RESPON SALAH TERHADAP KRISIS BANGSA, Lari dari Politik, Menyibukkan Diri pada Prestasi Amal Sosial-Kemasyarakatan dan atau Iptek-Akademik Belaka

11 July 2011 at 13:48 Leave a comment

Indonesia lagi dilanda permasalahan politik yang berakibat terjadinya berbagai krisis nasional. Jelas dipaparkan di banyak media adanya krisis ekonomi dengan kemiskinan luarbiasa melanda mayoritas bangsa namun sekaligus  dipameri kemewahan yang tidak masuk akal sehat oleh beberapa  pejabat negara maupun penguasaha. Krisis hukum dengan bertebarnya praktek ketidakadilan seperti antara lain pemetik tanaman tetangga masuk  tahanan sedang koruptor dan penipu uang negara triliunan bebas berkeliaran, mafia peradilan,  praktek suap dan gratifikasi yang melanda kalangan hakim-jaksa-polisi-pengacara yang seharusnya menjadi figur percontohan dalam mengemban misi penegakan hukum. Krisis akhlak dengan maraknya pornografi, kemaksiatan yang dilakukan bukan hanya oleh orang biasa tapi juga oleh yang dianggap tokoh masyarakat, belum lagi tindak kriminalitas yang mengerikan seperti pembunuhan sadis, pemerkosaan brutal. Politik jelas sekali rusaknya seperti adanya  krisis kepemimpinan nasional dan daerah, baik eksekutif-legislatif-yudikatif, praktek money politik, dan intimidasi politik. Kebohongan publik dan tidak tegas atau lemah dalam membuat keputusan begitu gencar menjadi pemberitaan, juga ketidakpekaan pada kenyataan hidup rakyat yang dipimpinnya dalam bentuk menuntut gaji besar dan fasilitas luar biasa, yang walau sudah dipenuhi tapi masih juga banyak yang korup. Ujungnya banyak keputusan yang dibuat penguasa ternyata merugikan kepentingan bangsa-negara, menguntungkan kepentingan asing. Rakyatpun kian menderita dan kekayaan tanah airpun kian terkuras. Astaghfirullah.

Dari analisis berbagai macam krisis nasional tersebut sebab utamanya mudah diketahui, yakni pengelolaan negara yang tidak beres, yang  itu jelas karena perilaku politik salah oleh motivasi ideologi yang dianut politisi, khususnya ideologi dari partai dan figur yang berkuasa. Sejauh ini partai berIdeologi Sekuler yang berhasil memenangkan pemilu di Indonesia. Ideologi sekuler adalah ideologi yang mengabaikan tuntunan Allah SWT dalam menata kenegaraan, umumnya bersumber dari Barat yang non-Islam tapi bisa juga dianut orang Islam yang lemah pemahaman Islamnya (kurang belajar atau terbeli oleh penganut ideologi sekuler itu). Kemenangan Partai-Figur sekuler dalam pemilu bisa bermacam-macam sebabnya dan harus dicermati dengan sungguh-sungguh oleh aktifis Islam. Mengapa rakyat jelata yang muslim masih juga memilih Partai-Figur sekuler dalam pemilu umumnya disebabkan 4 faktor utama, yakni: 1). Mereka tidak mengerti hakekat berideologi yang benar karena tidak dicerahkan oleh pembimbing agamanya (ulama, kyai, guru agama-ngaji, da’i, muballigh); 2). Mereka terpancing oleh rayuan uang untuk memenuhi kebutuhan teramat mendesak karena kemiskinan mereka yang luar-biasa atau walau tidak begitu miskin tapi ada sifat ketamakan oleh kevakuman ideologis; 3). Rasa takut pada ’atasan’ (oleh intimidasi langsung atau tidak langsung); dan 4). Asal ikut saja pada orang yang dituakannya seperti tokoh agama, adat, dan semacamnya. Kekeliruan mereka dalam memilih Partai-Figur dalam pemilu ternyata membuat negeri terlanda krisis hebat (melalui kebijakan nasional yang diambil partai-figur terpilih tersebut) yang ujungnya pasti akan berdampak pada kehidupan mereka, para pemilih yang rakyat jelata, antara lain dalam bentuk kesulitan cari kerja, barang-barang kebutuhan kian mahal, kriminalitas sekitarnya tinggi hingga mengganggu rasa aman, sulit mencari sekolah yang baik dan murah untuk anak-anaknya, beaya pelayanan kesehatan tidak terjangkau jika mereka ditimpa penyakit, dan berbagai kesulitan hidup lainnya. Sayangnya kompleksitas seperti itu membuat mereka malah semakin bingung sehingga tetap saja mereka memilih yang salah dalam pemilu dan kesulitan hidup sehari-haripun  tidak kunjung selesai, malah kian parah.

Ironisnya, dalam suasana seperti itu banyak orang terdidik, baik dalam bidang sain seperti di perguruan tinggi ’umum’ ataupun bidang ’agama’, seperti IAIN dan ma’had ’ali, bukannya memberi solusi yang benar untuk rakyatnya melalui arahan dan percontohan Islam Politik, malah mereka menjadi apatis dalam politik, tidak mau tahu, atau malah melakukan pengalihan permasalahan yang kian memberatkan krisis nasional tersebut. Berbagai krisis yang terjadi di negara ini jelas karena pengelolaan bangsa yang salah diakibatkan ideologi politik yang keliru dari mereka yang sedang berkuasa, yakni ideologi sekuler, ideologi yang membuang tuntunan Islam dalam bidang kenegaraan (poleksoskumbudhankam) di tengah rakyat yang mayoritasnya muslim. Krisis demi krisis melanda negeri karena kekeliruan demi kekeliruan dalam mengambil kebijakan nasional tanpa berlandaskan tuntunan Allah SWT. Dalam suasana krisis tersebut malah berkembang fenomena yang kontra produktif dimana pada umumnya ulama, ilmuwan, dan cendekiawan muslim lari dari politik, membiarkan politik terus didominasi oleh ideologi sekuler. Ulama lari dari politik bukan hanya diartikan mereka tidak mau masuk partai oilitik namun orientasi dakwahnya justru hanya terbatas pada Islam ritual dan akhlak pribadi belaka saehingga umatnya tetap memilih partai sekuler dalam pemilu padahal ada Partai berAsas Islam di negerinya. Ilmuwan dan cendekiawan juga lari dari politik dengan menyibukkan diri bertekun melakukan riset dan riset akademis (baik ilmuan umum maupun ilmuan agamanya), tidak mau tahu tentang kekeliruan bangsa dalam memilih ideologi. Pimpinan Ormas dan LSM Islam tetap saja terus bergerak dalam lapangan amal sosial-kemasyarakatan sepertinya dengan itu krisis bangsanya akan bisa teratasi padahal sumber krisis bangsa adalah aspek politik. Mereka sibuk membesarkan sekolah-pesantren dan atau membuat sekolah-pesantren baru padahal kurikulum pesantren-sekolah Islamnya tidak menyentuh  maraknya pilihan umat pada politik yang salah di negerinya sehingga begitu anak didiknya layak usia untuk pemilu malah mereka menjadi pendukung ideologi sekuler dalam berpolitik. Riset demi riset dilakukan para akademisi untuk mendapatkan teknologi dan temuan baru yang fenomenal dan ternyata jika berhasil maka prestasi akademis tersebut justru digunakan oleh penguasa sekuler sebagai pembenar kebijakan mereka dalam berpolitik sehingga kian menguatkan hegemoni mereka dalam berkuasa padahal ideologi yang diembannya salah sehingga kebijakan nasional yang mereka ambil melemahkan bangsa-negara.

Untuk lebih memahami permasalahan ini maka berikut saya sampaikan dialog saya dengan seorang teman yang saya kenal dengan baik, seorang tokoh nasional,  mantan guru besar (pensiunan profesor suatu perguruan tinggi negeri) yang memberikan pandangannya dengan amat jelas dan tajam terhadap kondisi negera yang semakin terpuruk  di media cetak nasional  belum lama ini. Setelah saya membaca artikelnya yang menarik itu saya kirim sms ke padanya.

SMS saya sebagai berikut:

”…. Artikel anda (di sebuah koran nasional) terasa sarat keluhan, protes, dan ’no hope’ dengan penguasa yang sekarang. Sayang tanpa solusi. Apa anda sudah putus asa dengan PARTAI sebagai Institusi Politik termasuk IDEOLOGI yang diembannya?  Rasulullah punya hisbullah (partai Allah) dengan Islam Politiknya. RRC ada partai komunis dengan marxismenya. USA ada dwi partai (Republik dan Demokrat) dengan Kapitalismenya. NKRI idealnya bagaimana? Karena penduduknya 90% muslim maka harusnya mendukung Partai berAsas Islam dengan perjuangan syariat kenegaraannya (seperti percontohan Rasulullah). Dengan itu  kita punya arah untuk memperbaikinya. (bangsa-negara Indonesia)……”

Teman itu ternyata menjawab seketika:

” …., soalnya kualitas politisi Muslim yang jauh dari harapan. Saya pernah diundang oleh Dewan Syari’ah (dengan menyebut salah satu Partai berAsas Islam), diskusi 2 jam, tapi belum tuntas. Mau tambah lagi?…….”

Saya respon dengan sms seketika pula karena dia cerita tentang pengalamannya yang menarik itu:

”…. Mereka masih baru, cari jalan, tapi arah sudah oke. Kuatin di dalam dong (kuatkanlah Partai berAsas Islam), lawan dan kalahkan partai dengan ideologi sekuler dalam pemilu, insyaAllah minimal akan dicatat Allah SWT sebagai pejuang Islam karena meniru Rasulullah. Namun jika berhasil menang, jangan tanya, akan bisa menyelamatkan umat dan bangsa (karena mengelola negeri dengan benar sesuai dengan tuntunan Allah swt)  …..”

Teman itu tidak lagi memberi respon dan saya pikir sedang mempertimbangkan.

Indonesia, medium Juli 2011

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , .

PENDEKATAN SYAR’I MENYELAMATKAN BANGSA INDONESIA YANG PLURAL DARI KERUNTUHAN KETAHANAN FISIK OLEH PENYAKIT AIDS PUASA DAN ZAKAT, IBADAH RITUAL YANG BERDIMENSI SOSIAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: