ANALYSIS SYAR’I TERHADAP NEGERI MUSLIM YANG DIPORAK-PORANDAKAN, Clash of Civilization bertujuan Hegemoni atau Ketamakan Ideologi Sekuler-Kapitalis Barat?

12 April 2011 at 22:14 1 comment

Dalam dunia sosial tidak ada yang disebut sebagai ‘by nature’ atau alamiah. Semua fenomena sosial pada dasarnya hasil dari skenario atau rekayasa manusia. Dengan ’premis’ ini maka heboh luar biasa di negeri muslim sekarang jelas bukan sesuatu yang bersifat ‘alamiah’, namun ada tangan-tangan bermain di belakangnya. Tangan siapa dan untuk target apa? Di sinilah kunci permasalahannya. Jika tepat analisis yang dipakai maka akan tepat pula responnya (termasuk oleh Indonesia, negeri muslim dengan umat lebih dari 200 juta) sehingga mampu bertahan dari huruhara ancaman terhadap dunia muslim yang sedang terjadi. Jika tidak, artinya salah membuat analisis, salah pula membuat respon, maka cepat atau lambat  akan masuk dalam bencana.

Jika dirunut sedikit saja ke belakang sesungguhnya tidak sulit untuk memahami hakekat terjadinya kemelut sosial-politik di Timur Tengah dan sekitarnya. Mari disimak mulai dari ’tragedi’ WTC New York, dengan asumsi bahwa tragedi itu memang merupakan serangan fisik ke AS oleh Kelompok yang tidak senang dengan Kebijakan Luar Negeri Pemerintah AS, khususnya terkait dengan pembelaaan-perlindungan pada perilaku Israel yang menjarah dan meneror rakyat Palestina. (Catatan: ada hasil analisis berbeda tentang terjadinya tragedi WTS itu, yakni bahwa serangan terhadap WTC tersebut sesungguhnya bagian dari Operasi Intelejen AS untuk memperoleh legitimasi buat menyerang secara militer  negara-negara lain, khususnya Negara Muslim, yang tidak sejalan dengan Ideologi Sekuler-Kapitalis yang dianut AS). Kronologi fenomena dunia selanjutnya bisa diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Serangan militer AS dan sekutunya ke Afganistan dilakukan dengan alasan bahwa Pemerintah Taliban dituduh melindungi Osama bin Laden yang divonis sebagai Tokoh dibalik serangan WTC tersebut. Walau banyak negara yang sepertinya simpati pada ’penderitaan’ AS karena diserang ’teroris’ namun agresi militer ke Afganistan sesungguhnya tidak memiliki legitimasi yang layak secara internasional karena Osama bin Laden yang dituduh tersebut belum pernah diadili secara hukum oleh Mahkamah Internasional. Ujung dari penyerangan AS dan sekutunya ke Afganistan itu adalah ditaklukkannya Pemerintahan Taliban yang Islami dan diganti oleh pemerintahan rezim ’boneka’, pendukung ideologi Sekuler-Kapitalis AS. Model penaklukan Pemerintahan Taliban di Afganistan amat khas, yakni memanfaatkan ”Kelompok Pembangkang/Pemberontak Afganistan” yang ada di sebagian kecil wilayah utara negeri itu, dan akhirnya kelompok tersebutlah yang kini didudukkan sebagai rezim baru (MODEL INI JELAS TAMPAK KEMBALI DIPAKAI UNTUK PENAKLUKAN LIBYA SEKARANG. PERHATIKAN PULA PENYESATAN PEMBERITAAN ALA BARAT YANG MENYEBUT KELOMPOK PEMBERONTAK ITU SEBAGAI KELOMPOK OPOSISI). Jargon ’Demokrasi’ yang gencar dipropagandakan media Barat dijadikan alasan untuk  menggulingkan Pemerintahan Taliban yang Islami dan sah. Barat memang menang perang dengan mudah (karena kemampuan militer AS dan sekutunya jelas jauh di atas kemampuan militer Afganistan yang baru tertatih membina negeri muslimnya yang selalu direcoki terus menerus oleh kelompok sekuler dalam negeri, yang tidak mustahil sengaja diciptakan dan dibiayai Barat untuk agenda jangka panjang. PERHATIKAN KASUS PERECOKAN INI TERJADI PULA PADA PEMERINTAHAN NEGARA MUSLIM LAIN SEPERTI IRAN DAN INDONESIA MASA KINI). Para pejuang muslim Taliban yang semula amat sah sebagai penguasa Afganistan kini disebut sebagai ’pemberontak’. Ironis bukan?
  2. Tidak lama setelah Afganistan ditundukkan maka sebuah negeri muslim terkuat di Timur Tengah (Irak) lalu dijadikan sasaran atau target untuk ditaklukkan. Irak adalah satu-satunya negara besar di Timur Tengah, jauh lebih besar dan kuat dibanding tetangganya di jazirah Arab seperti Saudi Arabia, apalagi jika dibandingkan dengan Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Yaman, dan Bahrain). Walau tidak menyebut diri sebagai Republik Islam seperti Afganistan di era Taliban namun Irak jelas negara muslim dan Presiden Irak (Sadam Husein) bukan figur yang mau jadi boneka Barat (mirip dengan karakter Kadafi di Libya). Bahkan Sadam sepertinya menantang, antara lain dengan rencana akan memakai dinar bukan lagi USDolar untuk transaksi internasionalnya. Akhirnya, sebagaimana diketahui banyak orang, walau tanpa persetujuan DK PBB sekalipun, dan tidak ada huru hara penyerangan fisik ke AS pun, Barat (diwakili AS dan Inggris saja) secara sefihak menyerang secara militer negeri muslim Irak dengan alasan palsu (antara lain tuduhan adanya pengembangan ’Senjata Pemusnah Masal’, mendukung Taliban, dll). Ironisnya, upaya Barat sefihak seperti itu masih saja mendapat ’dukungan’ beberapa negeri muslim (kecil) di Timur Tengah (Perhatikan pula bahwa kini upaya penghancuran Libya juga menonjolkan adanya dukungan satu dua negeri muslim ’kecil’ di wilayah Timur Tengah). Maka Irakpun secara militer jatuh ke tangan Barat dengan jumlah korban manusia luar biasa, ratusan ribu orang, belum lagi milyaran USDolar harta benda, termasuk situs-situs bersejarah Islam, di Irak hancur berantakan. Bagaimana nasib Irak dan penduduk muslimnya  sekarang (walau dikampanyekan dengan pujian muluk sebagai negara demokratis)? Negara itu jelas menjadi porak poranda, pergolakan antar kelompok, suku, madzab sunni-syiah terus berlangsung, berdarah-darah, sampai sekarang. Astaghfirullah. Irak tidak lagi berkualitas sebagai negeri muslim yang kokoh-kuat seperti di masa sebelum diserang AS dan Inggris. Sungguh menderita dan memprihatinkan sekali negeri muslim yang konon dulu pernah menjadi adikuasa dunia itu.
  3. Setelah Irak selesai maka kasus berikutnya juga mudah ditebak, yakni Iran. Republik Islam itu lalu diincar sebagai sasaran baru untuk ditaklukkan. Namun tentu harus ’mencari legitimasi baru’ karena alibi penyerangan Irak yang penuh penipuan sudah terbuka kedoknya. Sejak revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ayatollah Khomeini, Iran tidak lagi menjadi ’boneka’ Barat seperti zaman Syah Pahlevi sebelumnya. Sebagai Republik Islam, pemerintahan Iran berhasil segera menonjol sebagai sebuah negeri muslim yang berdaulat penuh, mandiri, dengan pemerintahan yang teratur dan stabil, kemakmuran rakyatnya semakin merata dan maju, penguasaan ilmu-teknologi bergerak pesat ke depan, kemampuan militernyapun bertambah kuat. Bagaimana cara menjatuhkan Iran yang semakin kokoh seperti itu? BISAKAH ANDA MENEBAK SEANDAINYA ANDA MEMANG MAU MEMANGSA IRAN? Awalnya digunakanlah kasus nuklir sebagai alasan utama, di mana Iran dituduh akan mengembangkan bom nuklir,  padahal proyek pengembangan nuklir Iran bersifat damai, termasuk proses pengayakan nuklir untuk bahan bakar reaktor kebutuhan listrik dan medis, dan sudah lama bekerjasama dengan Badan Nuklir Internasional dari PBB (BEDA SEKALI DENGAN ISRAEL YANG JELAS SUDAH MEMILIKI BOM NUKLIR DAN TIDAK MAU DIPERIKSA BADAN NUKLIR PBB). Walau tidak ada bukti nyata terhadap upaya membuat bom nuklir itu (ANALOG   TUDUHAN PALSU PENGEMBANGAN SENJATA PEMUSNAH MASAL IRAK), Barat melalui berbagai bentuk  rekayasa politik, termasuk loby politik kesana-kemari,  berhasil menggalang dukungan internasional agar DK PBB mengeluarkan resolusi menjatuhi sanksi internasional yang berat pada Iran (berturut-turut 3 kali, yang  satu diantaranya didukung perwakilan Indonesia, astaghfirullah). Namun Iran ternyata sejauh ini tampaknya tetap bisa bertahan terhadap sanksi-sanksi tersebut. Barat sepertinya tidak sabar untuk segera menjatuhkan pemerintahan Islam Iran yang nyata-nyata tidak mau didekte itu, namun  mereka belum memiliki cukup legitimasi internasional untuk menyerang Iran secara militer. Lalu digunakanlah sebuah ’metoda baru’ yang sepertinya cukup prospektif untuk menjatuhkan sebuah rezim di suatu negara berkembang, yakni ’DEMONTRASI MASAL’ yang digerakkan melalui jejaring internet, khususnya FACEBOOK dan TWITTER. Jejaring sosial tersebut memang lagi digandrungi pemuda-remaja dunia yang relatif masih mentah dalam ideologi politik, khususnya di negara-negara muslim. Dengan penyusupan isu politik nasional melalui jejaring sosial tersebut (dengan biaya relatif kecil) maka dapatlah digerakkan protes sosial dalam bentuk demonstrasi besar-besaran untuk kepentingan politik tertentu. Momentum Pilihan Presiden Iran tahun 2010 ternyata berhasil dijadikan uji coba metoda tersebut. Gelombang demonstrasi masal dapat digerakkan di Iran dengan tuduhan pemilu presiden tersebut tidak jurdil, manipulatif, dll. Metoda baru itu nyaris bisa menjatuhkan Pemerintahan Ahmadinejad, yang sasarannya akan digantikan oleh figur yang tentunya relatif lunak terhadap kepentingan Barat (sebagai langkah awal untuk perubahan yang lebih bermakna). Kenyataannya Pemerintahan Republik Islam Iran ternyata mampu bertahan terhadap ’serangan’ melalui metode baru tersebut. Bisa dibayangkan betapa Barat yang dibantu kroninya di dalam negeri Iran (muslim tapi terperosok pada ideologi sekuler-kapitalis) tentunya amat penasaran dengan kegagalan misi tersebut.  Legitimasi untuk menyerang Iran secara  militer belum dinilai layak mendapat dukungan internasional, sedang cara halus menggunakan metoda demonstrasi masal juga belum berhasil untuk menaklukkan Iran. Tapi target/sasaran  telah dibuat bukan? Sabar sebentar, tunggu momentum lain.
  4. Sepertinya metoda pergolakan sosial dalam bentuk demonstrasi masal untuk menjatuhkan sebuah pemerintahan sah negara muslim mendapat momentumnya saat diterapkan di negeri muslim yang lebih kecil/kemah di Timur Tengah dan Afrika. Mulai dengan kasus Tunisia, lalu  diteruskan dengan Mesir, ternyata berhasil menjatuhkan Pemerintahan Sah setempat. Dunia terperanjat, terpesona, geleng-geleng kepala, dan menjadi kagum karena ternyata metoda baru itu efektif juga (didukung oleh jejaring internet Facebook dan Twitter). Benarkah kejatuhan Pemerintahan di kedua negara muslim itu terjadi alamiah, bebas  dari skenario Barat (mana di dunia sosial ada yang alamiah)? Seharusnya umat Islam, khususnya di Indonesia, tidak naif dalam membuat analisis dengan menganggap bahwa kedua kasus itu adalah wajar-wajar saja. Kejatuhan Pemerintahan SAH yang STABIL di kedua negeri tersebut minimal akan membuat kualitas bangsa-negara yang bersangkutan MUNDUR bertahun-tahun ke belakang, karena lalu disibukkan oleh proses membuat format baru dalam pemerintahan mereka. Walau sepertinya ada beberapa ’kemajuan’ setelah jatuhnya kedua pemerintahan tadi, mari disimak terus ke depan  bagaimana ’ending’ nasib kedua negara tadi setelah adanya demontrasi masal yang menjatuhkan pemerintahan sah yang ada (disebut sebagai ’Pemerintahan yang Sah’ karena sudah menggunakan landasan perundang-undangan di negara bersangkutan dalam pemilihan pemerintahan, tapi lalu dituduh secara subyektif sebagai Penguasa Tiran, Diktator, Korup, KKN, dll yang dikuatkan melalui Pemberitaan Media secara masif dan tendensius). Catatan: Sebenarnya metoda itu dalam bentuk embryonya sudah diuji cobakan di Indonesia untuk menjatuhkan rezim Suharto yang di ujung kekuasaannya mulai berfihak pada Islam, dan metoda itu semakin disempurnakan Barat dalam beberapa tingkat, khususnya dengan keberadaan Facebook dan Twitter. Kini metoda tersebut dilengkapi dengan  ’tuduhan melanggar HAM dalam bentuk membunuh warga sipil’ dan ’teriakan nyaring sefihak oleh media masa pro Barat’. METODA TERBARU ITU KINI DIPAKAI DI LIBYA, YANG BERUJUNG DENGAN KELUARNYA RESOLUSI DK PBB NO. 1973 YANG DIPAKAI LEGITIMASI BARAT UNTUK MEMBORBARDIR KEKUATAN MILITER LIBYA YANG SAH.
  5. Bersebelahan dengan Tunisia dan Mesir ada sebuah negeri yang kaya raya karena sumber minyaknya dan dikelola oleh pemerintahan yang dikenal anti Barat dan banyak membantu dunia Islam, yakni Libya. Pemimpinnya adalah Muammar Kadhafi yang hidup sederhana (citra ini sekarang berusaha diputar-balikkan dengan tuduhan bermacam-macam), pemimpin yang berjiwa sosial, dan kokoh tidak mau takluk pada siapapun. Libya sejak dipimpin Kadhafi sebagai Presiden, diberi bentuk dan dinamakan sebagai Republik Rakyat dengan Pemerintahan oleh seorang Perdana Menteri, dan berhasil menjadi negeri terkaya dan termakmur di seantero Afrika. Sepertinya lalu logis jika kemudian Libya menjadi ’target’ untuk dikuasai secara militer oleh Barat. Benarkah? Mari ditengok proses politik yang sedang terjadi di sana. Dari negeri yang semula aman tenteram tiba-tiba saja timbul perang saudara hancur-hancuran dengan kronologi sebagai berikut: 1). ’Segera’ setelah kejatuhan rezim di Tunisia dan Mesir maka terjadilah demo  biasa saja di Lybia. Tapi mendadak gejala sosial itu (DALAM HITUNGAN HARI) berubah tajam menjadi bentuk Pemberontakan termasuk pendudukan kota besar kedua di Lybia yang letaknya jauh sekali dari ibukota Libya oleh kelompok bersenjata, disertai pembelotan beberapa pejabat pemerintahan. Kepada terjadinya  pemberontakan bersenjata yang tidak wajar itu Pemerintah Lybia menanganinya dengan cara militer dan jatuhlah korban. Pers lalu masuk dengan berita-berita bombastis menuduh Kadhafi membunuhi rakyatnya sendiri yang tidak berdosa (benarkah?). Opini dunia terbentuk oleh pers Barat bahwa Kadhafi kejam, diktator, tiran dll (kini di Yaman dan Syria terjadi proses yang mirip, yakni menembak demonstran yang membawa KERUSUHAN dan KETIDAK STABILAN PEMERINTAHAN sehingga jatuh korban sipil, tapi tidak diekspos besar-besaran seperti kasus Libya dengan tuduhan bombastis ’Presiden membunuh rakyatnya sendiri’. Mengapa bisa terjadi perbedaan perlakuan pers Barat itu? Besar kemungkinan karena Yaman dan Syria belum waktunya dijadikan ’target’ sasaran (menunggu kasus Libya tuntas dulu?). Dengan kata lain, Lybia memang sedang dijadikan target, adapun Tunisia dan Mesir dijadikan sasaran antara; 2). Demo damai yang tiba-tiba berobah menjadi pengambil-alihan administrasi wilayah kota, jauh di luar ibukota, adanya kelompok  bersenjata non-pemerintah (termasuk kemampuan mereka menembak pesawat terbang, memakai senapan mesin, mengendarai tank), pembelotan beberapa pejabat tinggi negara, jelas memberi indikai adanya SKENARIO yang sudah dipersiapkan JAUH SEBELUMNYA. Bagaimana bisa terjadi seperti itu, bukankah beda jauh dengan kasus Tunisia dan Mesir?  3). Media Baratpun lalu gencar menyebar berita sefihak ke seluruh dunia yang dimakan mentah-mentah oleh banyak orang, termasuk sebagian dunia muslim. Disebarkan pula  ’intrik agama’ bahwa Khadafi itu keturunan Yahudi, isterinya memiliki emas banyak sekali, dll. Barat menebar berbagai isu politik untuk memojokkan Khadafi, kepala Negara sah Libya dengan berbagai tuduhan ’aneh’, termasuk tuduhan ’Presiden yang membunuh rakyat sendiri’. Masuk akalkah itu semua? 4). Perlawanan Pemerintah Kadhafi terhadap pemberontakan bersenjata itu ternyata mampu membuat  kelompok pemberontak terdesak. Dan begitu kelompok pemberontak bersenjata melemah untuk mengembangkan pengaruh kekuasaannya ke kota lain khususnya merebut ibukota Libya maka cepat-cepat disiapkan perangkat pembelaan pada si pemberontak melalui jalur internasional berupa Ketetapan DK PBB untuk melakukan Zona Larangan Terbang di Libya (resolusi no. 1973). Ingatlah kasus yang mirip sama dilakukan terhadap Irak guna melemahkan kekuatan militer Irak secara bertahap sebelum diserang secara frontal langsung oleh tentara Barat. Resolusi itu juga ditambahi klausul ’licik’ yang lentur untuk dipakai bukan sekedar membuat Libya sebagai wilayah larangan terbang namun juga  memberi mandat pada negara angggauta PBB (memang dikehendaki Barat begitu) memborbardir Libya atas nama melakukan perlindungan pada rakyat sipil; 5). Tapi coba diperhatikan dengan cermat apa yang dilakukan oleh Barat begitu keluar Resolusi DK PBB tersebut, tidak menunggu ganti hari, langsung saja Libya dibombardir walau Pemerintah Libya tidak lagi menerbangkan pesawat tempurnya setelah keluarnya resolusi DK PBB tersebut. Menyolok sekali bukan? Bombardemen dari udara itu tidak sekedar menjaga larangan terbang tapi sudah serangan udara habis-habisan untuk merontokkan kemampuan militer Libya dalam bentuk serangan udara dengan rudal canggih agar ’Pasukan Pemberontak Cepat Menang Perang melawan militer Kadhafi’. Alasannya bombardemen udara melindungi warga sipil padahal bombardemen itu sendiri menelan korban sipil namun tidak diekspos media Barat. 6). Pasukan Pemberontak yang semula loyo  kini kembali bersemangat dan sepertinya mendapat momentum baru untuk bisa bertahan dari kekalahan sementara melawan pasukan Pemerintah. Tanpa malu-malu Pemberontak minta dukungan formal militer melalui bombardemen udara yang jelas menjatuhkan korban rakyat sipil di negeri sendiri itu. Astaghfirullah. 7). Skenario berikutnya tentu Barat akan menerjunkan Pasukan Daratnya membantu Pemberontak langsung dalam perangnya dan skenario seperti itu sempat diwacanakan secara terbuka untuk kondisioning mendapat ’legitimasi dunia’ agar segera dapat menaklukkan Kadhafi ’si penjahat besar’ itu. Pasukan Pemberontakpun lalu dilegitimasi dengan penamaan bagus, yakni:  PASUKAN OPOSISI dan diakui sebagai pemerintahan sah yang baru oleh salah satu Negara Penyerang  Barat sebagai pionirnya, Perancis. Bukan main, apalagi yang masih harus tidak difahami? 8). Semua tindakan bombardemen udara itu awalnya dipimpin langsung oleh Amerika Serikat, namun setelah seminggu lebih tidak juga mampu membuat Pasukan Pemberontak menang perang maka dilakukanlah ’exit strategy’ (oleh suara nurani Presiden Obama atau tekanan rakyat Amerika takut akan ada korban besar tentara darat AS?) dengan menyerahkan kepemimpinan bombardemen kepada NATO. Pengiriman pasukan darat dibatalkan tapi diganti secara resmi dengan dikirimkannya CIA dan senjata canggih pada pasukan pemberontak. Luar biasa menyoloknya, padahal resolusi DK PBB sebelumnya melarang pengiriman senjata apapun ke Libya.. Barat telah kehilangan akal sehatnya, semena-mena melanggar semua ketentuan internasional yang diskenario sendiri sebelumnya. Negara lain sejagat tidak dianggap sama sekali dan umumnya memang mereka tidak berbuat apa-apa melawan kedholiman itu. 9). PROSES DI LIBYA KINI MASIH SEDANG BERLANGSUNG, KADHAFI TIDAK MAU TUNDUK, KORBAN SIPIL TERUS BERJATUHAN, NEGERI SUDAH MENJADI PORAK PORANDA, SEBAGIAN RENCANA MENGHANCURKAN KEKUATAN NEGERI MUSLIM SUDAH DI TANGAN, YANG MASIH DITUNGGU: ’Kadhafi harus turun dan Libya harus dikuasai rezim pro Demokrasi dan HAM ala Barat’. Jahat bukan? Jelas Ideologi yang dianut itu ’agresif dan merusak peradaban’. Atau ideologi yang tamak dan sedang mengincar kekayaan alam Libya? Atau memang keduanya? 10). Ringkasannya: Strategi pergolakan sosial dalam bentuk demonstrasi masal untuk menjatuhkan Pemerintahan yang sah, bila masih gagal lalu diteruskan dengan tuduhan pelanggaran HAM untuk melegetimasi serangan militer terbatas tanpa resiko korban difihaknya dalam bentuk bombardemen udara yang masif terhadap kekuatan militer lawan, dan jika tidak segera berhasil akhirnya dipersiapkan pemenangan melalui penggunaan ’pasukan pemberontak’ dalam negeri yang sudah lama dipelihara dan didanai diam-diam. Itulah intisari metoda baru penaklukan negeri muslim yang membangkang terhadap kemauan negeri penganut Ideologi Sekuler-Kapitalis. Kasus Libya seharusnya membuka mata kaum intelektuil muslim dunia yang masih cinta agamanya untuk tidak mau dijajah secara ideologis oleh kaum penjajah berwajah baru (non-teritorial). Pola itu rasanya akan segera diterapkan di Iran, menunggu momentum Bagaimana dengan Syria, Yaman, dan Arab Saudi di Jazirah Arab? Masih dalam daftar tapi  belum skala prioritas, menunggu pertimbangan dinamika politik. Syria mungkin didahulukan karena masuk kawasan terdekat dengan Israel, sebuah proyek ’anak emas’. Bagaimana Indonesia? Jelas masuk hitungan karena berisikan 200 juta lebih umat Islam yang belum sepenuhnya menjadi Budak Ideologi Sekuler-Kapitalis, sedang dalam proses pembinaan.

Wahai kaum muslimin, mari diingat kembali, mana ada ruang di dunia ini yang tidak ada syetan yang terus berjuang untuk menaklukkan kaum muslimin supaya bertekuk lutut pada kemauannya, mengajak manusia mendukung kekufurannya termasuk terhadap syariat poleksosbudhankam, dan mendorong orang agar tamak pada kekayaan dunia walau untuk itu harus masuk neraka jahanam? Berislam tidak cukup hanya melakukan ibadah mahdhah (seperti shalat, dzikir, puasa, umrah, haji saja) karena Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan itu, tapi juga menegakkan/memberlakukan syariat sosial kenegaraan, syariat poleksosbudhankam di negerinya dan di dunia sahadah untuk menolong umat dan bangsa dari eksploitasi syetan dengan teman-teman manusianya yang haus kenikmatan duniawi. Tanpa syariat sosial-kenegaraan Islami itu umat Islam hanya akan menjadi buih sehingga tidak akan mampu membawa negara dan dunia penuh kedamaian, rahmat, dan ridho Allah swt, terbebas dari eksploitasi, penindasan, dan kedholiman.

Indonesia, medio April 2011

Entry filed under: Internasional, Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , .

Oleh-oleh Umrah, SAUDI ARABIA TENANG, LIBYA PORAK PORANDA, SYRIA-YAMAN TEGANG DIALOG ANTAR AGAMA, Sebuah Program (Mencari Cara Merukunkan Bangsa) atau sekedar ‘Proyek’ (untuk Mendapat ’Dana’ dan Popularitas)?

1 Comment Add your own

  • 1. Bambang Poernomo  |  15 April 2011 at 13:30

    Ironi memang bahwa begara Islam yang pernah jaya sekarang satu per satu jatuh ke pelukan dan penjajahan negara bukan Islam (baca negara barat). Namun masalahnya, mengapa negara Islam hanya pernah jaya. Bukankah jika diyakini budaya Islam yang terbaik maka mestinya negara Islam tetap jaya, bukan sekedar pernah jaya. Adakah yang salah dengan Islam?. Atau memang pemeluknya yang berbuat salah?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: