NII, PARTAI ISLAM, DAN MASA DEPAN INDONESIA

4 May 2011 at 13:02 Leave a comment

Dalam pengamatan saya, tiba-tiba saja ramai diberitakan tentang NII (Negara Islam Indonesia), khususnya karena marak terjadi ‘cuci otak’ secara gelap pada banyak mahasiswa yang akhirnya berujung pemerasan pada mahasiswa bersangkutan. Apalagi ditimpali dengan berita terbunuhnya Osamah bin Laden. Banyak sms masuk ke saya menanyakan bagaimana sesungguhnya NII itu. Berikut ini komunikasi sms tersebut, termasuk jawaban saya yang juga mendapat tanggapan, dan saya tanggapi lagi.

SMS Masuk (antara lain yang dari dosen Unair):

”Ass. Bagaimana komentar tentang konsep NII? Jazaakumullahi khoiran katsiro. Wass”

SMS saya (inti beritanya):

”NII tidak formal terlembaga sehingga tidak jelas maunya apa. Malah ada yang mengaitkan dengan intelejen, dll. Terbaik kita tidak terlibat pada gerakan Islam yang tidak jelas statusnya dan terpengaruh oleh ’suara/nama’ tanpa tahu sosok kongkritnya. Fokus saja pada perjuangan Islam Politik via Partai berAsas Islam, al. PKS-PPP-PBB, jangan sekali-kali ’membesarkan’ Partai Sekuler padahal SUDAH ADA PARTAI ISLAM, itu dosa besar!”

SMS tanggapan masuk (dari seorang Mubaligh):

”Kalau PAN kok tidak disebut, apa PAN tidak Partai Islam?”

SMS saya (inti beritanya):

”Selama tidak berAsas Islam  tidak bisa tergolong Partai Islam walau didirikan ’tokoh’ Islam karena visi, misi, dan orientasi perjuangan partai itu ditentukan ASASnya. Umat perlu difahamkan masalah ini.”

SMS tanggapan masuk lagi:

”Syukron ustad,  soal NII banyak yang membahas. Salah satunya berpendapat ’daripada’ jadi gedibal AS.”

SMS saya (inti beritanya):

”Yang saya sarankan kan lebih kongkrit, jelas, tidak meragukan lagi. Itu kan cara berfikir Islami, meninggalkan yang subhat Pls fwd ke umat. Salam pada teman2.”

SMS tanggapan yang lainnya, dari seorang Guru Besar Politik:

”Menurut saya sih tidak ada hukum haram atau wajib untuk masuk Partai Islam, sebab partai Islam itu kadang hanya nama tapi perilakunya tidak Islam juga. Yang jelas haram adalah kalau mendukung partai yang dipimpin koruptor atau partai yang terlibat korupsi, baik namanya partai Islam atau partai bukan. Cilakanya, semua partai sekarang ada koruptornya. Tapi untuk pemikiran dan moralitas, tanpa harus disetujui, saran Pak Fuad bagus juga.”

SMS saya (inti beritanya):

”Dik, dalam dunia sosial ada yang disebut ”Analisis Agregat”, tidak melihat perilaku individu tapi entitas kelompok. Di sini, Partai dinilai dari ASAS yang ada karena mewakili Visi, Misi, Orientasi perjuangannya. Partai berAsas Islam jelas beda amat dengan Partai Sekuler yang tidak berbau malah menjadi lawan ideologi Islam Politik, walau ritual individunya Islam. Al Qur’an (surat 5, ayat 56) explisit menyebut ’HISBULLAH’. Dalam Partai Islam masih bisa ada individu korup, tapi dalam Partai Sekuler jangan ditanya.”

SMS tanggapan berikutnya:

”Dalam faktanya tidak ada parpol yang visi resminya jelek, semua bagus. Malah di partai2 yang disebut sekuler jelas ada program keislamannya secara lebih efektif. Menurut saya, Islam akan terlihat kecil jika dikotak-kotakkan ke dalam partai Islam. Padahal orang Islam lebih banyak yang ada di parpol tidak Islam. Banyak orang Partai Sekuler yang alim, pinter ngaji, dan saleh. Bang Fuad, saya lebih percaya pada inklusivisme dalam berjuang; Islam bersatu dalam ’kalimatun sawa’ dengan orang2 lain, misalnya membangun keadilan, kejujuran, menegakkan hukum, dan memimpin secara amanah.”

SMS saya (inti beritanya):

”Visi parpol bisa saja semua baik, misalnya:’Membawa Negara menjadi Maju’, tapi coba dilihat METODA YANG DIPAKAI, ISLAMI/TIDAK, al. zina-judi-korup dihukum berat vs dibiarkan marak, riba dilarang vs dilakukan Bank Sentral, caleg taat agama vs tidak, dll. (Saya tulis detail dalam artikel2 di blog saya). Program keislaman  Partai Sekuler umumnya hanya terkait ritual, seperti rumah ibadah, haji, bagaimana kebijakan untuk PENODAAN ISLAM? Jelas tidak menyentuh yang ’kaffah’. Fakta lebih banyak muslim ’kesasar’ ke Partai Sekuler itu yang harusnya dikoreksi. Ukuran alim, ngaji, saleh harusnya dalam dimensi Islam Politik juga, bukan ritual/individual saja.Kalimatun-sawak itu amat generik, waspada.”

Begitulah dialog mengomentari NII yang lalu merambat ke lain2, semoga bermanfaat

Indonesia, awal Mei 2011

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , .

DIALOG ANTAR AGAMA, Sebuah Program (Mencari Cara Merukunkan Bangsa) atau sekedar ‘Proyek’ (untuk Mendapat ’Dana’ dan Popularitas)? APA PEMICU RADIKALISASI DI INDONESIA? Ajaran Islam Pasti Bukan!! Bagaimana UU Parpol-Pemilu yang Menyimpang dari Asas Demokrasi dan Kebijakan Ekonomi Nasional yang Tidak Memihak Rakyat Lemah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: