MEWASPADAI ’POLITICKING’ UNTUK MENYISIHKAN ISLAM DALAM PENGELOLAAN BANGSA-NEGARA

21 June 2010 at 06:47 Leave a comment

Sering muncul ungkapan bernuansa Politicking yang arahnya untuk Menyisihkan  Islam sebagai METODA dalam proses pengelolaan bangsa-negara, sepert isu: 1).Agama itu Mulia, Politik itu Kotor; 2). Politik  Bebas Ideologi; 3). Ormas Islam harus Independen terhadap Partai Politik yang ada; 4). Partai Islam sama saja dengan Partai lain; dan 5). Jangan berperilaku Primordial dalam Memilih Partai dan Figur pada Pemilu

DESKRIPSI TANTANGAN DAN ANALISISNYA

Agama adalah tuntunan hidup dari Tuhan untuk manusia melalui seorang Nabi. Agama tentu mulia. Politik adalah kegiatan manusia untuk meraih kekuasaan formal dan kemudian memproses pengelolaan suatu tatanan bangsa-negara. Apakah cara berpolitik tidak termasuk dari bagian tuntunan hidup manusia yang diturunkan Tuhan  melalui Nabi?

Apabila upaya meraih kekuasaan dan memproses untuk mengurus masyarakat pada skala ’kelompok kecil’ saja, seperti sebagai Pengurus Ormas atau LSM, belumlah layak disebut sebagai aktifitas politik. Mungkin saja mereka berebut menjadi pimpinan suatu Ormas atau LSM sebagai langkah awal memiliki pengaruh sosial yang ujungnya akan digunakan untuk meraih kekuasaan negara, namun selama masih di level Ormas-LSM mereka belum bisa disebut berpolitik karena masih belum pada skala kenegaraan. Ormas-LSM itu lingkupnya berstatus sub-sistem kenegaraan, bahkan bisa hanya sebagai susb-sub-sistem yang tentunya akan berada di bawah kekuasaan sistem negara. Pemahaman ini perlu digaris-bawahi agar ’aktifis Islam’ yang memang bervisi untuk mengelola negerinya sesuai ajaran sosial-kenegaraan Islam jangan hanya bermain di level Ormas-LSM Islam karena masih jauh panggang dari api untuk mencapai cita-citanya itu. Bahkan jika seandainya dalam mengurus Ormas-LSMnya itu dia amat berhasil, katakanlah meningkatkan kesejahteraan ekonomi atau kecerdasan anggauta kelompoknya melalui kegiatan sosial,  justru keberhasilan itu dengan enaknya akan dinikmati oleh Penguasa Politik yang sedang berkuasa sebagai prestasi mereka. Tentu saja klaim keberhasilan oleh penguasa itu bisa teranulir jika Ormas-LSM tersebut nyata-nyata berada  sebagai bagian tidak terpisahkan dari Kelompok Politik Lawan Ideologi si Penguasa.

Dalam dunia politik memang banyak cara untuk tetap bisa bertahan  berkuasa, yang salah satu tehniknya adalah merekayasa masyarakat untuk TIDAK PEDULI POLITIK sewaktu kekuasaan sudah di tangan mereka dan mendorong rakyat bersemangat beraktifitas dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan yang tidak berasosiasi dengan kekuatan politik. Dorongan untuk bergerak semacam itu umumnya menggunakan dua slogan cantik, yakni: 1). Politik itu rumit,  tidak jujur, tidak bersih, jangan sembarangan berpolitik, dan semacamnya; dan 2). Hidup itu yang penting mengabdi pada masyarakat, memberi kebaikan pada masyarakat secara langsung-nyata melalui kegiatan sosial-kemasyarakatn, sedangkan berpolitik itu tidak kongkret. Dua senjata tersebut amat manjur untuk meredam potensi dukungan politik pada kekuatan politik berideologi Islam yang sedang membangun kekuatan politiknya. Umat memang banyak yang  tidak memahami hakekat bagaimana suatu negara berproses, bagaimana kebijakan politik nasional justru yang menyebabkan masyarakat itu sulit mendapat keadilan, kemakmuran, kehormatan, kecerdasan, dan berbagai kebutuhan hidup layak manusia secara umum, baik individual  maupun keluarga. Katakanlah contoh: ”Bukankah kebijakan politik menaikkan harga BBM atau Tarif Dasar Listrik (TDL) dan semacamnya akan membuat masyarakat menerima beban semakin berat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Apakah Ormas-LSM mampu merubah keputusan seperti itu? Atau kebijakan membiarkan tanpa tindakan tegas dan menjerakan kepada pelaku dan penyebar video porno di masyarakat termasuk kalangan pelajar-pemuda atau membiarkan seringnya tayangan perselingkuhan/perzinaan serta kekerasan di program televisi bukannya akan membuat moral umat dan bangsa semakin rusak? Apa Ormas-LSM mampu merubah kebijakan politik seperti itu?” Bukankah mudah difahami bahwa nasib rakyat pada umumnya akan bergantung pada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh politikus yang sedang menjalankan pemerintahan negara?

”Aktifis Islam” lebih sering/senang memilih aktif di Ormas-LSM Islam dari pada terjun langsung ke Partai Politik Islam umumnya oleh lima alasan: 1). Mereka memandang aktif di ormas-lsm Islam lebih nyata prestasinya walau prestasi itu hanya ’terbatas’ skalanya; 2). Mereka memandang politik itu kotor dan tidak Islami walau di dalam tubuh partai yang menyebut dirinya Partai Islam sekalipun; 3). Mereka belum melihat ada  Partai Politik Islam yang baik/ideal (lalu mereka merasa tidak mungkin bisa memperbaiki yang ada atau mereka tidak mampu untuk membuat Partai Islam baru yang ideal); 4). Mereka faham pentingnya politik Islam namun sengaja menjadikan Ormas-LSM Islam sebagai batu loncatan untuk nantinya terjun ke partai politik setelah mendapat popularitas; dan 5). Mereka serius terhadap politik Islam namun tidak mau ikut cara demokrasi (dinilainya tidak Islami) sehingga mereka fokus giat melakukan  penyadaran umat tentang wajibnya politik Islam dan berharap bisa ada perubahan politik nasional ke arah Islam tanpa melalui cara demokrasi.

Alasan 1 dan 2 sesungguhnya memberi indikasi aktifis Islam itu sudah masuk dalam perangkap ’politicking’ lawan ideologi politik Islam.  Alasan 3 mengindikasikan selain mereka memandang lemah kemampuan diri sendiri namun juga sedikit banyak mereka terpengaruh isu bahwa partai Islam itu sama saja kualitasnya dengan partai lain. Alasan 4 menunjukkan perilaku ambivalen, tidak terbuka, dan terasa kurang santun. Mereka berfikir kedudukan politik itu bisa dengan mudah digapai jika sudah populer,  tidak perlu ada rasa segan-malu  pada mereka yang sudah bersusah payah bahkan berdarah-darah berjuang lama di arena politik.  Alasan 5 memberi indikasi kemauan untuk menggapai perubahan kekuasaan dengan cara non-demokrasi.

Dalam permasalahan politik ini perlu dicatat adanya perbedaan motif dari  para pelaku mengapa mereka berpolitik. Bagi aktifis Islam yang belum juga bergerak aktif dalam politik Islam tampaknya  masih lupa apa misi Islam yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Perlu diingatkan bahwa Nabi tidak sekedar mengajarkan Islam dalam hal beribadah mahdhah saja, atau mengurus keperluan diri pribadi, atau mengurus cara berkeluarga, namun Nabi juga mengajarkan Islam untuk mengelola suatu tatanan bangsa-negara. Nabi tidak hanya berceramah-berdakwah bil lisan atau berdakwah sosial kemasyarakatan seperti bersedekah, menolong orang sakit,  membebaskan budak yang disiksa tuannya, atau mendidik-mengajari orang belaka, namun Nabi jelas mengorganisir umat untuk berpolitik, membuat organisasi politik, menggerakkan orang dengan tujuan politik Islam, yang semua itu bermakna Nabi terjun ke dunia politik praktis untuk terlaksananya ajaran sosial-kenegaraan Islam dalam pengelolaan bangsa-negara. Untuk tujuan mulia ini Nabi siap bersaing dengan lawan-lawan politik Islam. Apakah cara hidup Nabi seperti itu dianggap kurang nyata sehingga umatnya, apalagi yang sudah menjadi aktifis Islam, hanya siap berOrmas-LSM ria belaka, lupa sasaran misi menegakkan ideologi Islam Politik demi kejayaan Islam dan kemakmuran-keadilan-kesejahteraan bangsa-negara? Siapa yang akan dimurkai Allah dan mendapat sanksiNya di dunia dan akherat?

Pada sisi lain banyak pula orang Islam terjebak mendukung dan atau masuk ke Kelompok Politik Non-Islam dalam kegiatan politiknya. Sungguh amatlah memprihatinkan dan menyedihkan. Mereka yang terjerat seperti itu umumnya karena dua alasan: 1). Mereka tidak faham bahwa Islam melarang keras membantu perjuangan politik non-Islam yang akan mengelola suatu negeri dengan cara tidak Islami (mengabaikan-menentang tuntunan sosial-kenegaraan Islam); 2). Mereka tahu akan wajibnya Politik Islam namun berfikiran: dari pada tidak berkuasa  sama sekali lebih baik ikut-ikutan berkuasa, siapa tahu bisa mempengaruhi si penguasa yang bervisi tidak Islami dalam mengelola negara walau dalam sebagian aspek kenegaraan  (umumnya memang kecil dan tidak strategis) saja. Mereka tidak sadar bahwa perilaku tersebut secara tidak langsung sudah berarti membesarkan Figur dan Kelompok politik sekuler, dan bahkan ikut berperan menyesatkan faham politik umat pada umumnya. Sikap itu juga memberi andil kalahnya Partai Islam dalam persaingan terbuka antara ideologi Islam dan ideologi sekuler. Mereka juga ’lupa’ bahwa Nabi dan Sahabat-Sahabatnya TIDAK PERNAH BERADA DALAM POSISI SUBORDINASI dalam kekuasaan negara oleh penguasa sekuler.

Setelah memperhatikan berbagai prinsip dan fakta-fakta sosial-politik umat seperti diuraikan di atas maka bisa dibuat kesimpulan tentang kondisi umat Islam Indonesia terkait masalah politik ini. Pertama, di satu sisi, umat Islam Indonesia masih banyak yang tidak faham tentang wajibnya umat untuk mendukung dan mensukseskan misi politik Islam. Mereka ini umumnya lalu pasif dalam politik, dan  bahkan kadang bersikap-bertindak keliru dalam aktifitasnya sehingga merugikan kekuatan politik Islam. Umat golongan  ini amat mudah dibujuk atau diintimidasi untuk tidak mengkaitkan agama dengan politik melalui berbagai rekayasa seperti tuduhan primordial. Para ulama, kyai, muballigh, da’i, cendekiawan muslim, dan politisi Islam perlu segera intensif  mengingatkan akan adanya kewajiban umat untuk taat politik Islam ini. Kedua, di sisi lain, banyak umat Islam sudah sadar akan pentingnya berpolitik namun ternyata berpolitiknya bermotif mencari kekuasaan asal berkuasa, popularitas asal populer, dan bahkan bermotif mencari nafkah atau kesejahteraan ekonomi dari kegiatan politik. Mereka berpolitik ria tanpa membawa misi politik Islam dalam pengelolaan bangsa-negara. Mereka sudah terpengaruh misi politik orang lain. Ketiga, sisi lain lagi, aktifis Islam yang sudah faham bahwa politik Islam itu bagian dari aqidah Islam sehingga mereka bekerja keras memenangkan ideologi Politik Islam tersebut dalam proses kehidupan berbangsa-bernegara yang plural. Mereka langsung mendakwakan dan bergerak mensukseskan  Politik Islam tanpa keraguan sedikitpun dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya, dengan amwal dan anfus. Keempat, kelompok Islam yang mirip kategori ke tiga namun dalam perjalanan perjuangannya tidak gigih mengejar ideologi politiknya sehingga mudah melemah semangatnya oleh rayuan jabatan atau intimidasi hegemoni kekuasaan lawan politiknya.  Kelima, golongan terakhir, yang perlu diwaspadai oleh umat karena relatif sulit mengatasinya adalah mereka yang sepertinya peduli pada politik Islam namun mereka  masuk dan aktif ke Partai Islam bukan untuk memperjuangkan ideologi Islam namun untuk mencari keuntungan duniawi atau bahkan justru untuk mengkerdilkan Partai Islam dengan segala macam tipu daya karena ternyata disusupkan oleh lawan politik ideologi Islam.

SOLUSI UNTUK PENYELAMATAN UMAT DAN BANGSA-NEGARA

Agama Islam itu mulia, bermanfaat untuk pribadi, keluarga, bangsa-negara, dunia, dan alam semesta jika ajarannya diterapkan pada skala masing-masingnya. Di dalam Agama Islam ada Ibadah Ritual, Prinsip Akhlak, ajaran Jihad, dan cara berPolitik yang kesemuanya itu bernilai tinggi dan baik, tidak buruk dan tidak jahat. Politik  menjadi kotor jika dilakukan tidak berlandasan atau tidak bersesuaian dengan ajaran mulia, tidak bermotif yang benar, namun didorong oleh nafsu berkuasa asal berkuasa, berkuasa untuk mengejar harta, berkuasa untuk status sosial.

Jika ajaran Allah SWT yang dipakai dalam proses berpolitik maka umat dan  bangsa   akan terselamatkan dari cedera disintegrasi, krisis multi dimensi, kebangkrutan kekayaan alamnya, dan rusaknya kehormatan-keutuhan kedaulatan negara. Untuk itulah perlunya diserukan kepada umat, khususnya jajaran Pengurus dan warga Partai Islam yang memang bertanggung jawab dalam urusan politik nasional: ”Wahai Pengurus dan warga Partai yang Berasas Islam, belum terlambat untuk memperoleh Ridho, Maghfirah, dan Bimbingan Allah SWT jika secepatnya berbenah diri membawa Partai Islamnya ke arah yang benar, yakni:

Partai Islam mestinya teguh memegang Ideologi Islam, yakni berprinsip menyelamatkan umat, bangsa-negara dengan Syariat Sosial-Kenegaraan yang dituntun oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

  1. Partai Islam mestinya bergerak intensif mencerahkan umat Islam Indonesia agar umat  mendukung dan memilih Partai Islam sebagai bagian dari kewajiban syar’i karena menjadi orang Islam.
  2. Partai Islam kokoh-kuat melawan tekanan dan rayuan Kelompok lawan ideologinya, tidak bersikap lemah dan ketakutan akan dicederai oleh mereka (lihat al Qur’an Surat al Maidah ayat 52).
  3. 4. Partai Islam mestinya berbenah diri agar Pengurusnya berakhlak Islam, bekerja maksimal dan profesional dengan harta dan kemampuannya dalam mengurus Partainya, tidak berperilaku sambil-lalu, sesempatnya, dan asal-asalan dalam mengelola partai. Perilaku seperti itulah yang akan merusak citra dan merendahkan kualitas Partainya padahal partai itulah wadah penting dan strategis perjuangan besar Islam. Allah tentu akan memurkai perilaku Pengurus Partai Islam yang seperti itu dan berakibat pada kualitas kehidupannya di dunia dan di akherat.
  4. 5. Partai Islam mestinya terus-menerus mengajak-menyadarkan Pengurus Ormas-LSM Islam untuk mau tegas berfihak dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Partai Islam.
  5. Partai Islam mestinya mendorong umat untuk mensukseskan Pemilu dengan makna yang benar, yakni aktif hadir di pemilu dengan memilih Partai Islam dan Kadernya”.

Indonesia, medio Juni 2010

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , .

HIDUP SEHAT CARA NABI vs Pengobatan ala Nabi (Thibbun Nabawi), SEBAGAI MUSLIM JANGAN LUPA HIDUP SEHAT BAGAIMANA BENTUK ’TAJDID’ MUHAMMADIYAH DI ERA 2010, SE-ABAD SETELAH BERDIRINYA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: