‘NASIONALISME’ ITU ORIENTASI POLITIK, BUKAN IDEOLOGI UNTUK MEMAJUKAN SEBUAH BANGSA Mari Berpikir Rasional Supaya Tidak Salah Langkah

10 February 2011 at 06:36 Leave a comment

Di media masih saja orang mengkaitkan Nasionalisme sebagai ‘ideologi’ yang dibawa untuk diperjuangkan oleh Partai Politik. Kalau ada yang bertanya apa ideologi yang diusung partainya? Jawabnya mantap: ‘Nasionalisme’. Benarkah Nasionalisme itu ideologi? Bagaimana logikanya? Adakah di sana metoda pembangunan bangsa untuk dilaksanakan oleh Partai yang ber ‘ideologi’ Nasionalisme? Adakah dalam Nasionalisme cara membuat rakyat menjadi makmur sejahtera? Adakah dalam Nasionalisme cara penataan hukum yang membuat rakyat bisa hidup aman tenteram penuh keharmonisan?

Sebagai penjelasan mari diperhatikan istilah ‘Romantisme’ yang juga bukan ideologi tapi sekedar orientasi hidup. Romantisme adalah orientasi mencintai suatu keindahan tanpa substansi operasional. Nasionalisme itu orientasi untuk mencintai negeri, bangga akan negeri, tapi bagaimana membuat negeri menjadi maju dan membanggakan? Menjelang akhir tahun 2010 lalu masih saja diselenggarakan Forum Khusus dengan pembicara ‘tokoh-tokoh nasional’ tentang Nasionalisme sebagai ideologi. Mari didudukkan masalahnya dengan cermat agar kita tidak bingung bagaimana harus melangkah membangun negeri tercinta Indonesia ini.

“Nationalism” dalam kamus Webster dinyatakan sebagai ‘loyalty and devotion to a nation especially as expressed in an exalting of one nation above all others with primary emphasis on promotion of its culture and interests’. Bukankah dengan definisi itu maka makna nasionalisme menjadi amat gamblang hanya sebagai orientasi, bukan ideologi? Nasionalisme adalah orientasi yang menunjukkan adanya kesetiaan dan pengabdian untuk suatu bangsa, dinyatakan dalam sikap kebanggaan terhadap bangsa sendiri khususnya sisi kultur dan  kepentingan bangsa. Dengan definisi ini coba disebutkan satu saja negara di dunia yang tidak memiliki nasionalisme. Bangsa Amerika punya nasionalisme, bangsa Belanda punya nasionalisme, bangsa Jepang punya nasionalisme, bangsa Cina punya nasionalisme, dan tentunya bangsa Indonesia memiliki nasionalisme. Bangsa yang tidak punya nasionalisme tentunya bangsa yang diragukan eksistensi kebangsaannya. Tapi mungkinkah ada individu yang tidak memiliki nasionalisme? Mungkin saja, jika minat dia bukan pada bangsanya sendiri tapi pada dunia manusia keseluruhannya, tanpa kotak bangsa. Tentunya individu seperti itu terkategorikan mengingkari kenyataan bahwa dia hidup dalam sebuah bangsa yang memiliki kedaulatan. Apakah Indonesia itu suatu bangsa? Rasanya di dunia di masa ini tidak ada yang meragukan itu karena ada fakta geografis, ada Sumpah Pemuda dan Pancasila, khususnya sila ke tiga “Persatuan Indonesia”. Apalagi yang masih perlu diperdebatkan tentang nasionalisme di Indonesia? Semua WNI tentunya memiliki nasionalisme Indonesia, mencintai bangsa Indonesia, kecuali yang berpura-pura menjadi WNI untuk tujuan lain dan dengan entengnya dia lari pindah kewarganegaraan disertai membawa kekayaan negeri yang berhasil dikeruknya di Indonesia dengan segala cara.

Masalahnya kini lalu terletak pada pertanyaan besar: “Untuk membuat Indonesia sebagai bangsa-negara yang bisa dibanggakan dalam dunia internasional karena bangsa ini menjadi hebat, maju, jaya, sejahtera penduduknya, aman-tenteram, kuat kedaulatannya, bagaimana METODANYA?” Di sinilah lalu diperlukan IDEOLOGI, bukan lagi Nasionalisme. IDEOLOGI, bukan NASIONALISME, yang bisa menjadikan suatu bangsa menjadi maju-jaya dan membanggakan.

Jika Nasionalisme itu bukan ideologi maka apa makna ideologi itu? Ideology didefinisikan “ A systematic body of Concepts about human life or culture; the integrated assertions, theories, and aims that constitute a political, social, and economic Programs”. Dengan kata lain ideologi adalah seperangkat konsep tentang kehidupan dan budaya manusia, bagaimana mengatur kehidupan itu secara menyeluruh, termasuk menata  politik, sosial-budaya, ekonomi, dan lainnya. Dari definisi ini jelas bahwa Nasionalisme memerlukan dukungan Ideologi untuk bisa membuat bangsa-negerinya menjadi bangsa-negara maju, jaya, serta membanggakan.

Bagaimana harusnya para penganut Nasionalisme memilih IDEOLOGI yang benar untuk mendukung nasionalismenya? IDEOLOGI mana yang mesti dipilih? Ini jelas tantangan, yang kini sedang dibuka di Indonesia. Ternyata alternative pilihannya tidak banyak. Pilihan untuk itu hanya ada dua: “IDEOLOGI SEKULER atau IDEOLOGI ISLAM”. Kalau memilih ideologi SEKULER maka orang masih akan dihadapkan pada berbagai alternatif seperti: KAPITALISME, SOSIALISME, LIBERALISME, KOMUNISME, sedang jika memilih ideologi ISLAM hanya ada satu, yakni syariat sosial-kenegaraan yang diajarkan al Qur’an dan Sunnah Nabi. Sayangnya Islam sebagai ideologi tidak banyak disosialisasikan secara proporsional oleh media karena umumnya media masa di Indonesia sudah ‘terjebak’ pada ideologi Sekuler.  Oleh media semacam itu Islam lebih banyak dibahas dan diberitakan  sebagai ajaran RITUAL dan AKHLAK belaka. Ajaran Rasulullah tentang poleksosbudhankam yang mampu membawa dunia menjadi adil-makmur-sejahtera-beradab ditutup-tutupi, bukan saja oleh musuh Islam tapi bahkan oleh penganut agama Islam sendiri yang sudah terkena jeratan sekularisme, lawan ideologi Islam. Benarkah ISLAM hanya mengajarkan masalah RITUAL dan MORAL saja? Tidak masuk akal bukan? Bagaimana Islam bisa menjadi mercusuar dunia sehingga membuat masyarakat dunia menjadi maju dan beradab (lihat buku ‘History of the Arabs’ oleh Hitti) jika hanya sekedar mengajarkan RITUAL dan MORAL?

Kini mari dicermati makna Islam sebagai ‘agama’ supaya disadari oleh para pemeluknya bagaimana seharusnya beragama itu. Kalau agama diterjemahkan sebagai ‘Religion’ maka Webster’s Dictionary mendefinisikan: “Religion is belief in or devotion to religious faith; a cause, principles, or system of beliefs held to with ardor and faith”. Nah dengan pengertian ini saja juga jelas bahwa agama itu sesuatu yang diyakini kebenarannya  oleh si pemeluk agama, dan dengan semangat tinggi akan melaksanakan ajaran tentang kehidupan yang dikandung dalam agama tersebut. Seharusnya semua pemeluk agama memiliki keyakinan dan kesetiaan pada agama yang dipeluknya untuk mengerjakan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh agama itu, kecuali tentunya pada pemeluk agama yang setengah hati atau munafik, yang berpura beragama tapi hatinya tidak pada agama tersebut. Makna apalagi yang harus diperdebatkan tentang agama itu? Tinggal pilih agama mana yang diyakini kebenarannya dan lalu bersemangat tinggi melaksanakan ajaran agama yang dipeluknya. Inilah yang sering disebutkan sebagai taat dalam beragama, sekali lagi begitulah mestinya beragama itu kecuali bagi mereka yang munafik atau beragama tidak sungguh-sungguh.

Dalam kontek agama dengan definisi tersebut maka Agama Islam amat jelas pengertiannya, yakni: keyakinan bertuhankan Allah SWT, bernabikan Muhammad SAW, dan berpedoman hidup pada Kitab Suci al Qur’an. Sekali lagi apapula yang masih harus diperdebatkan? Tuntunan yang dikandung di dalam Al Qur’an itu kongkrit, begitu pula percontohan cara hidup oleh Nabi Muhammad SAW tidak sulit untuk diketahui dari Hadits, jadi yang tersisa  adalah mempelajari dan menerapkan isi ajarannya. Mungkin ada yang mengeluh tidak tahu bahasa Arab dengan baik, namun kan ada terjemahan oleh para pakar bahasa Arab dengan ilmu Qur’annya dan ada pula Ulama yang siap memberi penjelasan untuk masalah yang masih dianggap rumit atau ragu. Berislam itu mudah, tidak sulit untuk mengetahui ajaran-ajarannya, masalahnya terletak pada hati yang bersangkutan, mau berislam yang bagaimana. Maka terkait ini lalu  bias dibuat klasifikasi berdasar kualifikasi status berislamnya seseorang, yakni berislam sepenuh hati, setengah hati, atau bahkan munafik seperti diterangkan dalam alinea sebelumnya. Untuk mereka yang tidak sepenuh hati berislam maka jawabannya hanya satu yakni: “diingatkan agar bersungguh hati dalam memeluk Islam, jangan munafik, dan jangan merusak kemurnian-kesucian agama Islam”. Ingatlah akan sanksi yang berat dan pedih dari Allah SWT yang bisa tertimpakan  di dunia dan akherat.

Dilihat dari substansi ajaran agama Islam, khususnya isi al Qur’an dan percontohan cara hidup oleh Nabi Muhammad SAW, maka tuntunan agama Islam itu lengkap, meliputi seluruh permasalahan hidup manusia, meliputi: tuntunan tentang cara menyembah Allah SWT dalam bentuk Ritual Islam (shalat, puasa, doa, haji dan semacamnya), tuntunan tentang perilaku terhadap orang lain yang sering disebut Akhlak Islam, cara mengatur keluarga yang disebut sebagai syariat menuju Keluarga sakinah, dan cara mengatur sebuah bangsa-negara yang disebut sebagai syariat berdaulah atau syariat Sosial-Kenegaraan. Jadi apalagi yang harus dipertanyakan? Bukankah umat Islam tinggal mengkaji semua ketentuan itu dan melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kapasitasnya? Jika sendirian di hutan belantara ya menjaga ritualnya dan cara kehidupan pribadi seperti makan-minumnya. Jika sebagai keluarga ya wajib mengurus keluarga sesuai tuntunan Islam dalam berkeluarga, dan jika menjadi Presiden/Kepala Negara ya mengurus negerinya sesuai dengan tuntunan Islam dalam berbangsa-bernegara.

Pemeluk sebuah agama mestinya memiliki keyakinan bahwa ajaran agamanya itulah yang akan menyelamatkan dirinya dan bermanfaat pada keluarga dan bangsa-negara yang dikelola sesuai dengan ajaran agamanya. Kecuali jika ajaran agama itu TIDAK mengandung tuntunan dalam skala tertentu, seperti tidak memiliki tuntunan tentang cara mengatur keluarga maka  si pemeluk bisa bebas mencari cara sendiri dalam mengelola keluarga, atau jika agama itu tidak memiliki ajaran bagaimana cara mengatur bangsa-negara maka pemeluknya yang sedang menjadi Penguasa Negara boleh bebas mencari sendiri cara mengelola negerinya. Sebaliknya jika agama yang dipeluknya memiliki tuntunan untuk mengelola semua dimensi kehidupannya maka mengapa pemeluk agama itu masih juga mengurus yang menjadi wewenangnya dengan cara lain? Bukankah itu bias masuk kategori beragama setengah hati atau munafik seperti yang diuraikan sebelumnya? Semoga saja pemeluk agama Islam yang belum sadar secepatnya segera kembali berislam dengan benar.

Nah, kini menjadi jelas pengertian NASIONALISME, IDEOLOGI, dan  AGAMA ISLAM itu, mana lagi yang masih perlu diperdebatkan, dipolemikkan, diseminarkan, ditalk-showkan? Jika ada orang Indonesia yang belum memiliki nasionalisme Indonesia ya tinggal dididik untuk menjadi loyal, cinta, dan membela kepentingan Indonesia. Jika pemeluk agama Islam di negeri ini belum sepenuhnya taat tuntunan Islam ya didakwahi/dididik agar menjadi muslim yang taat syariat secara utuh, jangan kawinnya saja atau matinya saja yang diupacarai secara Islam. Di situlah posisi masing-masingnya: nasionalisme, ideologi, dan agama Islam memiliki demarkasi  sendiri-sendiri namun saling berkaitan. Lalu bagaimana bentuk kongkrit hubungan satu dengan lainya, bagaimana hubungan antara NASIONALISME, IDEOLOGI, dan AGAMA ISLAM?

Kalau Nasionalisme adalah orientasi mencintai Indonesia sepenuh hati, Ideologi adalah metoda untuk mensejahterakan bangsa, sedang agama Islam adalah agama yang ajarannya akan membuat diri, keluarga, dan negerinya maju dan jaya jika mengetrapkan syariat Islam sesuai dengan lingkup masing-masing, maka jawabannya adalah: NASIONALISME HARUS DISERTAI OLEH AJARAN ISLAM TENTANG KENEGARAAN SEBAGAI IDEOLOGI! Bagi pemeluk Islam jelas sekali dalilnya, yakni: JIKA NASIONALISME TIDAK MENGGUNAKAN SYARIAT ISLAM DALAM PROSES MENGELOLA BANGSA-NEGARA MAKA KECINTAANNYA PADA INDONESIA AKAN BERUJUNG MEMILUKAN KARENA NEGERINYA TETAP LEMAH, TERBELAKANG.

Mari kita selamatkan Indonesia dengan mengetrapkan syariat Islam terkait pengelolaan bangsa-negara sebagai manifestasi RASA NASIONALISME dan  KEMANTAPAN IDEOLOGI ISLAM KITA.

 

Indonesia, awal Februari 2011, di tengah upaya memupuk NASIONALISME dan Pencarian IDEOLOGI untuk membangun negeri.

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , .

MEMAHAMI KEHADIRAN DAN PROSPEK CERAH PARTAI BerAsas ISLAM DI INDONESIA. Adakah Rasional Bagi Ulama-Tokoh Umat Untuk Ikut-Ikutan Mengkerdilkannya? KASUS MESIR, CINA, BARAT, AHMADIYAH, DEMOKRASI, DAN ISLAM POLITIK dalam Catatan Ringkas untuk Masalah yang Meluas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2011
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: