‘ELITE UMAT’ MENIKMATI HIDUP NYAMAN DALAM SISTEM SEKULER, TOKOH ISLAM LAIN DIBUAT SIBUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP KARENA TERMISKINKAN. Maka ‘Islam Politik’ pun Terbengkelai, berakibat Umat dan Bangsa Kian Terpuruk

10 June 2011 at 14:25 1 comment

Dalam sejarah Islam mudah didapatkan fakta bahwa agama Islam mampu menghantar umat dan rakyat negeri dalam kondisi aman-maju-sejahtera, menebar kedamaian dan kesejahteraan dunia. Ilmu Pengetahuan berkembang pesat untuk kemanusiaan (tanpa ada praktek ‘hak paten’ demi kepentingan bisnis), dan seni-budaya tumbuh subur membawa rasa keindahan dan keluhuran budi serta ketaatan dalam beriman, bukan membawa pornografi, mengumbar nafsu kebinatangan, dan vulgarisasi masyarakat. Semua itu terjadi karena ELITE UMAT berhasil mengetrapkan ISLAM POLITIK, sehingga Negara dikelola secara Islami, bukan cara Sekuler (Kapiltalistik atau Sosialis-Komunistik).

Agama Islam tidak sekedar mengajarkan Ritual dan Akhlak individu namun juga mengajarkan bagaimana mengelola Masyarakat-Bangsa-Negara dengan hukum dan kebijakan poleksosbudhankamnya sehingga mampu melindungi dan menyejahterakan rakyat yang plural. Rasulullah bersama Elite umat di masa beliau (Abubakar, Umar, Usman, Ali, dan lainnya) berhasil mengetrapkan ajaran Islam secara utuh, yang dengan tuntunan Islam Politiknya berhasil menjadi Pengelola Negara Madina dan membawa negeri yang semula hanya sebuah noktah di padang pasir  menjadi mercusuar dunia. Elite umatlah yang seharusnya mengusung Islam Politik itu demi kebaikan bagi umat dan rakyat  Negara yang plural (Rakyat Madina itu plural). Bagaimana perilaku elite umat Islam masa kini, di negeri muslim dengan penduduk muslim lebih dari 200 juta, namun terus saja terbelakang kondisi umat dan rakyatnya walau sudah merdeka lebih dari 65 tahun?

Sudah menjadi ketentuan Allah SWT (sunnatullah) bahwa manusia di dunia fana diberi kebebasan untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Namun Allah, melalui utusanNya, juga sudah memberi petunjuk yang jelas mana jalan yang baik (ISLAM) dan mana jalan sesat (karena dipengaruhi iblis). Alhamdulillah, di antara milyaran umat manusia, termasuk yang ada di negeri ini, banyak yang sudah memilih jalan Islam walau mereka masih harus terus waspada akan godaan syetan dalam berbagai bentuknya (perhatikan kondisi lingkungan masa kini yang sarat dengan warna maksiat). Itulah hakekat dunia manusia.

Dalam perjalanan hidup bermasyarakat (dunia SOSIAL-POLITIK) selalu akan ditemui tantangan bagaimana supaya yang benar itulah  menang dalam bersaing sehingga masyarakatpun menjadi  masyarakat yang dikelola dengan  benar dan menjadi semakin baik. Pada kondisi inilah diperlukan tuntunan Islam terkait  masalah sosial-politik yang lalu dikenal sebagai ajaran ISLAM POLITIK (jelas beda skalanya dengan ajaran Islam Ritual dan Akhlak individu). Lawan kata dari ‘Islam Politik’ pada hakekatnya adalah ‘Politik Sekuler’, yakni berpolitik meninggalkan ajaran Islam tentang kenegaraan,  alias Kafir dalam berpolitik.

Proses bersaing dalam kehidupan sosial-politik itu berlangsung di bawah kepemimpinan ELITE (orang yang ditokohkan kelompok karena kemampuannya dalam memberi arahan untuk kehidupan bersama). Elite, pemegang kunci pengarahan, akan menentukan apakah suatu kelompok berhasil menang atau malah takluk pada kelompok lawan dalam proses persaingan/pertarungan dalam perebutan pengelolaan suatu Negara. Umat Islam itu suatu kelompok yang bersaing dengan kelompok lain (Non_Islam) dalam dunia yang plural.Pemenang persaingan itulah yang akhirnya memiliki kewenangan formal apakah negeri dikelola dengan cara yang benar atau cara salah yang berakibat rusaknya masyarakat dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan Negara sehingga hilang kedaulatannya.

Umat Islam di Indonesia tentu amat bergantung pada ELITE nya, yakni FIGUR yang di ‘percayai’ umat, dianggap lebih terdidik, mampu memberi arahan,  dan punya ‘wibawa’ diikuti umat. Elite itulah yang sebenarnya menjadi penentu ke mana umat akan diarahkan, apakah sekedar membuat umat Islam tekun beritual terus di mesjid,  berkontemplasi ke tuhannya, atau umat yang DINAMIS bergerak berjuang memenangkan Proses Politik agar negerinya dikelola sesuai ajaran Islam tentang kenegaraan. Nah, apa yang telah terjadi di negeri  yang mayoritas penduduknya muslim ini? Mari direnung dengan sungguh-sungguh demi memperoleh ridho Allah SWT dalam kehidupan di dunia fana yang sebentar ini.

Tatkala Indonesia merdeka tahun 1945, kalangan umat Islam sudah terpecah visi keislamannya, ada yang menganggap Islam itu sekedar ajaran untuk beribadat sempit pada tuhan seperti shalat, puasa, doa, haji saja (hasil rekayasa politik oleh penguasa Penjajah yang kafir), ada pula yang sudah faham bahwa agama Islam itu juga mengharuskan umatnya untuk berpolitik agar mampu mengatur negerinya sesuai dengan ajaran Islam terkait pengelolaan bangsa-negara. Maka terjadilah pertarungan di negeri ini antar sesama muslim sendiri (karena pada masa itu proporsi penduduk yang beragama Islam ini amatlah besar, sehingga pemeluk agama lain secara kuantitatif tidaklah banyak berperan dalam menentukan arahan politik nasional). Kenyataan yang terjadi pada awal kemerdekaan itu  pertarungan politik dimenangkan oleh kelompok Islam Sekuler (yakni umat Islam yang berislam secara ritual-akhlak saja dan mereka didukung oleh non-muslim). Apa yang terjadi kemudian? Indonesia dikelola dengan Cara Sekuler, cara seperti para penguasa sebelum kemerdekaan, yakni Penjajah yang non muslim (Silahkan dibaca artikel berjudul: “Memahami Keberadaan dan Prospek Cerah Partai berAsas Islam di Indonesia…”).

Apakah suatu negeri yang dikelola secara sekuler (tidak Islami) akan menghabisi kaum muslimin di negeri tersebut? Secara teoritis bisa saja kemungkinan itu terjadi terutama jika penguasanya non muslim yang begitu antipati pada ajaran Islam sehingga mereka akan berusaha keras memunahkan umat Islam di negerinya. Contoh misalnya kasus Serbia baru-baru ini. Namun umumnya Penguasa Sekuler (walau beragama lain sekalipun, seperti contohnya kasus Penjajah masa lalu) tidaklah akan ‘seekstrem’ itu. Mereka sudah akan puas jika kekuasaan negara tetap berada di tangan mereka (kelompok Sekuler). Jelas upaya pemusnahan Islam itu tidak terjadi jika penguasa sekuler tersebut masih memeluk agama Islam seperti umumnya kasus di negeri muslim masa kini. Orang Islam yang bervisi Islam Politik lah yang menjadi sasaran mereka untuk didiskreditkan, disisihkan, dikerdilkan agar tidak mengganggu hegemoni kekuasaan politik mereka. Dengan kata lain Penguasa Muslim Sekuler amatlah wajar jika akan menekan umat Islam pendukung Islam Politik (semaksimal bisa) agar kekuasaan sekularistik mereka langgeng sepanjang zaman. Bagaimana cara mereka untuk mencapai sasaran itu? Tentu bisa bermacam-macam, tapi umumnya memang memanfaatkan kekuasaan politik yang sedang mereka pegang (seperti tekanan politis pada rakyat untuk memilih Partai Sekuler yang dipakai si Penguasa)  dan kekuasaan uang yang sudah mereka miliki selama mereka menjadi penguasa negeri (seperti melakukan politik uang, menyuap pemilih saat pemilu). Bahkan secara vulgar bisa saja mereka membuat larangan resmi keberadaan Partai berAsas Islam yang mengusung Islam Politik (ingat kasus Orde Baru). Di sinilah perlunya kesadaran-kewaspadaan para aktifis Islam agar tidak terperangkap skenario Islam Sekuler di negeri muslim.

Di samping cara politis langsung seperti dicontohkan di atas perlu juga diwaspadai cara tidak langsung atau tersamar. Cara tersebut berbentuk:  “memanjakan kehidupan elite umat selama dia tidak menggerakkan umatnya untuk terlibat dalam Islam Politik”. Pemanjaan itu dilakukan dengan berbagai cara yang umumnya dengan memberi elite umat berbagai kenyamanan duniawi seperti: honorarium besar dalam berdakwah, fasilitas yang bagus,  penghormatan sosial seperti sikap dituakan, dan lain-lain, asalkan isi dakwahnya tidak mengajak umat mendukung Islam Politik. Strategi depolitisasi Islam dalam format ini bisa berbentuk pula misalnya: seleksi ketat hanya elite umat yang  mendakwakan Islam Ritual-Akhlak saja yang boleh tampil pada acara resmi, program televisi, dll. Elite umat yang berani menyentuh Islam Politik dalam dakwahnya tidak lagi akan diberi forum untuk tampil, apalagi diberi honor besar. Elite umat yang sedikit saja faham Islam Politik tidak akan diberi posisi menjabat sebagai pengambil keputusan yang strategis dalam pengelolaan Negara. Oleh strategi  seperti ini ternyata banyak elite umat terperangkap. Mereka dengan semangat tinggi bukannya mendukung Islam Politik malahan mengajak umatnya untuk  mendukung Penguasa dan Partai Sekuler. Mereka merasa keenakan sudah hidup nyaman dalam sistem Sekuler di negerinya dan menelantarkan misi perjuangan Islam Politik. Kedudukan terhormat hanya sebagai pengajar Ritual Islam dan Akhlak dengan jaminan sosial yang diberikan penguasa sekuler Islam sudah membuat mereka lupa pada misi Islam Politik dan membiarkan negerinya terus dikelola oleh Pemimpin-Partai Sekuler walau di negeri itu sudah tampak kebijakan yang merusak aqidah Islam dan menelantarkan nasib umat Islam yang miskin. Bahkan elite muslim yang terperangkap itu juga sudah menyaksikan betapa Penguasa Sekuler membuat kebijakan yang membiarkan bertumbuh subur organisasi sosial yang menyebarkan kesesatan aqidah dengan berbagai alasan.

Akhir-akhir ini semakin gencar adanya propaganda membangun ’Islam moderat’, jangan menjadi Islam radikal, jangan menjadi Islam fundamental, dan istilah-istilah baru lain semacam itu yang ujungnya adalah upaya memusnahkan ajaran Islam Politik yang dituntunkan oleh al Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Mana ada Islam yang bermacam-macam seperti itu? Islam hanya satu, yakni ajaran untuk hidup sesuai isi al Qur’an dan Sunnah Nabi, yang di dalamnya ada tuntunan tentang  Ritual, Akhlak, dan POLITIK. Para ulama, Cendekiawan muslim, Pemimpin Ormas-LSM Islam harus waspada terhadap skenario itu yang pada dasarnya adalah pesan musuh Islam yang menghendaki dunia dikelola secara sekuler agar mereka tetap bisa menguasai dan mengeksploitir kekayaan alam dunia sepanjang zaman. Mari umat Islam Indonesia digerakkan untuk memberantas ajaran sekuler yang maunya mengelola negeri dengan cara non-Islami sebagaimana kehendak pendukung Politik Sekuler yang dibuat dan dikembangkan orang kafir. Mari tidak terlena hanya karena diri dan keluarganya sudah bisa  hidup nyaman  dalam dunia yang dikelola secara Sistem Sekuler, yang jelas-jelas telah mendatangkan banyak penderitaan pada umat manusia secara luas dan menghisap kekayaan alam untuk kepentingan segelintir ’kapitalis’ belaka yang hidup bersukaria mengikuti nafsu angkara murka. Sebaliknya seharusnya bersyukur masih bisa hidup berkecukupan dalam dunia yang keruh itu dengan cara lebih bersungguh hati memenangkan Islam Politik untuk menyelamatkan umat manusia, yang sebagiannya sedang menjerit dibombardir oleh rudal, dan sebagian lainnya termiskinkan sehingga hidup dengan menderita dan terancam aqidahnya karena dieksploitasi dan direkayasa oleh penguasa sekuler.

Semoga elite umat Islam, khususnya yang kini sedang dipercayai umat menjadi Pimpinan ORMAS dan LSM ISLAM (seperti Pimpinan Sekolah dan Perguruan Tinggi Islam), dan tokoh yang ’dimuliakan’ umat sebagai ULAMA, KYAI, dan MUBALLIGH segera sadar akan perangkap itu dan menambah semangat menggerakkan umatnya untuk bergerak menuju kemenangan Islam Politik di negerinya, demi kejayaan bangsa dan umat manusia.

Indonesia, medio Juni 2011

Entry filed under: Pemikiran, Politik, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , .

KORUPSI DI INDONESIA, PENYEBAB (Causal Factor) Rusaknya Negeri atau AKIBAT (Impact/Implication) dari suatu Ideologi Politik? APAKAH AKAR MASALAH TKW YANG DIEKSEKUSI HUKUMAN MATI DAN BISAKAH ACEH MENJADI CONTOH APLIKASI SISTEM KENEGARAAN ISLAM?

1 Comment Add your own

  • 1. afrizal Ramadhan  |  12 June 2011 at 14:28

    memang benar pak, apa yang dikatakan bapak. selama ini apa yang selalu di gemborkan para Da’i dan pemimpin kita, hanya sebatas tauhid dan ajaran ghoiru madhoh, tapi dalam bentuk sosial, pergerakan, untuk membuat tatanan berkehidupan lebih baik sepertinya redup bahkan terkesan di hilangkan. seperti yang dalam hadist
    ” Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali dalam keadaan terasing pula, maka beruntunglah orang2 yg terasing”…Rasullullah ditanya : “Siapakah mereka wahai Rasullullah ?”..Beliau menjawab : “Orang yg shalih ketika yg lain rusak…”…( HR. Thirmidzi )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: