AIDS Menyebar dan Naik Eksponensial, Mengancam Ketahanan fisik Bangsa. Pemicunya: KONDOMISASI, SEX BEBAS, HOMOSEKSUAL, dan NARKOBA. Bisakah Pemerintah Mengatasi?

24 May 2011 at 07:50 Leave a comment

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini belum ada obat untuk menyembuhkannya, dan sering berakhir kematian dengan penderitaan luarbiasa.

AIDS diyakini belum pernah ada di dunia sebelum tahun 1970. Kasus pertama ditemukan di Afrika Tengah, menjalar ke Afrika Utara dan Selatan, lalu menyebar ke Amerika Serikat-Canada-Eropa Barat, kemudian ke Amerika Selatan-Australia, seterusnya berkembang di Eropa Timur-Asia. Timur Tengah masih terselamatkan dari AIDS. Mengapa? Mari dicari jawabnya dengan obyektif. Laporan WHO menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan kasus AIDS luar biasa di ASIA setelah tahun 2000, melebihi kasus di Amerika dan Eropa. Asia diprediksi akan menjadi benua dengan kasus AIDS terbanyak nomor dua dunia setelah Afrika. Mengapa bisa begitu? Indonesia dan Timur Tengah sama-sama bagian dari Asia, mengapa prevalensi AIDS nya bisa beda jauh?

Penyebaran AIDS di Asia awalnya secara menyolok terjadi di Thailand. Tahun 1983 baru ditemukan satu-dua kasus AIDS di negeri itu, namun hanya dalam waktu 7 tahun, yakni pada 1990, diperkirakan sudah mencapai 300.000 orang yang terinfeksi virus HIV. Beberapa faktor sosial-politik ditengarahi menjadi penyebab utama penjalaran luar biasa penyakit ini, khususnya kondomisasi, sex bebas, homosex, dan narkoba. Kondisi sosial kemasyarakatan Thailand sarat dengan faktor-faktor di atas karena MODEL PEMBANGUNAN NASIONAL YANG DILAKUKAN DI NEGERI ITU, yakni:negara berkembang yang berupaya keras menjadi negara maju dengan menggunakan teori Barat, yakni ideologi LIBERALISME-KAPITALISME, menggalakkan turisme/pariwisata sebagai sumber devisa negara, menganggap budaya Barat sebagai budaya modern yang hebat, amat longgar dalam masalah sex bahkan sebagian mengarah pada promosi pelacuran dan homoseksual, agresif dalam penyebaran alat kontrasepsi, terutama kondomisasi (motif awalnya mencegah kehamilan oleh proses pelacuran), agama diperlakukan hanya sebagai prinsip ritual-masalah pribadi, dan ekonomi dikuasai-digerakkan hanya oleh beberapa orang yang berhasil menjadi konglomerat kaya-raya kepanjangan tangan kapitalis internasional sedang masyarakat pada umumnya miskin termajinalkan. POLA PEMBANGUNAN INDONESIA ERA ORDE BARU DAN ERA REFORMASI SEKARANG INI TERNYATA SEJALAN DENGAN MODEL PEMBANGUNAN DI THAILAND TERSEBUT. Analisis kesamaan di atas membuat Indonesia telah diprediksi akan mengalami penjalaran penyakit AIDS besar-besaran di abad ke 21, apalagi jumlah penduduk Indonesia berlipat kali  penduduk Thailand. Ternyata analisis itu tepat sekali, berikut ini data perkembangan AIDS di Indonesia.

Kasus pertama AIDS di Indonesia tercatat dari laporan adanya wisatawan Belanda yang meninggal oleh AIDS bulan April 1987, kasus kedua juga WNA dari Canada yang sudah bermukim sekitar 2 tahun di Indonesia dan dinyatakan meninggal karena AIDS bulan Nopember 1987 (berapa kiranya wanita yang telah dicemari oleh kedua korban itu, dan berapa lelaki Indonesia yang seterusnya terinfeksi virus AIDS oleh wanita yang tertular tersebut). Baru tahun 1988 bulan Juli ada warga negara Indonesia yang diketahui menderita penyakit AIDS dan meninggal di Bali (daerah wisata). Tahun 1991 sampai akhir Maret dilaporkan sudah ada 6 orang menderita AIDS. Sampai Juni 1991 dilaporkan secara kumulatif ada 16 kasus AIDS dan 19 orang diidentifikasi telah terkena infeksi virus HIV. Pada akhir Desember 1991 dilaporkan bahwa dari 174.000 sampel darah yang ditest diketahui ada 47 orang terinfeksi virus ini dimana 21 diantaranya telah mengalami gangguan kekebalannya. Oktober 1995 dilaporkan bahwa jumlah kasus AIDS di Indonesia menjadi 365 orang sehingga ditengarai sudah meningkat hampir 900% dalam 4 tahun terakhir. Bagaimana perkembangan kasus AIDS mutahir? Tahun 2006 terdapat kasus baru AIDS 2.873 orang dari total 8.193 orang penderita, meningkat tajam dari total 5.320 penderita pada 2005. Untuk tahun 2009 terdapat  kasus AIDS baru 3.863 orang dan untuk tribulan pertama tahun 2010 sudah dijumpai 591 kasus baru dan totalnya menjadi 20.564 penderita AIDS dihitung sejak ditemukannya di tahun 1983 (angka total ini diperlukan karena AIDS tidak akan pernah sembuh). Luarbiasa.

Dari laporan Departemen Kesehatan tahun 2011diketahui bahwa sebaran kasus AIDS di Indonesia cukup luas, di mana untuk Bali memiliki persentasi tertinggi jika dibandingkan jumlah penduduknya (0,045%), diikuti DKI dan Papua yang angkanya sekitar 0,02%, dan Jawa Timur-Jawa Barat sekitar 0,01%. Kasus kematian penderita AIDS dilaporkan sudah mencapai sekitar 20% dan sisanya bisa meninggal oleh penyakit lain atau masih hidup namun di tubuhnya mengidap virus HIV yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya dengan penderitaan hebat.

Perlu kiranya diketahui bahwa penderita AIDS harus dibedakan dengan orang yang terinfeksi virus HIV tapi belum manifes menjadi penderita AIDS. Seorang penderita AIDS umumnya mewakili 100 orang yang telah terinfeksi virus AIDS. Jadi jika di Indonesia tahun 2010 terdapat 20.564 kasus penderita AIDS maka di negeri ini sudah ada sekitar 2 juta orang yang ditubuhnya mengidap virus HIV. Diperkirakan setiap hari ada sebanyak 169 orang terjangkit HIV di negeri ini dan dari 169 orang tersebut tujuh diantaranya masih anak-anak. Jelas apa yang diperkirakan jauh hari bahwa akan terjadi penyebaran AIDS yang luar biasa di Indonesia  telah menjadi kenyataan. Mengerikan sekali!! Mengapa sampai menjadi begitu? Ini jelas tantangan bagi semua orang yang peduli pada nasib bangsanya.

Kasus AIDS di Indonesia masih didominasi oleh faktor hubungan seksual, sedang kaitannya dengan injeksi termasuk penggunaaan narkoba suntik masih lebih kecil, bahkan di daerah tertentu seperti Papua hampir semua penderita AIDS terkait dengan hubungan seks. Data ini harus menjadi perhatian dalam strategi penanggulangan AIDS di negeri ini. Aspek hubungan seks yang memungkinkan penularan HIV secara maksimal adalah jika dilakukan ‘abnormal’ khususnya para homosex yang mempraktekkan hubungan badan melewati dubur atau anal (Astaghfirullah). Mengapa bisa begitu? Karena hubungan sex melalui dubur membuat perlukaan yang banyak sehingga membuat virus masuk ke tubuh korban dengan mudah.

Laporan perkembangan penyakit AIDS secara resmi tersebut tentunya  menggambarkan sebagian saja dari permasalahan AIDS di negeri ini. Masalah yang lebih mendasar adalah sulitnya seseorang untuk diketahui menderita penyakit AIDS atau tidak, selama dia masih belum menunjukkan gejala klinis yang berat. Umumnya orang cenderung akan menyembunyikan identitas penyakitnya dan bahkan sering takut memeriksakan dirinya karena khawatir ketahuan sudah terinfeksi virus HIV. Apa yang sudah banyak dilaporkan secara resmi hanyalah sekedar yang teridentifikasi karena gangguan klinis yang sudah tidak dapat ditutupi lagi atau karena tertangkap dalam sampel darah yang dikumpulkan petugas kesehatan (umumnya para pelacur di lokalisasi atau di jalanan).

Dari cepatnya perkembangan kasus AIDS di Indonesia ini, dikaitkan pula dengan fakta banyaknya kesamaan arah Kebijakan Pembangunan Bangsa Indonesia saat ini dengan Pola Pembangunan di Thailand (yakni: Agresif promosi KONDOMISASI, Pelacuran dibiarkan marak bahkan cenderung dilindungi atas nama kebutuhan ekonomi, budaya FREE SEX menjamur menjadi dianggap normal, HOMOSEKSUAL bahkan dijadikan komoditas ekonomi dan dipromosikan padahal Perilaku Sex mereka salah-menyimpang dan merusak kesehatan, Miras berkembang pesat yang diikuti mabuk, lalu ke narkoba suntik yang semakin sulit dikontrol) maka tentu mudah difahami mengapa terjadi epidemi penyakit AIDS di negeri ini. Bisa diperhitungkan cepatnya infeksi HIV berkembang di Indonesia, di mana tahun 1985 masih beberapa orang terkena, tahun 1995 sekitar 35 penderita dengan perkiraan infeksi HIV 3.500 orang, tahun 2010 sudah 20.500 penderita dengan perkiraan sekitar 2,1 juta orang terinfeksi. Berikut ini pertumbuhan infeksi HIV di Indonesia dalam bentuk grafik:

 

Pola perkembangan infeksi HIV di atas jelas menunjukkan grafik eksponensial. Jika digunakan sebagai model untuk extrapolasi maka secara matematis diperkirakan di tahun 2020 infeksi HIV sudah mencapai 7% penduduk Indonesia, artinya dari setiap 100 penduduk, 7 orang sudah terinfeksi HIV. Mengerikan!! Ini tentu malapetaka nasional. Prosesnya perjalarannya sudah tidak lagi klasik melalui pelacuran dan narkoba suntik tapi sudah variatif sekali, dari suami ke isteri ‘baik-baik’ di rumah, dari ibu ‘baik-baik’ ke anak yang baru dilahirkan, dan lainnya.

Seorang Kepala Dinas Kesehatan menyampaikan dalam sebuah forum seminar bahwa bantuan Dana Luar Negeri untuk AIDS itu penggunaannya selalu dikaitkan hanya untuk beaya program KONDOMISASI dan ALAT SUNTIK STERIL. Mengapa bantuan dana luar negeri mereka batasi hanya untuk kegiatan seperti itu? Tidak untuk mengatasi pengobatan dan riset AIDS? Bukankah aktifitas terbatas tersebut faktanya tidak bisa mengatasi penularan AIDS, bahkan bisa meningkatkan motivasi/dorongan orang melakukan perbuatan sex bebas dan menggunakan narkona suntik? Apa itu memang agenda tersembunyi mereka untuk Indonesia?

Penjalaran  AIDS memang terkait dengan budaya Barat yang rusak dan merusak peradaban manusia, khususnya pornografi, seks bebas, glamor-materialis-hedonis. Mereka beralasan kondomisasi bisa mencegah penularan virus AIDS. Benarkah, berapa efektifitasnya, bukankah lubang pori kondom berlipat kali lebih besar dibanding ukuran virus? Dampak mana dari program kondomisasi yang lebih bermakna, jumlah orang yang tercegah penularan AIDS karena menggunakan kondom sewaktu melakukan hubungan seks atau PENAMBAHAN JUMLAH ORANG YANG AKAN MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS SECARA LIAR (FREE SEKS) KARENA ADANYA KONDOMISASI? Janganlah membuat analisis program kondomisasi hanya dari COST-BENEFIT ANALYSIS, TAPI LAKUKANLAH JUGA HAZARD-BENEFIT ANALYSIS (Analisis MANFAAT-MUDHARAT) kondomisasi. Belum pernah dilakukan ilmuan Barat bukan? Mengapa? Tidak faham metodanya? Mustahil!!

Seorang tokoh agama (bukan muslim) dalam Seminar AIDS di FAKULTAS KEDOKTERAN Unair, 6 April 2011 bisik-bisik ke saya (sebagai moderator seminar) bahwa AIDS itu penyakit yang diturunkan Tuhan bagi mereka yang tidak taat ajaranNya. Dalam paradigma Islam pernyataan tersebut amat tepat dalam artian operasional yang luas: “Bagaimana harusnya Pemerintah membuat Kebijakan Nasional yang membawa budaya bangsanya menjadi beradab, luhur-mulia (termasuk melalui program memberantas perzinahan, sex bebas, dan narkoba, serta penanganan perilaku  homoseksual agar tidak menjalar ke mana-mana)”. Apakah Pemerintah Indonesia sudah melakukan Kebijakan Nasional ke arah itu, atau malah meniru saja kebijakan Negara Sekuler yang haus/tamak ekonomi, mengorbankan pembangunan budaya bangsanya sehingga akhlak bangsa rusak? (Lihat artikel ‘BUDAYA LUHUR  vs BUDAYA RUSAK’ di blog ini). Kapan NKRI memiliki Pemerintahan Negara yang mampu membawa akhlak-budaya bangsanya menjadi akhlak-budaya yang luhur-mulia sehingga negara bisa maju-adil-makmur sejahtera merata-berkelanjutan dalam ridho Allah SWT? Bisakah Partai Sekuler di negeri ini mampu membuat model pemerintahan seperti itu? Bukankah mereka sudah mendapat kesempatan memerintah NKRI selama lebih dari 65 tahun?

Semoga umat, khususnya aktifis-elite Islam di negeri ini menyadarinya.

Indonesia, akhir Mei 2011.

Entry filed under: Budaya, Pemikiran, Sosial Budaya. Tags: , , , , , .

APA PEMICU RADIKALISASI DI INDONESIA? Ajaran Islam Pasti Bukan!! Bagaimana UU Parpol-Pemilu yang Menyimpang dari Asas Demokrasi dan Kebijakan Ekonomi Nasional yang Tidak Memihak Rakyat Lemah? KORUPSI DI INDONESIA, PENYEBAB (Causal Factor) Rusaknya Negeri atau AKIBAT (Impact/Implication) dari suatu Ideologi Politik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: