ISLAM RITUAL, APA BISA MENYELAMATKAN UMAT DAN BANGSA INDONESIA?

29 May 2010 at 06:54 2 comments

Seorang Gurubesar dan Rektor sebuah Universitas Islam Negeri di Indonesia memberi komentar atas tulisan seorang Tokoh tentang Syarat Kepemimpinan KPK yang ideal yang dimuat di harian Republika. Komentar dalam bentuk sms itu ditujukan kepada penulis di media tersebut namun juga dikirimkan ke saya sehingga saya juga lalu tergelitik untuk menjawabnya. Beginilah isi smsnya dan jawaban sms saya:

Teman: Yth buya …(nama penulis), kemarin saya baca resonansi Buya di Republika. Di akhir tulisan itu Buya mengajukan syarat-syarat pimpinan KPK. Ketika membaca tulisan itu  saya berfikir sebaliknya, apa masih perlu KPK itu? Pikiran saya muncul seperti itu karena bangsa ini lagi sakit.Buya menyebut mati syaraf. Bukan fisiknya yang mati tapi nuraninya atau syarafnya. Karena itu yang diperlukan bukan KPK , tetapi sesuatu yang bisa menghidupkan saraf atau nurani itu. KPK hanya bisa melihat aspek fisik bukan yang terdalam dari bagian manusia. Karena itu sehebat apapun akan gagal.Menghidupkan nurani atau saraf, jika mau, mudah. Dimulai dari elitnya , sederhana saja caranya. Pagi para elite itu , mulai Presiden, Wakil Presiden, Pejabat Tinggi Negara yang muslim, Gubernur, Bupati, hingga Lurah, termasuk Tokoh-tokoh Muhammadiyah, NU  di semua tingkatan dll, jam 04.00 pagi sudah di Mesjid, subuhan berjamaah. Dibangun kebangkitan Agama atau Pancasila. Demikian pula elite yang Kristen menampakkan diri di Gereja, Hindu di Pura, Kong Hu Cu di Kelenteng, dst. Murah Buya, tapi apa mau ya? Sampai di sini saya juga ragu. Wassalam….(nama pengirim).

Saya: Benar, itu mulainya, lalu taat Syariat Sosial-Kenegaraan yang diperintah Allah SWT. Jika hanya Ritualnya saja TIDAK AKAN MEMBERI EFEK SOSIAL  KARENA SUNNATULLAHNYA BEGITU.

Saya tunggu ternyata sms saya tidak dikomentari. Dalam berbagai kesempatan saya sudah menyampaikan bahwa Ritual itu adalah ranah pribadi atau personal yang hanya akan memberi efek lingkup yang sama, yakni Pribadi atau Personal itu yang mau melaksanakan perintah Allah SWT. Untuk mampu mengubah sebuah Keluarga menjadi sakinah maka diperlukan pula PENGETRAPAN SYARIAT ISLAM TERKAIT PENGATURAN KELUARGA. Untuk mampu mengubah sebuah Negara yang sakit menjadi negara yang sehat berkualitas Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur yang diperlukan adalah PENGETRAPAN SYARIAT SOSIAL-KENEGARAAN (yakni kebijakan nasional dalam bidang Poleksosbudhankamling yang Islami). Begitulah esensi sunnatullah dalam kehidupan di dunia fana ini. Jadi aksiomanya adalah: “SEANDAINYA SEMUA ORANG ISLAM, KRISTEN, HINDU, DLL DI INDONESIA INI SUDAH MELAKUKAN IBADAH RITUAL SESUAI AJARAN AGAMA MASING-MASING, NAMUN JIKA PENGELOLAAN BANGSA-NEGARA TETAP MENGABAIKAN SYARIAT SOSIAL-KENEGARAAN DARI ALLAH SWT MAKA TIDAK MUNGKIN BANGSA-NEGARA INDONESIA BISA MENCAPAI CITA-CITA MENJADI BANGSA-NEGARA YANG ADIL MAKMUR DALAM RIDHO ALLAH SWT”.

Pertanyaan yang sering diajukan pada saya terkait aksioma itu adalah: “Apakah Islam memiliki konsep POLEKSOSBUDHANKAMLING untuk mengelola suatu bangsa-negara?”. Secara tegas saya menyatakan: ADA!!!, LIHAT ISI AL QUR’AN DAN SUNNAH NABI”. Orang Islamnya saja yang membuang tuntunan itu saat dia diberi kesempatan Allah SWT untuk mengelola sebuah bangsa-negara!! Siapa yang akan dihukum Allah SWT di akherat nanti (atau bahkan sudah dirasakan oleh yang bersangkutan saat masih hidup di dunia? Wallhu a’lam).

Mari kita selamatkan diri, keluarga, dan bangsa-negara kita dari adzab Allah SWT.

Indonesia, akhir Mei 2010.

Entry filed under: Syariat Islam. Tags: , , , , , .

MARKET BASED EDUCATION vs ENVIRONMENT BASED EDUCATION, Mana Yang Bermanfaat untuk Bangsa Indonesia? HIDUP SEHAT CARA NABI vs Pengobatan ala Nabi (Thibbun Nabawi), SEBAGAI MUSLIM JANGAN LUPA HIDUP SEHAT

2 Comments Add your own

  • 1. Rasyid Emilly  |  29 May 2010 at 14:53

    Posisi umat Islam yang mayoritas di Indonesia sekarang ini, persis seperti di era jaman penjajahan Kolonial Belanda. Pemerintah Hinda Belanda menjalankan nasehat dari Snough Hougronye, yang antara lain : Biarkan umat Islam menjalankan acara ritualnya, kalau perlu diberi bantuan, tetapi yang menyangkut politik, pendidikan dan ekonomi harus diawasi dan kelau perlu dicegah. Apa bedanya dengan kondisi sejak era Orde Baru sampai sekarang di era reformasi ini, malahan di era reformasi ini justru semakin terbuka langkah2 yang memojokkan dan menyudutkan Islam. Biarlah umat Islam mabuk kepayang dengan berbagai zikir, do’a dan berbagai acara ritual bid’ah. Tetapi dalam urusan politik umat Islam sudah berhasil dipecah belah. Biarlah umat Islam menjadi TKI atau buruh atau karyawan rendahan. Biarlah umat Islam sekolah menunggu dengan adanya uluran tangan dari penyumbang. Yang lebih menyakitkan. Proses pembodohan dan pemiskinan umat ini justru dilakukan oleh orang yang bertitel Haji, Kiyai, Ulama dan semacamnya. Ini kondisi sudah benar=benar pada situasi yang sebebas-bebasnya untuk mellakukan perlawanan terhadap Hukum Allah.

  • 2. M Zainuddin Qodir  |  31 May 2010 at 10:51

    Kita tunggu saja hukumannya didunia. Untuk yang di akhirta itu urusan nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: