APA PEMICU RADIKALISASI DI INDONESIA? Ajaran Islam Pasti Bukan!! Bagaimana UU Parpol-Pemilu yang Menyimpang dari Asas Demokrasi dan Kebijakan Ekonomi Nasional yang Tidak Memihak Rakyat Lemah?

14 May 2011 at 06:38 1 comment

Saya diminta menjadi nara sumber dalam acara ’Talkshow Apa Kata Dunia’ JakTv yang bertemakan ”PEROLEHAN PARTAI ISLAM DI TENGAH ISU RADIKALISASI”. Acara tersebut disiarkan secara live, 9 Mei 2011 jam 19.30-20.30 dan ditayang ulang esoknya jam 07-08 pagi. Saya bersedia karena saya menganggap tema itu memiliki nilai operasional dalam dunia  politik Indonesia di tengah maraknya isu NII dan gencarnya media nasional tertentu yang memberi opini memojokkan seolah Partai Islam akan turun perolehan suaranya pada pemilu 2014 nanti. Bagi saya pemberitaan/tayangan media seperti itu sah-sah saja dan saya anggap sebagai ’PROPOL’ (PROPAGANDA POLITIK) fihak lain (Partai Sekuler atau pendukungnya) dalam usahanya  mengalahkan Partai berAsas Islam dalam pemilu. Tentu saja Partai Islam WAJIB memberi ’counter pendapat’ supaya masyarakat TIDAK KELIRU DALAM MENENTUKAN PILIHAN.JakTv, walau termasuk Tv lokal, dalam pandangan saya bisa mampu memberi dampak politik besar karena tempatnya di ibukota, kediaman para petinggi negara dan politisi nasional, di samping tentu siaranya juga  masih bisa ditangkap di seantero negeri (bahkan luar-negeri) melalui parabola. Dalam program tayang langsung tersebut ternyata memang banyak pertanyaan yang datang jauh dari luar Jakarta, seperti Solo, Aceh, dan Sorong Papua. Berikut ini saya sarikan materi yang dibahas, dialog yang berkembang, dan pendapat yang saya sampaikan dalam siaran tersebut.

1. UU PARPOL DAN PT (PARLEMENTARY THRESHOLD)

Setiba di studio saya baru tahu ternyata moderator acara adalah Sdr Fajrul Rahman yang di tahun 2009 sempat mencalonkan diri sebagai Capres Independen tapi ditolak oleh MK pada uji materinya. Dia  memulai acara dengan membahas UU Parpol yang kini sedang diuji materi pula di MK, khususnya terkait masalah verikasi partai politik untuk keikutsertaan pada pemilu 2014. Dalam dialog ditekankan bahwa materi UU mestinya diterapkan untuk SEMUA  Partai Politik di Indonesia, baik yang sekarang sedang memiliki kursi di DPR RI (9 parpol) maupun yang tidak memiliki (parpol lama maupun baru). Jika ada upaya untuk membatasi kewajiban verifikasi hanya kepada parpol di luar yang 9 parpol tersebut tentu itu menjadi pelanggaran nyata pada UU dan potensial  akan berdampak besar karena sudah menyangkut ketidak-adilan politik.

Bahasan selanjutnya tentang besaran Parlementary Threshold (PT) yang lagi digodok oleh DPR. Sudah banyak diketahui bahwa pemberlakuan PT yang 2,5% di tahun pemilu 2009 saja ternyata berakibat sekitar 20 juta suara pemilih tidak terwakili dalam DPR RI, dan ini berarti demokrasi Indonesia sudah keluar dari asas utamanya, yakni perwakilan rakyat yang berkeadilan. Mengabaikan asas utama demokrasi berarti penyimpangan terhadap prinsip demokrasi dan pasti akan membawa konsekwensi negatif, yakni praktek politik yang mengarah pada anarkhi dan memicu radikalisasi dalam masyarakat. Jika PT mendatang kian diperbesar, katakanlah 3%, maka tentu jumlah suara pemilih yang tidak terwakili di DPR akan lebih besar lagi, bisa mencapai 30 juta suara dan itu berarti negeri ini tidak lagi menjadi negeri demokratis seperti yang didambakan oleh Reformasi. Penggunaan PT sebagai aturan perundang-undangan politik lebih memungkinkan terjadinya penyimpangan terhadap asas utama demokrasi dibanding dengan penggunaan Electoral Theshold (ET). Sebaiknya PT dihapus saja dan dikembalikan pada ET (bisa saja disertai persyaratan verifikasi  ketat). PT masih bisa digunakan sebagai pembatas asalkan disertai adanya ’koalisi partai’ untuk menghindari ’tersia-siakannya’ suara pemilih. (Contoh: PT ditetapkan cukup besar, misalnya 5%, tapi boleh ada koalisi, katakanlah maksimal antara 3 partai, di mana partai A ternyata mencapai 2%, B 1%, dan C 2,5% maka ketiganya tetap terwakili di parlemen karena secara bersama memenuhi PT 5% tadi).

2. PARTAI ISLAM PERLU BERSATU, CUKUP ADA SATU SAJA PARTAI YANG BERASAS ISLAM.

Ada pendengar siaran yang mempertanyakan mengapa beberapa Partai berAsas Islam yang sudah ada tidak bergabung saja menjadi satu partai, kan mereka misinya sama. Saya sampaikan bahwa memang benar Partai berAsas Islam itu memiliki misi utama yang sama, yakni diterapkannya ideologi Islam Politik, yakni membangun negeri sesuai dengan tuntunan Allah swt bidang sosial-kenegaraan. Namun dalam praktek operasionalnya bisa saja misi utama yang sama itu masih bisa berbeda dalam ’platform’(kebijakan umum) partai, misalnya apakah mau kerjasama dengan partai sekuler atau tidak, mau menerima non-muslim sebagai anggauta partai atau tidak, dll. Untuk mencapai kesamaan-kesepakatan dalam platform itu tentulah  masih memerlukan proses politik, sehingga tidak boleh gegabah menjadikannya satu Partai Politik berAsas Islam saja (tapi tentu juga tidak baik jika terlalu banyak). Perbedaan platform masih tidak mengganggu selama Partai Islam teguh mengusung ideologi Islam Politik, dan itulah yang sesungguhnya membedakan Partai Islam dengan  Partai Sekuler yang mengusung ideologi sekularisme, yakni ideologi membangun Indonesia dengan metoda tidak Islami. Penyelesaian terhadap adanya perbedaan  dalam platform sesama partai Islam bisa diproses di tingkat lebih terbatas, misalnya di parlemen atau di pemerintahan/eksekultif. Saya bahkan memberi catatan khusus tentang sisi negatif jika hanya ada satu Partai berAsas Islam, yakni harus diwaspadai kerawanan untuk lebih mudah dikerjai orang lain, dikooptasi partai lain. Pengalamam di masa Orde Baru di mana semua Partai berAsas Islam digabung menjadi satu partai yakni PPP ternyata gagal membawa misi Islam Politik, bahkan lalu tidak berdaya sama sekali dalam menghadapi ideologi sekuler.

3. ISU RADIKALISASI DI INDONESIA

Moderator selanjutnya masuk ke materi radikalisasi yang sedang terjadi di mana-mana, dengan menyebut berbagai kasus nasional dan internasional, seperti pembunuhan Osama bin Laden, bombardemen NATO di Libya, kasus NII, dan terorisme yang terjadi dalam negeri. Saya terangkan bahwa baru-baru ini ada hasil survey sosial-politik yang menunjukkan pemicu utama radikalisasi di Indonesia itu adalah KETIDAK-ADILAN POLITIK dan EKONOMI, meliputi sekitar 80%, sedang yang terkait dengan agama hanya sekitar 15% saja. Radikalisasi itu tidak selayaknya dialamatkan pada pemeluk agama Islam saja karena banyak terjadi radikalisasi oleh pemeluk faham-faham politik lain, seperti Komunisme, Liberalisme, Kapitalisme, dan Sekularisme. Coba diperhatikan bagaimana ‘pemaksaan’ negara Barat untuk merubah pola hidup masyarakat muslim di Timur Tengah dengan cara infiltrasi, intimidasi, teror, dan kini agresif melakukan pengeboman yang menelan korban jiwa besar sekali. Bukankah itu bentuk radikalisme oleh pemeluk faham yang mereka sedang anut yakni Sekuler-Kapitalisme yang sok paling DEMOKRATIS dan Pelindung HAM (lihat artikel di blog ini tentang Libya yang diporak-porandakan). Sekali lagi perlu dicamkan keberadaan radikalisasi faham Liberalisme, Kapitalisme, dan sebangsanya. Ideologi Islam Politik bahkan menentang tindakan kekerasan, kecuali jika memang diperangi secara fisik terlebih dahulu oleh lawan ideologinya.

Tatkala moderator menanyakan dampak radikalisasi di Indonesia  terhadap perolehan suara Partai berAsas Islam di pemilu mendatang, saya memberikan penjelaskan sebagai berikut:

Bahwa di dalam fenomena maraknya  isu radikalisasi yang dituduhkan kepada  umat Islam sesungguhnya sedang terjadi dua proses sosial-politik, yakni: 1). Orang Islam semakin faham bahwa agama Islam itu tidak hanya sekedar mengajarkan ritual atau berakhlak mulia saja, namun juga ada ajaran Politik Islam yang harus dilaksanakan umat Islam sebagai kewajiban syar’i sebagaimana halnya terhadap perintah ritual-akhlak Islam. Keberhasilan dalam melaksanakan Islam Politik akan membawa negeri yang penduduknya plural berhasil menjadi negeri yang kokoh berdaulat, adil-makmur, terjaga akhlak dan sumber daya alamnya, terselamatkan dari eksploitasi negara lain. Melalui  proses semacam ini maka jumlah orang Islam yang menjadi sadar bahwa Islam juga menyuruh umatnya memperjuangkan Islam Politik akan bertambah.banyak; 2). Isu radikalisasi oleh kelompok Islam tertentu juga ujungnya memberi pelajaran pada umat Islam, terlebih pada kelompok yang dituduh radikal tadi, bahwa cara kekerasan untuk memperjuangkan misi Islam Politik itu tidak efektif, malah mengakibatkan terjadinya antipati pada masyarakat dan umat pada umumnya. Di sinilah kemudian Partai berAsas Islam memiliki peluang lebih besar untuk mendapat simpati. Melalui dua proses di atas maka isu adanya radikalisai oleh agama Islam (secara substansiel jelas salah besar karena ajaran Islam melarang kekerasan) malah bisa meningkatkan perolehan suara Partai berAsas Islam di Indonesia. Umat secara bertahap akan menjadi sadar bahwa melalui kemenangan Partai berAsas Islam dalam pemilu barulah akan terjadilah perubahan Kepemimpinan dan Kebijakan Nasional yang mampu mendatangkan kesejahteraan-keadilan-kemajuan bangsa yang plural.  (Lihat pula artikel: Memahami Keberadaan dan Prospek Partai berAsas Islam di Indonesia).

4. ISLAM ITU RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Ada penelepon, kalau tidak salah yang dari Aceh, menekankan perlunya menjelaskan bahwa Islam itu membawa rahmat pada ’alam (Rahmatan lil ’Alamin). Saya diminta moderator untuk menanggapinya. Saya tegaskan bahwa axioma ’Islam itu Rahmatan lil ’Alamin’ jangan dikaitkan pada ranah individu, tapi harus pada ranah sosial-politik. Artinya, rahmat bagi alam semesta, termasuk pada masyarakat negara dan dunia internasional yang plural itu, akan datang jika prinsip sosial-kenegaraan Islam yang digunakan untuk mengelola masyarakat-bangsa-negara. Dan itulah esensi misi Islam Politik yang diemban oleh Partai berasas Islam. Jika syariat Islam terkait bidang soaial-kenegaraan (seperti syariat terkait hukum, ekonomi, pendidikan, lingkungan, budaya, hankam, dll) diterapkan oleh Pejabat Negara maka akan datanglah kesejahteraan, kedamaian, kemajuan dalam skala luas. Tatkala moderator menanyakan bagaimana peran Partai Islam di Indonesai selama ini? Narasumber di sebelah saya, yakni Sdr MS Kaban yang Ketua Umum Partai Bulan Bintang, menanggapi bahwa  selama ini (Indonesia Merdeka) belum ada/sempat Partai Islam memegang kekuasaan sebagai Penentu Kebijakan Nasional. Maksimal Partai Islam baru sebagai ’PEMBANTU’ saja. Coba nanti disaksikan jika Partai berAsas Islam yang memegang kendali bangsa-negara, apalagi sampai dua periode Pemerintahan, tentu akan hadir itu rahmatan lil ’alamin di negeri ini. Silahkan dilihat pula artikel ”Rahmatan lil ’alamin …” di blog ini.

Allahu Akbar.

Sungguh menarik ujung dialog dalam tayangan tersebut. InsyaAllah siaran ini mampu memberi makna besar dalam proses merubah Indonesia menjadi negeri ’baldatun toyyibatun wa robbun ghofur’ dari negeri yang selama ini masih saja berstatus berkembang dengan kemiskinanan penduduknya amat tinggi (walau dilaporkan GNPnya mendekati 1 Triliun US$, tapi dihasilkan oleh aktifitas ekonomi beberapa orang kapitalis saja disertai suburnya usaha ekonomi spekulatif dan maya), lingkungan hidup banyak tercemar, sumber daya alam kian terkuras habis, akhlak bangsa rusak, kedaulatan negara melemah.

Seharusnya semua komponen umat Islam secepatnya sadar akan pentingnya memenangkan Partai berAsas Islam dalam Pemilu di tahun 2014 nanti. Jika dirasa masih ada kekurangan/kelemahan dari Partai berAsas Islam di Indonesia ini mari kita kuatkan bersama dengan berbagai cara, dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Jangan hanya bersikap sebagai pengamat belaka, apalagi menjadi penghujat. Hanya Partai berAsas Islamlah yang mengusung ideologi Islam Politik yang merupakan kewajiban syar’i bagi kita umat Islam untuk melaksanakannya.

Indonesia, medium Mei 2011

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , .

NII, PARTAI ISLAM, DAN MASA DEPAN INDONESIA AIDS Menyebar dan Naik Eksponensial, Mengancam Ketahanan fisik Bangsa. Pemicunya: KONDOMISASI, SEX BEBAS, HOMOSEKSUAL, dan NARKOBA. Bisakah Pemerintah Mengatasi?

1 Comment Add your own

  • 1. zainuddin  |  16 May 2011 at 12:56

    Semua tahu Islam itu rahmatan lil alamin, tapi tidak semua percaya pada hal itu. Karena masih banyak yang mencari idiologi lain. Termasuk yang mengaku Islam juga tidak percaya pada kebenaran Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: