannya mudah: para pemilik modal alias kapitalis. Mereka itu adalah insan ekonomi yang cenderung untuk terus berupaya mendapat keuntungan dalam bisnis, tidak peduli sudah seberapa besar harta kekayaan yang dipunyainya. Untuk tujuan itu mereka antara lain akan mencari pekerja yang kemampuannya semakin tinggi sehingga lebih produktif bagi usahanya namun beayanya murah, dan kalau perlu mencarinya dari negara lain tanpa peduli dengan tugas-kewajiban  pemerintah setempat  mengangkat kelompok miskin dan tertinggal. Sebagai bagian strateginya  pemilik modal lalu berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab meningkatkan kemampuan ekonomi pekerja dalam jangka panjang  yang notabene mengabaikan karir masa depan para pekerjanya. Mereka menjadi begitu pragmatis, berfikir amat sederhana: ada usaha, ada pekerja, dan di dapat keuntungan besar. Untuk memenuhi sasaran itu  maka para pemilik modal lalu menciptakan lahan bisnis baru, yakni usaha yang bergerak menghimpun tenaga kerja. Maka terbentuklah ‘sistem outsourcing’, yakni bisnis penyedia tenaga kerja yang menyediakan pekerja dengan sistem kontrak bagi kepentingan pemilik modal. Dalam sistem ‘outsourcing’ tersebut tenaga kerja semakin tidak berdaya dan tidak dapat masuk sebagai bagian dari kepemilikan suatu perusahaan di mana dia bekerja. Mereka hanya memperoleh gaji sesuai dengan kontrak kerja sehingga terbuka untuk diberhentikan jika ada pekerja lain dengan gaji sama namun lebih berketrampilan. Maka perusahaan si pemilik modal terbebaslah dari tanggung jawab terhadap karir dan masa depan para pekerjanya. Pekerja pada dasarnya tidak memperoleh penghargaan memadai atas prestasi kerjanya pada perusahaan kecuali mungkin bagi pekerja yang berada di level puncak yang itupun sering pula terkait bias rasial dan kroni. Nasib pekerja semakin terabaikan dan mudah tersisih oleh proses peningkatan kualitas ketrampilan kerja yang diciptakan oleh sistem pendidikan formal dan non-formal. Begitulah proses berlangsung yang oleh sistem berkaitan itu, katakanlah sistem outsourcing, sistem pendidikan berorientasi pasar, dan kebijakan pemerintah yang mendukung maka lengkaplah sudah proses pemiskinan pekerja dan semakin mudahlah pengusaha kakap mengambil keuntungan besar. Eksploitasi ekonomi oleh pemilik modal kepada pencari kerja yang sedang berjuang mengatasi ketidakberdayaannya semakin terakselerasi. Bukankah amat manusiawi bila pekerja juga sebagai pemegang ‘saham’ perusahaan dan memperoleh jaminan masa tua, karir meningkat oleh prestasi, dan mendapat bagian keuntungan perusahaan? Dia boleh saja diberhentikan jika berperilaku buruk keluar standar kelayakan.

Proses sosial-ekonomi yang eksploitatif seperti itu memang diinisiasi dan digerakkan oleh para kapitalis skala global. Konyolnya banyak Negara berkembang tidak menyadari rekayasa tersebut sehingga lalu terseret ke perangkap itu dan menjadi korban proses eksploitasi ekonomi skala global tersebut. Akan lebih konyol lagi jika ada oknum  Pemerintahan Negara malah menyiapkan diri menjadi kaki-tangan kaum kapitalis global demi sedikit remah roti dari mereka dengan tega-teganya mengorbankan kepentingan bangsa dan negaranya.

Pada situasi nasional-global seperti itu justru Pemerintah Indonesia era reformasi ini membolehkan sistem outsourcing dalam kebijakan  ketenaga-kerjaan dan memberi peluang jalur pendidikan negeri untuk mengembangkan kelas khusus dengan beaya yang dibebankan pada orang tua. Maka mudah ditebak akhir seluruh proses tersebut, yakni terjadinya eksploitasi oleh pemilik modal yang sudah kaya raya pada para pencari kerja yang miskin dan orangtua calon tenaga kerja yang pas-pasan serta memeras keringat demi menyekolahkan anaknya  dalam sistem pendidikan yang semakin mahal. Maka terjadinya eksploitasi ekonomi secara berjenjang dan terstruktur yang berdampak lebih memiskinkan si miskin dan memperkaya si kaya di Indonesai tidak dapat terhindarkan. Eksploitasi ekonomi secara struktural dan konglomerisasi elit kapitalis di Indonesia terjadi karena adanya peluang yang diberikan oleh pengambil kebijakan nasional yang antara lain keliru dalam memilih Sistim  Pendidikan Nasionalnya.

ENVIRONMENT BASED EDUCATION

Bisakah model pendidikan berbasis pasar seperti yang diuraikan di atas akan berhasil menggapai cita-cita pendiri bangsa, yakni merdeka untuk mencerdasan rakyat yang mampu membawa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Jawabannya: TIDAK. Untuk mengoreksi terjadinya akselerasi pemiskinan oleh Sistem Pendidikan Nasional berbasis Pasar maka model pendidikan nasional harus secepatnya dibawa keluar dari perangkap kapitalisme-liberalisme internasional. Pemerintah harus meninjau kembali strategi pembangunannya, melihat nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia, dan kenyataan faktual lingkungan sosial-biofisik negeri sendiri yang semakin terpuruk. Pendidikan tidak boleh menjadi komoditas ekonomi atau obyek dari kebutuhan ekonomi, sebaliknya  pendidikan harus berperan sebagai subyek untuk memberi arah pengembangan  ekonomi dan pembangunan menyeluruh dari bangsa Indonesia. Bukankah itu premis yang dipakai saat menentukan kenaikan anggaran pendidikan menjadi sebesar 20%? Untuk itulah alternative model pendidikan nasional menjadi penting agar segera diterapkan, pendidikan yang mengarah pada standard kualitas lingkungan, baik lingkungan sosial-budaya maupun lingkungan biofisiknya. Model Pendidikan Nasional berorientasi membangun Kualitas Lingkungan secara utuh menjadi urgen dan penting untuk segera diterapkan demi keselamatan bangsa dan tanah air Indonesia. Sistem Pendidikan semacam itu dinamakan “Sistem Pendidikan berbasis Lingkungan (Environment based Education)”. Anggaran pendidikan dalam APBN yang 20% diperkirakan cukup untuk memulai dan mengembangkan model baru tersebut. Dengan model Pendidikan Nasional berbasis Lingkungan maka pendidikan nasional akan mampu menghantar warga negara memiliki Nilai luhur-mulia dengan kemampuan keilmuan-ketrampilan teknologi tinggi sehingga membentuk lingkungan sosial-budaya yang prima, disertai Lingkungan biofisik Indonesia yang sehat dan terjaga kekayaannya  sehingga kondusif  untuk mencapai Indonesia maju dan sejahtera.

Berikut ini diuraikan secara ringkas prinsip dasar Sistem Pendidikan berbasis Lingkungan:

  1. BASIS LINGKUNGAN: Pendidikan berbasis lingkungan pada dasarnya bermakna memakai lingkungan sebagai basis orientasi pendidikan. Lingkungan memiliki dua peran dasar dalam proses pendidikan yakni: 1). lingkungan memberi pembelajaran pada anak didik (educative environment); dan 2). lingkungan harus diperbaiki oleh produk pendidikan (better environment by education). Lingkungan dalam proses pendidikan harus memperhatikan dua aspek utama lingkungan, yakni: 1). lingkungan sosial-budaya yang isinya adalah sistem nilai, perilaku, dan produk budaya masyarakat; dan  2). lingkungan biofisik yang isinya adalah kondisi tanah air sebagai habitat bangsa Indonesia. Keseluruhan aspek lingkungan melalui proses pendidikan akan diarahkan menjadi kondisi yang prima dengan standard (baku mutu) yang secara obyektif mampu membawa negeri ini menjadi negeri yang besar dan maju-aman-sejahtera. Pendidikan di negeri ini juga harus mengevaluasi  kondisi lingkungan dari waktu ke waktu yang nyata sekali sedang bergerak menjadi semakin rusak dalam semua dimensinya. Dari analisis kualitas lingkungan Indonesia itulah maka manusia Indonesia sudah harus mulai dibentuk oleh proses pendidikan yang benar dan produk pendidikan semacam itu pulalah yang akan merubah kualitas lingkungan menjadi semakin baik. Proses saling pengaruh mempengaruhi secara timbal balik tersebut akan berjalan berkesinambungan merupakan pusaran spiral bergerak positif menuju kondisi negeri ideal. Pendidikan berproses mengacu pada arahan baku mutu kondisi lingkungan sosial-budaya dan biofisik ideal dan produk pendidikan itu pula yang membuat keseluruhan lingkungan Indonesia semakin membaik bukan memburuk. Kedua proses tersebut akan terus berjalan berkelanjutan menghantar bangsa Indonesia mencapai titik tertinggi kondisi sosial-budaya dan biofisik Indonesia yang makin sempurna.
  2. Lingkungan Sosial-Budaya, sisi Sistem Nilai Bangsa Ideal: Pendidikan harus mengacu pada kondisi sosial budaya bangsa yang ideal. Dari sisi lingkungan sosial-budaya itu, yang harus diprioritaskan adalah sistem nilai ideal yang akan dibentuk oleh proses pendidikan nasional. Negeri ini berdasar Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Dari prinsip ini jelas bahwa sistem nilai dasarnya adalah bahwa bangsa Indonesia itu harus menjadi bangsa yang taat dalam agama yang dipeluknya. Maka Nilai dasar pertama yang harus dibentuk oleh proses pendidikan adalah membuat anak didik menjadi warga negara yang Taat dalam ajaran Agama, dengan ukuran operasional yang tegas seperti mau melakukan ritual agama, berakhlak jujur-benar-amanah. Nilai dasar kedua yang kemudian juga harus diproses oleh pendidikan formal adalah keutamaan memilki kemampuan sains dan teknologi. Nilai ini membawa arahan agar pendidikan memberi kemampuan pada warga negara agar secepatnya menjadi cerdas dan pintar, yang bentuk operasionalnya antara lain menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknologi. Anak didik jangan diproses untuk dijadikan pekerja otot dan penghibur yang di masa depan akan digantikan oleh robot dan komputer. Sebaliknya anak didik sejak dini harus disiapkan menjadi orang cerdas, trampil, berwawasan keilmuan-teknologi luas, kreatif mencipta kerja dan membuat dirinya bisa bekerja serta membuat lapangan kerja untuk orang lain. Sain dan teknologi harus dimiliki dan dikuasai oleh anak didik sehingga pengembangan sekolah lebih diarahkan kepada membangun sekolah untuk peningkatan keilmuan dan ketrampilan teknologi. Nilai dasar ketiga yang harus dikembangkan dalam proses pendidikan berbasis lingkungan di negeri ini adalah nilai akan pentingnya kebugaran fisik jasmaniah dan kemandirian hidup. Dengan nilai ini maka rakyat Indonesia diproses menuju kepemilikan kondisi bugar dan berjiwa matang untuk berprestasi. Mereka dididik biasa mandiri, mulai dengan cara hidup sederhana namun sehat jasmani-rohani. Nilai dasar keempat yang harus dikembangkan adalah nilai akan pentingnya perilaku berkesadaran sosial, suka menolong orang lain, bukan sikap egosentris dan elitis. Nilai gotong royong adalah nilai luhur bangsa yang sekarang ini kecenderungannya semakin terkikis digantikan oleh nilai baru dari budaya asing yakni hidup hedonis dan egois. Bangsa Indonesia semakin terjerumus pada nilai merusak tersebut padahal ketahanan suatu bangsa terletak pada nilai kegotongroyongan rakyat, saling membantu, saling menolong, saling peduli, dan saling menenggang rasa. Untuk menumbuhkan nilai mulia seperti ini jelas tidaklah cocok jika ada sekolah elitis yang muridnya hanya anak orang kaya dengan tinggi IQ. Sekolah semacam itu kontra produktif terhadap pembangunan bangsa. Anak didik harus disadarkan sejak dini bahwa banyak temannya yang kondisinya masih kurang mampu, baik dalam hal intelektualitas maupun ekonomis, yang mereka itu spontan harus dibantu dengan segala daya upaya. Jika nilai ini dikembangkan sejak dini oleh proses pendidikan nasional maka tidak akan hadir di negeri ini sekolah yang mengejar kompetensi berstandar internasional dan eksklusif demi kepentingan pemilik modal raksasa.
  3. Lingkungan Bio-Fisik, sisi Kondisi Kualitas Habitat Indonesia: Pendidikan berbasis lingkungan harus memberikan kondisi lingkungan yang edukatif bagi warga negara, khususnya para anak didik. Benarkah lingkungan Indonesia sudah mendukung proses pendidikan? Dengan kata lain benarkah lingkungan Indonesia sudah menjadi lingkungan yang edukatif, bukan malah merupakan lingkungan yang merusak pesan pendidikan yang diajarkan di sekolah dan keluarga? Apakah program TV, pentas hiburan, gelanggang olahraga, tempat publik, sebagai bagian dari habitat biofisik sudah memberi suasana edukatif bagi anak didik, bukannya malah menghancurkan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam proses pendidikan formal? Jawabannya sudah bisa ditebak, yakni lingkungan Indonesia amat tidak edukatif bagi pembentukan sistem nilai ideal generasi muda bangsa. Betapa sering program TV nasional sarat adegan kekerasan dan pornografi serta perilaku konyol termasuk kecurangan dan tipudaya. Lihat pula tempat publik seperti di pasar, taman, tempat hiburan, dan semacamnya yang juga dipenuhi poster dan iklan yang tidak mendidik. Suasana lingkungan biofisik Indonesia yang cenderung membawa masyarakat untuk tidak peduli pada ajaran agama juga semakin menonjol. Begitu juga perilaku pejabat negara dan daerah serta pola hidup orang kaya yang tidak memberi teladan positif bagi proses pendidikan. Perilaku korup, mengumbar nafsu, egosentris, pamer kekayaan, dan bahkan eksploitatif pada bawahan serta bergaya hidup bermegah-bermewah-pesolek, apakah bisa berperan sebagai habitat edukatif pada ‘anak didik’? Keteladan pejabat dan orang kaya di negeri ini masih amat lemah sehingga akan terjadi proses netralisasi atau bahkan perusakan kualitas anak didik di ‘malam hari’ setelah mereka memperoleh bekal materi bagus di sekolah pada  ‘siang harinya’. Sisi lain dari pendidikan berbasis lingkungan adalah perlunya anak didik sudah dibiasakan memiliki kesadaran perbaikan lingkungan hidupnya. Sekolah harus memberi pendidikan dan pelatihan pada anak didik agar mereka peka lingkungan sekitar dan proaktif bersemangat tinggi membenahi kondisi lingkungan yang berpotensi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Mereka sejak dini perlu dilatih agar kritis menilai kualitas lingkungan di mana mereka hidup dan tinggal, lingkup manapun (keluarga, sekolah, pekerjaan, kampung, kota, dan negerinya) dan berupaya untuk membenahi kekurangannya. Sudahkah hal seperti itu menjadi perhatian pada pendidik?

Untuk bisa membangun sistem pendidikan berbasis lingkungan seperti yang diuraikan di atas amatlah diperlukan pembenahan kurikulum, kualitas pengajar yang mendukung, serta penataan lingkungan mikro di sekolah dan lingkungan makronya di habitat luas negeri ini. Proses pembenahan ke arah itu memerlukan peran aktif Presiden dan DPR yang  harus bertindak tegas terarah secara benar, tidaklah cukup jika hanya mengharapkan perubahan melalui  kebijakan di tingkat Menteri Pendidikan Nasional saja. Berbagai sektor yang jelas terkait dengan pembenahan lingkungan hidup ini harus dilibatkan, seperti departemen agama, ekonomi, kepolisian-kejaksaan-peradilan, dan media masa cetak maupun elektronik. Pembenahan di berbagai lapangan tugas di atas harus segera diintensifkan secara maksimal untuk mengatasi ketertinggalan yang telah terjadi selama ini.

Semoga artikel ini bermanfaat, baik untuk pengambil keputusan di tingkat nasional maupun di tingkat lokal seperti sekolah dan keluarga, demi kejayaan dan kemajuan Indonesia di masa depan.

Indonesia, pertengahan Mei 2010

Entry filed under: Pendidikan. Tags: , , , , , , , , .

ISLAM SEBAGAI PANDANGAN HIDUP VS ISLAM SEBAGAI ASESORIS ISLAM RITUAL, APA BISA MENYELAMATKAN UMAT DAN BANGSA INDONESIA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: