Pengantar Narasi Presentasi dalam Seminar Internasional tentang Hukum dan Ekonomi Syariah di IAIN JAMBI

28 December 2010 at 10:50 Leave a comment

“KRISIS EKONOMI GLOBAL” AKAN SELALU HADIR BERKALA KARENA PRAKTEK TRANSAKSI HARAM YANG TERINTEGRASI DI DALAMNYA. NEGARA BARAT DAN SATELIT-SATELITNYA YANG MENGGUNAKAN SISTEM EKONOMI KAPITALISTIK AKAN TERKENA IMBASNYA, DAN YANG PALING MENDERITA ADALAH  NEGERI SEKULER YANG MASIH LEMAH STATUS EKONOMINYA TAPI KAYA SUMBER DAYA ALAMNYA. BERIKUT INI PRESENTASI LENGKAPNYA.

===========================

PERBANKAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERWAWASAN  SYARIAH, Mengatasi Krisis Ekonomi Global

Fuad Amsyari PhD,

I.  PENCARIAN STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL

Setelah Perang Dunia II, negara-negara khususnya yang memenangkan perang merundingkan bagaimana proses pembangunan yang efektif bisa secepatnya memperbaiki kondisi setelah dilanda perang dahsyat tersebut. Dalam proses pencarian itu kemudian dikenal beberapa model pembangunan nasional dengan orientasi strategi yang berkembang sesuai kemampuan pemikiran intelektual pembangunan yang ada. Berikut ini perkembangan pemikiran pembangunan nasional yang terjadi:

Dekade 50an: Pembangunan Nasional yang berorientasi pada PERTUMBUHAN EKONOMI (ECONOMIC GROWTH ORIENTATION)

Ciri utama model ini adalah negara berlomba meningkatkan pertumbuhan ekonominya secara makro, yakni meningkatkan GNP dari tahun ke tahun sebesar mungkin. Banyak negara berhasil memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun umumnya lalu mendapatkan masalah serius yakni kemiskinan justru meraja lela di negeri itu. Dengan ringkas karakteristik orientasi pembangunan era ini dan efeknya adalah:

–         Keberhasilan Pembangunan Nasional diukur oleh Pertumbuhan Ekonomi Nasional.

–         Tampak kegagalan dalam memakmurkan mayoritas penduduk, malah terdapat kantong-kantong kemiskinan luar biasa besarnya yang tersembunyi dibalik gemerlap sukses beberapa orang.

Dekade 60an: Pembangunan Nasional yang berorientasi pada PEMENUHAN KEBUTUHAN POKOK PENDUDUK (BASIC NEED ORIENTED STRATEGY)

Kegagalan dalam model pembangunan era 1950an di atas dalam artian menjamurnya kantong-kantong kemiskinan membuat pakar pembangunan mengubah strateginya dengan menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan pokok penduduk. Kebutuhan pokok yang diutamakan masih dalam ukuran ekonomis, seperti sandang, pangan, dan papan (pakaian, makanan, dan tempat tinggal). Pemerintah mengukur perkembangan pemenuhan penduduk terhadap tiga aspek kebutuhan tersebut. Sayangnya orientasi ini setelah 10 tahun  jalan masih juga tidak memenuhi target pembangunan yang dicitakan. Secara ringkas orientasi pembangunan ini bercirikan:

–         Ukuran keberhasilan pembangunan beralih dari pertumbuhan ekonomi secara makro ke pemenuhan Kebutuhan Dasar manusia yang bersifat ekonomis, khususnya kemiskinan.

–         Ternyata hasilnya juga tidak memuaskan karena program mengangkat kemiskinan masih mentah sehingga tidak efektif. Teori pemerataan kesejahteraan ekonomi dengan ‘trickle down effet’ ternyata tidak jalan sesuai harapan. Slogan pemerataan tidak tercapai, hanya sampai ke tingkat retorika.

Dekade 70an: Pembangunan Nasional yang berorientasi pada PEMENUHAN KEBUTUHAN KEHIDUPAN MANUSIA YANG LUAS DENGAN BERORIENTASI PADA INDEKS KEBUTUHAN FISIK (PHYSICAL QUALITY OF LIFE INDEX APPROACH)

Orientasi pembangunan nasional kali ini menjadi lebih luas sasaran pencapaiannya karena bercirikan untuk memenuhi kebutuhan penduduk secara lebih manusiawi, yakni  Kecukupan Ekonomi, Kesehatan, dan Pendidikan. Model pembangunan nasional semacam ini ternyata juga dirasakan tidak ideal, yakni bahwa kebutuhan manusia tidak sekedar kebutuhan fisik saja, tapi juga non-fisik, termasuk aspek spiritual dan lingkungan hidup. Walau hanya berorientasi memenuhi kebutuhan fisikpun namun umumnya negara juga tidak banyak berhasil mencapai sasaran pembangunan negerinya karena konsep pemerataan yang dirancang tidak memasukkan variabel pembangunan yang lengkap walau negara berhasil menumpuk keuntungan materi dari aktifitas ekonominya. Pada sisi lain justru mulai disadari terjadinya kerusakan lingkungan hidup luar biasa oleh eksploitasi lingkungan demi pertumbuhan ekonomi.

Dekade  80-90an: Pembangunan Nasional yang berorientasi pada PERBAIKAN LINGKUNGAN HIDUP ATAU DIKENAL SEBAGAI PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN (ECO-DEVELOPMENT APPROACH)

Pada era ini baru disadari akan rusaknya lingkungan akibat pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan fisik penduduk. Sasaran pembangunan bersifat fisik di atas ternyata umumnya dengan cara  mengeksploitasi lingkungan secara ekstensif dan intensif. Kualitas lingkungan menjadi merosot tajam. Lingkungan hidup mengalami degradasi luar biasa dalam dua bentuk, yakni: Rusaknya Lingkungan karena tidak lagi dapat dikeruk semaunya sebagai sumber daya ekonomi dan Pencemaran Lingkungan di mana lingkungan sebagai habitat manusia tidak lagi sehat dan mengakibatkan berbagai macam penyakit yang memerlukan perawatan yang mahal. Lingkungan menjadi tercemar dalam semua matranya: udara, air, dan tanah. Ciri model pembangunan era ini adalah:

–         Menekankan pentingnya Lingkungan Hidup sebagai salah satu aspek strategis dalam pembangunan.

–         Lingkungan hidup disadari tidak bisa dieksplorasi dan dieksploitasi semena-mena untuk kepentingan kebutuhan ekonomi manusia. Lingkungan hidup diakui punya keterbatasan.

–         Lingkungan juga merupakan hajat kebutuhan hidup manusia.

Era Milinium ke 3 (2000- ): ORIENTASI PEMBANGUNAN DIKENAL SEBAGAI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE DEVELOPMENT  APPROACH)

Di akhir dekade 90an dan mengawali melinium ke 3, setelah berbagai pengalaman selama sekitar 50 tahun dalam membangun banga-negara dengan hasil yang ternyata tidak juga memuaskan, maka pembangunan nasional dikemas cara lama namun memakai jargon lebih bagus, yakni Pembangunan Berkelanjutan. Pendekatan ini dikatakan berorientasi pada  membangun tanpa merusak, sehingga pembangunan diharapkan akan bisa berlangsung terus menerus tanpa batas. Tapi apa fakta yang terjadi? Ternyata kini dihadapi permasalahan baru lagi yakni bukan hanya lingkungan hidup yang rusak tapi moral atau akhlak manusia juga runtuh. Korupsi merajalela, penipuan di mana-mana. Kekayaan materi memang bertambah di sebagian negara tapi di negara lain justru habis sumber daya alamnya oleh eksploitasi negara maju. Orang melihat banyak kejanggalan dalam pembangunan dan mempertanyakan pembangunan  berkelanjutan itu untuk siapa (sustainable development FOR WHOM?)

–         Bukankah faktanya mayoritas penduduk dunia masih miskin, kesenjangan ekonomi semakin tajam, kerusakan dan pencemaran lingkungan makin menjadi-jadi, kriminalitas dan patologi sosial lain terus bertambah, akhlak manusia makin rendah? .

–         Ketimpangan kesejahteraan dan kerusakan oleh efek samping (‘side-effect’)  strategi pembangunan yang tidak utuh (mengutamakan sektor ekonomi) selama ini yang katanya telah dikoreksi dengan mengubah model strateginya  ternyata tidak juga berhasil membawa kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Bahkan rusaknya kualitas manusia, khususnya akhlak semakin meluas dan susah dikendalikan. Berbagai masalah pembangunan yang terus menumpuk itu tentu ada sebab mendasarnya. Kegagalan demi kegagalam tersebut tampaknya memang terkait dengan kemampuan berfikir manusia yang terbatas. Manusia memiliki kelemahan hakiki sebagai manusia, sehingga tidak akan bisa berhasil dalam proses pembagunan yang kompleks permasalahannya jika hanya bertumpu/bersandar pada kemampuan intelektualitas kemanusian belaka. Kesalahan besar pencarian model pembangunan nasional jelas terletak pada cara berfikir manusia. Cara berfikir selama ini adalah SEKULARISTIK, mengabaikan TUNTUNAN MAHA PENCIPTA dalam mengelola bangsa-negara. Bagaimana solusinya? Apakah harus mengacu ke agama? Apakah Agama memiliki tuntunan bagaimana harusnya mengelola bangsa-negara? Ya, agama Islam MEMANG MEMILIKI TUNTUNAN BAGAIMANA MENGELOLA BANGSA-NEGARA. Inilah kemudian yang sering disebut sebagai PEMBANGUNAN BERWAWASAN SYARIAH.

II. PEMBANGUNAN BERWAWASAN SYARIAH

Untuk memahami bagaimana model pembangunan yang berwawasan syariah tentu harus diketahui terlebih dahulu apa makna operasional agama itu. Benarkah agama memiliki tuntunan untuk cara pembangunan bangsa-negara? Bukankah selama ini diasumsikan agama hanya mengajarkan bagaimana manusia sebagai individu per individu itu harus menyembah tuhannya (Ritual) dan beberapa ajaran nilai Moral untuk berhubungan satu dengan lainnya? Pendapat agama yang sesempit itu jelas tidak berlaku dalam ajaran AGAMA ISLAM. Islam mengajarkan bukan hanya aspek ritual dan akhlak/moral saja tapi juga memberi tuntunan bagaimana mengurus masyarakat-bangsa-negara. Agama Islam bahkan memberi contoh nyata bagaimana mengetrapkan tuntunan agama dalam proses mengelola negara melalui praktek langsung oleh Nabi Muhammad dan dilanjutkan  4 Kepala Negara (Khalifah) terkenal sesudah Nabi yakni Abubakar, Umar, Usman, dan ‘Ali. Agama Islam tidak hanya mengajarkan cara Ritual dan akhlak saja.

Makna beragama dalam Islam harus utuh dan mengikat, yakni harus beragama sesuai tuntunan Allah swt baik sebagai Pribadi, Keluarga, maupun Bangsa-Negara. Berikut ini makna beragama dalam ajaran Islam:

1). Beragama tidak boleh dianggap sekedar sebagai simbul sosial seperti alamat rumah atau status kewarga-negaraan yang bisa berganti tanpa implikasi yang serius bagi nasib pemeluknya.

2). Beragama juga tidak bisa dianggap sebagai sekedar asesoris pribadi yang tidak memberi dampak serius bagi nasib manusia jika ditanggalkan.

3).  Pilihan terhadap suatu agama akan menentukan cara hidup pribadi sehari-hari, cara hidup orang itu dalam berkeluarga, dan cara hidup orang itu dalam mengurus bangsa dan negara jika dia memiliki status atau kewenangan mengurus bangsa-negara.

4). Pada dasarnya agama Islam yang dipeluk oleh kaum muslimin memberi tuntunan dalam dua hal, yakni: aqidah dan syariah.

5).  Aqidah adalah ajaran tentang keyakinan hati bahwa Allah swt adalah tuhannya manusia, Muhammad saw adalah Rasul-Nya, mengikuti tuntunan Allah akan membawa keberuntungan dunia-akherat sedang meninggalkan tuntunan Allah akan mencelakakan kehidupan manusia dunia-akherat.

6).  Syariah adalah petunjuk teknis-operasional dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam itu lengkap/kaffah, meliputi ajaran tentang: ibadah mahdhah, berakhlak, membina keluarga, dan mengatur/mengelola masyarakat-bangsa-negara.

Dengan mengacu pada pokok pikiran tentang agama Islam di atas maka makna Wawasan Syariah dalam Pembangunan adalah:

“Membangun Bangsa-Negara dengan mengikuti Petunjuk Operasional dari Allah swt yang terkait dengan masalah sosial-kenegaraan”.

Berikut ini pesan Syariat untuk Pembangunan Bangsa-Negara:

(Surat Saba’ ayat 15-16)

-Sungguh kasus Negeri Saba’ merupakan contoh nyata, negeri itu alamnya bagus dengan perkebunan yang subur di seluruh penjuru negeri; nikmatilah rizki dari tuhanmu dan bersyukurlah kepadaNya; negerimu itu bagus kualitasnya dan tuhanmu itu penuh ampunan.

-Namun ternyata mereka ingkar pada syariat Allah (dalam mengelola negerinya), maka Allah mendatangkan pada mereka banjir besar yang luar-biasa, sehingga perkebunan mereka yg semula subur berubah menjadi tanah  gersang dan tanamannya berganti dengan yang pahit buahnya.

(Surat al A’raf ayat 96):

-Sekiranya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa (relevasinya pada tataran bangsa dengan syariat sosial), pasti Allah akan mendatangkan untuk mereka kesejahteraan dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka ingkar akan syariatNya maka Allah timpakan pada mereka banyak kemalangan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

(Surat ar Rum ayat 41)

-Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan karena perbuatan tangan mereka yang tidak taat syariat (relevansinya pada tataran sosial); Allah menghendaki agar mereka merasakan akibat perbuatan mereka itu, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.

(Surat al Baqarah ayat 120)

-Katakan: Sesungguhnya syariat Allah itulah  cara yang benar, maka jika kalian mengikuti hawa nafsu kalian setelah datangnya petunjuk Allah itu, tidaklah akan ada pertolongan dan perlindungan dari Allah bagi kalian.

III. WAWASAN SYARIAT DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Setelah memahami makna Pembangunan Nasional berwawasan Syariah maka kini menjadi lebih mudah untuk memahami apa yang disebut sebagai wawasan syariah dalam pembangunan ekonomi. Jawabannya adalah “Membangun ekonomi bangsa dengan menggunakan dalil dan prinsip operasional yang diajarkan oleh Allah swt tentang pengelolaan masyarakat-bangsa-negara di bidang Ekonomi”.

Walau sudah jelas definisinya namun tentu diperlukan jawaban yang lebih operasional untuk dijadikan sebagai pegangan dalam pelaksanaan kebijakan nasional. Untuk itu tantangannya adalah: “Mengkaji ayat-ayat dari Allah dari Kitab Suci (al Qur’an) tentang Prinsip Operasional Pembangunan Ekonomi Nasional dan Sunnah Nabi terkait pengelolaan negara”.

Landasan  Ayat tentang Ekonomi Makro dalam al Qur’an:

–         Surat  al Baqarah ayat 219, 275,  279, 280, 282,

–         Surat at Taubah ayat 103,

–         Surat al Isra’ ayat 26-27.

Panduan Tehnis Kebijakan Ekonomi Syariah:

1.     Rakyat diberi kebebasan penuh melakukan usaha ekonomi namun tidak boleh bersifat haram karena usaha ekonomi yang haram pasti akan bersifat eksplotatif dan memeras orang lain.

2. Lembaga keuangan harus bebas dari riba’ karena riba’ berarti eksploitasi orang yang sedang kesulitan ekonomi oleh lembaga/orang yang berlimpah dana. Bank Sentral harus memberikan percontohan dan mengontrolnya

3. Memberdayakan orang/keluarga miskin oleh Negara  melalui: 1). Lembaga Baitul Mal yang kuat; dan  2). Prioritisasi anggaran pembangunan

4.     Aplikasi Sistem Ekonomi Waris, yakni keluarga kaya dari suatu sistem waris wajib membantu/mengangkat secara sungguh-sungguh kondisi ekonomi keluarga lain (dalam sistem warisnya) yang sedang kekurangan.

5.     Kebijakan Fiskal: a).aspek pengeluaran menekankan prioritas anggaran guna pemberdayaan kelompok keluarga dhuafa, pemberian gaji-fasilitas secukupnya kepada pejabat, dan neraca anggaran surplus; b). aspek pendapatan tidak ada yang bersifat haram dan menghindarkan hutang luar-negeri.

6.     Perdagangan internasional memakai sistem valuta terstandarisasi dengan emas (dinar) dan menjaga kestabilan nilai tukar mata uang nasional.

7.     Lembaga Peradilan Ekonomi dibentuk untuk mengadili dan menindak birokrat yang lengah mengurusi orang miskin di daerahnya, atau anggauta waris kaya yang menelantarkan anggauta warisnya yang miskin.

IV. PERAN PERBANKAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERWAWASAN SYARIAH

Dalam Studi Ekonomi dikenal ada dua dimensi yakni: 1). Pembangunan Ekonomi Makro yang mengatur ekonomi dalam skala negara. Pendekatan ini sering juga disebut sebagai Ekonomi Pembangunan; dan          2). Pembangunan Ekonomi Mikro yang mengkaji permasalahan ekonomi di tingkat yang lebih terbatas seperti ekonomi perusahaan atau keluarga. Studi ini juga populer disebut sebagai Ekonomi Menejemen. Tentu saja antara keduanya sering ada percampuran dan saling kait mengait.

Perbankan bisa masuk pada ke dua dimensi ekonomi tersebut,  yakni masuk ke Tataran Makro (Bank Sentral) dan juga Tataran Mikro (Bank Umum).

Peran Makro perbankan (oleh Bank Sentral Syariah) adalah:

1).        Peran Pengendalian Sistem Moneter:

– Mengendalikan Jumlah Uang yang Beredar

– Menetapkan Kurs Mata Uang Nasional

– Mengontrol arus keuangan dlm Perdagangan Internasional

2).        Pengaturan Keuangan Negara,  terkait:

–         Baitul Mal

–         Kebijakan Fiskal

3).  Pengawasan pada Praktek Perbankan umum

Peran Mikro Perbankan dalam konsep syariah adalah memberi karakter Syariah pada semua Bank umum, yakni:

1).  Bank diperlakukan sebagai usaha Bisnis biasa, seperti misalnya tidak perlu memberikan jaminan simpanan oleh Bank Sentral.

2).  Tidak boleh mengetrapkan Riba

3).  Produk Bank dalam bentuk apapun harus sesuai Prinsip Syariah

Model Krisis Ekonomi Global

Krisis Ekonomi Global jelas merupakan fenomena nyata yang datang secara berulang dalam dunia ekonomi internasional dan dengan kecenderungan semakin sering frekwensinya. Krisis seperti itu tampaknya memang merupakan implikasi dari diterapkannya Sistem Ekonomi Kapitalistik Global dan mengena pada negara manapun yang menganut sistem ekonomi itu, termasuk Indonesia di era Orde Baru dan masa reformasi ini. Hanya negeri yang menganut Sistem Ekonomi Syariah yang mampu terhindar dari krisis ekonomi global tersebut.

Penyebab mendasar terjadinya krisis ekonomi global adalah maraknya praktek ekonomi jahat yang dilakukan di negara-negara bersangkutan, termasuk praktek Penipuan, Pemalsuan, Spekulasi, dan Riba. Keseluruhan praktek ekonomi jahat itu menjamur pada Sistem Ekonomi Kapitalis dan berlangsung dalam skala internasional. Praktek ekonomi jahat seperti itu jelas tidak bisa ditolerir sama sekali dan akan dikenakan hukuman berat bagi para pelakunya dalam sistem Islam (Ekonomi Syariah).

Dari paradigma ekonomi seperti itu di samping jelasnya perbedaan dengan substansi prinsip ekonomi syariah yang diuraikan sebelumnya maka kini menjadi lebih mudah untuk menjelaskan bagaimana bisa terjadi krisis ekonomi global tersebut. Krisis ekonomi global terjadi karena dilakukannya transaksi ekonomi haram (merusak) pada seluruh jaringan ekonomi internasional melalui praktek perbankan yang salah. Dalam lampiran khusus digambarkan skema jaringan perbankan internasional yang merupakan gurita ekonomi kapitalistik yang saling terkait berkelindan tiada putus yang di dalamnya terjadi berbagai bentuk praktek transaksi ekonomi haram.

Praktek Ekonomi Haram dalam Transaksi Perbankan:

Transaksi haram dalam praktek ekonomi, termasuk praktek yang  berlangsung diperbankan nasional dan internasional dapat dikategorikan dalam 3 bentuk:

1).  Haram karena Materi Obyek Kegiatan Eknominya yang bersifat Haram: contohnya adalah praktek ekonomi yang melibatkan barang haram seperti bisnis babi, pelacuran, minuman keras, dan pornografi.

2).  Haram bukan karena materi obyek kegiatan ekonominya namun karena di dalam  prosesnya ada hal yang bersifat haram, seperi praktek Riba (memberi hutang dengan ketentuan di muka untuk mengembalikannya lebih banyak), praktek bisnis dengan cara Penipuan, transaksi yang melibatkan praktek Perjudian, dan kegiatan ekonomi melalui cara tipu-daya yang halus-tersamar seperti upaya curang mempermainkan harga saham lewat rekayasa jahat.

3).  Haram karena akadnya tidak benar seperti bentuk perjanjian yang salah.

Wawasan Syariah dalam Pembangunan Ekonomi Nasional

Akhirnya kini bisa didiskripsikan secara ringkas berbagai komponen Sistem Ekonomi berwawasan Syariah dalam Pembangunan Nasional yang Islami, termasuk di dalamnya praktek perbankan. Pengelolaan ekonomi negara dengan komponen seperti yang diuraikan di bawah inilah yang seharusnya diterapkan oleh  Pemerintahan Negara yang ingin terselamatkan dari Krisis Ekonomi Global yang melanda negara Barat beserta satelit-satelitnya yang membangun negeri dengan cara sekuler-kapitalistik, cara  yang tidak Islami. Dengan cara pengelolaan negara secara Islami itulah maka sebuah negeri muslim seperti Indonesia ini akan terselamatkan dan menjadi maju, makmur, dan sejahtera dalam lindungan- pertolongan Allah swt. Komponen tersebut meliputi:

1).  Payung Syariah untuk Pembangunan Nasional

2).  Payung Syariah untuk Ekonomi Makro

3).  Payung Syariah untuk Ekonomi Mikro

4).  Asas Membangun yang Mengutamakan Kualitas Moral Masyarakat

5).  Asas Program dengan misi Pemberdayaan Rakyat Miskin dan Lemah

6).  Asas Pemanfaatan SDA untuk Keadilan Sosial

7).  Asas Perlindungan pada kualitas Lingkungan

Surabaya, akhir Desember, 2010

Lampiran Khusus:

Entry filed under: Agenda, ekonomi. Tags: , , , , , , , .

HAM TANPA PANDUAN SYARIAT ISLAM AKAN MERUSAK TATANAN SOSIAL UMAT MANUSIA REFLEKSI TAHUN 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: