MEMAHAMI KEHADIRAN DAN PROSPEK CERAH PARTAI BerAsas ISLAM DI INDONESIA. Adakah Rasional Bagi Ulama-Tokoh Umat Untuk Ikut-Ikutan Mengkerdilkannya?

19 January 2011 at 18:54 2 comments

  1. Perlu diherankan bahwa selalu saja muncul di media massa secara rutin adanya ulasan atau  pernyataan bahwa ‘Partai Islam akan kalah’ atau menurun suaranya di pemilu. Belum ada satupun pernyataan bahwa Partai Islam (Partai BerAsas Isam) di Indonesia itu memiliki prospek cerah dan akan menang dalam pemilu sehingga membuat umat lalu bersemangat untuk memilihnya. Tokoh yang dicuplik pernyataannya nampak bergantian, dan sering juga dipilih tokoh Ormas Islam. Pemberitaan tersebut sepertinya dicicil, berkala, dan diperkirakan akan terus diulang sampai menjelang pemilu 2014 nanti. Ada apa ini? Suatu yang obyektif-rasional ataukah SKENARIO PESANAN untuk membuat umat Islam ‘ngeri’ mendukung-berjuang di Partai Islam. Banyak figur Ormas Islam ikut-ikutan terseret. Janganlah kiranya tokoh Islam mudah terjebak. Mari dilihat fakta obyektifnya!!
  2. Politik Islam (sering disebut juga sebagai ISLAM POLITIK) di Indonesia sesungguhnya sudah hadir sejak menjelang dan awal kemerdekaan negeri ini. Berdirinya Masyumi, NU, PSII, dan Perti yang merupakan Partai Politik berAsas Islam menunjukkan tingginya kesadaran tokoh Islam untuk mengusung Politik Islam, bukan berislam hanya ritualnya belaka. Politik Islam yang bermakna berpolitik sesuai ajaran Islam (sedang Ritual Islam adalah beritual sesuai ajaran Islam) mengandung misi utama “MENGELOLA NEGERI SESUAI SYARIAT SOSIAL KENEGARAAN ISLAM UNTUK KEJAYAAN BANGSA”. Politik Islam tentunya harus diperjuangkan oleh WADAH POLITIK (PARTAI POLITIK)  yang berASAS Islam. Mana bisa wadah politik yang tidak berAsas Islam mampu mengarah pada perjuangan untuk mengelola Indonesia dengan syariat Islam? Wadah ‘netral’ semacam itu akan tidak memiliki legitimisasi Islam dan kehilangan acuan legal Islam dalam proses pembuatan kebijakan-kebijakan nasionalnya. Malah wadah seperti itu mudah TERSERET KE POLITIK SEKULER, pesaing/lawan ideologi Islam.
  3. Kalau DEMOKRASI diartikan proses untuk memberikan kesempatan pada rakyat bisa memilih orientasi politiknya secara terbuka, tidak MEMAKSAKAN KEHENDAK, maka demokrasi bisa diterima sebagai KESEPAKATAN bersama dalam masyarakat plural (INGAT BAHWA SEMUA NEGARA DI DUNIA MASYARAKATNYA TENTU PLURAL) untuk memilih visi politik mana yang diminati rakyat. Dalam nuansa demokrasi seperti itu maka PARTAI POLITIK BERASAS ISLAM adalah satu-satunya wadah penyaluran Politik Islam yang harus ditawarkan pada rakyat dengan cara yang simpatik, berkemantapan ideologis, dan profesionalisme tinggi, tidak seadanya atau acak-acakan. Partai Politik BerAsas NON-ISLAM, yang mengusung ideologi NON-ISLAM (seperti SEKULARISME, KAPITALISME, SOSIALISME, NASIONALISME, KOMUNISME, DLL) tentunya juga akan menawarkan orientasi politiknya pada rakyat dengan cara sebaik-baiknya. Bahkan untuk bisa menjaring/menarik suara umat di Negara yang mayoritas penduduknya muslim maka Partai Sekuler tidak akan segan-segan ‘berjualan’ nilai Islam namun hanya sebatas Ritualnya, seperti menyumbang mukena, mendirikan masjid, atau membantu ibadah puasa dan haji (namun dalam aspek CARA pengelolaan Negara mereka membuang prinsip Islam). Banyak orang Islam lalu terbujuk/terkecoh memilih Partai Sekuler karena menilai sepertinya Partai itu membela Islam karena mengijinkan atau membantu orang berRitual Islam (Bukankah Penjajah Kafir di negeri muslim juga membolehkan dan bahkan memberi subsidi dalam hal Ritual Islam). Umat Islam mudah terlena dan tidak menyadari  bahwa kenyataannya Partai Sekuler itu akan mengelola negerinya dengan cara NON-ISLAM yang ujungnya membawa kerusakan Agama-Umat  dan Bangsanya.
  4. Demokrasi yang idealnya memberi penawaran terbuka pada rakyat akan model politik yang boleh dianut (ISLAM vs NON-ISLAM) sayangnya sering tidak berjalan semestinya. Dari fihak Islam sendiri tidak jarang ‘tokoh Islam’ yang menolak demokrasi karena terperangkap oleh idealisme bahwa demokrasi itu bukan Sistem Islam. Mereka lupa bahwa Rasulullah bisa menjadi Kepala Negara Madinah yang penduduknya plural itu juga dari proses demokrasi, yakni aktifitas ‘loby/nego’ secara damai menawarkan rakyat Madinah secara jujur-terbuka apakah mau dipimpin dengan cara Islam atau Non-Islam.
  5. Di sisi lain demokrasi sering dikhianati oleh ‘niat tersembunyi’ PEMAKSAAN ORANG MEMILIH ALIRAN POLITIK TERTENTU MELALUI Tekanan KEKUASAAN FORMAL DAN-ATAU UANG. Mereka tidak memberi kesempatan pada rakyat untuk mengalihkan pilihan politiknya setelah melihat suatu aliran politik tertentu gagal mensejahterakan rakyat. Jangan dilupakan adanya PEMAKSAAN OLEH PENGANUT IDEOLOGI NON-ISLAM DENGAN CARA MELARANG SECARA OTORITER KEBERADAAN PARTAI POLITIK BERASAS ISLAM SEWAKTU MEREKA MEMEGANG KENDALI KEKUASAAN.
  6. Di awal kemerdekaan, demokrasi berjalan relatif baik, di mana Partai Islam, Partai Sekuler Kapitalis, Partai Sekuler Komunis boleh berdiri dan bersaing berebut simpati rakyat. Pemilu 1955 banyak dipuji kualitas demokrasinya karena dilaksanakan secara jujur tanpa rekayasa kekuasaan atau suap-menyuap untuk membodohi rakyat. Bagaimana pemihakan rakyat terhadap Politik Islam masa itu? Ternyata Partai Islam (Masyumi, NU, PSII, Perti) berhasil meraup sekitar 50% suara rakyat. Bahkan Masyumi berendeng dengan PNI menjadi pemilik suara terbanyak, disusul NU dan baru PKI menduduki peringkat ke empat. Namun sayang, setelah itu terjadilah ‘proses politicking’ sehingga Pemilihan Umum lalu ditiadakan oleh penguasa yang bercokol melalui dekrit, sekitar 15 tahun lamanya. Nah dalam periode tanpa pemilu itulah kelompok ISLAM RITUAL (ORANG ISLAM YANG ANTI POLITIK ISLAM) menjadi penguasa negeri, dan dengan cara otoriter sekaligus juga cara ‘halus’  bertahap mengarahkan umat Islam Indonesia menjadi MUSLIM SEKULER. Ingatlah akan gencarnya slogan semacam “ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO” oleh tokoh Islam yang terjebak oleh tekanan (atau bisa saja dibeli) penguasa sekuler masa itu. Semua itu jelas proses politicking oleh penganut ideologi Islam Sekuler untuk mengalahkan Politik Islam, mengalahkan Partai Islam. Umat Islam di negeri ini lalu secara tidak disadari semakin terjerumus pada faham sekuler dan memandang oke saja pada Partai Sekuler.
  7. Pada suasana nasional yang didominasi Politik Sekuler seperti itu terjadilah kejatuhan rezim Orde Lama dan diganti rezim Orde Baru yang ternyata juga dikendalikan oleh Muslim Sekuler. Dalam suasana serba tekanan Sekulerisme seperti itu dilakukanlah Pemilu kedua Indonesia (1970) dan mudah ditebak siapa yang akan menjadi pemenang, yakni Partai Sekuler juga, bahkan Partai Sekuler yang dikemas dengan nama baru (walau sebagai pendatang baru dalam politik nasional Indonesia namun Partai itu ditunjang-diusung oleh fihak penguasa). Partai Islam yang diwakili NU, PSII, dan Parmusi hanya mendapat suara sekitar 15% (Masyumi, partai Islam yang mendapat dukungan rakyat terbanyak  pada pemilu 1955 oleh proses politicking sudah bubar di rezim Orde Lama, IRONIS BUKAN?). Orde Baru ternyata malah kian agresif melakukan politicking menghancurkan Politik Islam dengan membubarkan PARTAI-PARTAI BerAsas ISLAM. Partai-Partai yang semula berAsas Islam  digabungkan dan lalu dijadikan Partai  Non-Islam (karena tidak lagi berAsas Islam), diberi nama PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Politik Islam makin hilang dari ingatan rakyat Indonesia walau mayoritas penduduk masih beragama Islam. Mereka (umat Islam Indonesia)  berislam cukup dengan ritual dan sedikit moral belaka. Persis seperti suasana umat sebelum era kemerdekaan.
  8. Bukankah mudah untuk ditebak bahwa dengan politicking seperti itu Politik Islam menjadi semakin terlupakan oleh umat, apalagi rezim Orde Baru bertahan sampai lebih dari 30 tahun. Islam yang didorong dalam era Orde Baru itu hanya Islam Ritual, seperti mendirikan mesjid, shalat, puasa, haji, umrah, zakat, shadaqah, doa, wirid, dan semacamnya. Ingatan bahwa Rasulullah mengelola Negara secara Islami, sesuai tuntunan Islam, kewajiban mengelola masalah sosial-kenegaraan secara Islami, kian hilang dari ingatan, bukan hanya ingatan umat Islam yang awam, juga ingatan ‘TOKOH ISLAM’nya juga. Astaghfirullah. Apakah dengan Politik Sekuler seperti itu Indonesia lalu menjadi Negara Maju-Makmur-Sejahtera? Ternyata tidak bukan, yang ada hanya janji-janji penguasanya belaka, di tambah harapan semu bahwa untuk menjadi maju itu butuh sekian puluh tahun. Faktualnya NKRI semakin habis kekayaan tanah airnya, penduduk miskin tetap tinggi karena proses eksploitasi oleh kebijakan nasional yang menganut ideologi sekularisme-kapitalisme, dan akhlak bangsapun makin rendah.
  9. Masih di dalam nuansa policking nasional yang anti Politik Islam itu, alhamdulillah melalui upaya keras para cendekiawan muslim yang masih istiqomah dan berkat rahmat Allah SWT datanglah Era Reformasi, yang membolehkan lagi hadirnya Partai Politik Islam (berAsas Islam). Ironisnya, pada era keterbukaan seperti itupun masih saja ada tokoh Islam yang berasal dari Ormas Islam yang tega-teganya mendirikan Partai Baru yang berbentuk Partai Sekuler (tidak berAsas Islam). Mereka nampaknya sudah  ‘lupa’ bahwa pendahulu-pendahulu mereka di Ormas Islam besar (NU, Muhammadiyah, al Wasliyah, al Irsyad, dll) di negeri ini pada awal kemerdekaan justru mendirikan dan membesarkan Partai BerAsas Islam (seperti Masyumi dan NU). Apa dikiranya dengan mendirikan Partai Sekuler baru yang berbasis Ormas Islam akan mampu menyaingi Partai Sekuler Lama yang sudah kaya SDM dan Prasarana Politik? Sungguh memprihatinkan, dan ujungnya bahkan malah perlu dikasihani. Tenyata di era Reformasi ini Partai Sekuler baru dari Ormas Islam tersebut kalah telak dari Partai Sekuler lama, bahkan dari pemilu ke pemilu makin merosot perolehan suaranya. Mereka kalah dari Partai Sekuler lama maupun dari Partai Sekuler Baru yang tidak berasal dari basis Ormas Islam (ingat siapa pemenang beberapa  pemilu dalam  era reformasi ini).
  10. Bagaimana perolehan Partai Islam (Partai BerAsas Islam)  yang baru muncul di era Reformasi ini? Begitu kran keterbukaan politik dibuka, maka analog seperti era menjelang Kemerdekaan 1945, banyak tokoh Islam Politik (bukan tokoh Islam Ritual) kembali berjuang di ajang demokrasi dengan Partai Islamnya (Partai berAsas Islam). Partai lama dari penggabungan Partai2 Islam di masa Orde Baru yakni PPP juga balik ke asas Islam, di samping Partai Islam baru seperti PBB, PKS, PKNU, PII, Masyumi Baru, dan beberapa Partai Islam lainnya. Pada nuansa nasional di mana umat pada umumnya sudah lupa pada Politik Islam (oleh rekayasa politik kelompok sekuler pada Orde Lama dan Orde Baru yang amat intensif) maka sepatutnya masih harus bersyukur bahwa Partai Islam ternyata meraih suara cukup besar, yakni hampir 10% dari total suara (pemilu 1999). Bisa dibayangkan sulitnya Partai Islam untuk mengajak kembali umat Islam yang sudah tersekularisasikan puluhan tahun, bahkan oleh tokoh Islam sendiri, masih mau memilih Politik Islam yang dibawakan oleh wadah Partai berAsas Islam. Optimisme itu belum lagi menghitung adanya sekelompok umat yang bervisi Politik Islam tapi memandang demokrasi itu sebagai sistem kafir sehingga mereka tidak mau ikut dalam pemilu nasional (di tahun 1955 kelompok ini bisa dikatakan tidak berarti jumlah anggautanya, jika tidak bisa dikatakan belum ada). Jumlah muslim pendukung Politik Islam yang penganut faham anti demokrasi di Indonesia nampaknya memang bertambah dari waktu ke waktu, yang dari aspek politik harus ada kewaspadaan adanya policking lawan ideologi Islam juga.
  11. Kini mari disimak hasil pemilu 2009 yang baru lalu, bukankah ada Partai BerAsas Islam yang sudah mampu menjadi partai terbesar keempat (yakni PKS)? Bukankah total perolehan Partai Islam (PKS, PPP, PBB, PKNU, PNUI, PMB) sudah NAIK AMAT SIGNIFIKAN/PESAT lebih dari 50% dibanding hasil pemilu sebelumnya, sekitar 15% dari total suara? Dari analisis historis jangka panjang dengan memasukkan variable rekayasa politik Penguasa Sekuler Indonesia berpuluh tahun, dapat disimpulkan bahwa justru masa depan Partai Islam di Indonesia sesungguhnya AMAT CERAH. Prospek itu akan semakin besar, bahkan akan bisa memenangkan pemilu Indonesia di tahun 2014 jika umat Islam semakin sadar bahwa berislam itu tidak cukup hanya ritual dan akhlak belaka, namun juga harus mendukung ideologi Islam dalam bentuk MENDUKUNG PARTAI BerAsas ISLAM sebagai bagian dari kewajiban syariat Islam yang harus dipatuhi umat. Apalagi jika kelompok Islam yang menolak ‘demokrasi’ juga memberikan suaranya untuk Partai Islam dalam pemilu oleh kesadaran ukhuwah yang tinggi. Penyadaran akan keharusan berislam secara menyeluruh yang dibawakan lewat dakwah  oleh ulama dan tokoh Islam yang tidak sekuler insyaAllah akan semakin memperbesar dukungan umat pada Partai BerAsas Islam.
  12. Prospek ke depan Partai Islam akan lebih cerah sekali jika Partai Islampun mampu hadir dengan wajah seperti Partai Masyumi dan NU di masa lalu, di mana para Pemimpin Partai Islam istiqomah memperjuangkan secara ihlas Politik Islam, bukan berpolitik untuk ambisi-kepentingan pribadi. Pemimpin Partai Islam lalu mampu: 1). mengajak Ormas-LSM Islam mendukung Politik Islam, tidak ‘netral’ lagi dalam masalah politik; 2). mampu mengajak kelompok Politik Islam yang anti demokrasi melalui penjelasan bahwa demokrasi itu bukan ideologi tapi sekedar metoda memberi kesempatan pada rakyat dalam memilih visi politiknya;  dan 3). mampu menyadarkan rakyat Indonesia pada umumnya (muslim dan non-muslim) bagaimana nasib Indonesia yang merdeka tapi dikelola secara sekuler puluhan tahun ( 65 tahun) telah kehilangan kekayaaan tanah airnya, menumpuk hutangnya, tetap miskin sebagai Negara Berkembang belaka, dan semakin rusak akhlak-moralitas penduduknya.
  13. Dari data dan analisis seperti diuraikan di atas dapatlah dipertimbangkan bahwa pendapat Syafii Ma’arif di Republika bulan Juli 2010 lalu atau  Gus Sholah di Jawa Pos awal Agustus 2010, atau Hasyim Musadi di Surya awal Januari 2011 yang bernada begitu pesismistik melihat masa depan Partai Islam amatlah mengherankan. Mestinya dari para tokoh Ormas Islam, oleh motif dakwah Islam, justru harus banyak memberi dorongan: 1). agar umat Islam memilih Partai Islam di satu sisi; dan 2). memberi dukungan-saran kongkrit perbaikan pada kualitas Partai Islam di sisi lain, sehingga negeri ini segera dikelola sesuai dengan syariat Islam yang tidak mungkin terlaksana jika yang menang dalam pemilu adalah Partai Sekuler. Sangatlah tidak rasional jika pernyataan tokoh Ormas Islam justru bernada melemahkan semangat umat (mengecilkan hati umat) untuk mendukung Partai BerAsas Islam.
  14. Kenyataan di lapangan tersebut nampaknya  justru membuat gamang Politik Sekuler (perkembangan suara Partai BerAsas Islam di negeri ini yang naik tajam suaranya). Berbagai move politik yang menjadi amat tidak demokratis lalu muncul, seperti: menghapus penggabungan suara partai kecil, Parlementary Threshold (PT) menjadi dominan,  mempersulit persaratan partai untuk ikut pemilu, rencana meninggikan PT menjadi 5%, mempersedikit Wakil Rakyat per Dapil, dan semacamnya, yang agenda politik terselubungnya mudah ditebak. Umat (apalagi Tokohnya) jangan terbawa rekayasa politik untuk ikut-ikutan memojokkan Partai BerAsas Islam. Jangan sampai umat (apalagi Tokohnya) terjebak ikut mendukung agenda mengkerdilkan atau bahkan memunahkan Partai BerAsas Islam secara halus (‘demokratis’) setelah pemunahan Partai Islam dengan cara otoriter (ingat Orde Baru) tidak lagi dapat ditolerir oleh rakyat. Ingatlah analogi: kini sedang marak kasus penjajahan secara terselubung-halus oleh Negara penjajah setelah penjajahan secara vulgar territorial dihujat  dunia.

Semoga Allah SWT memberi petunjuk pada Umat dan ‘Tokoh Umat Islam’ dan mensegerakan pertolonganNya dalam proses perjuangan menegakkan kebenaran melalui kemenangan Partai BerAsas Islam di negeri ini demi kejayaan umat dan bangsa-negara Indonesia. Amien.

Indonesia, akhir Januari 2011

Entry filed under: Politik. Tags: , , , , , .

KRITERIA DOKTER YANG SUKSES, Kesan dan Pesan untuk Dokter Yang Baru Lulus dan Menapak Jalan ke Depan ‘NASIONALISME’ ITU ORIENTASI POLITIK, BUKAN IDEOLOGI UNTUK MEMAJUKAN SEBUAH BANGSA Mari Berpikir Rasional Supaya Tidak Salah Langkah

2 Comments Add your own

  • 1. Munir Amsyari  |  23 January 2011 at 13:44

    Kajian yang sangat mendalam dan menyentuh.
    Mudah-mudahan orang-orang selevel Safi Ma’arif, Hasyim Musadi dan Gus Sholah segera dibuka pintu hatinya oleh Allah swt, agar lebih fokus dalam berjuang dalam memajukan bangsa Iindonesia, tanpa pamrih materi dan kekuasaan. Amien ya rabbal alamien.

  • 2. M Zainuddin  |  8 February 2011 at 13:03

    Sejarah mencatat, partai ISlam masih kurang laku di negeri ini. Masyarakat taku kalau pilih partai Islam tidak bisa lagi berbuat jahat. Tidak bisa lagi korupsi. Karena korupsi sudah menjadi bagian dari hidup. Mulai tukang parkir sampai pejabat sudah korupsi.

    Tarip parkir Rp 500, mintanya Rp 2.000, apa bukanvtermasuk korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: