EVALUASI HASIL PUASA DEMI KESUKSESAN MASA DEPAN (Khotbah Iedul Fithrie 1431H/2010M) Disampaikan oleh: DR. FUAD AMSYARI

4 September 2010 at 06:52 Leave a comment

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,

(Iftitah)

Allaahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Marilah kita memulai khotbah ini dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk limpahan rahmat pada pagi hari ini, di mana kita bisa menunaikan shalat Iedul Fithrie bersama-sama dalam suasana penuh rasa syukur ke hadirat Allah swt. Dalam hidup ini banyak sekali kebaikan-keberuntungan yang sudah kita peroleh dan tidak layak jika kita mengingkari bahwa itu datangnya dari Allah swt. Di sepanjang proses hidup manusia akan selalu ada ruang di mana manusia itu harusnya bersyukur jika memang mereka itu benar-benar beriman.

Allah berfirman dalam al Qur’an surat Ibrahim ayat 7:

“Apabila kalian bersyukur maka Allah akan menambah kenikmatan yang kalian terima, dan apabila kalian mengingkari kebaikan yang kalian peroleh itu (bahwa itu karunia Allah) maka ingat adhab Allah itu maha pedih”.

Benarkah kita sudah banyak bersyukur? Apakah kita tidak menjadi sombong atau takabur dengan menyatakan bahwa semua keberhasilan yang kita raih  itu adalah karena prestasi sendiri, karena cemerlangnya pemikiran kita, karena usaha keras kita, karena kecerdikan kita? Jika begitu cara kita berfikir maka itulah yang disebut sebagai manusia yang tidak bersyukur dan diancam terkena adzab Allah itu sungguh pedih, menyakitkan. Manusia sombong yang tidak bersyukur hatinya gelisah, tidak pernah puas, tidak bisa tenang, melihat yang diperoleh tetangga jauh lebih hebat, perasaannya selalu bergolak, dan itu adalah salah satu bentuk adzab yang menyakitkan. Na’uudzubillahi min dhalik. Umat Islam dalam proses hidupnya harus  selalu berfikir cerdas-kreatif, bergerak dinamis, serta bekerja keras, dan kemudian hasil semua usahanya itu sepenuhnya diserahkan pada ketentuan Allah swt sebagai bentuk tawakkal, lalu disyukurinya sebagai karunia Allah swt. Pola pikir seperti itulah yang akan menjamin ketenteram hati dan lalu memperoleh lebih banyak lagi kebaikan-keberuntungan dari Allah swt dalam hidupnya. Hidupnya di jalan yang benar, langkah-langkahnya mengikuti jalur yang tepat, yakni bimbingan Allah swt.

Allahu Akbar,

Selanjutnya pada hadirin sekalian, kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad saw, khususnya sebagai ungkapan kecintaan-penghormatan pada beliau yang tiada berbatas atas segala perjuangan dan pengorbanan beliau menghadapi berbagai bentuk hambatan fisik-mental yang luar biasa beratnya dari kaum kafirin dan musyrikin sewaktu menyampaikan risalah Illahi Rabbi ke umat manusia. Risalah tersebut alhamdulillah sudah sampai ke tangan kita, risalah berupa tuntunan hidup yang sempurna, meliputi tuntunan Allah tentang mengurus kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat-bangsa-negara. Risalah itu yang sering juga disebut sebagai syariat Islam itu kita perlukan untuk dipraktekkan secara nyata agar hidup kita mencapai keberhasilan yang menyeluruh, dunia-akherat.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Dalam suasana hati yang teduh di hari fithrie ini amatlah tepat jika kita perbaharui semangat tauhid, semangat keimanan kita. Mari kembali kita pertajam keyakinan hati ini bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah yang cepat atau lambat kita juga pasti akan kembali  ke hadiratNya dan kemudian dinilai sejauh mana cara hidup kita itu telah mengikuti tuntunanNya. Kita yakini  dengan kesadaran yang mendalam bahwa tuntunan hidup yang diberikan oleh Allah bagi kita melalui Rasulullah Muhammad saw bukan untuk kepentingan Allah ataupun RasulNya namun untuk kepentingan diri kita sendiri sebagai hambaNya. Tuntunan Allah itu bukan saja untuk mencapai keberhasilan hidup di akherat nanti namun juga amat bermanfaat untuk mencapai keberuntungan hidup kita selama berada di dunia nyata sekarang ini baik secara individual maupun secara sosial.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Ada tiga  kaedah tauhid yang diajarkan Islam yang perlu selalu kita patrikan dalam sanubari kita, merupakan hakekat iman seorang muslim, yakni:

1. Laa izzata illa bil Islam

“Tidak akan ada keberhasilan-kejayaan hakiki  di dunia dan di akherat tanpa Islam”

2. Laa Islaama illa bis syariiah

“Tidak akan bermakna Islam itu tanpa dilaksanakannya syariatNya”

3. Laa syariiata illa bis sulthon

“Tidak akan mungkin syariat itu dilaksanakan/ditegakkan tanpa ada kekuatan dan kekuasaan”

Tiga kaedah Tauhid di atas harus selalu terhunjam di dalam lubuk sanubari hati kita yang paling dalam agar supaya Allah swt menjadi ridho dan melimpahkan berkah serta perlindunganNya pada kita.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya Hormati,

Memang tidak salah jika ada orang yang menyatakan bahwa tanpa bertauhid dan tidak melaksanakan syariat Islam manusia akan tetap bisa hidup dan beraktifitas sehari-hari sampai datang ajal menjemputnya. Namun hidup seperti itu lalu menjadi hidup tanpa pertolongan dan perlindungan dari Allah swt. Hidup ini (jika tanpa keimanan pada Allah swt)  lalu layaknya seperti hidupnya binatang di hutan belantara, bersaing ketat satu dengan lainnya, melawan singa, serigala, dan buaya yang relatif telah mapan dalam hal kekuatan modal dan teknologinya. Dalam persaingan liar seperti itu bisa jadi kita  berhasil, bisa pula  kita gagal, bergantung proses sunnatullah yang kita jalani. Sunnatullah di sini adalah hukum alam pada persaingan bebas yang telah ditetapkan Allah sewaktu Allah mencipta alam semesta.

Di saat berhasil kita mungkin berbangga dan gembira ria, sering berlebihan, tapi umumnya berlangsung hanya sebentar dan lalu disusul dengan sesuatu kehampaan hidup yang menggelisahkan. Sewaktu gagal maka akan terjadi kegalauan hati yang mencekam, kadang terasakan amat lama sampai saat ajal menjelang tiba. Itulah hidup tanpa tauhid, tanpa keimanan-ketaqwaan yang benar, serba tidak menentu, serba gelisah, sekedar menghabiskan sisa usia, menunggu ajal tiba. Setelah mati maka tidak perlu ditanya, Allah akan menghukumnya, disiksa di neraka jahannam, kekal selamanya di sana. Na’udubillah.

Jelas bahwa cara hidup tanpa perlindungan Allah seperti itu amat berbeda dengan cara hidup bersendikan keimanan-ketaqwaan yang dituntun oleh kaedah tauhid dan dipandu ajaran syariat Islam. Cara hidup dengan kemantapan hati melaksanaan syariat itu akan membuat kita selalu memperoleh bimbingan Allah swt terus-menerus. Di saat memperoleh suatu keberhasilan maka hati ini dipenuhi rasa syukur kehadiratNya, bergembira secara wajar tidak berlebihan; dan jika memperoleh suatu musibah atau kegagalan maka bisa saja kita bersedih tapi tidak akan  berlebihan pula karena ada nilai sabar-tawakal, berserah diri pada Allah, karena ada keyakinan bisa saja suatu kegagalan  itu memiliki hikmah besar dari Allah dalam proses panjang hidup kita yang masih terus berjalan. Hati kita akan terus tenteram, tanpa kekhawatiran dan kedukaan karena kita berserah diri pada Allah setelah kita menjalani hidup ini sesuai dengan syariatNya. Alhamdulillah.

Hadirin yang saya muliakan,

Allahu Akbar.

Keberuntungan hidup yang kita peroleh karena hidup bertauhid secara benar seperti diuraikan tersebut di atas telah difirmankan oleh Allah dalam Al Qur’an al Baqarah ayat 62

“Barang siapa yang  beriman pada Allah swt dan hari akherat serta beramal shaleh maka bagi mereka berkah dari Allah swt, dan hatinya akan tenteram, bebas dari ketakutan dan kedukaan”

Dalam ayat lain di Surat at Thalaq ayat 2-3 Allah juga berfirman:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membukakan baginya jalan keluar (bagi setiap kesulitannya) dan Allah akan memberi rizki baginya dari jalan yang tidak mereka sangka. Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah maka Allah akan melindungi-memeliharanya.”

Allahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Nampaknya masih banyak kalangan muslim di negeri ini yang menganggap keimanan itu asal iman, tidak merasuk ke hati sanubari, tidak memberi keyakinan yang mantap tentang apa yang akan membawa manusia selamat dunia-akherat. Keimanan yang semu, keimanan yang tipis dipermukaan. Bahkan keimanan-ketaqwaan itu hanya dijadikan sebagai slogan, tanpa perlu berbentuk dilaksanakannya perintah Allah secara operasional dalam praktek kehidupan sehari-hari. Sikap seperti itulah yang dikategorikan sebagai iman tanpa taqwa. Iman yang sesungguhnya membawa akibat kegagalan hidup kita di dunia dan di akherat walau kita sudah mengaku menjadi muslim. Jelas sekali dinyatakan dalam al Qur’an bahwa Allah swt tidak menilai kita dari slogan yang kita teriakkan tetapi sebaliknya kita akan dinilai dari praktek hidup nyata sehari-hari, apakah sesuai syariat Islam atau tidak.

Dalam surat al Baqarah ayat 286 Allah berfirman:

Bagi mereka (dinilai) apa yang mereka perbuat, dan kembali kepada mereka (hasil dari) apa yang mereka perbuat”

Oleh sebab itu jelaslah bahwa berislam  tidak cukup hanya berbekal slogan bahwa dirinya telah beriman-bertaqwa tetapi harus berbentuk nyata dalam perbuatan sehari-hari, beramal sholeh, berbuat sesuai tuntunan Allah swt, yakni tidak berbuat sesuatu yang dilarang syariat dan melakukan semua aktifitas hidup sesuai dengan tuntunan syariatNya. Banyak ayat al Qur’an bahkan menekankan aspek taqwa itu, yakni sisi pelaksanaan cara hidup yang diajarkan Allah swt, bukan sekedar hatinya saja yang yakin akan adanya Allah. Al Qur’an surat Ali Imran ayat 102 jelas menekankan pentingnya aspek ketaqwaan itu:

“Wahai orang yeng beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa (menjalankan tuntunan Allah dalam kehidupan ini). Jangan sampai kalian mati tidak dalam keadaan muslim”

Hadirin yang saya hormati,

Ada satu kekeliruan lain lagi yang sering dilakukan kaum muslimin Indonesia dalam hidup berislam itu, yakni menganggap syariat Islam tersebut hanyalah kegiatan melaksanakan ibadah ritual saja seperti: shalat, puasa, zakat, haji-umrah, berdoa, tahlil, wirid, membaca al Qur’an, takbir, dan istighfar. Banyak di antara kaum muslimin sudah merasa cukup menjadi orang Islam dan merasa akan terjamin hidupnya di dunia dan di akherat hanya dengan melakukan perbuatan ritual tersebut. Benarkah cara berislam seperti itu? Mari kita perhatikan firman Allah surat al Maun ayat 4-5:

“Maka tertimpa kecelakaanlah (malapetaka, masuk neraka weil) bagi orang-orang yang  sudah biasa melakukan ibadah shalat, tetapi mereka lalai (terhadap aspek lain dari tuntunan Islam)”

Dalam surat Ali-Imron ayat 142 Allah bahkan menegur kita:

“Apakah kalian mengira sudah pasti akan masuk surga padahal belum tampak jelas aktifitas jihad (perjuangan Islam) kalian dan sikap sabar kalian?”

Rasulullah juga mengingatkan dalam hadits:

“Akan datang suatu masa di mana banyak orang yang sudah terbiasa shalat, berpuasa, dan haji namun mereka belum tergolong orang yang beriman”

Artinya para hadirin, berislam itu tidaklah cukup hanya dengan melakukan ibadah ritual saja, namun harus hidup sesuai dengan syariat Islam secara menyeluruh, termasuk aspek sosial-politiknya. Itulah hakekat yang terkandung dalam firman Allah dalam surat an Nisa’ ayat 65 di mana Allah berfirman:

“Demi tuhanmu! Mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan mu (ketentuan al Qur’an dan Sunnah Rasul) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian di dalam hati mereka tidak ada rasa kebencian atas apa yang engkau putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (ketentuan hukum dari Allah itu)”.

Dalam surat al Baqarah ayat 208 juga ditegaskan:

“Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian dalam Islam itu secara menyeluruh (ibadah ritualnya, berkeluarganya, berbangsa-bernegaranya), dan janganlah kalian mengikuti ajakan syetan karena sesungguhnya syetan itu musuh kalian yang nyata”

Berislam itu harus utuh, bukan hanya melakukan ibadah ritual saja. Kita juga harus selalu ingat bahwa Nabi Adam itu memperoleh murka Allah bukan karena masalah ibadah ritual tapi justru terbujuk syetan dalam urusan makanan, mengabaikan perintah Allah terkait makanan. Berapa banyak muslim Indonesia yang masih berani makan-minum barang yang diharamkan Allah swt, seperti babi, darah, khamr, dan lainnya.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang saya muliakan,

Kita baru saja melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan Allah swt. Kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh dalam bulan itu yang sasarannya supaya kita menjadi orang yang tergolong bertaqwa, menjadi hamba Allah yang mau secara nyata melaksanakan syariat Islam. Hal itu tegas dinyatakan dalam al Qur’an surat al Baqarah, ayat 183

“Wahai orang yang beriman, diwajibkan pada kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertaqwa”.

Umumnya jarang difahami adanya dua istilah yang penting dalam ayat tersebut, yakni “beriman” dan “bertaqwa”. Orang “beriman” diwajibkan berpuasa agar mereka menjadi orang yang “bertaqwa”. Arti beriman didepan ayat berlingkup luas, termasuk orang yang sekedar percaya akan adanya Allah swt. Beriman seperti itu akan berubah kualitasnya menjadi bertaqwa setelah mau melaksanakan ibadah puasa yang diperintahkan Allah swt. Suatu keyakinan di hati masih harus dilengkapi dengan pemenuhan terhadap perintah Allah swt dalam cara hidup sehari-hari (sesuai dengan kemampuan-kekuasaan yang dimilikinya). Pada kasus ini adalah perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan, yang tujuannya jelas, yakni agar dia memiliki kategori “bertaqwa”. Dari mengacu prinsip tersebut dapat diketahui bahwa bisa saja ada orang yang percaya pada adanya Allah swt namun dia gagal masuk golongan orang bertaqwa. Contoh yang terang-benderang adalah kasus iblis. Diterangkan dalam al Qur’an bahwa iblis  amat yakin bahwa Allah swt itu ada, beriman dia akan adanya Allah swt, tapi iblis tidak tergolong kategori bertaqwa pada Allah swt karena dia menolak melaksanakan perintah Allah. Iblis itu beriman pda Tuhan tetapi tidak bertaqwa. Dalam surat al Baqarah ayat 34 Allah swt menerangkan kasus itu:

“Dan tatkala diperintahkan oleh Allah swt pada kalangan malaikat untuk ‘tunduk’ pada Adam maka semuanya melakukannya kecuali IBLIS. Sungguh iblis itu takabur (sombong) maka dia tergolong makhluk yang kafir”.

Dari ayat itu jelas iblis adalah makhluk yang beriman pada Allah swt namun dia menolak perintah Allah maka dia sudah dikategorikan takabur dan menjadi makhluk yang kafir. Apakah manusia bisa berperilaku seperti iblis? Tentu bisa, yakni hatinya sudah yakin akan adanya Allah swt namun dia menolak melakukan perintah Allah atau menolak syariat Islam, maka dia tidak bisa dikategorikan sebagai hamba Allah yang bertaqwa. Orang Islam seperti itu perilakunya pada dasarnya sudah terpengaruh bisikan iblis. Semoga kita tidak menjadi golongan seperti itu, golongan iblis yang yakin akan adanya Allah namun menolak menjalankan tuntunan Allah, menjalankan syariat Islam. Ternyata puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu kewajiban umat Islam yang harus ditunaikan agar manusia beriman itu masuk kategori manusia bertaqwa. Begitu pentingnya kategori syariat puasa di bulan Ramadhan itu dan masuk dalam bagian dari rukun Islam.

Banyak lagi ayat al Qur’an yang mengkaitkan iman dan taqwa ini, seperti misalnya ayat di surat al Maidah ayat ke 57:

“Wahai orang beriman, janganlah kamu jadikan orang yang mengabaikan dan mempermainkan agamanu, orang yang pernah memperoleh Kitab sebelummu, dan orang kafir sebagai Pemimpinmu. Bertaqwalah (taatilah perintah ini) jika kamu memang orang yang beriman”.

Allahu Akbar, sungguh kita harus berhati-hati dalam beragama agar tidak tersesat hanya dengan berslogan beriman namun menolak melaksanakan syariat Islam yang lengkap meliputi tuntatunan ritual, hidup berkeluarga, mengatur bangsa-negara ini. Syariat Islam yang harus dilaksanakan umat Islam itu ada tiga kelompok, yakni: 1). syariat terkait dengan masalah mengelola diri-pribadi (assyariatu fil mas’alati bis syahsyiah); 2). syariat terkait dengan masalah mengelola-mengurus keluarga (assyariatu fil mas’alati bil ‘ailah); dan 3). syariat terkait dengan masalah mengelola masyarakat-bangsa-negara (assyariatu fil mas’alati bil jam’iyah wad daulah). Ketiga syariat itu diperintahkan oleh Allah untuk dilaksanakan umat Islam secara simultan dan sesuai dengan kapasitas  masing-masing. Sungguh jangan kita menjadi teman iblis yang akan diadhab Allah swt karena mengabaikan perintah Allah untuk melaksanakan syariat Islam, walau hatinya sudah yakin bahwa Allah itu ada.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Puasa itu tergolong ranah pribadi. Efek berpuasa juga terkait masalah pribadi. Namun pengaruh ibadah puasa bisa berdampak keluar dari pribadi yang bersangkutan, berdampak pada sistem keluarga dan sosial-kenegaraan. Bagaimana bisa?

Jawaban untuk itu sebenarnya mudah saja. Siapakah pribadi yang berpuasa itu? Jika pribadi yang berpuasa adalah rakyat jelata, tidak memiliki tanggung jawab sosial besar maka puasa yang berhasil berarti dia menjadi individu muslim yang lebih berkualitas. Dia akan semakin rajin melaksanakan ibadah ritualnya, bertambah baik akhlaknya, lebih semangat aktifitas jihadnya membela dan menyebarkan Islam. InsyaAllah dia akan menjadi individu yang kian bahagia, tercukupi kebutuhan hidupnya, dan teratasi persoalan hidupnya. Bagaimana jika individu yang berpuasa memiliki tanggung jawab sosial? Jika pribadi yang berpuasa itu adalah kepala keluarga dan dengan berpuasa ketaqwaannya pada ajaran Allah swt meningkat maka tentu syariat terkait pengelolaan keluarganya juga dilaksanakan dengan lebih tertib sehingga keluargapun akan memperoleh berkah dan menjadi keluarga sakinah-mawaddah-rahmah karena telah dikelola secara syar’i. Demikian pula misalnya jika pribadi yang berpuasa itu adalah seorang kepala negara dan puasanya lalu berhasil membawa dia menjadi seorang pribadi yang bertaqwa maka diapun akan mengelola negerinya sesuai dengan syariat Allah terkait masalah kenegaraan karena memang sudah sesuai dengan kapasitasnya sebagai Kepala Negara, sehingga jadilah negeri itu negeri baldatun-thayyibah. Sebaliknya jika puasa pribadi kepala keluarga dan kepala negara itu tidak menjadikan dia bertaqwa maka keluarga tetap dikelola tidak syar’i dan negarapun tidak dikelola secara syar’i sehingga keluarga dan negara itupun tidak memperoleh ridho dan berkah dari Allah swt, tidak menjadi Keluarga sakinah dan Negara yang baldatun-thoyibah, tetap terpuruk terkena dampak sosial adanya pelanggaran terhadap pengelolaan keluarga/negara yang melanggar syariat Islam.

Allah swt berfirman dengan tegas dalam al Qur’an surat Yaasin ayat 12:

“Sesungguhnya Kami akan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan akan menilai perbuatan/kebijakan yang mereka buat/kerjakan dan dampak sosial dari kebijakan/perbuatan yang mereka buat/kerjakan itu”

Allaahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia

Mengingat permasalahan hidup di dunia yang sedemikian jelas, mengingat kewajiban kita sebagai muslim harus memurnikan tauhid kita, mengingat beratnya azab Allah swt yang akan menimpa kita (di akherat yang dinilai adalah individu per individu) bila kita lalai menjalankan syariatNya, maka sungguh kita perlu serius menjaga diri kita, keluarga kita, organisasi kita, perusahaan kita, dan negeri kita agar tidak menjadi rusak karena mengabaikan syariat Allah sewaktu kita mengurusnya. Oleh sebab itu  hadirin sekalian, dalam dunia yang penuh dengan perubahan dan tantangan seperti sekarang ini, di era yang mana gerakan yang merusak tauhid Islam berskala nasional-internasional belum bisa dikendalikan oleh umat Islam, sikap kita sebagai individu dan keluarga muslim hendaknya tegas, yakni memandang mereka yang berupaya mengaburkan syariat Islam melalui berbagai propagandanya  itu sebagai angin lalu, biarkan anjing menggonggong namun  kita akan tetap teguh dan semakin teguh memegang kaedah tauhid untuk keselamatan kita sendiri, keselamatan keluarga kita, dan keselamatan negeri kita. InsyaAllah.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1431 H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah perlindunganMu agar kami tidak lagi tersesat setelah kami beriman.

Ya Allah, kami ini memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga, dan masyarakat-bangsa-negara kami, bukan menjadi manusia serakah yang merugikan orang lain dan merugikan masyarakat-bangsa-negeri sendiri.

Ya Allah, murnikanlah tauhid kami, kuatkanlah iman kami, kokohkanlah ketaqwaan kami, dan tambahkanlah ilmu dan kemampuan kami dalam menjalani kehidupan sesuai dengan syariatMu.  Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Khotbah Iedul Fithrie 1431H/2010M

di

Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , .

ISLAM HANYA AKAN MENGHADIRKAN “RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN” TATKALA NEGARA DIKELOLA SECARA ISLAMI, Koreksi Pada Pemikiran Islam Liberal DIALOG SOLUSI MENJAWAB TANTANGAN PADA ISLAM DAN UMAT ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: