MEMAHAMI ILMU KEDOKTERAN ISLAM, Panduan untuk Dokter dan Pemerhati Thibbun Nabawi

9 January 2011 at 08:20 2 comments

Di masa Rasulullah hidup, di abad ke 6 Masehi,  jelas sekali pengobatan dengan cara ilmiah belum berkembang. Ilmu kedokteran klinis dan preventif-rehabilitatif belum ada. Keberadaan berbagai mikro-organisme seperti virus, bakteri, jamur yang menyebabkan berbagai macam  penyakit infeksi  belum diketahui, begitu pula cara penanganan  sistematik terhadap penyakit infeksi yang disebabkannya. Antibiotika yang memiliki spesifisitas dan sensitivitas untuk melawan infeksi belum difahami. Jangankan untuk pemahaman sistem imunitas tubuh, bahkan sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem peredaran darah yang merupakan komponen besar dalam tubuh manusia saja belumlah dikenal dengan baik. Umat manusia di masa itu bekerja mengatasi gangguan penyakit hanya dengan cara ’tradisional setempat’, mengikuti nasehat orang tua, yang kadang  memang  juga memberi hasil walau tanpa memahami ’mode of action’ atau mekanisme proses penyembuhannya. Mekanisme kerja pengobatan yang umumnya dipakai adalah bahwa ”penyakit itu karena adanya gangguan makhluk halus yang harus diusir dengan jampi-jampi dan ramuan khusus”.

Tentunya simplifikasi  dan generalisasi penyakit seperti itu tidak lagi layak untuk masa kini. Proses pemeriksaan yang sistematis, mulai dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, laboratoris, penegakan diagnosis setelah mengkaji alternatif, melakukan prognosis,  pengobatan dini dan tepat dosis, tindak lanjut, serta rehabilitasi belumlah berkembang. Begitu pula tindakan preventif termasuk vaksinasi, menjaga agar tidak terkena penularan penyakit lewat air atau udara (food & air borne), juga teori lingkungan yang baik  untuk bisa hidup sehat jelas belum ada. Apalagi teori tentang enzym, hormon, antioksidan, neurotransmiter, dan semacamnya.

Prinsip dasar kesehatan manusia yang ada di masa kini seperti diuraikan di atas tentu harus dipelajari melalui proses kajian ilmu kedokteran yang memakan waktu lama oleh para ahlinya. Tidak semua orang begitu saja langsung bisa mengerti seluk beluk keterkaitan kompleks interaksi kesehatan manusia yang seperti itu. Orang tidak boleh semena-mena mengklaim bisa menyembuhkan orang sakit oleh dasar perkiraan belaka. Jangan  hanya atas dasar kira-kira, didukung oleh motif iktikad baik, lalu mengobati orang sakit dengan caranya sendiri, termasuk menggunakan obat atau ramuan yang belum jelas diketahui efek samping jangka pendek dan jangka panjangnya yang bisa membahayakan kesehatan orang.

Tentunya prinsip-prinsip dasar ilmu kedokteran yang kompleks harusnya memang menjadi kewajiban manusia dan umat Islam untuk mengembangkannya dari kurun waktu ke waktu. Tidaklah logis untuk berharap bahwa semua rahasia-rahasia ilmu kedokteran harus diwahyukan oleh Allah SWT kepada RasulNya dan menjadi bagian isi al Qur’an padahal Allah SWT telah memberi keunggulan komponen biologis pada manusia berupa otak yang luar biasa, indera yang bagus, dan fisik jasmani prima agar dipakai menggali sendiri rahasia ilmu kedokteran. (Lihat artikel berjudul: ”When Scientific Findings….”). Dengan pertimbangan itu semua lalu apakah cara pengobatan di masa Nabi harus diikuti sedemikian kakunya oleh umat masa kini dengan meninggalkan upaya pengobatan berdasar perkembangan ilmu kedokteran yang juga merupakan sunnatullah tentang kesehatan? Tentu tidak begitulah logikanya. Lalu bagaimana prinsip syariat terkait dengan kewajiban umat Islam agar mengembangkan ilmu Kedokteran dan melakukan upaya penyembuhan penyakit sesuai pemahaman terhadap sunnatullah kesehatan melalui kajiannya itu? Mana batas-batas manusia boleh dan bisa mengembangkan dunia kedokteran, mana yang terlarang agar manusia tidak terjebak menghancurkan diri mereka sendiri? Di sinilah memang letak hakekat Ilmu Kedokteran Islam itu!

Suatu ketika Nabi berada di kebun kurma dan menyaksikan petani kurma menyerbukkan bunga korma jantan ke bunga betinanya. Nabi (mungkin juga sambil lalu) menanyakan mengapa harus diserbukkan. Petani menangkapnya sebagai perintah seorang Nabi bahwa tidak perlu menyerbukkan bunga korma. Berita tersebut juga lalu tersebar dengan cepat ke para petani lain. Apa yang kemudian terjadi? Panen korma gagal total dan mereka mengalami paceklik pangan. Mereka lalu menghadap Nabi dan mengeluhkan hal tersebut. Apa jawab Nabi? Jawaban beliau tentang masalah ini lalu menjadi hadits yang amat terkenal, yakni: ”ANTUM A’LAMU BI ’UMURI AD DUNYAAKUM” yang artinya KALIAN LEBIH MENGETAHUI AKAN URUSAN KEDUNIAAN KALIAN. Setelah itu maka para petani korma kembali menyerbukkan lagi bunga kormanya, melakukan  berbagai teknologi pertanian dan panen pun kembali melimpah.

Dalam masalah kesehatan Rasulullah pernah menemui kasus seorang sahabat yang mengalami luka berdarah yang hebat, beliau menanya ke sekitarnya siapa yang bisa menangani kasus seperti itu, maka majulah dua sahabat yang akhirnya menangani si sakit. Dari riwayat-riwayat seperti itu jelas bahwa Rasulullah tidaklah bisa disebut sebagai ’Dokter’ di zamannya yang cara pengobatan beliau lakukan harus ditiru begitu saja oleh umat dengan alasan ’mengikuti contoh Rasul’. Untuk ukuran cara pengobatan masa itu memang banyak diriwiyatkan  bahwa  Rasulullah pernah menggunakan susu onta, jintan hitam, minyak zaitun, dan madu sebagai bahan obat, namun jelas ajaran Islam tidak memerintahkan semua penyakit harus diobati hanya dengan pilihan-pilihan itu. Bahan-bahan di atas bisa saja memang memberi manfaat, namun umat Islam masih harus mendalami kemanfaatan bahan tersebut sesuai prosedur pengujian menurut ilmu-teknologi Kedokteran terkini, termasuk bagaimana mekanisme kerja bahan tersebut  serta komponen apa dari bahan yang memberi dampak pada kesehatan. Al Qur’an juga tegas menyatakan bahwa manusia wajib menyerahkan pemecahan sesuatu masalah itu pada ahlinya, yang tentunya jika terkait bidang pengobatan adalah kepada para dokter, bukan ’dukun’ atau semacamnya.

Dokter muslim juga tidak boleh meninggalkan cara pengobatan yang diajarkan Nabi jika masalahnya sudah menyangkut masalah di luar wilayah  ilmu pengetahuan empiris, seperti misalnya doa-doa kesehatan yang diajarkan Nabi. Namun kaum muslimin juga tidak selayaknya menganggap bahwa semua penyakit cukup diatasi dengan doa saja karena hal itu tentu tidak sesuai dengan sunnatullah pengobatan menurut ajaran Islam. Doa yang berlebihan pun (’keluar dari tuntunan doa Nabi’) juga malah bisa termasuk dalam kelompok Bid’ah Dhalalah yang diancam siksa neraka karena sudah mengada-ada dalam masalah ritual.

Di samping prinsip yang dikemukakan di atas para dokter Muslim juga tidak boleh mengabaikan prinsip syariat Islam lain yang terkait proses pengobatan, seperti: prinsip mahram, aurat, dan bahan obat yang diharamkan oleh Allah swt. Adapun terhadap bahan obat-obatan tradisional, kaum muslimin khususnya dokter dan farmasis (apoteker) muslim harusnya terus mengembangkan kajian akan substansi bahan obat tradisional dari dunia manapun, termasuk dari Timur Tengah dan Indonesia demi memperkaya kemampuan dunia pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan-teknologi kedokteran. Dokter muslim juga wajib terus menggunakan prinsip pengetahuan ilmu Kedokteran secara memadai dalam upaya mengobati orang sakit. Dokter muslim tidak boleh gegabah menangani penyakit yang dia tidak tahu mekanisme kedokterannya dan juga tidak boleh spekulatif dalam menggunakan obat-obatan tanpa tahu dosis takaran yang benar dan efek samping jangka panjang yang akan merugikan pasien.

Pada sisi lain, ada catatan pula bagi para pemberi pelayanan kesehatan yang BUKAN TENAGA MEDIS, yakni mereka perlu memperhatikan bahwa mengobati orang sakit itu tidak boleh hanya berbekal niat baik saja karena jika penanganannya bertentangan dengan ’sunnatullah kedokteran’ tentu akan memberi efek buruk pada orang yang semula akan ditolongnya. Efek samping obat, apapun bentuk obat itu, apa obat tradisional ataupun obat kimiawi modern, bisa terjadi dalam jangka pendek (seketika atau dekat setelah obat dikonsumsi) atau jangka panjang (lama setelah konsumsi dilakukan). Dokter pun umumnya akan amat waspada terhadap obat yang diberikan  pada pasiennya agar tidak malah memberi beban kesehatan baru pada orang yang akan ditolongnya karena hadirnya efek samping itu. Demikian pula harusnya bagi para pemberi pelayanan pengobatan yang bukan dokter, termasuk mereka yang berupaya meniru cara di masa nabi dalam mengobati orang. Apakah yakin bahwa susu onta, korma, jintan hitam, madu, dan semacamnya pasti tidak bisa memberi efek samping? Dari sisi ilmu kedokteran tidak mustahil bahan-bahan itupun bisa menimbulkan efek samping. Dalam bidang imunologi misalnya, semua jenis bahan yang mengandung protein, apalagi yang rantai molekulnya panjang, potensial memberi efek reaksi alergi jika dikonsumsi berulang. Datangnya efek alergi bisa pada pemaparan yang baru beberapa kali saja atau bisa datang efek itu setelah paparan amat sering atau berkali-kali. Jika Nasi sebagai bahan makanan pokok sehari-hari penduduk Indonesia misalnya bisa memberi efek alergi pada orang tertentu, maka tidak mustahil bagi korma atau madu atau sejenisnya bisa pula memberi efek alergi pada penduduk yang menggunakannya sebagai bahan makanan sehari-hari. Apakah fakta sunnatullah seperti itu harus dinafikan?

Dalam ajaran Islam ada larangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu yang manusia bisa mengetahui atau tidak mengetahui hikmah di dalamnya. Konsumsi babi, bangkai, darah jelas dilarang sebagai bahan untuk  dikonsumsi termasuk sebagai obat sekalipun. Minuman yang bisa memabukkan juga terlarang sebagai bahan obat minum walau porsinya hanya sedikit sekali. Merubah pemberian Allah dalam bentuk bangunan tubuh yang bukan karena tujuan rekonstruksi pasca trauma juga terlarang, seperti operasi plastik yang bersifat kosmetika seperti mengganti alis, bulu mata, warna kulit, memancungkan hidung, memperlebar mata, dan semacamnya.

Manusia masa kini memang sudah banyak yang terjebak melakukan hal-hal hanya dengan pertimbangan untuk tujuan kepentingan keduniaan  belaka dan melupakan dimensi agama dalam menjalani hidupnya di dunia fana yang tidak seberapa lamanya itu. Bayi tabung yang menggunakan sperma bukan dari sperma suami juga terlarang karena setiap keturunan harus melalui proses pernikahan yang menjadi kewajiban dalam prinsip Islam, bukan melalui proses perzinahan atau yang kini dilunakkan atau dilembutkan sebagai perselingkuhan. Pengguguran kehamilan tanpa indikasi penyelamatan nyawa ibu juga terlarang karena merupakan pembunuhan janin yang oleh Allah telah diberi ketentuan rentang hidup di dunia, begitu pula upaya euthanasia, ’membantu menuju proses kematian’ pada penderita penyakit khronis yang sulit disembuhkan. Banyak hal-hal lagi dalam dunia kedokteran yang tidak  boleh melanggar prinsip tuntunan Islam dalam bidang pelayanan kesehatan dan inilah yang membedakan Ilmu Kedokteran Islam dengan Ilmu Kedokteran Sekuler dan Ilmu Kedokteran Tradisional Kuno.

Media masa harusnya mendukung upaya sosialisasi pengembangan dan praktek Ilmu Kedokteran Islam seperti yang diuraikan di atas, bukan malah mensosialisasikan berbagai tayangan pengobatan alternatif yang landasan ilmu kedokterannya tidak jelas, begitu pula landasan kaedah  syariat Islamnya. Tayangan seperti itu tentu tidak mendidik rakyat khususnya umat Islam tentang makna dan praktek  beragama Islam yang benar sehingga tentu kontra produktif bagi kemajuan umat dan bangsa Indonesia. Bukankah media masa berkewajiban membawa misi kebenaran dalam setiap pemberitaan dan penayangan programnya?

 

Indonesia, awal Januari 2011

Entry filed under: Pemikiran, Pendidikan, Science. Tags: , .

REFLEKSI TAHUN 2010 KRITERIA DOKTER YANG SUKSES, Kesan dan Pesan untuk Dokter Yang Baru Lulus dan Menapak Jalan ke Depan

2 Comments Add your own

  • 1. mulja hadi santosa  |  10 January 2011 at 09:31

    assalamu’alaikum, alhamdulilah,
    dalam dunia farmasi dikenal ada kelompok obat tradisional, banyak yang mendifinisikan apa tradisional itu ?, dijawab :
    1. warisan nenek moyang ( cina, timur tengah, india ?)
    2. informasi empiris (coba-coba ?)
    3. tertulis di buku-buku budaya pengobatan.
    namun saya tetap bertanya, siapa sumber informasi awal, misalnya tanaman Sambiloto dapat untuk obat malaria ???.
    saya telah menemukan jawaban :
    Tidak ada istilah coba-coba, Pasti, sumber informasi paling awal obat tradisional tetap Allah swt. yang diturunkan (hidayah ect.) kepada manusia disuatu etnis tertentu karena kasih-sayang Allah pada umat agar tetap survive dalam evolusi peradaban. Bahkan pada era sebelum Islam pun Allah telah memberikan hidayah pengobatan, yang informasinya sampai ketangan kita sekarang (melalui tetua dusun atau dukun ?).
    Benar sekali, bahwa saat sekarang, di era ilmu pengetahuan, hidayah Allah diturunkan pada para pemikir, peneliti (tidak memandang orang dari agama apapun), yang hasilnya akan menjadi landasan rational penggunaan tanaman obat sehingga meningkatkan validitas quality-safety-efficacy nya. Para ahli kedokteran dan farmasi harus yakin bahwa keberhasilan arah riset dan pengembangannya harus seiring dengan skenario Allah. Misal saja, mengapa sampai sekarang belum ada obat yang paling tepat bermanfaat untuk penderita AIDS ??? masih dicari terus, sampai kapan ??? Nah, hanya Allah yang menguasai waktu…
    Maaf Prof. silahkan dikomentari dan dilanjutkan menjadi naskah dalam website ini.
    wassalam

  • 2. muchammad ali akabr  |  12 February 2011 at 15:02

    salam. menyambung pernyataan diatas, Para ahli kedokteran dan farmasi harus yakin bahwa keberhasilan arah riset dan pengembangannya harus seiring dengan skenario Allah. dan ini tidak bisa di nafikkan. sayangnya hampir semua para ahli kedokteran maupun farmasi sllu berpikir dengan akal yg sempit. salah satu contoh kecil. sllu menjastifikasi seseorang bahwa ini dan itu tdk ada obatnya. memangnya Tuhan. Allah sj tdk mengomentari seperti itu. ingatlah pesan Nabi Muhammad Saw. La Ba’sa, Li kullin da’in dawaa. (Tidak apa-apa, setiap penyakit ada obatnya) kecuali 2. (MATI DAN TUA). salah satu contoh kecil. banyak orang yang mengatakan bahwa Penyakit HIV AIDS tidak bisa disebuhkan. padahal itu kebodohan yang sangat besar. dan dengan ijin Allah kami sdh menemukan obat itu. smg allah merahmati kita dalam melaksanakan apa yang kita lakukan. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: