APAKAH AKAR MASALAH TKW YANG DIEKSEKUSI HUKUMAN MATI DAN BISAKAH ACEH MENJADI CONTOH APLIKASI SISTEM KENEGARAAN ISLAM?

25 June 2011 at 18:38 1 comment

Begitu muncul berita ada Tenaga Kerja Wanita (TKW) di eksekusi dengan hukuman mati di Arab Saudi maka gemparlah negeri ini. Demikian pula saya lalu mendapat banyak sms yang isinya komentar, protes, dan menanyakan duduk permasalahannya. Berikut ini berbagai sms terkait itu

Saya:

(Jawaban pada sms-sms yang  berkomentar-menanyakan pokok permasalahan adanya eksekusi hukuman mati pada  TKW di Saudi)

“Sumber utama permasalahan kasus eksekusi  hukuman mati pada TKW di Saudi adalah karena Pemerintahan Sekuler melakukan-membiarkan terjadinya ‘Ekspor besar-besaran TKW ke luar negeri’ tanpa menyertakan pula muhrimnya. Kebijakan Nasional seperti itu jelas tidak sesuai dengan syariat sosial-kenegaraan yang diajarkan agama Islam sehingga berbagai kasus seperti pemerkosaan, lahirnya ‘anak haram’, pelecehan, pemerasan, pembunuhan, eksploitasi, terlantar, dll adalah ‘side effect’ yang logis”

Banyak tanggapan masuk merespon sms saya itu, yang umumnya memang mendukung, tapi ada pula yang sepertinya menyanggah. Berikut ini saya paparkan sebagian sms tersebut (terutama yang bersifat menyanggah) dan kemudian saya jawab balik ke yang bersangkutan, dan jadilah semacam dialog menarik untuk disimak.

Teman:

“Ooo, kok Arabnya nggak disalahin ya? Memang kalau perempuan ndak ada muhrimnya lalu halal diperkosa, disiksa, dibunuh? TKW yang diTaiwandan Hongkong nasibnya nggak gitu lho Mas.”

Saya:

“Arab Saudi itu negara berdaulat, memiliki hukum dan peraturan sendiri yang diberlakukan di negerinya, seperti halnya Amerika Serikat atau negara lainnya juga, sehingga negara luar tidak berwenang campur tangan. Di tempat lain seperti di Cina juga terjadi berbagai kasus kriminal yang dialami TKW kita”.

Teman: (lanjutan)

“Bukan tidak ada, tapi tidak banyak. Saya puluhan kali terbang bersama TKW yang pulang dari berbagai negara, dan saya jadi tahu bahwa nasib mereka berbeda.Taiwandan Cina juga negara berdaulat. So?

Saya:

“Ya berdaulatlah, tapi kan tidak ada hukum qisos di Taiwan dan Cina sehingga tidak ada kegemparan oleh media sekuler di sini. Apa punya statistik perlakuan jahat pada TKW kita di sana, karena ukuran sedikit/banyak untuk komunitas harus diukur dengan proporsi bukan dari jumlah kasus

Yang bersangkutan tidak menanggapi lagi.

Teman  (yang lain):

“Saya sangat setuju kalau pemerintah kita mengabaikan pengiriman TKW yang di negeri orang diperlakukan se-wenang2 oleh majikannya, dan hukum di Arab sangat tidak berfihak pada TKW seolah-olah mereka hanya seonggok daging hidup yang boleh diperlakukan  seenaknya. Mudah2an tuhan memberikan jalan keluar bagi TKW/TKI kita untuk lebih dihargai. Amin”.

Saya:

“Setiap negara punya undang-undang dan hukum sendiri, RI tidak bisa intervensi itu. Juga sulit untuk memvonis bahwa masyarakat Arab itu menganggap TKW sekedar onggokan daging hidup. Banyak kejahatan pada TKW kita di negara lain yang tidak diekspos media sekuler di sini. Apa punya data perlakuan jahat pada TKW/TKI kita di berbagai negara?”

Yang bersangkutan tidak menanggapi lagi

Teman  (yang lain):

“Pemicunya adalah Saudi Arabia yang menganggap TKW sebagai budak. Pengurusan visa Saudi itu hipokrit. Beberapa kali saya  ngurus visa perempuan tanpa muhrim tidak diberi visa, tetapi kenapa TKW diberi visa?..…”

Saya:

“Menentukan Pemicu suatu masalah itu harus berorientasi solusi supaya tidak sekedar cari alasan/kambing hitam. Saudi itu negara berdaulat, RI tidak boleh intervensi atau kritik mereka seenaknya, sama jika ada negara asing kririk RI, paling saran2 diplomatik. Akar masalahnya jelas, yakni adanya  Kebijakan Nasional Indonesia tentang pengiriman TKW yang tidak Islami sehingga terjadilah side effect yang bermacam2.

Teman: (lanjutan)

“Bukan kambing hitam. Kalau perempuan tidak boleh bepergian tanpa muhrim harus konsekwen tidak mendatangkan TKW yang jelas2 tanpa muhrim”

Jawaban saya sebelumnya sudah saya anggap cukup sehingga tidak saya tanggapi lagi.

Teman  (yang lain):

“Yes. Juga meranalah keluarga yang ditinggalkan ke luar negeri bertahun-tahun”

Teman  (yang lain):

“Subhanallah, tidak hanya itu, ibu2 yang berduit ‘berwisata’ dengan nama umrah+ tanpa suami (maksudnya: tanpa muhrim) juga menjadi lahan bisnisnya sebagian pengusaha muslim yang punya travel. Memang negara dan umat perlu didandani (maksudnya: diperbaiki).

Teman  (yang lain):

“Pak Fuad, benarkah syariat Islam bisa menjawab dan memecahkan krisis di negeri ini?”

Saya:

“Tentu, malah satu-satunya solusi karena dua alasan pokok: 1). Sisi AQIDAH, yakni umat Islam harus taat syariat seutuhnya, padahal dalam Islam ada Syariat Kenegaraan yang juga wajib dilaksanakan; 2). Sisi LOGIKA: isi Syariat Kenegaraan Islam itu jelas dapat mendatangkan kesejahteraan bangsa, al.: Pemimpin Harus Berkualitas, Hukum yang menjerakan Penjahat, Kebijakan Ekonomi anti Bisnis Maksiyat dan Riba, Budaya Mulia yang dibangun-dikembangkan, dll. Lihat buku saya (‘Mengelola Indonesia dengan Syariat, Cara Efektif Mencapai Indonesia yang Maju dan Aman-Sejahtera’), dan artikel2 di blog saya”.

Yang bersangkutan tidak menanggapi lagi

Teman  (yang lain):

“Bisa diberi contoh negara mana yang saat ini mewakili Sistem Islam dan Sukses? Bagaimana kalau Aceh dijadikan proyek percontohan?”

Saya:

“Sejauh ini sepertinya Iran yang terbaik sehingga dia menjadi bulan-bulanan ditekan habis2an oleh Barat, prototip Negara Sekuler yang menjadi lawan ideologi Islam. Seandainya Indonesia dikelola secara Islami maka tentu akan menjadi jauh lebih berhasil karena SDAnya lebih baik, umat Islamnya lebih besar, dan orang pandainya juga lebih banyak. Skala negara diperlukan untuk pengetrapan suatu sistem pengelolaan sosial yang utuh; Aceh bukan negara, ia masih sub-ordinatif pada sistem makro Indonesia yang sekuler sehingga belum bisa menjadi contoh ideal.”

Yang bersangkutan tidak menanggapi lagi

Indonesia, akhir Juni 2011

 

Entry filed under: Internasional, Sosial Budaya. Tags: , .

‘ELITE UMAT’ MENIKMATI HIDUP NYAMAN DALAM SISTEM SEKULER, TOKOH ISLAM LAIN DIBUAT SIBUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP KARENA TERMISKINKAN. Maka ‘Islam Politik’ pun Terbengkelai, berakibat Umat dan Bangsa Kian Terpuruk PENDEKATAN SYAR’I MENYELAMATKAN BANGSA INDONESIA YANG PLURAL DARI KERUNTUHAN KETAHANAN FISIK OLEH PENYAKIT AIDS

1 Comment Add your own

  • 1. Mustakim  |  26 June 2011 at 13:29

    Mengapa Saudi malah memusuhi Iran dan minta perlindungan AS. Dimana moral Islamnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: