PENDEKATAN SYAR’I MENYELAMATKAN BANGSA INDONESIA YANG PLURAL DARI KERUNTUHAN KETAHANAN FISIK OLEH PENYAKIT AIDS

5 July 2011 at 16:41 Leave a comment

Penyebaran infeksi HIV di Indonesia yang eksponensial sungguh mengancam ketahanan fisik bangsa Indonesia (lihat artikel sebelumnya). Mengerikan! Ini tentu malapetaka nasional yang memerlukan tindakan integratif dari semua bidang pembangunan, termasuk kebijakan sektoral dan intersektoral. AIDS tidak mungkin dapat diatasi hanya dengan kebijakan sepotong dari satu atau dua kementerian saja. AIDS harus ditanggulangi dengan kebijakan nasional yang menyeluruh, termasuk upaya menetralisir infiltrasi budaya asing yang merusak akhlak bangsa ini.

Dari fakta epidemiologis penyakit AIDS, khususnya kecepatan perkembangannya di Indonesia, perlu sekali difahami prinsip dasar mekanisme  penjalaran dan proses perusakan tubuh manusia oleh penyakit AIDS sebagai basis untuk memberikan penanggulangannya yang efektif. Begitulah pendekatan Islam dalam menyelesaikan problema bangsa.

1. Penyakit AIDS akan menjalar hanya di kalangan manusia, dari penderita atau karier (pengidap virus AIDS tapi belum menunjukkan gejala sakit) ke orang sehat melalui kontak langsung yang intensif khususnya hubungan badan/kelamin dan atau kontak secara tidak langsung seperti melalui alat suntik  dan transfusi darah. Dari pemahaman ini bisa mudah dimengerti bahwa penyakit AIDS dapat dihindari dengan cara tidak melakukan hubungan intim (sex) dengan penderita atau karier, terlebih-lebih hubungan seks secara salah seperti pada kelompok homoseks, kelompok resiko tinggi yang melakukan aktifitas sex secara abnormal. Selain itu juga keharusan untuk memakai alat suntik atau peralatan kedokteran lain (seperti alat kedokteran gigi) yang steril, penggunaan darah-plasma-vaksin-obat yang bebas virus AIDS.

2. Masalah pelik yang perlu difikirkan adalah banyaknya orang yang terinfeksi virus HIV yang tidak dikenali karena mereka belum menunjukkan gejala khas penyakit AIDS, seperti pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenitis), sarkoma Kaposi, dan infeksi berbagai kuman saprofit. Untuk mengatasi permasalahan ini maka harus ada pendekatan probabilitas. Dari teori probabilitas dapat dikatakan bahwa lebih banyak orang memakai alat suntik atau alat kedokteran yang tidak steril akan lebih banyak pula orang akan terkena infeksi virus AIDS. Demikian juga individu yang lebih sering memperoleh transfusi dan sejenisnya (seperti penderita hemofilia, penderita kegagalan ginjal) akan lebih besar resikonya terkena infeksi. Kelompok masyarakat yang melakukan penyimpangan seksual seperti WTS dan pelanggan WTS, kaum homoseks dan sejenisnya akan beresiko besar terkena penyakit AIDS. Sebaliknya bagi orang-orang ‘baik’ yang hanya berhubungan badan dengan istri/suami sah, tidak mendapatkan transfusi kecuali amat diperlukan yang itupun dengan donor darah yang bersih, dan tidak menggunakan alat kedokteran yang tidak steril, dapat dikatakan akan aman dan tidak mungkin terkena infeksi penyakit AIDS. Walaupun demikian tetap perlu ada kewaspadaan bahwa infeksi virus HIV dapat saja terjadi melalui kontak dengan cairan penderita-karier melalui berbagai media yang tidak terduga seperti lewat bak mandi (bath-tub) atau kolam renang yang dipakai banyak orang sedang tubuh perenang memiliki perlukaan kecil di kulit atau rongga mulutnya. Begitu pula penularan dapat terjadi kepada dokter, perawat, dan perawat jenazah yang kontak dengan cairan tubuh penderita-karier tanpa perlindungan tubuh yang memadai.

3. Penyakit AIDS pada tahap aktif amatlah fatal karena akan menyerang seluruh sistem kekebalan tubuh manusia. Belum ada obat yang mampu membasmi virus ini, dan juga belum ada vaksin yang bisa mencegah infeksi virus tersebut. Begitu pula perubahan penyakit dari status latent (diam) ke status aktif berkembang biak belum difahami mekanismenya agar memungkinkan untuk dilakukan tindakan pencegahan. Oleh sebab itu cara terbaik mengatasi penyakit AIDS adalah: “membuat resiko penularan menjadi NOL”. Untuk tujuan ini jelas diperlukan ‘kesediaan’, subyektif atau obyektif, para pengidap virus AIDS menjadi kelompok masyarakat khusus yang berbeda  hak-hak sosialnya karena mereka potensial akan menyebarkan penyakit fatal ke masyarakatnya (bukankah dalam kenyataan kehidupan sosial memang sering ditemukan  keberadaan kelompok dengan tanggung jawab khusus seperti ini?).

Kini mari dicermati prinsip-prinsip di atas untuk diaplikasikan pada bangsa Indonesia. Bagi negara ini yang masih berkategori miskin, walau di dalamnya ada orang tergolong maha kaya raya yang jumlahnya amat sedikit sekali, sulit kiranya akan memiliki dana riset yang besar untuk menemukan vaksin dan obat penyakit AIDS yang mujarab karena prioritas negara tidak untuk itu. Di Amerika saja dilaporkan bahwa untuk biaya perawatan seorang penderita AIDS selama setahun sekitar USS$ 10.000 atau Rp 80 juta. Oleh sebab itu strategi yang harus diterapkan dalam mengatasi penyakit AIDS di negeri ini adalah: “menekankan lebih pada upaya menangkal penjalaran penyakit AIDS dibanding dengan berharap akan mampu membuat obat-vaksin penyakit atau mampu membelinya nanti dalam jumlah besar jika masyarakat umum banyak yang sudah jatuh sakit”. Di sinilah letak pentingnya pemilihan strategi pembangunan yang tepat bagi bangsa. Upaya pembangunan bangsa di masa mendatang tidak boleh mengambil kebijakan sosial yang membiarkan bangsa Indonesia menjadi medan terbuka untuk tertulari virus AIDS karena slogan modernisasi (suatu faham yang sering salah diterjemahkan) atau demi perbaikan ekonomi bangsa (yang juga sering tidak kunjung tercapai bagi kalangan rakyat banyak karena salah dalam pilihan strateginya). Dengan pertimbangan itulah maka pilihan paling tepat untuk mengatasi penyakit AIDS di Indonesia adalah: “pendekatan sosial-budaya yang mengacu pada prinsip hidup bermasyarakat yang diajarkan AGAMA, bukan pendekatan sosial budaya SEKULER yang mengabaikan tuntunan AGAMA”. Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim (sekitar 90%) maka pendekatan Islam untuk mengatasi AIDS di negeri ini juga amat rasional dan harus menjadi prioritas.

Dengan memahami proses penularan dan kenyataan sosial yang telah terjadi maka CARA ISLAMI untuk mengatasi penyakit AIDS diuraikan berikut ini (tentunya di samping kebijakan tehnis medis secara umum seperti pengetatan kontrol pada strerilisasi alat kedokteran, bahan darah-serum-obat suntik, dan perlindungan tenaga medis):

  1. Mempraktekkan ajaran agama terkait akhlak mulia dan penataan sosial-kenegaraan dalam pembangunan nasional. Doktrin Keimanan-Ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa dalam falsafah negara harus dioperasionalkan dalam bentuk membangun bangsa untuk memiliki ‘ketaatan menjalankan ajaran agama secara menyeluruh’ agar doktrin tersebut efektif melindungi manusia dari perilaku salah-merusak. Ajaran sosial-kemasyarakatan yang diajarkan oleh agama (Islam memiliki syariat sosial-kenegaraan langsung dari sumber al Qur’an dan Sunnah Nabi) harus digunakan untuk mengembangkan kebijakan nasional sehingga agama akhirnya benar-benar efektif dipakai sebagai teknologi pembangunan bangsa. Agama tidak seharusnya diperlakukan hanya sekedar masalah akherat, ritual, dan pribadi seperti halnya faham yang dianut oleh kaum sekuler di Barat yang akhirnya membuat mereka dilanda dekadensi moral.
  2. Manifestasi dari pemakaian ajaran agama sebagai kebijakan nasional, terkait penanggulangan penyakit AIDS ini, adalah perlunya dilakukan tindakan tegas terhadap praktek sosial yang bertentangan dengan ajaran agama, khususnya yang bersifat kemaksiatan. Sudah saatnya dilakukan pemberantasan pelacuran dalam arti membuat pelacuran sebagai sesuatu yang illegal dalam kehidupan masyarakat modern sehingga perilaku melacur (bagi pelacur dan pelanggannya) akan dikenakan sanksi hukum yang berat. Lokalisasi WTS dan formalisasi profesi WTS amatlah tidak layak untuk masyarakat maju dan bermoral. Mereka memang tidak mungkin dapat diberantas habis dalamm dunia manusia namun hal itu tidak berarti lalu praktek salah tersebut diberi wahana untuk berkembang biak dengan memberi angin dan melokalisasi/memformalkan keberadaannya (apakah karena perjudian tidak bisa diberantas habis lalu dilegalkan, apakah karena pornografi-kemaksiatan-kriminalitas tidak dapat diberantas habis lalu  diberi wahana oleh negara untuk dilakukan oleh warganya?).
  3. Kontrol yang lebih ketat dan pemberian hukuman yang lebih menjerakan terhadap pelaku perdagangan gelap obat bius dan psikotropik. Dalam laporan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) diketahui bahwa 49,6% kasus AIDS di Indonesia merupakan pemakai napza suntik.
  4. Pembatasan-pengendalian Bisnis Pariwisata perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh  karena potensi besarnya dampak negatif yang sulit dikontrol. Banyak alternatif lain untuk meningkatkan devisa negara di luar pariwisata. Ingat kasus Thailand yang sampai kini tetap menjadi negara berkembang walau sudah melakukan promosi pariwisata luar biasa selama puluhan tahun dan berakhir dengan merajalelanya pelacuran dan penyakit AIDS di kalangan penduduknya.
  5. Perlu secepatnya di bangun Klinik Rehabilitasi Homoseksual (KRH) di Indonesia agar para homoseks kembali kepada perilaku seks normal. Mereka juga perlu diberi sanksi sosial yang mendidik, bukan malah menganggap mereka sebagai manusia normal-sehat dan memberi promosi di masyarakat untuk kepentingan bisnis.
  6. Anjuran penggunaan kondom dalam hubungan seksual dengan penderita penyakit AIDS tidaklah akan efektif dan bersifat tidak mendidik. Demikian pula pemikiran untuk membuat kampanye kondomisasi dalam kehidupan kalangan WTS hanya akan menambah rusaknya akhlak/moral bangsa. Kondomisasi berarti suatu promosi terselubung terhadap perilaku perzinahan. Kondomisasi akan membawa efek samping mendorong orang melakukan penyimpangan seksual di luar nikah dan malah akan memacu penularan penyakit AIDS ini lebih luas lagi.
  7. Memberi perlakukan khusus untuk penderita dan pengidap virus HIV agar mereka dapat hidup senormal mungkin dalam lingkungan terbatas mereka itu sendiri. Mereka perlu menyadari tanggung jawabnya untuk melindungi orang lain agar tidak tertulari penyakit fatal yang mereka derita. Mereka harus memahami kondisi mereka yang menjadi sumber penularan dan mau untuk melaksanakan kewajiban menjaga kualitas hidup bangsanya yang masih sehat. Kebijkan ini tentu akan lebih mudah dilaksanakan jika pengidap infeksi HIV masih terbatas jumlahnya.

Ketujuh strategi kebijakan nasional di atas jelas tidak dilaksanakan oleh Barat yang menganut IDEOLOGI SEKULER. Banyak Negara di Timur Tengah sepertinya telah mengetrapkan kebijakan tersebut sehingga kasus AIDS di sana relatif amat kecil jika tidak bisa dikatakan nol. Apakah Pemerintah Indonesia bersedia melakukan kebijakan seperti itu demi keselamatan bangsanya dari  keganasan AIDS? Sepertinya sulitlah diharapkan selama Pemerintah Indonesia dipimpin oleh Partai dan Figur berideologi Sekuler. Kebijakan Islami seperti yang diuraikan di atas boleh umat harapkan pada Partai berAsas Islam dan Figur Penegak Syariat  jika saja mereka mampu memenangkan Pemilu di Indonesia. Merekalah yang  selama ini memang dikenal memegang ‘ideologi Islam Politik’ dalam misi perjuangannya, yakni cita-cita mengetrapkan kebijakan Islami dalam Pembangunan Nasional demi kejayaan umat dan bangsanya karena Islam itu membawa Rahmat bagi alam seisinya JIKA ajarannya dipraktekkan dalam kehidupan sosial-kenegaraan.

Indonesia, awal Juli 2011

Entry filed under: Kesehatan, Sosial Budaya, Syariat Islam. Tags: , , , , , , .

APAKAH AKAR MASALAH TKW YANG DIEKSEKUSI HUKUMAN MATI DAN BISAKAH ACEH MENJADI CONTOH APLIKASI SISTEM KENEGARAAN ISLAM? RESPON SALAH TERHADAP KRISIS BANGSA, Lari dari Politik, Menyibukkan Diri pada Prestasi Amal Sosial-Kemasyarakatan dan atau Iptek-Akademik Belaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: