ILMU SOSIAL ISLAM vs ILMU SOSIAL ALA BARAT, Manakah yang Menyelamatkan Umat Manusia? JANGAN SALAH PILIH!

26 October 2010 at 13:41 4 comments

Dalam buku saya berjudul “ISLAMIC VISION TO MAKE A BETTER WORLD” yang diterbitkan  Rajagrafindo Press, saya muat skema tentang hubungan antara Agama Islam dan Ilmu Pengetahuan, baik yang eksakta  maupun ilmu sosial (lihat juga artikel dalam blog ini yang berjudul ‘When Qur’anic Verses are in Disagreement with Scientific Findings). Saya  menjelaskan betapa banyak temuan ilmu sosial (termasuk hukum, ekonomi, politik, dan semacamnya) yang memiliki ‘pit-holes’ sehingga tingkat akurasi dalam menemukan ‘fakta kebenaran’ yang bersifat universal amat rendah. Kekeliruan kesimpulan dalam banyak temuan ilmu sosial yang dilakukan oleh manusia bersumber dari empat sebab pokok, yakni: 1). Dunia sosial amat kompleks sehingga banyak variabel penelitian yang lolos dari pengamatan; 2) Dunia sosial itu dinamis sehingga sulit ditelusuri oleh proses pengamatan yang terbatas; 3). Dunia sosial  begitu luasnya sehingga tidak sempat semua aspek sosial memiliki kajian obyektif yang bisa dipakai sebagai pertimbangan untuk bertindak; dan 4). Banyak peneliti dalam bidang ilmu sosial, apalagi jika sudah menyangkut politik dan ekonomi, terjebak pada kepentingan personal seperti pesanan pemilik modal atau elit politik sehingga kajiannya memihak dan tidak obyektif.

Masalah utamanya adalah manusia sering terjebak pada arogansi keilmuan sehingga lupa akan obyektifitas perilakunya sendiri dan lalu lahirlah kekeliruan demi kekeliruan yang bersifat struktural karena ditulis oleh si peneliti, diajarkan oleh si dosen, dan dilanjutkan oleh pada siswa atau mahasiswa. Akhirnya sampailah suatu kekeliruan itu ke masyarakat luas yang diulang-ulang pemberitaaannya oleh media masa, dan akhirnya jadilah kekeliruan itu sebagai suatu kebenaran. Maka tatkala kekeliruan itu dipraktekkan dalam kehidupan sosial, seperti bentuk kebijakan nasional atau praktek hukum maka terjadilah kerusakan dalam kehidupan masayarakat itu. Sayangnya walau sering kekeliruan tersebut sudah tampak jelas di depan mata, para pakar atau ahli sering tidak menganggapnya sebagai akibat kekeliruan mereka dalam mengkaji masalah sosial namun sebaliknya lalu mencari-cari pembenaran akan teorinya dengan melakukan koreksi-koreksi temporer-parsial dan akhirnya kebenaran yang hakiki tetap tidak ditemukan, dan masyarakat semakin terpuruk. Begitulah memang manusia dengan kelemahan sifat dasarnya. Saya ulas masalah itu lebih luas dan mendalam dalam buku di atas.

Sesungguhnya semua manusia itu, bahkan yang atheis sekalipun,  memiliki dua pertimbangan pokok sewaktu akan membuat keputusan dalam melangkah, yakni: 1). Keyakinan/Keimanan hati; dan 2). Rasionalistas yang didukung data empiris  yang akurat. Banyak keputusan yang dibuat manusia tanpa pertimbangan rasional akal pikiran yang akurat, dan sebaliknya justru banyak keputusan diambil berdasar keyakinan hati. Orang mau shalat karena keyakinan/keimanan hati. Mengapa orang tidak bertindak sesuai tuntunan Islam saat mengambil kebijakan sosial-politik-ekonomi padahal dia katanya beriman? Keputusan yang dilakukan atas dasar keyakinan itu jangan dianggap salah karena memang tidak semua masalah hidup memiliki rasionalitas empiris di samping banyak pertimbangan akal fikiran yang ternyata keliru, baik karena kelemahan manusia atau memang karena sengaja menipu diri sendiri atau ditipu orang lain. Di sinilah pentingnya menanam keyakinan yang benar dalam hati akan hakekat kehidupan ini sehingga manusia memiliki pegangan yang kuat dalam hidupannya.

Islam mengajarkan keimanan-ketaqwaan kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw yang secara operasional berbentuk tuntunan dalam membuat keputusan melangkah. Kalau dalam masalah ritual atau mahdhah manusia sepertinya jelas menyatakan takluk dan sepenuhnya mengikuti tuntunan agama karena ilmu pengetahuan empiris tidak memberikan informasi apapun tentang itu. Terhadap akhlak atau moralpun manusia sedikit banyak juga sering mau tunduk pada ajaran agama karena ilmu pengetahuan dalam hal akhlak ini memang amat sedikit memberi petunjuk kalau tidak bisa dikatakan tidak ada. Nah, pada  sisi sosial (seperti hukum-politik-ekonomi) manusia umumnya memang sering membangkang terhadap ajaran agama karena dua alasan, yakni kajian ilmu pengetahuan empirisnya memang sudah amat banyak dan tidak semua agama memiliki tuntunan tentang masalah sosial itu. Islam jelas memiliki banyak tuntunan tentang sosial-hukum-politik-ekonomi tersebut  namun malah lalu sering diabaikan oleh orang Islam sendiri. Mengapa? Karena lebih percaya/yakin/iman pada produk-produk ilmuan sosial-politik yang bertebaran di mana-mana walau seperti yang diterangkan sebelumnya bahwa produk-produk tersebut banyak cacatnya. Ironis bukan? Di sinilah sesungguhnya asal-muasal lahirnya  ‘Pemikiran Sekuler’ dalam dunia umat Islam, yakni menolak (kafir) terhadap tuntunan sosial-hukum-politik-ekonomi Islam yang diajarkan Allah swt dan dicontohklan Nabi Muhammad saw dan lebih memilih tuntunan hasil kajian manusia. Siapa yang bisa mengoreksi penyimpangan fatal seperti itu? Mestinya Ulama dan Pemerintah, yang sadar bahwa tuntunan agama (Islam) itu terkait kehidupan sosial-politik juga, yang harus mengoreksi secara mendasar. Mana ada pemerintahan Negara yang dengan lantang akan mengevaluasi ‘kebenaran’ kandungan ilmu sosial-politik yang selama ini secara massif beredar dengan tingkat keyakinan tinggi di negerinya, dianut oleh banyak profesor, doktor, ilmuan, pakar, mahasiswa, untuk dikoreksi dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah Nabi?

Iran diberitakan memulai rintisan ke arah itu. Atas perintah Ayatollah Ali Khameini, seorang Ulama besar, Penguasa Tertinggi Iran, maka akan dilakukan koreksi terhadap Kandungan Ilmu Sosial, antara lain: Hukum, Studi Perempuan, HAM, Manajemen, Ekonomi, Filsafat, Psikologi, dan Ilmu Politik. Ilmu-ilmu Sosial tersebut dikatakan akan ditinjau ulang kandungannya karena kajiannya didasarkan oleh budaya barat (Sekuler/ Non-Islam). Kandungan ilmu sosial tersebut akan diselaraskan dengan tuntunan Islam. Ayat al Qur’an dan Sunnah Nabi memiliki banyak tuntunan tentang masalah sosial-politik-ekonomi tersebut. Pemerintah Iran juga akan merombak kandungan kurikulum ilmu sosial yang ada di negerinya. (Lihat Republika 26 Oktober 2010).

Bagaimana Indonesia, masihkah akan memakai hasil kajian ilmu sosial-politik-ekonomi-budaya yang bersumber dari ajaran Barat yang Non-Islam itu dalam praktek pembuatan kebijakan nasionalnya? Manakah Ulama Besar Islam di negeri ini yang bersikap tegas mau mengoreksi kekeliruan ilmu sosial di negerinya untuk disesuaikan dengan tuntunan Islam bidang sosial-hukum-politik-ekonomi demi kejayaan umat dan bangsanya? Ingatlah bahwa akibat buruk dari aplikasi ilmu sosial ala Barat itu pasti akan ditanggung umat dan bangsa Indonesia, baik dalam bentuk eksploitasi ekonomi dan politik maupun MURKA ALLAH SWT dalam bentuk bencana-bencana. Naudhubillahi min dhalik.

 

Indonesia, akhir Oktober 2010.

Entry filed under: Budaya, Pemikiran, Pendidikan. Tags: , , , , .

Tatkala Sentimen Anti Imigran Muslim Merebak di Barat, MUSLIM INDONESIA PENDUKUNG MULTIKULTURALISME-PLURALISME MESTINYA KEMBALI KE SYARIAT KENEGARAAN AGAMANYA MENGATUR UMAT vs MENGATUR NEGARA

4 Comments Add your own

  • 1. mustakim  |  28 October 2010 at 11:19

    Kalau kita ikuti berita di Republika hanya dimuat pemikiran-pemikiran para ahli Islam jadul atau jaman dahulu. Maksudnya mungkin baik untuk memberi inspirasi kepada generasi sekarang bahwa kita pernah berjaya dalam bidang keilmuan. Mereka supaya mencontoh.

    Di Indonesia mantan Rais Am NU dari Sulsel pernah menulis tenatng Fiqih Sosial tetapi kelihatannya juga tidak berkembang.

    Saya punya pengalaman yang menarik waktu di Abu Dhabi. Satu mobil yang berisi 5 WNI seorang ibu beserta anaknya laki-laki berumur 6 tahun, sopir dan penumpang lainnya laki-laki mau ke KBRI di jalan ditabrak mobil lain sehingga semua WNI meninggal dunia.

    Peristiwanya disidangkan di Mahkamah Syariah dengan keputusan bagi ahli waris ibu/perempuan yang meninggal hanya dapat Dirham 75.000,- sedangkan apabila yang meninggal pria meski baru anak-anak ahli warisnya dapat Dirham 150.000,-. Menurut hakim itu hukum Islam. Saya tanya hukum 2 : 1 kan untuk hukum waris, tetapi dijawab itu diqiyaskan bahwa perempuan haknya hanya separonya pria.

    Disinilah perlu adanya pemikiran para pemikir Islam di Indonesia untuk merevitalisasi pemahaman mengenai ke Islaman terutama yang menyangkut masalah kehidupan sosial/hukum.

    Pemahaman ilmu kemasyarakatan Islam saya tanya mahasiswa yang belajar Islam di Karachi waktu itu, mereka tidak mempelajarinya, sehingga kekosongan ini diisi oleh orang-orang sekuler. Harus ada perhatian bagaimanakah sebenarnya ilmu-ilmu keislaman itu diluar peribadatan. Orang non muslim sebelum mereka menyebarkan kepercayaannya memetakan kondisi sosial, sehingga mereka relatif lebih mudah menginfiltrasi ke kantong-kantong muslim yang lemah.

    Mustakim

  • 2. Mohammad Hanafi  |  29 October 2010 at 07:31

    Cuplikan waktu akan memmbuat kepusuan saya kopikan di milis dokter2 alamatnya mailto:dokter-INA@yahoogroups.com. Mungkin dimuuat mungkin tidak.

  • 3. Abdul Karim  |  30 October 2010 at 08:57

    Barat terutama Amerika dengan filsafat materialis-Kapitalis dan Liberalismenya menghadapi masa2 kehancuran, paling tidak dalam sektor ekonomi. Mereka sudah bangkrut (kebatilan itu memang pada hakikatnya bersifat menghancurkan, baik orang lain maupun diri sendiri, dengan kata lain mereka yang memilih kebatilan pada hakikatnya memilih kehancuran).
    Sistem ekonomi Islam (perbankan Syariah) mulai dilirik barat, biasanya nanti kita akan ketinggalan juga dengan mereka, karena SDM mereka memang lebih siap (Saya dengar pakar ekonomi syariah adalah justru non muslim). Banyak milik kita yang pada akhirnya mereka pakai, dan kita hanya bisa bernostalgia dan menggerutu saja. Masalah menyikapi ilmu, akhlaq, dan lain2. Tidak ada jalan lain, pendidikan akan menjadi sangat penting bagi kita, pendidikan yang berkarakter Islam. Wallahu ‘alam

  • 4. abdul herlambang  |  3 July 2012 at 15:45

    prinsip dasarnya ilmu sosial menurut ajaran islam itu mengkaji realitas kehidupan masyarakat kemudian meneliti hal hal yang salah dan yang buruk yang ada didalamnya lalu berusaha merubahnya ke arah yang baik dan benar sesuai ajaran agama.coba kaji apakah konsep ilmu sosial seperti ini ada pada ilmu sosial dari ‘barat’ yang tidak peduli apakah msyarakat ada dalam benar atau salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2010
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: