DIALOG ANTAR AGAMA, Sebuah Program (Mencari Cara Merukunkan Bangsa) atau sekedar ‘Proyek’ (untuk Mendapat ’Dana’ dan Popularitas)?

22 April 2011 at 11:17 1 comment

Sepertinya ’Dialog Antar Agama (DAA)’ kini sedang naik daun di Indonesia, apalagi dipioniri dan melibatkan oleh tokoh Pimpinan atau mantan Pimpinan Ormas Besar Islam di negeri ini, yakni NU dan Muhammadiyah. Apa saja hasilnya? Rasanya umat masih belum merasakan hasilnya, tapi bagi para penyelenggara forum itu minimal sudah mendapat hadiah popularitas karena selalu dimuat di media masa. Sayang media masa tidak banyak memberitakan apa saja hasil dialog antar agama tersebut, bermanfaat atau tidak bagi rakyat. Bahkan DAA yang dilakukan dengan fihak luar-negeri seperti Eropa (al.Yunani), Asia (al. Yordania), atau yang sebentar lagi diadakan dengan Afrika (Ethiopia), tentunya melibatkan perwakilan negeri yang terlibat dengan biaya yang tidak sedikit. Fakta nyata yang ada: agama Islam masih saja dihinakan Nabinya, dihujat Kitab Sucinya, di hancur-lantakkan negerinya (ingat Iraq yang kemarin dulu dan Libya yang sekarang sedang berlangsung). Lihat artikel sebelum ini di blog yang sama. Itukah hasil DAA yang digandrungi sebagian Tokoh Islam negeri ini?

Efek yang sedikit kongkrit dari ’DAA dalam negeri’ yang berlangsung beberapa waktu lalu malah meresahkan rakyat karena mendatangkan semacam ’fitnah’ terhadap Pimpinan Formal negeri ini. Sempat bergolaklah ketenteraman masyarakat oleh berbagai tuduhan bernuansa ada kebohongan yang dilakukan Pemerintah. Apakah efek DAA dalam negeri yang seperti itu bermanfaat? Jangan sampai atas nama DAA lalu terjadi demonstrasi masal yang berujung kejatuhan pemerintahan yang sah sehingga jadilah Indonesia korban kepentingan asing: menjadi lemah dan mundur ke bertahun-tahun ke belakang seperti kasus Tuniasia dan Mesir yang sekarang.

DAA dengan luar negeri apa ya masih perlu? Mari direnung dengan mendalam. Proyek seperti itu tentu menguras dana dan tenaga, pemerintahpun terpaksa harus melibatkan diri (atau memang ’disuruh’ Pemerintah untuk belajar tentang kerukunan beragama dari negara lain, meniru anggauta DPR yang belajar macam-macam ke luar negeri?). Jika memang bagian dari program pemerintah mengapa tidak sekalian menjadi misi resmi Pemerintah dan DPR RI, yang tentu di dalamnya ada seksi dan figur yang menangani aspek kerukunan beragama itu?

Dari sisi materi yang seharusnya dihasilkan oleh forum DAA (seandainya memang forum itu dianggap masih perlu),  agar bermanfaat bagi masyarakat, mestinya berfokus pada 3 hal penting:

  1. Jangan ada penghujatan pada Nabi, Kitab suci, dan Syariat agama  (coba dicermati berapa banyak manusia Indonesia yang mencerca syariat Islam yang baku tentang masalah sosial-kemasyarakatan seperti qisas, rajam, potong tangan,cambuk, jilbab, dll)
  2. Jangan ada pemaksaan atau mendorong dengan macam-macam alasan agar orang beragama lain (terutama pejabat negara) mengikuti ’upacara ibadah’ agama yang tidak dipeluknya.
  3. Jangan ada upaya membuat orang yang sudah beragama pindah agama lain dengan memberi berbagai bentuk ’suap’ materi atau penekanan kelembagaan seperti sekolah, bisnis/perusahaan, dan semacamnya.

Kalau etika beragama seperti yang dicantumkan di atas di sepakati dan disosialisasikan secara luas, di samping semua pemeluk agama konsekwen taat aturan perundang-undangan tentang kerukunan agama, termasuk menghukum keras penodaan-penistaan pada agama, maka tentu kerukukan agama akan terwujud, tidak perlu belajar jauh-jauh. Beribu kali DAA dilakukan, di dalam dan luar negeri, menghabiskan dana besar dan waktu banyak, tidak akan bermanfaat jika materinya hanya menyentuh hal-hal abstrak, simbolistik, dan membuat orang tambah  sekuler, tidak taat syariat agama. DAA seperti itu adalah sia-sia, mubadhir, yang dalam Islam disebut sebagai ’teman dari syetan’.

Indonesia, penghujung April 2011

Entry filed under: Budaya, Pemikiran. Tags: , , , .

ANALYSIS SYAR’I TERHADAP NEGERI MUSLIM YANG DIPORAK-PORANDAKAN, Clash of Civilization bertujuan Hegemoni atau Ketamakan Ideologi Sekuler-Kapitalis Barat? NII, PARTAI ISLAM, DAN MASA DEPAN INDONESIA

1 Comment Add your own

  • 1. Soviyan  |  29 April 2011 at 09:29

    Dalam uraian tulisan Bapak, saya sangat memahami bahwa fakta tersebut memang betul terjadi. dan yang lebih memilukan hati ini adalah Kita memiliki hambatan terbesar dari internal Islam sendiri dengan pernyataan tokoh yang membuat semakin menyudutkan agama kita, mudah-mudahan Allah segera menunjukkan jalan yang lurus kepada mereka Amiin. Namun yang harus segera kita lakukan adalah upaya membangun penyadaran dan kekuatan …….semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan memberikan pertolongan kepada kita semua. Amiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: