REFLEKSI TAHUN 2010

3 January 2011 at 16:37 2 comments

Menjelang akhir 2010 menuju 2011 banyak orang memberi refleksi tahunan. Ada yang memuji karena Negara ini aman dan ekonomi membaik dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan, ada yang hanya setengah puas karena juga mengemukakan berbagai permasalahan bangsa yang mengecewakan mulai hal enteng sepakbola yang gagal menang sampai yang berat seperti kasus century dan korupsi yang tidak kunjung selesai. Tapi juga ada yang kecewa berat dengan berbagai ungkapan karena melihat negeri ini masih saja menjadi Negara lemah, kemiskinan masih tinggi, akhlak bangsa semakin rusak, citra di luar negeri yang rendah oleh kasus TKI-TKW, cara menyelesaikan sengketa perbatasan dengan Negara tetangga, sumberdaya alam makin terkuras, hutang makin tinggi, dst. Prestasi-prestasi yang diungkapkan tersebut, yang baik maupun yang buruk, tidak terlepas dari peran siapa pengendali pengelolaan Negara yang sudah diberi mandat berkuasa. Kebijakan-kebijakan pemegang kekuasaanlah yang membuat terjadinya berbagai dinamika sosial (baik maupun buruk) di Indonesia tersebut.

Bagaimana anda, silahkan dipilih berada di fihak yang mana, atau tidak tertarik untuk ikut-ikutan? Bagi yang memiliki perhatian tentu pilihannya. memberi implikasi ke depan, yakni bagaimana  Negara menjadi lebih baik, bukan lebih buruk. Implikasi tersebut secara umum terkait dengan siapa yang akan dipilihnya atau dikampanyekan untuk dipilih  dalam pemilu yad. Memilih Partai-Figur dalam pemilu berarti berpartisipasi dalam memutuskan partai-figur tertentu untuk diberi mandat terus atau harus diganti. Begitulah sesungguhnya makna demokrasi yang hakiki. Demokrasi itu bukan ideology seperti sekularisme, komunisme, Islam, dll namun sekedar metoda dalam bernegara untuk memilih partai-figur yang akan memimpin Negara dan diharapkan membawa kesejahteraan bangsa melalui ideologi yang dimiliki oleh partai atau figure bersangkutan. (Lihat artikel sebelumnya tentang ini).

Tapi benarkah makna demokrasi yang seperti itu sudah difahami? Pada kasus Indonesia nampaknya masih jauh panggang dari api. Rakyat masih belum sepenuhnya memilih partai-figur dalam pemilu dengan alasan untuk memilih partai-figur ideal yang diperkirakannya akan mampu membawa keberhasilan mencapai kemajuan-kejayaan bangsa. Banyak pemilih yang datang ke pemilu asal pilih, atau memilih partai-figur tertentu karena ikut-ikutan orang lain, atau karena tekanan, atau karena diberi uang-barang oleh partai-figur yang ikut sebagai kontestan dalam pemilu itu. Maka demokrasi yang berlangsung seperti itu jelas akan gagal menghantar suatu bangsa menjadi bangsa maju dan jaya. Apakah nasib itu yang akan dialami oleh bangsa  Indonesia?

Sebenarnya tidaklah tepat jika hanya dalam kurun waktu satu tahun untuk melihat perkembangan suatu Negara. Lebih masuk akal jika dilakukan pengamatan dalam jangka waktu panjang, kalau perlu sejak bangsa itu dilahirkan. Dalam dimensi waktu seperti itu rakyat akan lebih mudah memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan bangsanya. Bagi Indonesia yang sudah merdeka selama lebih dari 65 tahun sebenarnya  tidaklah sulit untuk mengevaluasi perkembangan bangsa ini. Ada variasi dalam dinamika bangsa tapi tidak terlalu bermakna jika ditinjau dari cara mengelola bangsa. Semasa Orde Lama misalnya, PKI mencoba melakukan kudeta dengan target merubah pengelolaan negeri dari kapitalistik ke  komunistik, namun bukankah keduanya tetap cara sekularistik (mengabaikan tuntunan agama, kecuali tingkat apresiasinya terhadap ritual agama)? Orde Baru semakin menunjukkan warna kapitalistiknya di mana pembangunan bangsa menganak-emaskan sektor ekonomi dengan komandannya para ekonom lulusan Berkeley. Pada kasus Orde Lama dari tahun 1959-1965, sepertinya di awal ada perbaikan kondisi bangsa namun di ujungnya terjadi kebangkrutan ekonomi luar biasa dengan inflasi melambung tinggi. Begitu pula pada masa Orde Baru 1966-1998,  di awal-awal pada dekade pertamanya nampak ada keberhasilan cemerlang seperti inflasi rendah,  pendapatan per penduduk naik bertahap bahkan dikatakan mencapai di atas US$ 2000 namun ternyata di ujungnya  terjadi kebangkrutan luar biasa dengan pendapatan per penduduk turun ke US$300 dan hutang luar-negeri tinggi. Bagaimana nasib Era reformasi 1999-2010? Jelas juga tampak belum pasti, kecuali janji-janji Indonesia akan menjadi hebat di tahun 2020 dll (seperti juga janji penguasa masa orde baru dulu). Selain akhlak bangsa semakin menyedihkan, bahkan dalam kurun sepuluh tahun ini sudah terjadi beberapa gejolak krisis ekonomi  yang katanya terimbas oleh adanya krisis ekonomi global. Ekonomi Indonesia sering disebutkan membaik namun jelas amat rawan terhadap terjadinya krisis ekonomi global di mana makna global adalah dunia Barat dan Negara lain yang mengikuti pola pembangunan sekuler kapitalistik ala Barat. Bukankah kemiskinan masih amat tinggi di negeri ini, ketimpangan ekonomi semakin menyolok, hutang luar negeri terus dibuat, kekayaan alam semakin menipis, perusahaan Negara makin banyak yang dimiliki konglomerat asing?   Lihat artikel saya sebelumnya yang menjelaskan panjang lebar masalah krisis ekonomi global ini.

Dengan mengacu pada berbagai kegagalan untuk menjadi negara maju dan jaya seperti yang diuraikan di atas maka akal sehatnya adalah mencari   alternatif lain dalam mengelola bangsa dan Negara ini. NKRI. JANGAN TERUS DIKELOLA SECARA SEKULER-KAPITALISTIK, TAPI MANFAATKANLAH TUNTUNAN ALLAH SWT TERKAIT PENGELOLAAN BANGSA-NEGARA. Pancasila dan UUD ’45 memberi ruang untuk perubahan ke cara pengelolaan seperti itu, karena Sila Pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bab-Pasal UUD ’45 menempatkan Agama sebagai hal yang amat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mungkinkah melakukan perubahan mendasar dalam cara mengelola bangsa-negara Indonesia dari cara sekuler-kapitalistik ke cara Islami melalui proses demokrasi? Pada era reformasi ini hal itu amatlah dimungkinkan, yakni  jika para pemilih dalam pemilu yang umumnya umat Islam bisa disadarkan oleh para Ulama, Muballigh, Da’i, Ustad, Guru agama, dll agar umat MEMILIH PARTAI ISLAM DAN FIGUR TAAT SYARIAT ISLAM. DALAM PEMILU KARENA AGAMA ISLAM SECARA SYAR’I MENGAJARKAN BEGITU (lihat Surat al Maidah ayat 55-58). Islam tidak hanya menuntun umatnya untuk berritual Islam dan berakhlak mulia saja tetapi juga memberi tuntunan bagaimana harusnya memilih pemimpin bagi negerinya. Dengan  sudah adanya Partai berasas Islam di Indonesia setelah runtuhnya Orde Baru maka seharusnya semua Ormas Islam mengarahkan-mendidik anggautanya untuk memilih Partai Berasas Islam dan Figur taat Syariat secara kaffah dalam setiap pemilu yang diadakan. Parpol Islam juga dituntut untuk membenahi kualitas partai dan kadernya agar partai itu benar-benar berada di jalan Islam dan kadernya adalah orang yang beriman-bertaqwa secara benar, tidak simbolis belaka, dalam artian ritualnya tertib, akhlaknya baik, hidupnya sederhana, dan siap mengelola negeri sesuai dengan tuntunan Allah swt.. Aktifis Islam seharusnya juga mau  terjun memperbaiki kualitas Partai Islam baik secara langsung ikut menaganinya maupun secara tidak langsung ikut membesarkannya dengan berbagai cara, tidak hanya mengkritik atau menjadi pengamat netral belaka.

Semoga Umat, Pemimpin, dan Aktifis Islam mau dan bisa  bekerjasama untuk menjadikan Indonesia menjadi negeri Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur melalui cara mengelola negeri  secara Islami oleh Partai dan Figur Islam. Amin.

 

Indonesia,  Awal 2011

Entry filed under: Politik, Syariat Islam. Tags: , , , , , , .

Pengantar Narasi Presentasi dalam Seminar Internasional tentang Hukum dan Ekonomi Syariah di IAIN JAMBI MEMAHAMI ILMU KEDOKTERAN ISLAM, Panduan untuk Dokter dan Pemerhati Thibbun Nabawi

2 Comments Add your own

  • 1. Mohammad Hanafi  |  4 January 2011 at 16:29

    Mungkin pemilih yang beragama Islam masih belum tahu persis, bagaimana hukum yang akan dipakai nantinya. Apakah akan memakai hukum potong tangan dll, atau bagaimana. Lagi pula pemimpin pratai Islam banyak yang eker-ekeran rebutan kekuasaan dan hidupnya tidak sederhana.

  • 2. itqon  |  22 January 2011 at 18:42

    Refleksi adalah sebuah keharusan,smg ini dpt memacu kearah kemuliaan ummat,amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: