DAKWAH DI INDONESIA, Ulama-Ustad Merajut di ‘Siang Hari’ tapi Diurai Orang di ‘Malam Hari’?

6 October 2010 at 18:46 1 comment

Sepertinya semua Ulama, Kyai, Muballigh, Da’i, dan Ustad telah melakukan dakwah Islamiyah di negeri ini dengan sungguh-sungguh. Tapi benarkah usaha keras itu mencapai harapan yang terpateri di sanubari mereka sebagai pejuang Islam? Sepertinya masih jauh panggang dari api. Nampaknya dakwah oleh para pejuang Islam di negeri ini menemui sandungan berat. Apa itu, dan oleh siapa?

Usaha keras para ulama-da’i telah berjalan amat lama, lebih dari 65 tahun jika dihitung dari sejak Indonesia merdeka,  namun hasilnya bisa dilihat dengan amat mudah: memprihatinkan. Tidak saja dakwah itu gagal untuk menjadikan  negeri ini menjadi ‘Baldatun thoyibatun wa Rabbun Ghafur’, bahkan belum juga membawa ke cita-cita dakwah yang lebih sederhana, yakni izzul Islam wal muslimiin, walau Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia. Kenyataan sosial keagamaan yang seharusnya terbentuk oleh berbagai aktifitas dakwah Islamiyah sekian lama itu malah banyak dikeluhkan umat karena ternyata membuat marak tumbuhnya faham Islam melenceng dan meresahkan, seperti Akhmadiyah, Islam Sekuler, Islam Liberal, Islam Pluralis, dan semacamnya. Bahkan proporsi penduduk yang beragama Islam di Indonesia dilaporkan menurun terus dari sensus ke sensus dibanding masa awal kemerdekaan dulu, demikian pula kualitas ketaatan beragama mereka. Perkembangan rumah ibadah umat Islam dilaporkan terendah dibanding pertumbuhan rumah ibadah agama lain. Mengapa bisa demikian, padahal ulama, kyai, muballigh, da’i, ustad, dan pengajar/penceramah agama Islam lainnya sepertinya sudah bekerja keras berdakwah? Tentu ada yang salah dalam proses berlangsungnya dakwah Islamiyah di negeri ini. Mestinya hal itu  menjadi perhatian serius para ‘tokoh Islam’ yang masih peduli pada kebenaran ajaran Islam untuk  membawa ke kemajuan-kejayaan umat dan bangsa.

Kalau sedikit saja  para Tokoh Islam mau mencermati proses dakwah yang selama ini berjalan maka akan mudah diketahui bahwa umumnya dakwah Islamiyah masih berbentuk tradisional, yakni verbal atau lisan. Materi dakwah yang disampaikanpun juga terbatas pada materi Ritual Islam, tidak kearah materi berislam secara utuh atau kaffah seperti berakhlak mulia, berkeluarga sakinah, berbangsa-bernegara toyyibah oleh aplikasi syariat kenegaraan. Islam Sosial-Politik amat langka kalau tidak bisa dikatakan ‘nihil’  sebagai materi dalam dakwah ulama, kyai, ustad di negeri ini sehingga umat Islam Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat dan berpolitik sering langkahnya malah memihak pada nilai, prinsip, dan kelompok (partai)  non-Islam. Mari dievaluasi dengan obyektif bukankah banyak keluarga muslim dikelola  tidak Islami, banyak pula organisasi-kelompok-bisnis orang Islam jauh dari nilai Islam, begitu juga  kebijakan nasional tidak mengacu pada ajaran Islam terkait masalah kenegaraan. Umat Islam Indonesia umumnya tidak tahu bahwa mengelola keluarga, organisasi, bisnis, kantor, dan bangsa-negaranya harus Islami. Umat tidak faham bahwa BERISLAM DALAM AKTIFITAS SOSIAL-POLITIK  MERUPAKAN KEWAJIBAN SYAR’I SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG JIKA DIABAIKAN AKAN BERDAMPAK MERUSAK KEHIDUPAN SOSIAL BAGI BANGSA-NEGARANYA DAN NASIB PRIBADINYA DI AKHERAT NANTI. Sepertinya berislam itu sudah cukup dengan mengerjakan shalat wajib 5 kali sehari, puasa sebulan penuh dalam Ramadhan, menunaikan haji-umrah tatkala dia berduit, bisa membaca al Qur’an, dan berdoa-didoakan orang tatkala kematian datang menjelang. Bukankah fenomena perilaku keliru kebanyakan umat Islam di Indonesia yang seperti itu KARENA TIDAK BENARNYA INFORMASI TENTANG ISLAM YANG DIAJARKAN PADA MEREKA? Ataukah ada alasan lain? Apa itu?

NILAI KEIMANAN YANG UTUH  DISERTAI LINGKUNGAN HIDUP ISLAMI ADALAH DETERMINAN KEBERHASILAN DAKWAH

Untuk mengoreksi proses perusakan kehidupan oleh menyimpangnya praktek beragama Islam bagi umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk di negeri ini yang sumbernya adalah proses  ‘dakwah yang salah kelola-arah’ maka perlu dibangun “Gerakan Nasional Dakwah berbasis Nilai Keimanan yang Utuh  dalam Kualitas Lingkungan Hidup Islami”. Proses dakwah selama ini memang mengabaikan kualitas lingkungan hidup Islami dan hanya berfokus pada pemberian materi dakwah terbatas  pada Ritual Islam dan sedikit prinsip akhlak. Oleh sebab itu maka Gerakan Nasional Dakwah Islamiyah yang harusnya disosialisasikan tegas berbeda basisnya agar mampu menghantar cita-cita ideal dakwah seperti yang diajarkan Rasulullah, yakni pribadi muslim yang berislam secara kaffah dalam kondisi  lingkungan hidup yang Islami sehingga terbentuklah bangunan bangsa-negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafuur.

Berikut ini diuraikan secara ringkas prinsip dasar Dakwah berbasis pada Nilai Keimanan yang Utuh dalam Kualita Lingkungan Hidup Islami:

  1. Nilai Keimanan yang Utuh: Dakwah harus berorientasi menuju terbentuknya umat yang  taat dalam beragama, tidak sekedar menjadikan agama sebagai simbul, slogan, atau persaratan formal membuat KTP. Untuk itu maka ada tiga Nilai Keimanan Strategis yang harus diajarkan dalam proses dakwah, yakni: 1). Nilai Keimanan pertama yang harus dibentuk oleh proses dakwah adalah membuat penduduk faham makna hakiki dari  ‘Rukun Iman’: percaya adanya Allah, Malaikat, Rasul, Kitab suci, Hari akhir, dan Takdir. Rukun iman tersebut perlu dibawa kepermukaan dalam bentuk nyata yakni membuat umat menjadi yakin seyakin-yakinnya bahwa tanpa Islam mereka tidak akan berhasil hidupnya di dunia dan di akherat. Secara operasional nilai keimanan pertama ini perlu dipantau/diukur dari waktu ke waktu oleh ulama-ustad pemberi dakwah kepada umatnya melalui praktek pelaksanaan ibadah ritual, berakhlak Islami seperti jujur-benar-amanah, dan aktifitas sosial lainnya secara Islami. 2). Nilai Keimanan kedua yang juga harus diproses oleh kegiatan dakwah adalah meningkatkan kemampuan diri yang diamanahkan Allah, yakni mengembangkan kemampuan pikir dalam bentuk ilmu-teknologi dan kemampuan fisik dalam bentuk kesehatan-kebugaran tubuh agar prestasi hidupnya bisa maksimal. Nilai ini membawa arahan agar dakwah mampu memberi kemampuan pada umat agar secepatnya menjadi cerdas-pintar-sehat jasmani-rohani. Materi dakwah harus mendorong umat mendapat tambahan ilmu-teknologi dan membawa mereka faham arti sehat jasmani-rohani. Janganlah dakwah hanya berputar pada diskusi keimanan yang abstrak dan gurauan yang tidak bermakna. Amat tidak layak jika dakwah menjadi panggung hiburan dan bualan tidak keruan hanya menghabiskan untuk waktu para pendengarnya. Dakwah Islamiyah harus padat berisi, membawa umat bertambah pengetahuannya tentang aqidah-syariah-ilmu-teknologi sehingga mereka menjadi manusia yang semakin berkualitas. Melalui dakwah umat harus disiapkan menjadi orang cerdas, trampil, berwawasan luas, kreatif mencipta kerja, sehat jasmani-rohani, dan membuat dirinya bisa bekerja serta membuat lapangan kerja untuk orang lain. Sain dan teknologi harus dimiliki dan dikuasai oleh umat. Dakwah harus bermuatan keilmuan-teknologi di mana dalam ajaran Islam tegas dinyatakah bahwa Allah SWT akan mengangkat manusia pada derajat yang tinggi bagi mereka yang beriman dan berilmu. 3). Nilai Keimanan ketiga yang harus dikembangkan oleh proses dakwah adalah nilai akan pentingnya perilaku berkesadaran sosial, suka menolong orang lain, memiliki keteladan cara hidup yang benar seperti hidup sederhana walau hartanya banyak, bukan sikap egosentris dan elitis. Hadis Rasullulah jelas menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat pada orang lain. Nilai keimanan ketiga ini memberi makna pentingnya kebersamaan atau ukhuwah, nilai Islam yang sekarang ini kecenderungannya semakin terkikis digantikan oleh nilai baru dari budaya asing yakni hidup semau sendiri, tidak menenggang perasaan orang lain, hedonis, dan egois. Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim itu semakin terjerumus pada nilai merusak tersebut padahal ketahanan suatu bangsa terletak pada nilai ukhuwah, saling membantu, saling menolong, saling peduli, dan saling menenggang rasa. Untuk menumbuhkan nilai mulia seperti ini jelas tidaklah cocok jika ada Pencemarah Agama Islam yang menjual tarip, apalagi tarif yang  aduhai, menjadikan dakwah sebagai mata pencaharian untuk menjadi cepat kaya di tengah kemiskinan umatnya sehingga merusak hakekat dakwah itu sendiri.
  2. Dakwah Membentuk Lingkungan Hidup Indonesia yang Islami: Dakwah yang dilakukan para aktifis Islam harus mengarah-berorientasi membentuk Lingkungan Hidup yang mendukung misi dakwah. Tidak cukup berdakwah hanya  menasehati orang per orang atau kelompok orang saja. Dakwah Islamiyah harus mendorong terbentuknya lingkungan hidup manusia, baik lingkungan bio-fisik maupun lingkungan sosial yang Islami agar umat terjaga keimanan-ketaqwaannya secara maksimal karena hidup dalam habitat yang baik. Benarkah Lingkungan Hidup Indonesia sudah mendukung misi dakwah? Dengan kata lain benarkah lingkungan Indonesia sudah menjadi lingkungan yang menunjang terbentuknya manusia yang taat beragama, bukan malah merupakan lingkungan yang merusak pesan dakwah yang diceramahkan di sekolah, kelompok pengajian, dan lainnya? Apakah program TV, pentas hiburan, gelanggang olahraga, tempat-tempat publik termasuk perusahaan-kantor pemerintah, sebagai bagian lingkungan hidup manusia Indonesia sudah memberi suasana yang mendukung pembentukan keiman-ketaqwaan yang benar bagi umat, bukannya malah menghancurkan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam aktifitas dakwah dan pendidikan agama formal? Jawabannya sudah bisa ditebak, yakni Lingkungan Hidup Indonesia amat tidak mendukung bagi terbentuknya manusia yang beriman-bertaqwa. Betapa sering program TV nasional sarat adegan kekerasan dan pornografi serta perilaku konyol termasuk klenik, kecurangan, dan tipudaya. Begitu pula isi banyak media masa cetak-elektronik. Lihat pula tempat publik seperti pasar, taman, tempat hiburan, dan semacamnya yang juga dipenuhi poster, pamflet, baliho berisi iklan yang tidak membawa rakyat untuk memiliki nilai keimanan-ketaqwaan. Suasana Lingkungan Hidup Indonesia cenderung membawa masyarakat untuk tidak peduli bahkan antipati pada ajaran agama. Begitu juga perilaku banyak pejabat negara-daerah serta pola hidup orang kaya yang tidak memberi teladan positif bagi misi dakwah. Perilaku korup, mengumbar nafsu, pamer kekayaan, dan bahkan eksploitatif pada bawahan serta bergaya hidup bermegah-bermewah-pesolek, apakah bisa berperan sebagai habitat yang mendukung misi dakwah? Penceramah agama Islam sepertinya merajut keimanan-ketaqwaan di ‘siang hari’ (walau materi dakwahnya belum utuh), namun ‘malamnya’ diurai lagi oleh Lingkungan  Hidup di rumah, kantor, kafe, di tempat olahraga, dll yang mengurai kembali rajutan dakwah ulama dan ustadnya. Mengapa bisa begitu? Karena lingkungan hidup yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah untuk mewarnainya tidak dibenahi secara memadai oleh Pemegang Amanah Pemerintahan. Allah pasti akan meminta pertangung-jawaban mereka.

DENGAN MEMAHAMI JANGKAUAN DAKWAH Islamiyah seperti diuraikan di atas maka mudah sekali kini memperoleh kesimpulan apa yang keliru dalam proses  dakwah di negeri ini, siapa yang mengurai pesan dakwah para ulama dan ustad, dan bagaimana perubahan dalam strategi dakwah yang segera harus dibenahi.

InsyaAllah dengan dakwah berorientasi Pengajaran Agama Islam yang Utuh baik dalam hal tuntunan RITUAL dan SOSIAL-POLITIK Islam serta segera Membangun Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia yang Islami maka negeri muslim Indonesia akan cepat menjadi negeri adil-makmur penuh ampunan dan rahmat Allah swt. Pejuang Islam di negeri ini harus memelopori terwujudnya cita-cita ideal tersebut melalui Arahan Baru dakwah Islamiyah dan kerja lebih keras dalam berdakwah. Dakwah Rasulullah tidak sekedar berceramah tentang Aqidah dan Ritual Islam namun juga membentuk Lingkungan Hidup Islami melalui Kebijakan Nasional oleh Kekuasaan Formal Negara yang beliau pegang.

Surabaya, awal Oktober 2010

Entry filed under: Politik. Tags: , , , , , , , .

BUDAYA LUHUR vs BUDAYA RUSAK, Mana yang Berkembang di Indonesia? Tatkala Sentimen Anti Imigran Muslim Merebak di Barat, MUSLIM INDONESIA PENDUKUNG MULTIKULTURALISME-PLURALISME MESTINYA KEMBALI KE SYARIAT KENEGARAAN AGAMANYA

1 Comment Add your own

  • 1. M Zainuddin  |  8 February 2011 at 13:00

    sebagian materi Dakwah para ustad, ulama, dai kita masih belum membumi. Masih berkutat persoalan akhirat saja. padahal umat perlu petunjuk dalam berpolitik. Ekonomi, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2010
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: